Simpel Minimalis, Tren Rangkaian Bunga 2008
September 17th, 2008
Ketinggalan Dua Tahun dari Eropa
SURABAYA - Layaknya dunia fashion, seni merangkai bunga juga mengalami perubahan dinamis dari masa ke masa. Tahun ini disebut zaman seni merangkai bunga dengan gaya simpel dan minimalis. Tren itulah yang diperkenalkan dalam Seminar dan Demo Bunga Terdahsyat 2008 di The Empire Palace, Hall II, Lantai 5 kemarin (16/9).
Dipandu pakar merangkai bunga asal Jakarta Andy Djati Utomo, seminar sehari tersebut menampilkan sekitar 20 kreasi rangkaian bunga yang berkiblat pada gaya Eropa. Di hadapan sekitar 300 perempuan yang sebagian besar dari kalangan florist dan para pencinta bunga, Andy memeragakan demo dengan penggunaan beragam material. Dari berbagai jenis bunga hingga penggunaan aksesori floral semacam ranting pohon, daun bambu, dan akseori nonfloral seperti penggunaan kristal atau manik-manik.
Dari sejumlah material tersebut, bisa disaksikan rangkaian bunga dengan aksen simpel namun kaya warna. Seperti yang tampak pada sebuah rangkaian bunga berbentuk bulat dengan aksen bambu melintang di atasnya.
Rangkaian bunga tersebut menggunakan bunga dalam berbagai warna. Antara lain, chrysant merah tua, gerbera oink, lisianthus ungu tua dan muda, serta carnation shocking pink. Untuk aksen hiasan melintang di atas, digunakan serat bambu yang ditata melintang saling bersilangan di bagian atas kumpulan bunga tersebut.
Untuk mempercantik tampilan rangkaian bunga, di beberapa pertemuan persilangan bambu tersebut ditempelkan bunga sintesis yang dilaminating. Rangkaian bunga tersebut sangat cocok untuk even-even besar seperti pernikahan atau pesta ulang tahun. “Keragaman warna dan jenis bunga yang terdapat dalam kreasi ini sangat sesuai dengan acara-acara yang akbar dengan nuansa glamor,” ujar Andy.
Selain tampilan kreasi penuh warna, pria berkacamata itu juga menyajikan tampilan kreasi yang lebih berkesan minimalis. Dengan menggunakan bahan dasar bunga liatris yang berbentuk mirip tangkai hijau memanjang dengan kelopak bergerombol di bagian puncak, Andy menata bunga tersebut melingkar.
Pengikatnya digunakan kawat tembaga. Agar tidak monoton, ditambahkan sejumlah bunga mawar di bagian dalam rangkaian tersebut. Sebagai pemanis, beberapa untaian kristal berwarna biru dikaitkan di bagian luar rangkaian. Serangkain bunga limonium berwarna ungu juga tampak menghiasi bagian dasar rangkaian bunga.
Menurut lulusan Desain Interior Universitas Trisakti, Jakarta, itu, rangkaian tersebut cocok menghiasi rumah tinggal sebagai bagian dari dekorasi rumah bergaya minimalis.
Namun, Andy mengatakan, tren rangkaian bergaya minimalis dan simpel yang baru diperkenalkannya tersebut tergolong tertinggal dibanding negara-negara Eropa. “Tren simpel dan minimalis sudah diperkenalkan di Eropa 2004 hingga 2006 lalu. Intinya, kita ini sudah tertinggal dua tahun,” jelasnya.
Namun, lanjut Andy, konsumen memang masih menggemari seni rangkaian bunga ala Eropa klasik yang identik dengan rangkaian bunga yang megah, besar, dan penuh warna. “Sulit memperkenalkan kepada para generasi senior tentang tren merangkai bunga yang simpel dan minimalis semacam ini. Kebanyakan, yang mau menerima adalah generasi yang lebih muda,” ungkap pria yang juga menjabat ketua umum Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) itu. (ken/ayi)
Source: Jawa Pos Online
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed