Posts filed under 'East Java News'

Enjoying ‘original’ dining in Malang

Simon Marcus Gower, Contributor, Malang

These days, when fast-food chain restaurants seem to be in just about any and every town, it is nice to be able to dine and relax in a place that is a little unusual and a little less frantic.

Toko Oen in Malang, East Java is one such place. Although in some respects this seems a rather old-fashioned eatery;the d‚cor looks tired and outmoded in comparison to the hip and colorful styles of fast-food chains.

Yet, this in a real sense, is the essence and joy of the place.

Toko Oen is a restaurant, patisserie and ice cream palace.

The building’s architecture is straightforward and plain in the art-deco style of the period in which it was originally built, in the early 1930s.

Cream-colored windows and doors are partially covered by net curtains and above these are stained glass windows with one or two pieces missing.

The exterior of the building is, then, not much to look at — but, as they say, people should not necessarily “judge the book by its cover” and the original exterior is no doubt retained as it always has been, because Toko Oen is part of the heritage of the town itself.

It is within the building that far more character and interest can be discovered. Upon entering, one is immediately faced with a patisserie counter that offers a variety of cookies, biscuits, cakes and breads.

The majority of the internal space is taken up by low-slung lounge chairs and tables that appear to be — and are reputed to be — original. Beyond these are higher and more formal dining chairs and tables, but it is the lounge seating that adds appeal to the dining experience.

With fans lethargically rotating above on the high ceiling, there is a general feeling of restfulness and a slower pace of living. The atmosphere is much the same as it must have been back in the 1930s; encouraging visitors to imagine the colonial types who used to relax in these lounge chairs.

Planters and landowners would have taken rest and refreshment in Toko Oen years ago as they came into Malang to benefit from its climate, which is relatively cooler than the surrounding lowlands.

These days, people probably stop by to take a break and escape the hustle and bustle of modern life.

Malang is a much changed place since Toko Oen first opened and is a much bigger and busier city.

The name of this place, too, is somewhat unusual and deserving of some explanation.

The first Toko Oen restaurant was set up in Yogyakarta in 1922. The founder of that restaurant was Oen Tjoen Hok. Subsequently branches of the restaurant were set up in Semarang, Central Java (which still exists today), Jakarta and Malang. The restaurants were named after their founder.

The restaurants in Yogyakarta and Jakarta did not survive, closing in the 1950s, but the Toko Oen in Malang proudly lives on and retains the features that it originally opened with.

One of the highlights of Toko Oen is its ice cream “palace”. Perhaps the word palace refers to the riches of the varieties on offer: There are familiar offerings of peach melba, tutti-frutti and banana split, but then there are also the unusual and exotic flavors like “midwest Sunday” and “calypso fantasy”.

These ice cream varieties may be something of an acquired taste but coming in small portions of one or two scoops, it is possible to just try them to find out what flavor sensations lie behind the unusual names.

Once an order is ready the food is delivered, rather quaintly, to your table on a wooden trolley. Each waiter is immaculately turned out in brilliant white trousers and jacket and velvet black peci (traditional hat), which adds to the atmosphere of nostalgia.

On the walls, there are reproductions of old photographs of Malang. These photos offer a glimpse of what Malang was like when Toko Oen was first set up here, and illustrate how significantly the town has changed.

This is one important aspect of the presence still today of Toko Oen — it is part of the heritage and history of Malang.

Enjoying a meal, snack or an ice cream break in Toko Oen, one is quite likely to encounter visitors from Europe and the menu is in parts still written up in Dutch.

In the small parking area immediately outside the restaurant there is a compact, black vintage Austin motor car, which might make people think of a museum.

However, to think of Toko Oen overall as something of a museum piece would be to misrepresent and misread it.

Toko Oen does, in parts, show its age — but it is not a highly protected and preserved museum piece. It is alive and active today serving the purpose for which it was built over seventy years ago. It is a place full of character.

Source: The Jakarta Post

Add comment August 8th, 2008

Kebun Bibit Ketambahan Rusa Bawean Betina

Kebun Bibit memiliki warga baru. Seekor rusa bawean berjenis kelamin betina dilahirkan pada Selasa (5/8) pagi. Rusa tersebut merupakan anak rusa koleksi Kebun Bibit yang didatangkan dari RSU dr Soetomo, Maret silam.

Proses kelahiran anak rusa bernama Latin Axis Kuhli itu cukup ”misterius”. Sebab, tak ada siapa pun di Kebun Bibit yang mengetahui kelahirannya. Siswanto, salah seorang petugas Kebun Bibit, menuturkan, sekitar pukul 06.00, dirinya sedang menyapu. Itu merupakan tugas rutin lelaki asli Madura tersebut.

”Tiba-tiba, saya lihat ada hewan yang jalan-jalan di luar pagar. Saya sangat kaget, ternyata itu anak rusa. Saya langsung bilang kepada pak kepala,” ungkapnya.

Siswanto mengaku tak tahu proses kelahiran rusa tersebut. Padahal, lelaki yang sudah hampir setahun menjaga Kebun Bibit itu selalu berada di sekitar kandang hewan tersebut. ”Mungkin ia lahir pas malam atau dini hari,” katanya.

Kepala Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Kebun Bibit Susilo Budi Purnomo menuturkan, begitu dihubungi, dirinya langsung meluncur ke Kebun Bibit. ”Saya langsung memerintahkan membuat kandang penangkaran,” tegasnya.

Kandang penangkaran dibuat dalam kandang rusa yang lama. Tujuannya, induknya bisa datang ke kandang penangkaran kapan saja. Kandang 4 x 7,5 meter itu dibuat dari besi berdiameter 2 cm. Bagian bawah besi dilapisi kawat ram. ”Biar anak rusa tidak keluar. Lha, ia baru lahir saja sudah jalan-jalan ke luar,” ujarnya.

Sebenarnya, kata dia, Kebun Bibit sudah mengetahui bahwa akan ada anak rusa yang lahir. Namun, saat rusa bawean itu hamil, tak ada yang tahu rusa mana yang hamil. ”Rusa bawean kami jumlahnya delapan. Dua jantan, sisanya betina. Jadi, kalau hamil nggak ketahuan yang mana,” katanya.

Lantas, siapa nama rusa itu? Susilo mengaku tidak ada hewan dalam Kebun Bibit yang diberi nama. ”Kami kan bukan Bonbin. Jadi, tidak pernah ada hewan yang diberi nama,” ungkapnya.

Meski begitu, kata Susilo, Wali Kota Bambang D.H. akan memberi nama anak rusa itu. Sebab, berita tentang anak rusa yang lahir sudah diberitahukan kepada dia. ”Apalagi, beliau biasanya ke sini seminggu sekali,” jelasnya. (aga/ayi)

Source: Jawa Pos Online

Add comment August 7th, 2008

Margorejo Berkreasi dengan Bambu

Program pemasangan komposter resapan, sepertinya, menjadi andalan peserta Kampungku Bersih Surabaya Green and Clean 2008 yang lolos 50 besar. Betapa tidak, mereka berlomba-lomba memasang komposter tersebut. Salah satunya RT 5 RW 1 Kelurahan Margorejo.

Ketua RW 1 Noviati mengatakan, warga wilayah tersebut memasang komposter resapan sejak lama. ”Mereka begitu senang ketika mendapatkan bantuan dari PT Telkom. Karena itu, begitu dapat, bantuan langsung dipasang. Komposter resapan salah satu andalan wilayah itu,” terangnya.

Kader lingkungan RT 5 RW 1 Karimun Mino mengatakan, setiap 2,5 meter di kawasan itu sudah dipasangi komposter resapan. ”Sebanyak 15 bantuan dari Telkom sudah kami pasang. Karena kurang, kami berinisiatif bikin dari bambu. Harganya lebih murah dan tidak mudah pecah bahannya,” jelasnya.

Bahkan, Mino dan warga di kawasan itu rela berburu bambu di desa-desa. ”Pokoknya, demi lomba ini, warga siap apa saja,” sebutnya. Dia mengatakan, komposter resapan yang berbahan pipa paralon dipasang di gang-gang sempit. ”Sebab, gang sempit tidak dilalui mobil. Sedangkan, yang berbahan bambu dipasang di gang sini (lebih lebar, Red) karena tahan dilalui mobil,” terangnya

Masing-masing komposter itu dipasang dengan kedalaman 80 sentimeter. Mino bersama warga sekitar berharap, dengan pemasangan sekitar 50 komposter tersebut, pengelolaan sampah menjadi optimal. ”Saat ini, reduksi sampah sudah cukup berhasil. Sampah yang terbuang ke TPA hanya 10 persen,” ujarnya.

Sisanya, kata Mino, diolah dengan baik. Sampah basah dijadikan pupuk organik atau cair. Sampah kering dijual. ”Tiap hari, warga juga mengumpulkan sampah,” ujarnya. Nah, dengan adanya komposter resapan, pengelolaan sampah diharapkan makin optimal. RT 4 RW 1 menempuh upaya yang sama. Hampir tiap rumah di wilayah tersebut sudah memasang komposter resapan. (kit/oni)

Source: Jawa Pos Online

Add comment August 6th, 2008

Pameran Seni Berotak

SURABAYA - Setelah Wadji M.S. unjuk gigi, Galeri Surabaya kembali diramaikan pameran seni rupa karya para seniman Bandung. Selain lukisan, mereka memajang patung, instalasi, dan drawing. Pameran bertema Infected Brain itu dibuka kemarin (4/8) dan akan berlangsung hingga 10 Agustus.

Mereka adalah empat mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Yakni, Doni Kabo, Yunis Kartika (keduanya mahasiswa pascasarjana seni murni), Agung Prabowo (seni grafis), dan Sekarputri Sidhiawati (seni keramik).

Saat pembukaan, mereka melakukan performance art. Doni Kabo dan Yunis Kartika dilakban di tembok, kemudian tubuh mereka ”ditembak” dengan visual proyektor OHP. Perpaduan minyak, air, dan pewarna makanan itu memancar ke tubuh kedua perupa tersebut di dinding.

Agung dan Puti -panggilan Sekarputri- meniup campuran tersebut dengan sedotan. Efek dari campuran itu seperti lampu lava.

Tema Infected Brain ingin mengatakan bahwa semua karya yang mereka hasilkan berawal dari otak. Meski terdapat perbedaan dalam melihat ”otak” di antara mereka. Pasangan Doni Kabo dan Yunis Kartika melihat otak lebih pada arti harfiah.

Doni memamerkan delapan self-portrait yang menggambarkan dirinya dalam berbagai ekspresi. (jan/ari)

Source: Jawa Pos Online

Add comment August 5th, 2008

A stroll amid holy temples in Central Java highland

Tarko Sudiarno, The Jakarta Post, Wonosobo

With its 100 plus hectares surrounded by misty green hills, the temple compound in the Dieng highlands is a perfect spot for a healthy morning stroll.

Every tourist excursion should combine exercise and culture.

On this particular tour, a good place to start is the parking lot next to the Dieng tourism agency, close to the Arjuna temple complex.

Arjuna, you may recall, was one of the mighty Pandawa brothers in the Mahabharata. In fact, all the temples in Dieng are named after characters in the epic.

A stone road some 100 meters in length stretches from the parking lot to the Arjuna complex, where inside, you’ll find five temples of various size: the Arjuna temple itself, along with the Srikandi, the Sembadra, the Punta Dewa and the Semar. Of course, walking around the complex isn’t enough, as visitors will want to pop inside each of the structures.

Dating from the 7th century, the temples, unfortunately, are not intact, with many reliefs vandalized or faded with age. While catching your breath inside, rest your eyes on the potato farms that dot the landscape here and there. According to some locals, lush forests blanketed the region before agriculture was introduced.

From year to year and little by little, the forests were converted by farmers who needed land for vegetable cultivation. Though no secret among environmentalists or the public, rapid deforestation here seems to have little in the way of obstacles.

Decked out in layers of cloth and sturdy boots, farmers seemed unfazed by the temples’ beauty — or the presence of tourists — as they chatted among themselves on the way back to their farms.

A kretek between their lips, farmers start their day before sunrise.

From the Arjuna temple compound, head east, where you’ll find the office of the archeology agency. It’s not the office you’re after, but a cluster of temples nearby, the Gatotkaca temples. Six temples, similar in size and shape to those in the Arjuna complex, used to comprise the compound: the Gatotkaca, the Sentyaki, the Petruk, the Antareja, the Nakula Sadewa and the Nalagareng. Almost all are in ruins. Only the Gatotkaca temple remains, though not fully intact.

Here too, vandalism has left little of interest.

From there, you can head north along an elevated asphalt road where, on the left-hand side, you’ll discover a huge pond — the remnants of a volcanic crater — whose still waters reflect the colors of the sun.

Local farmers claim they never get close to the pond because of its smell, believing it indicates the presence of poisonous gas.

The asphalt road continues on to a village with houses wrapped in tidy bamboo fences and stacks of dry wood neatly arranged outside.

Not far from the village is another large temple, standing in the midst of trees: the Bima temple — named after the strongest of the Pandawa brothers. Better preserved, with clear and well-maintained reliefs adorning its walls, the Bima is renowned for its arca Kudhu, or Kudhu statues, depicting the torsos of several men, each with half a face. In the 1980s, several statues were stolen from the compound.

The faithful still frequent the temple to practice rituals on holy days. It’s even been reported that former President Soeharto and his wife, Tien Soeharto, used to retreat to a small prayer house nearby to meditate. Go figure!

Some fifteen minutes from the temple is the Telaga Warna compound, a perfect spot for a rest. Restaurants and coffee shops are open for business, and you can find a range of liquids to soothe your thirst, from beer and hot coffee to traditional drinks such as purwoceng, a ginseng-like beverage only found in the Dieng area.

All in all, it takes a half hour to tour Dieng’s four temple complexes. When you return to the parking lot near the tourism agency, make sure to have another glass of purwoceng.

Source: The Jakarta Post

Add comment August 4th, 2008

Wonokromo Dendangkan Surabaya Green and Clean

Marak dan penuh Tawa Road Show Kedua

SURABAYA - Road show Surabaya Green and Clean di Kecamatan Wonokromo kemarin benar-benar semarak. Ratusan peserta memadati lapangan depan SD Budi Dharma, Jalan Pulo Wonokromo. Kemeriahan semakin bertambah ketika kader lingkungan Kelurahan Wonokromo meluncurkan lagu Surabaya Green and Clean.

Sejak pukul 06.00, peserta terlihat memadati tempat acara. Tak hanya datang dari Kelurahan Wonokromo, sebagian dari Kelurahan Ngagel, Kelurahan Darmo, dan Kelurahan Gayungan. Bahkan, ada peserta yang jauh-jauh datang dari Kelurahan Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes. Wawali Arief Affandi juga hadir bersama Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya Hidayat Syah dan Camat Wonokromo Indrayana.

Arief mengatakan, selama ini Wonokromo selalu identik dengan Stasiun Wonokromo, Terminal Joyoboyo, dan Kebun Binatang Surabaya. Tempat-tempat tersebut mewakili kesan kumuh, kriminal, dan bangunan-bangunan tidak teratur di stren kali. “Tapi, dalam beberapa tahun belakangan, Wonokromo justru menjadi pelopor hidup bersih dan hijau,” katanya.

Didampingi fasilitator dan kader lingkungan, Arief beserta rombongan mengunjungi sejumlah RW dan RT di Kelurahan Wonokromo. Selain itu, mereka melihat langsung pengolahan sampah di kampung-kampung.

Di RT 15 RW 7, rombongan dibawa ke sebuah tanah kosong, tempat lima komposter diletakkan. Komposter tersebut merupakan tempat membuat kompos skala rumah tangga. Selain itu, rombongan mengunjungi pameran produk-produk daur ulang di salah satu lapangan kampung. Di tempat itu warga memamerkan berbagai bentuk produk daur ulang. Antara lain, tas dari bungkus sabun isi ulang dan hiasan dinding dari botol bekas. ”Ini prospeknya sangat bagus. Bisa digunakan sebagai UKM (usaha kecil menengah, Red.),” katanya.

Ketika mereka kembali ke lapangan, kemeriahan road show sudah menyambut. Apalagi, lomba yel-yel antar-RW mulai digelar. Peserta menggunakan berbagai macam lagu lawas yang dimodifikasi dengan lirik bertema penghijauan. ”Sampah yang basah jadi kompos. Sampah yang kering jadi kompos,” nyanyi salah satu kelompok dengan nada lagu Tanjung Perak Tepi Laut.

Sambutan paling meriah muncul ketika seluruh peserta lomba yel-yel menyanyikan lagu Surabaya Green and Clean karangan Camat Wonokromo Indrayana. ”Mari semua kita bergotong royong. Ramai-ramai menanam pohon. Di sekitar lingkungan kita. Agar lebih asri dan hijau,” nyanyi mereka bebarengan sambil berjoget. ”Lagu ini karya besar pujangga Indonesia bernama Indrayana,” ujar Djadi Galajapo yang memeriahkan road show sebagai pembawa acara.

Djadi benar-benar mengocok perut seluruh peserta Surabaya Green and Clean. Misalnya, ketika dia memanggil salah seorang peserta yang datang dari Banjar Sugihan, Tandes. Namanya Sarbini Samsul. Ketika di panggung dia dikerjai Djadi. “Siap grak! Hormat grak! Lho, kok gelem ae,” kata Djadi disambut tawa penonton.

Tak cukup sampai di situ. Djadi melanjutkan dengan jurus kedua. Yakni, jurus buka-tutup. “Tangan saya membuka atau menutup,” kata Djadi sambil membuka tangannya yang disembunyikan di balik punggung. “Membuka,” jawab Sarbini yang tetap dalam posisi siap. Djadi lantas menutup telapak tangannya dan menunjukkan kepada Sarbini. “Salah, menutup,” jawab Djadi. Setiap kali Djadi membuat tebakan, Sarbini dibikin salah dalam menjawab buka tutup.

Terakhir Sarbini merasa kesal dan ogah memberikan jawaban. Djadi pun tak kalah akal. Dia mengizinkan Sarbini memberikan dua pilihan sekaligus. “Buka dan tutup,” jawab Sarbini sambil tersenyum. Di luar dugaan, Djadi masih punya jurus untuk membuat membuat Sarbini kecele. “Salah, tanganku nyengkerem,” katanya. Tawa peserta semakin meledak. ”Sudah tua kok masih lucu,” kata Djadi sambil membiarkan Sarbini berlalu membawa bingkisan dari Jawa Pos.

Selain penuh gelak tawa dan kemeriahan, acara kemarin banjir hadiah. Honda menyediakan door prize, sementara Telkom Speedy memberikan layanan nge-net gratis bagi peserta. Selain itu, sesuai janjinya, Supreme Vegetarian memberikan makanan vegetarian gratis bagi seluruh peserta road show. Di akhir acara, kupon Surabaya Green and Clean diundi untuk sepuluh pemenang. Masing-masing mendapat Rp 500 ribu. (aga/fat)

Source: Jawa Pos Online

Add comment August 4th, 2008

Liburan di DBL Arena

Lebih dari 4.000 Penonton Menikmati Honda DBL 2008

SURABAYA - DBL Arena, gedung basket baru di Jalan Ahmad Yani, kemarin (30/7) seolah berubah menjadi tempat wisata baru. Mulai pukul 10.00 hingga pukul 19.00, lebih dari 4 ribu orang silih berganti memadati gedung yang sedang digunakan melangsungkan pertandingan babak penyisihan grup SMA Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2008 tersebut.

Keramaian penonton tidak hanya berpusat di lapangan basket dan tribun, namun juga di atrium. Ada yang mencoba lapangan basket mini, makan dan minum di food court, serta membuat temporary tattoo di stan Honda.

Di antara ribuan penonton kemarin, ada yang datang berombongan sekeluarga. Salah satunya adalah keluarga Segaf yang datang untuk mendukung sang putra, Muhammad Hasan Al Askari. Hasan merupakan guard tim putra SMAN 1 Surabaya yang kemarin bertanding melawan SMA Santa Agnes Surabaya.

Keluarga itu datang berdua belas. Ada sang ayah, Segaf, 43; kakak dan adik-adik Hasan; serta paman dan sepupu-sepupu Hasan. ”Tadinya yang mau datang sebelas. Sama dengan nomor punggung Hasan. Tapi, ada saudara dari Malang yang baru datang, mau ikut nonton. Ya sudah, akhirnya diajak sekalian. Jadi, datang dua belas orang,” jelas Alwi Baagil, salah seorang sepupu Hasan.

Selain mendukung Hasan, tujuan mereka adalah liburan. ”Kemarin waktu ditelepon, saudara-saudara yang di Surabaya semua bisa datang. Akhirnya, dibawa ke sini sekalian mumpung lagi libur,” tutur Segaf, ayah Hasan.

Di antara seluruh penonton di tribun, rombongan tersebut juga terlihat paling unik. Sebab, seluruh anggota keluarga yang datang mengenakan kopiah hitam dihias pita merah putih. Yang laki-laki dewasa ber-dress code baju takwa putih. Saat mendukung Smasa -sebutan SMAN 1 Surabaya- bertanding, mereka memukul-mukulkan clapper berwarna merah-putih.

”Pakai kopiah, pakai baju takwa, ya supaya terlihat masih sopan. Kalau pitanya, karena sebentar lagi Agustusan,” ungkap Segaf.

Estianing Nurharini, 36, dan putra semata wayangnya, Bisma Putra Sulung, 4, juga tampak menikmati suasana DBL Arena dari tribun. Ibu dan anak itu datang tidak untuk mendukung tim. Melainkan menemani sang ayah, Sutris (37), guru pendamping tim putra SMA Petra 3 Surabaya yang kemarin bertanding.

Esti merupakan pengajar akuntansi di sekolah Cita Hati. Dia telah beberapa kali menonton DBL saat tim SMP dan SMA Cita Hati tampil. Kadang, Bisma juga diajak. Namun, baru kemarin mereka datang sekeluarga.

”Sehari-hari, kami sibuk. Saya dan suami kan sama-sama ngajar. Jadi, jarang bisa ketemu dan keluar bareng-bareng. Kalau libur begini ini, waktunya kumpul. Tapi, karena bapaknya Bisma harus jadi ofisial, kami ikut ke sini. Nggak apa-apa, yang penting bisa kumpul bapak-ibu-anak. Sekalian ndolanin si Bisma,” ungkap Esti.

Kemarin, Bisma memang terlihat riang. Saat sang ibu menonton pertandingan antara tim putra SMA GIKI 2 Surabaya melawan SMA Frateran Surabaya, bocah lucu itu asyik jalan-jalan sendiri.

Tanpa dibantu, Bisma menaiki dan menuruni tribun. Jika lelah, dia berhenti, duduk sendirian di tribun, lalu menonton pertandingan. Jika ada pemain yang berhasil mencetak poin, tanpa peduli pemain tim mana, Bisma tertawa sambil ikut bertepuk tangan.

”Dia memang seneng banget kalau diajak nonton DBL. Senengannya ya gitu itu, naik turun tribun. Tapi, kalau nonton di sini (DBL Arena, Red), kayaknya dia lebih puas. Gedungnya lebih gede, jadi tempat jalan-jalannya lebih luas,” ujar Esti.

Honda DBL 2008 SMA hari ini masih terus berlanjut. Di DBL Arena, bakal digelar sembilan pertandingan sejak pukul 10.00. Sementara di gedung lain, yaitu GOR Basket Kampus C Unair, dilangsungkan tujuh laga sejak pukul 10.00. (rum/dat)

Source: Jawa Pos Online

Add comment August 1st, 2008

Kaktus ala Patrick SpongeBob

SURABAYA - Penuh dengan duri, tanaman kaktus punya kecantikan khas. Penampilannya bisa diubah menjadi imut-imut dengan penambahan sejumlah aksesori. Ditempeli sepasang mata mainan dan pita merah di bagian hidung, kaktus-kaktus berukuran kecil mampu menjelma menjadi boneka lucu.

Kreasi dengan media kaktus itu bisa disaksikan pada Pesta Bunga, Buah, dan Sayuran Khas Nusantara. Acara tersebut berlangsung di Convention Hall TP 3 mulai kemarin (31/7) hingga lusa (3/8).

