Pelukis-Pelukis yang Hormati Ramadan dengan Menggambar Model Berkerudung
September 4th, 2008
Gadis Berjilbab Itu Diabadikan dalam Aneka Goresan
Beberapa anggota Komunitas Pelukis Muda Surabaya (Kosmubaya) sering melukis wanita beraneka pose. Bahkan, tak jarang menggambar wanita dalam keadaan nude atau seminude. Pada Ramadan kali ini, aktivitas itu direm. Mereka memilih wanita berkerudung untuk modelnya.
SEKARING RATRI ADANINGGAR
NOVITA Ariyani duduk bersimpuh di depan Galeri Merah Putih, Kompleks Balai Pemuda, kemarin (3/9). Dia mengenakan kerudung merah muda yang dilekatkan di ujung kepalanya dengan bantuan sebuah jepit rambut. Bajunya berwarna hijau, dipadu rok panjang ungu. Penampilannya bak gadis India.
Di depannya, enam pria tampak sibuk di depan media gambar masing-masing. Ada yang memakai kertas, ada yang memilih kanvas. Selama lebih dari sejam, enam pelukis itu, Hardono, Muit Arsa, Budi A.N., Misgeiyanto, Dodi Subagijo, dan Heru Hercules, unjuk kepiawaian mengabadikan wajah dan pose Novita lewat sebuah gambar.
Sebagai pelukis, mereka memang sudah begitu sering menggambar model. Namun, kata mereka, baru kali ini mereka melukis gadis berjilbab. ”Kami hormati Ramadan. Masak mau yang seksi terus,” ujar Muit Arsa, salah seorang pelukis yang menekuni jalur exo-art atau exotic art.
Sesuai namanya, Muit biasa menekuni aliran lukis yang eksotik, bahkan cenderung sensual. Dia kerap menggambar wanita-wanita setengah telanjang atau wanita dengan pose syur.
Menurut Muit, sejatinya tak ada perbedaan antara melukis pada jalur exo-art dengan melukis model berjilbab kemarin. ”Ini memang lebih pada rutinitas. Sama seperti saat melukis bangunan atau aktivitas manusia,” katanya. ”Bagi saya, spirit terbesar tetap saat saya menekuni aliran saya,” tegas pria berambut gondrong itu.
Kemarin, masing-masing pelukis punya hasil karya berbeda. Hardono, misalnya. Dia memakai teknik drawing. Kemarin, dia memakai dua media berbeda. Yakni, kertas gambar dan kertas bekas kalender.
Pada kertas gambar, Hardono menggunakan charcoal, pensil karbon. Di situ, dia melukis wajah sang model. Sedangkan di kertas bekas kalender, dia memakai pensil dermatograph warna biru dan menggambar sketsa seluruh tubuh model.
Muit punya teknik berbeda. Memakai media kanvas dan cat akrilik, goresan tangannya banyak unsur warna cerah. Gayanya kental nuansa ekspresionis.
Selain itu, ada Heru Hercules, pelukis yang juga pengajar renang. Dia menggunakan teknik drawing dengan pensil warna. Kreasinya pun terbilang lain. Model berkerudung tersebut hanya digambar sebagai sosok mungil di pojok kiri atas kertas gambarnya. ”Saya memang ingin menampilkan sosok yang lain dari model berkerudung itu,” ungkapnya.
Demo melukis bersama tersebut merupakan agenda rutin Kosmubaya. Kegiatan itu diadakan tiap bulan sebagai bahan evaluasi anggota komunitas. Selain demo melukis, komunitas yang beranggota sekitar 75 orang itu kerap mengadakan pameran bersama di sejumlah galeri dan beberapa pusat perbelanjaan. (*/dos)
Source: Jawa Pos Online
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed