Archive for September, 2008
SURABAYA - Lebaran seringkali disimbolkan dengan ketupat. Lontong yang dibungkus anyaman janur kuning berbentuk kubus itu. Mulai Minggu lalu, ketupat kosongan -tanpa isi lontong– banyak dijual di Pasar Keputran.
Satu gendel terdiri atas 50 biji. Harganya berkisar antara Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu. Pembuat ketupat umumnya memang beli kosongan. Sebab, tidak semua orang bisa membuat ketupat.
Asmuri, salah seorang penjual ketupat kosongan, membuat sendiri bungkus lontong itu di rumahnya. Pria 33 tahun itu berjualan ketupat hanya tiap kali Lebaran. ”Lebih enak menjual di Surabaya daripada di Sidoarjo. Lebih banyak yang laku. Apalagi, Pasar Keputran kan 24 jam,” katanya.
Hanya, Minggu malam itu dagangannya belum banyak yang laku. ”Paling besok (kemarin, 29/9, Red.) pembeli mulai banyak,” kata pria asal Sidoarjo itu. Biasanya dia bisa menjual 600 biji sehari. Bahkan, pernah laku 2.000 ketupat -kosongan–dalam dua hari.
Masa panen penjual ketupat, lanjut buruh pabrik plastik itu, biasanya menjelang Lebaran sampai satu minggu setelah Lebaran. Selain untuk konsumsi sendiri, ketupat biasa disajikan pada tamu. ”Ada juga yang beli hanya untuk pajang-pajangan. Biasanya belinya nggak banyak,” katanya.
Lebaran Bersama
Tahun ini, hampir seluruh umat Islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa genap 30 hari. Sejumlah masjid besar dan organisasi keagamaan Islam ternama juga telah menjadwalkan pelaksanaan salat Idul Fitri pada 1 Oktober 2008.
Di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), misalnya, salat Id akan diikuti oleh gubernur dan Muspida Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo KH Ahmad Suyudi didapuk menjadi khatib, sedangkan Abdullah Hilmy sebagai imam. “Untuk menghindari kemacetan, kami mengimbau jamaah agar hadir sebelum pukul 05.00,” kata Direktur Utama MAS Drs H Endro Siswantoro MSi.
Masjid yang bisa menampung 80 ribu jamaah tersebut menyediakan area parkir yang bisa diakses dari lima arah. Dari akses tol, jamaah bisa memasuki masjid melalui pintu sebelah barat. Dari arah Pagesangan dan Pagesangan Baru, jamaah bisa langsung menuju area parkir lapangan MAS, sebelah barat gereja.
Pintu MAS sebelah timur akan dibuka untuk jamaah yang memilih datang melalui Jalan A. Yani dan Menanggal. Lahan parkir milik Rumah Makan Agisyang terdapat di sebelah selatan masjid bisa diakses melalui jalan lingkar. Terakhir, parkir VIP terletak di sebelah barat masjid, samping kantor sekretariat. Lima area parkir tersebut bisa menampung sekitar 1.500 sepeda motor dan 1.206 mobil.
Di Masjid Muhammad Cheng Hoo, salat Id akan dipimpin oleh anggota dewan penasihat MUI Fuad Ansyari. “Luas masjid kami 9 x 11 meter. Tentu tidak cukup untuk menampung jamaah,” terang Ahmad Hariyono Ong selaku imam masjid. Untuk itu, pihaknya telah menyediakan tempat seukuran tiga kali lapangan basket. Area parkir juga sudah disediakan mulai samping Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
Sementara itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Gresik KH Moh. As’ad Thoha bakal menjadi khatib sekaligus imam salat Id di Masjid Kemayoran, Jalan Indrapura. Tema khotbahnya Merajut Kasih Sayang sebagai Citra Insan Idul Fitri. Sedangkan di Masjid Agung Sunan Ampel, imam dan khatibnya adalah KH Abdul Rouf Djabir dari Gresik. Masjid Mujahidin, kawasan Perak Barat, berencana melaksanakan rangkaian salat Id sejak pukul 05.30 dengan dipimpin Muhalimin Mahir. Lulusan Islamic University of Madinah pada 2001 itu membawakan tema Kukuhkan Persatuan Umat Islam.