Boneka lucu dari kaktus tersebut bisa ditemukan di stan Cianjur. Di situ, tanaman asal Amerika Latin itu dijajar rapi. Dipilih yang berukuran kecil untuk ditanam dalam pot berdiameter 8 cm.

Ada tiga jenis kaktus yang dijadikan boneka di stan tersebut. Yaitu, ekor tupai, noto kaktus, dan opuntia. Bentuk ekor tupai menyerupai jari tangan. Warnanya hijau, durinya kuning. Setelah diberi hiasan, kaktus itu menyerupai tokoh bintang laut bernama Patrick dalam kartun SpongeBob SquarePants.

“Konsumen menamainya kaktus SpongeBob. Padahal, saya tidak bermaksud demikian,” kata Deden Saefulloh yang membidani boneka-boneka kaktus itu.

Menurut Deden, tidak sulit membuat boneka dari kaktus tersebut. Dia hanya butuh lem biasa untuk menempelkan pernak-pernik. “Lemnya tidak akan berpengaruh apa-apa pada pertumbuhannya,” jelasnya lebih lanjut.

Boneka dari jenis noto kaktus terlihat seperti boneka beranak pinak. Bentuk kaktus itu bulat bertumpuk-tumpuk. Ada yang besar dan kecil. Ada juga kaktus yang bentuk aslinya seperti Mickey Mouse. Duri kaktus itu lebih sedikit daripada kaktus lain. “Saya ingin menggabungkan konsep tanaman hias dengan handicraft,” tutur Deden yang mulai berkreasi dengan kaktus sejak tujuh tahun lalu tersebut.

Dalam kesempatan kemarin, pria yang sudah mengurus tanaman kaktus sejak 1985 itu juga membagikan resep merawat kaktus. Menurut dia, penyiraman harus disesuaikan dengan tempat tanaman diletakkan. Jika di luar rumah, kaktus cukup disiram sekali dalam sepuluh hari. Kalau di dalam rumah, disiram sebulan sekali sudah cukup. “Penyiraman yang salah bisa membuat kaktus membusuk,” ungkapnya.

Selain boneka kaktus, acara yang diikuti peserta dari 32 provinsi di Indonesia itu menampilkan beragam produk unggulan. Stan Kalimantan Tengah mengusung buah nanas paun. Nanas tersebut berukuran besar dengan berat 3 kg-5 kg. “Berat maksimalnya bisa mencapai 7 kg,” terang John Samson dari Dipertanak Kalteng.

Nanas paun hanya bisa ditemukan di Kalteng. Perkebunannya terdapat di Kabupaten Kotawaringin Timur. Karena kandungan air yang cukup tinggi daripada jenis lain, nanas itu lebih cocok dijadikan sirup dan selai.

Sementara itu, Provinsi Papua Barat memamerkan pala dan segala produk olahannya. Buahnya bisa dijadikan manisan, asinan, sirup, dan kecap. Kemudian, bunganya bisa dijadikan minyak goreng. “Orang Papua senang memakai minyak pala karena cepat panas,” jelas Yosep Robert Kaitau, staf Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat. (jan/ayi)

Source: Jawa Pos Online

Add comment August 1st, 2008

Girly untuk ABG, Glamor Dewasa

Topik kecantikan selalu mampu menjadi magnet yang kuat dalam menarik perhatian perempuan. Meski sudah sering diadakan, demo make-up masih tak surut peminat. Hal itu terlihat pada acara Superwoman yang diselenggarakan di Atrium Supermal Pakuwon Indah (SPI) kemarin (30/7).

Menghadirkan make-up artist bernama Kun Kun untuk berbagi ilmu, kegiatan tersebut dipenuhi peserta. Kun Kun mempraktikkan dua gaya make-up, untuk gadis ABG dan perempuan dewasa. ”Yang ABG bertema girly, yang dewasa glamor,” ujarnya.

Dalam demo, Kun Kun memilih dominasi warna biru dan pink bagi ABG. Riasan mata dipadu warna biru snow flakes. ”Seumuran mereka pakai warna-warna soft,” ucapnya.

Dia juga berbagi tip kepada remaja yang hadir. Dalam merias wajah, jangan terlalu tebal mengaplikasikan bedak. ”Tipis saja,” katanya.

Alasannya, kualitas kulit yang masih bagus tidak membutuhkan bedak berlebihan. ”Jika sudah terbiasa make-up, nggak apa-apa bermain warna. Tapi, kalau belum, pilih saja warna natural,” ujarnya.

Menurut Kun Kun, make-up minimalis saat ini sedang in. Sudah bukan zamannya memakai riasan tebal. ”Sekarang wanita ingin tampil cantik, tapi tidak mau terlihat memakai riasan. Makanya, lebih banyak bermain warna soft,” jelasnya.

Demo kedua menampilkan riasan glamor. Kun Kun lebih banyak bermain dengan warna gold. Kesan tajam namun soft ditampilkan pada riasan mata sang model. Bagian dalam menggunakan warna hijau, namun sudut luar mata dipertajam cokelat gelap.

Trik yang sama bisa diterapkan bila seorang wanita harus mengunjungi dua acara dalam sehari sekaligus, pagi dan malam. Tidak perlu repot-repot mengubah seluruh riasan. ”Pakai riasan yang sama tidak apa-apa,” tegasnya.

Hanya, fokuskan riasan di sudut luar mata. ”Pertajam bagian itu,” ujarnya.

Acara yang merupakan rangkaian Superday @ Supermal itu juga diramaikan peragaan busana kasual oleh model Nik’s Karamasu International Modeling School. (jan/ayi)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 31st, 2008

Face to Fish Wadji Iwak

SURABAYA - Pelukis Wadji Martha Saputra atau yang terkenal dengan nama Wadji Iwak kembali menggelar pameran tunggal. Pada pameran bertajuk Face to Fish itu, Wadji memajang 21 karya terbarunya di Galeri Surabaya, 27 Juli - 2 Agustus. Wadji memang tidak bisa meninggalkan ‘’sosok” ikan pada setiap lukisannya.

”Bagi saya, ikan punya filosofi tinggi. Dia enerjik, tidak pernah lelah, dan selalu berdzikir,” ungkapnya.

Entah ikan laut atau air tawar, tetap saja rasa dagingnya tawar. ”Saya artikan, dia punya prinsip yang kuat,” tegasnya. Prinsip itu pula yang dianut Wadji untuk selalu berkarya. ”Supaya nggak kalah dengan pelukis muda,” jelasnya.

Pameran ini memang sudah disiapkan Wadji setahun yang lalu. Dia ingin menampilkan karya yang berbeda. ”Tidak ikan nyel, ada simbol dan pesan di setiap lukisan,” kata pelukis kelahiran Jombang 53 tahun yang lalu ini. Karya-karyanya kali ini merupakan gambaran rasa yang ada di dalam hatinya.

Wadji melakukan kolaborasi antara ikan dan makna kehidupan. Seperti lukisannya yang berjudul Rindu Kebebasan. Lukisan itu menggambarkan seorang anak kecil sedang menggenggam burung merpati di sebelahnya terdapat akuarium kecil yang berisi banyak ikan. Latar lukisan itu berwarna merah polos.

Dua gambar itu memiliki persamaan. Anak kecil menginginkan sebuah kebebasan yang disimbolkan dengan burung merpati. Sedangkan ikan dalam akuarium juga menginginkan kebebasan bergerak, karena akuarium itu terlalu sempit.

Lalu ada lukisan yang berjudul Berdialog. Lukisan itu bergambar seorang wanita dengan mimik wajah seperti sedang berbicara, lalu di depannya terdapat banyak ikan. Seolah sedang berbicara dengan wanita tersebut. Lukisan inilah yang akhirnya menjadi inspirasi Wadji menamai pamerannya Face to Fish.

Dari semua lukisan yang dipamerkan. Menurut Wadji, lukisan berjudul Proses Kehidupan yang pertama kali dia buat. ”Perlu proses berpikir lama saat membuatnya,” ungkap Wadji.(jan)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 29th, 2008

Next Posts Previous Posts


Calendar

August 2008
M T W T F S S
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category