By Andi Abdussalam
Jakarta,(ANTARA News) - Prices of basic necessaries in various cities in Indonesia such as in Java, Sumatra, Kalimantan and Sulawesi are moving upward in the face of the fasting month which starts on Monday (Sept 1).
In the meantime, the government has guaranteed that stocks of various essential commodities such as rice, eggs, beef and chickens are enough to meet the need during this year`s religious festivities of Idul Fitri, Idul Adha, Christmas, and New Year.
“We previously doubted the availability of enough stocks but after we checked it in the market, we found that the stocks are enough,” Agriculture Minister Anton Apriantono said over the weekend.
The minister said in order to ensure the availability of basic necessaries, he collected information from regional governments, met with associations food retailers and went to the market to check stocks.
The results of the Ministry of Agriculture`s field inspections showed that food stocks in the face of the religious holidays in 2009 were enough.
Rice stocks reached 35,484.8 thousand tons exceeding the need for 31,799 tons, sugar 6,146.4 thousand tons surpassing the need for 4,842.3 thousand tons, cooking oil 6,216.3 thousand tons well over the need for 3,990.6 thousand tons and peanut 760 thousand tons slightly above the need for 754.1 thousand tons. Chicken meat, beef and egg stocks are also enough.
The government is able to guarantee enough stocks thanks to the country`s increasing food production over the past several years.
Head of national food resilience affairs at the agriculture ministry Dr Achmad Suryana said the average annual production increase in the last four years for rice was 2.6 percent, corn 7.6 percent, soybean 1.4 percent, cassava 1.7 percent, palm oil 18.4 percent, sugar 21.9 percent, beef 6.5 percent, chicken 17.4 percent, chicken eggs 9.2 percent and fish 6.7 percent.
He also predicted that food production in 2008 would be higher than in 2007. The outputs of various foods in 2008 would be paddy 59.9 million tons of dried milled rice, corn 14.9 million tons, sugar 4.5 million tons, crude palm oil (CPO) 19.8 million tons and chicken 1.5 million tons.
While their stocks are enough, basic commodities are having prices move upward in Java, Sumatra, Kalimantan and South Sulawesi as the country`s Muslims begin the fasting month of Ramadan.
“Prices of essential commodities are sky-rocketing due to the high demand for the goods,” Rasman (45), a trader in the Rangkasbitung market, Lebak district, Banten, said.
Prices of a number of commodities in Lebak are increasing in the face of the fasting month. The price of tomato for example has increased from Rp2000 a kg to Rp4000, pea nut from Rp12,000 to Rp13,000 per kg, `kemiri` (fruit of aleurites moluccana tree) from Rp15,000 to Rp18,000 per kg and rice from Rp5,000 to Rp5,500 a kg.
In East Java, particularly in the traditional market of Sidoarjo district, the price on Saturday of chicken eggs increased from Rp12,000 per kg to Rp14,500, chicken meat from Rp20,000 per kg to Rp22,000, coconut from Rp4,000 each to Rp8,000, rice from Rp5,500 per kg to Rp5,700 and LPG in 12-kg cylinders from Rp63,000 to Rp75,000.
“The price of chicken meat has been increasing since two weeks ago. It almost increases every day,” Juariyah, a trader in the Genteng traditional market in Surabaya said.
Prices on other commodities such as rice, chicken eggs, union, garlic, potato and beef are also escalating, she said.
In North Sumatra, traders also confirmed the increase in the prices of basic necessaries. They said prices had over the past two days increased by about 12 percent.
“Prices of slaughtered chickens increased from Rp22,000 each to Rp25,000 and beef from Rp60,000 per kg to Rp70,000,” Mahdi a trader in a Medan Market, said on Saturday.
The same upward trend in the prices of basic commodities are also taking place in Samarinda, East Kalimantan. Essential commodity prices in the province increased by about 10 to 15 percent.
Laksmi Edmond of the local trade and industry office said the price increase was still relatively reasonable. “We still tolerate an increase of about 20 percent provided that we still have stocks,” she added.
In the meantime, the prices of basic commodities in Makassar, South Sulawesi, have been increasing over the past two days. The price of chickens as monitored in the Toddopuli and Terong markets increased from Rp30,000 per head to Rp35,000, beef from Rp40,000 to Rp45,000-Rp50,000, chicken eggs from Rp14,000 per kg to Rp15,000, cooking oil from Rp8,000 per liter to Rp9,500 and palm sugar from Rp6,000 per kg to Rp8,000.
In anticipation of the price increases of various basic commodities in the face of the fasting month and other religious festivities, the Ministry of Trade urged regional administrations to organize cheap markets in their respective province.
The Ministry of Trade has established cooperation with the Indonesian Retailers Association (Aprindo) as well as sugar and cooking oil producers to help the organization of the cheap markets with regional governments.
“We have instructed regional governments to actively launch cheap markets. We hope that they would start organizing cheap commodity markets at the end of August,” Gunaryo, director for market development and distribution affairs of the Directorate General for Domestic Trade of the Trade Ministry, said last week.(*)
COPYRIGHT © 2008
Source: ANTARA News
September 1st, 2008
Di Surabaya ada begitu banyak seniman mumpuni. Mereka tak hanya berkiprah di wilayah kota. Kepiawaian olah seni mereka pun telah terbukti di berbagai ajang di luar negeri. Bermodal seni, mereka menjelajah berbagai negeri.
—
HERI Prasetyo sangat ”berjodoh” dengan Australia. Beberapa kali pria bernama ”keren” Heri Lentho itu terbang ke Negeri Kanguru tersebut. Dia kali pertama unjuk kebolehan menari di Australia pada 1996.
Ketika itu, Heri terbang ke benua selatan tersebut bersama Achmad Fauzi dan Meimura, koleganya di bidang seni. Heri, pria kelahiran Malang, 13 Mei 1967 itu, diundang mengisi acara ArtRage Festival di Perth Institute of Contemporary Arts, Australia. Pada even tahunan di Australia Barat tersebut, dia mengusung tari bertajuk Upacara.
Tahun berikutnya, pria berkepala plontos itu kembali tampil di festival tersebut. Dia datang bersama seniman Syaiful Hajar. Mereka menghadirkan pertunjukan seni instalasi berjudul Rakus. ”Saya menjadi performer-nya,” kata lulusan pendidikan seni tari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya) tersebut.
Rakus adalah pertunjukan yang tidak biasa. Syaiful menampilkan sebuah patung torso berukuran besar berisi daging busuk. Patung tersebut ditempatkan di tengah-tengah labirin dan Heri menari di labirin itu. ”Kami ingin menyampaikan korupsi di Indonesia,” jelasnya.
”Festival itu termasuk ajang seni pinggiran. Meski begitu, kemasannya menarik dan terkonsep,” ungkap Heri yang tampil selama seminggu berturut-turut di festival itu.
Selain Australia, sebelumnya karya tari Heri pernah singgah ke Vancouver, Kanada, 1995. Bersama akademi balet Dewi, Heri menampilkan balet kontemporer Dwi Warna.
Sayang, lantaran keterbatasan dana, hanya karya Heri yang melanglang ke negeri berlambang daun maple itu. Heri sendiri harus tinggal di tanah air. ”Nggak masalah buat saya. Yang penting saya bisa menitipkan karya hingga ke negeri orang,” ujar pria yang mengenal dunia tari sejak usia 15 tahun tersebut.
Undangan tampil di berbagai festival mancanegara itu tak mampir begitu saja. Ada kisah kerja keras di balik pembangunan jaringan ke luar negeri tersebut.
Awalnya adalah kegelisahan Heri ketika banyak yang melabeli Surabaya sebagai kota yang ”malas’berkesenian”.’Ingin mengubah image tersebut, bersama Achmad Fauzi dan Arif Rofiq, dia mengadakan Kiat Tari pada 1992. Itu merupakan wadah para seniman tari untuk saling menunjukkan kreasi tari dan berdialog. Kegiatan tersebut mengundang seluruh seniman Jawa Timur untuk berpartisipasi. Kiat Tari mendapat apresiasi positif.
Bahkan, gaung kegiatan itu terdengar hingga ibu kota dan tercium Sal Murgianto, salah seorang kritikus tari yang tinggal di Jakarta. Dari Sal, Heri dikenalkan kepada Crissy Parrot, seniman tari asal Australia. ”Hubungan kami semakin dekat sejak Surabaya dan Perth menjalin sister city,” jelasnya.
Hubungan baik itu ditindaklanjuti dengan undangan Heri ke ArtRage Festival di Perth, Australia. ”Kami saling bergiliran mengundang. Ketika Festival Seni Surabaya dihelat, kami juga mengundang seniman-seniman Australia,” jelas suami Siti Khamimah tersebut. Berawal dari situlah jaringan internasional terbuka.
Lulusan SMAN 5 Malang itu juga membangun jaringan kesenian di Jakarta, Bandung, Solo, dan Bali. Menurut dia, kota-kota tersebut mempunyai kantong-kantong kesenian yang cukup besar di Indonesia.
Heri pun berkeliling ke seluruh kota di Indonesia menampilkan tari kreasinya. Bahkan, pria yang pernah menjadi dosen tari di sebuah perguruan tinggi negeri tersebut sengaja memilih tempat-tempat yang tidak biasa untuk menggelar pertunjukan kesenian. ”Saya memilih menggelar pertunjukan di hutan, jalan raya, bahkan di kereta api. Saya pernah menggelar tari di sebuah kereta api jurusan Surabaya-Blitar,”’ungkapnya.
Kerja kerasnya tidak sia-sia. Namanya dikenal seniman-seniman di seluruh pelosok Indonesia. ”Melihat kiprah saya, banyak rekan seniman yang menyarankan agar saya membuat festival Heri Lentho,” kata Heri.
Julukan Lentho, penganan dari singkong yang digoreng, itu muncul bukan lantaran Heri berkepala botak. Heri dijuluki Lentho karena itu adalah judul salah satu karyanya yang terkenal.
Namun, ide festival tersebut tak bisa diwujudkan Heri. Sebab, kata dia, masyarakat Surabaya masih belum mengenal seniman dari kiprahnya, melainkan dari nama besarnya. Sementara Heri hanya dikenal di kalangan seniman. Merasa belum pantas menggunakan namanya sebagai sebuah nama festival, Heri menggagas nama Cak Durasim sebagai nama festival. Akhirnya tercetuslah Festival Cak Durasim (FCD) pada 2001.
Heri mengemas FCD sebagai festival yang merakyat. Promosi dan sosialisasi dilakukan gencar-gencaran. Dia datang ke media, membawa seniman ke sekolah-sekolah. Membuat atraksi di jalan raya. FCD pun dikenal di Kota Surabaya. ”Saya ingin kesenian ini dinikmati masyarakat luas mulai remaja hingga kaum lansia. Jangan sampai kesenian hanya dilihat seniman dan teman-temannya,” tegasnya.
Sukses membuat FCD membuat Heri Lentho dilirik oleh sebuah universitas di Australia. Dia mendapat beasiswa untuk kuliah singkat mengenai stage management. Namun, lagi-lagi karena tingginya biaya, kuliah singkat itu tak bias dihelat di Australia. Pelaksanaannya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo. Heri menjadi lulusan terbaik. Sejak saat itu, kiprahnya di dunia manajemen panggung semakin luas.
Berbagai festival dia garap. Di antaranya, Festival Budaya Jawa Timur, Kahyangan Arts Festival, G-Walk Percussion Festival, Surabaya Dance Festival, serta membantu beberapa pertunjukan tari, musik, dan teater dari kelompok kesenian dari luar Provinsi Jawa Timur yang akan tampil di Surabaya.
Dia menggelar pentas tari Korea, Dance of the Millenium, Journey of A Soul dengan koreografer Kook, Soo Ho DIDIM Dance Company di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, 2005. Heri juga mengadakan pertunjukan tari enam Negara (Hongkong, Indonesia, Korea Selatan, Meksiko, Singapura, dan Thailand) dengan judul MATA. Itu merupakan pertunjukan yang dihasilkan oleh Asian-Central America Dance Exchange pada 2007. Heri juga ditunjuk untuk menghadiri Australian Performing Arts Market pada 2002.
Ada satu cita-cita Heri yang belum terwujud. Dengan jaringan yang sudah dibangun sekarang ini, dia berharap lebih banyak seniman local yang bisa berkiprah di dunia internasional. ”Dengan begitu, mata dunia pun lebih banyak melihat bahwa Surabaya banyak menyimpan bakat-bakat luar biasa,” ujarnya. (ign/dos)
Source: Jawa Pos Online
September 1st, 2008