Menurut Muhalimin, secara garis besar dirinya akan berbagi resep agar umat Islam tidak terpecah belah dan tercerai-berai. Ada empat hal yang bisa dilakukan. Di antaranya, menjaga silaturahmi, menjadi manusia pemaaf dan lapang dada, menghindari kedengkian, saling peduli, dan saling mendoakan. “Kekuatan doa itu sangat dahsyat. Apalagi, diimbangi infak. Insya Allah hidup dan harta kita akan menjadi barokah,” ucapnya. (nur/dre/aga/fat/cfu)
Source: Jawa Pos Online
September 30th, 2008
SURABAYA - Sarana rekreasi di Taman Flora, Kebun Bibit bertambah satu lagi. Selain rusa dan sarana permainan anak, kini dibangun kolam ikan hias yang cantik.
Kepala DKP Hidayat Syah mengatakan, penambahan fasilitas itu dilakukan untuk memanjakan para pengunjung Taman Flora. Sebab, kata Hidayat, jumlah pengunjung dari waktu ke waktu semakin bertambah. ”Semua segmen usia datang ke situ. Mulai anak-anak, remaja, hingga para manula,” jelasnya.
Hidayat berangan-angan, taman itu menjadi salah satu ikon kota, terutama kawasan Surabaya Timur. Sebab, di pusat kota sudah ada Taman Bungkul. ”Rencananya, tiap kawasan akan ada ikon taman kota,” terangnya.
Hidayat mengatakan, kolam ikan hias itu akan dipenuhi dengan berbagai jenis ikan. Dengan begitu, bakal menjadi daya tarik tersendiri, terutama untuk anak-anak. ”Sejak ada rusa-rusa di sini, pengunjung anak makin membeludak. Karena itu, kami berharap kolam ini menambah daya tarik Taman Flora,” terang pria asli Palembang itu.
Kemarin (29/9), para petugas DKP terlihat membersihkan air kolam itu. Maklum, pembangunan kolam hampir rampung seratus persen. Beberapa pengunjung juga terlihat senang dengan adanya fasilitas baru tersebut. Sayang, Hidayat mengaku tidak hafal anggaran yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas yang satu itu.
Rencananya, DKP juga bakal menambah fasilitas permainan anak-anak maupun sarana hiburan di situ. ”Taman Flora bisa disebut multifungsi. Tak hanya sekedar untuk rileks, tapi bisa juga untuk belajar dan mengadakan pelatihan,” urainya. (kit/oni)
Source: Jawa Pos Online
September 30th, 2008
Across the world, Muslims are preparing to end Ramadan celebrations this week. It’s a time when families and friends come together to break their month long fast. In Indonesia tens of millions people are now making the long journey across the archipelago, returning to their hometowns and villages.
HAMAN: Despite the stifling midday heat hundreds of travellers have crammed into their trains hours before they depart Jakarta’s Senen train station. Those that arrived six hours before may well have secured a seat but others, who came with just a few hours to spare, must spend the next 12 hours or more on a small and hard patch of carriage floor.
Welcome to holiday travel in Indonesia. When the first glimpses of the new moon appear sometime in the middle of this week Indonesia’s Muslim faithful will share the end of Ramadan celebrations, known here as Lebaran or Idul Fitri, with their loved ones. And many millions will have traveled vast distances on trains, buses, ferries and planes to get there.
Of the 15 million or so expected to use public transport, the vast majority will travel by train. Indonesia’s state-owned train network says 800 people have toiled since June this year to build an extra 86 train carriages to accommodate an expected 20% increase in passengers.
Together with her husband and two young boys Ningsih must travel twenty-four hours to reach her parents village in east Java. The journey is one of joyful anticipation and sad reflection. When she arrives one of her first activities is a visit the grave of her first-born son.
NINGSIH: It’s very important that I go home, firstly to see the grave and secondly to visit my parents. But most importantly is to see the grave. I have been dreaming about him, about meeting him.
HAMANN: What do your parents do when you arrive?
NINGSIH: They will be happy. My parents are old and not in good health. They are expecting me to come home. My mum had a stroke. I really want to see them too. I really make an effort to go home every year just in case.
HAMANN: Like many families Ningsih and her husband have felt the pressure of rising prices this year. Ningsih queued overnight a month ago to buy her tickets and avoid paying the holiday increases but she says the tickets were still 80% more than last year.
Despite the heat and prospect of many hours on a cramped train, those departing Senen station faced their journeys with good humor and excitement. Romdoni lives and works alone in Jakarta. He is returning to his family in Central Java for the first time in nine months.
ROMDONI: I miss my family, especially now I have grandchildren. I really miss them. I don’t mind queuing up here since morning. It’s all because I want to see my family.
HAMANN: More than 40,000 police have been deployed to manage the exodus by road from major cities, providing security for the journey and empty residences. The Ministry for Transport estimates that 2.5 million people will make the journey home on motorcycles, creating headaches for traffic police and congestion for those traveling by car and bus.
Motorcycle use has risen dramatically in recent years and with it the death toll from road accidents. According to the Indonesian Consumers` Foundation Institute, 320 people died during last year’s Idul Fitri travel period. The government says it would like to limit motorcycle use but concedes that at a tenth of the price of train travel taking a family of four home on two wheels is the only option for many.
Source: http://www.radioaustralia.net.au
September 29th, 2008
SURABAYA - Sekelompok gadis muda tengah menari lincah. Mereka bergoyang diiringi musik bernuansa Timur Tengah dengan lirik berbahasa Osing, Banyuwangi. Para penari berkerudung tersebut menyajikan tari Kundaran, khas daerah di ujung timur Jawa itu, yang dikemas dalam bentuk kesenian Kuntulan.
Tari tersebut merupakan satu di antara empat tarian Tydif Studio yang ditampilkan dalam even Ramadan, Moment of Purity di atrium Supermal Pakuwon Indah (SPI) kemarin (28/9).
Selain Kundaran, disuguhkan tari Dolan Sore yang ditarikan enam penarik cilik. Sesuai namanya, tarian kreasi tersebut menceritakan sekawanan anak kecil yang sedang bermain. Terkait dengan tema bulan suci, tari tersebut mengungkapkan kegiatan yang dilakukan anak-anak sembari menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa.
Dalam balutan kostum oranye dan hijau, gadis cilik tersebut tampil atraktif menarikan sejumlah permainan tradisional yang mulai dilupakan. Di antaranya, cublak-cublak suweng hingga slebor-slebor.
Selain penari tari Dolan Sore, sejumlah gadis cilik tampak lucu dalam balutan kostum ala burung berwarna biru dan putih. Mereka menarikan tari kutilang. Layaknya kostum dan tema tarian, mereka menarikan gerakan-gerakan dengan kedua tangan seolah-seolah sedang terbang seperti burung kutilang.
Tari bernuansa Timur Tengah tampak ditampilkan oleh sekelompok remaja berkostum merah yang dipadu nuansa emas. Gadis-gadis berjilbab tersebut menarikan tari kreasi Cahaya Islami. Sesuai judul tari, gadis-gadis tersebut menarikan tarian yang mengandung pujian-pujian bernuansa Islami.
Menggunakan dua kipas, mereka menarikan gerakan-gerakan yang menggambarkan pemujaan kepada Sang Khalik. ”Maksudnya, para gadis yang religius pasti akan memancarkan aura yang mirip cahaya,” ujar Diaztiarni Ashar, pemimpin sanggar tari Tydif.
Bukan hanya tari-tarian Islami, sekelompok musisi hadrah ikut memarakkan acara tersebut. (ken/dos)
Source: Jawa Pos Online
September 29th, 2008
SURABAYA - Selama ini orang menganggap karya seni mesti bagus, rapi, dan mulus. Tapi, desainer estetika Agus Gembel H.S.T. berpendapat lain. Pendapatnya itu seperti terekspresikan dalam karyanya yang dipamerkan dalam Kemasan: Pameran Bersama Seni Apropriasi Fotografi di Galeri Surabaya kemarin (24/8) hingga 28 September.
Dalam karya berjudul Response for the Sickness is Blue, dia merespons benda-benda bekas. Mulai daun pintu, papan bekas proyek bangunan, bambu tempat umpan ikan, hingga paku-paku yang susah berkarat. Semua digabungkan dengan foto-foto seorang laki-laki yang sedang mengangkat kakinya, sehingga terbentuk sebuah bingkai unik.
Karya lain diberi judul Jangan Pukul Orang Tidur. Agus membuat konsep menarik di sini. Dia meletakkan empat ban mobil bekas yang ditempeli dengan puluhan foto ukuran 2R (6 x 9 cm) bergambar pose orang tidur. ”Foto-foto itu saya ambil ketika melakukan perjalanan,” kata alumnus Teknik Arsitektur ITS itu.
Di atas ban terdapat sak tinju yang digantung. Di sisi kanan kirinya ditempeli foto orang tidur dan orang yang berteriak. Foto-foto tersebut dibiarkan sobek terkena efek dari pukulan pengunjung pada sak tinju.
Foto orang berteriak yang sudah sobek dan lusuh itu lalu diganti Agus dengan foto yang utuh. ”Memang sudah lusuh, tapi kalau foto itu saya bingkai dengan rapi lagi, akan jadi karya menarik,” jelasnya. Dan, itu akan terus dilakukan hingga pameran selesai.
Pesan yang ingin disampaikan Agus dalam karya itu, terkadang seseorang tidak menyadari bahwa dirinya memberikan masalah bagi orang lain. ”Setiap orang ingin dimengerti, tapi dia tidak mau mengerti orang lain,” tegasnya.
Seperti judulnya, sebenarnya foto orang tidur yang tertempel di sak tidak boleh dipukul. Namun, yang terjadi, foto tersebut sobek menjadi beberapa bagian. ”Itu bukti bahwa kita belum mau mengerti orang lain,” jelasnya.
Tidak hanya Agus. Ada delapan seniman foto lain yang memamerkan karya-karyanya. Mereka adalah Sapto Agus Kristanto (Jogja), Ucie Mickey (Malang), T.P. Sasongko (Surabaya), Zamroni (Jakarta),D.K. Wira S. (Jakarta), Danang Yogaheratno (Jogja), Iin (Surabaya), dan Achan (Malang). Total 17 karya.
Karya unik lain berjudul Rest-Kontemplasi-Moving yang terdiri atas tiga foto karya Zamroni. Foto yang dihasilkan tidak melalui kamera melainkan dari scanner. Salah satunya tumpukan resep dokter, bungkus obat, sendok, surat konsultasi, resep dokter, hingga kuitansi pembayaran.(jan/ari)
Source: Jawa Pos Online
September 26th, 2008
SURABAYA: East Java Police will focus on maintaining traffic along the Porong highway in Sidoarjo to ensure all travelers and motorists travel safely to celebrate the Idul Fitri holiday in their home village in the province.
Director of traffic affairs at the provincial police headquarters Sr. Comr. Bambang Sukamto said the highway would be closely supervised by traffic police since the highway connecting East Java with Malang, Pasuruan, Jember, Situbondo and Banyuwangi was prone to traffic jams.
“We are also preparing alternative routes in case the traffic is heavily congested before and after the holiday and in case of any breaks in the mudflow dike, he said an that the alternative route would be through Mojokerto, Mojosari, Pandaan and Pasuruan.
Meanwhile deputy chairman of the Sidoarjo Mudflow Mitigation Agency (BPLS) on operational affairs Soffian Hadi said his agency would continue supervising mudflow conditions to help ensure the smooth flow of traffic along the highway before, during and after the holiday. –JP
Source: The Jakarta Post
September 25th, 2008
Surabaya, (ANTARA News) - KRI Hasanudin from Navy`s Eastern Fleet left here Tuesday for South Korea to join a South Korean Navy anniversary celebration.
“Warships from navies all over the world are joining the event `Republic of Korea Navy international Fleet Review`,” spokesman for the Indonesian Navy`s Eastern Fleet Command, Lt. Col. Toni Syaiful said, adding that the ship with a crew of 13 along with 88 auxiliary crew members, would have to celebrate Idul Fitri in Manila, the Philippines.
The Indonesian Navy`s newest ship commanded by Lieut.Col. I Gusti Kompyang Aribawa will go sail for two weeks.
The auxiliary crew members include a doctor, a navy military police officer, four naval amphibious command personnel, two intelligence officers, two Information officials and three journalists.
KRI Hasanudin left Surabaya for Busan, South Korea via Balikpapan, East Kalimantan, and the Philippines. The crew also had prepared art and cultural performances, because the navy also has diplomatic duties.
“They have practiced the Acehnese Saman and Balinese Kecak dancecs. If they still have a chance, they will also demonstrate their martial arts skills,” Aribawa said.
The entire program will be held from October 6 to 16. (*)navy
COPYRIGHT © 2008
Source: ANTARA News
September 24th, 2008
SURABAYA - Sempat mangkrak, air mancur di perempatan Manyar Kertoarjo-Gubeng Kertajaya mulai difungsikan kemarin (22/9). Seperti yang dicetak dalam rancang bangunan, air mancur tersebut tidak memerlukan bejana atau bangunan untuk rekayasa aliran air.
Air mancur tersebut dibuat hanya mengandalkan pipa-pipa kecil yang diarahkan dengan sudut tertentu. Keindahannya terbentuk dari pola-pola pancuran air. Meski terlihat sederhana, kehadirannya mampu menyegarkan suasana jalan.
Kucuran air mancur tersebut masih belum permanen. Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya masih mencari pola air mancur yang pas. ”Kami masih mencari pola yang tepat. Kira-kira yang paling bagus yang mana. Pipa-pipanya kan masih perlu di-setting lagi,” kata Hidayat Syah, kepala DKP.
Air mancur tersebut sempat mangkrak hampir sebulan. Sebab, kendati sudah jadi, pompa air tak bisa berfungsi karena tidak ada instalasi listrik yang terpasang.
Untuk mempercantik tampilan kota, DKP sedang membangun tiga air mancur lagi. Yakni, air mancur besar di Taman Dolog, taman bekas SPBU Jalan Undaan, dan di Jalan Kenjeran.
Jika sudah jadi, total di Surabaya ada tujuh air mancur. Tiga lainnya sudah terpasang di depan Kebun Binatang Surabaya, Taman Surya, serta pertigaan Jalan Pemuda. ”Kalau banyak air mancurnya, Surabaya kan jadi seger,” ujar Hidayat. (aga/ayi)
Source: Jawa Pos Online
September 23rd, 2008
Surabaya, (ANTARA News) - Hyatt Hotel in Surabaya will change its name into Bumi Surabaya Hotel starting November 1 as its owner failed to renew the contract.
“We get the information from the hotel`s General Manager. However, to make sure of the development, the management planned a meeting with the employees on October 23,” a former trade union member of the hotel Ibnu Haryono said here Sunday.
Haryono further said the employees feel uneasy about the management`s decision not to extend the contract with the Hyatt management. The decision will affect the number of visitors and also affect the employees` income.
“We are sure that the number of visitors will sharply decrease because the regular visitors were Gold Passport Hyatt Card holders,” said Haryono.
According to Haryono, the present management promises the employees will not affected by the development. However, the employees urged the management to make a written statement.
The employees will also evaluate the changes after the first semester to decide on next steps.
The majority stock of Hyatt Regency Surabaya Hotel belongs to Jiwa Bersama Insurance (AJB) Bumi Putera. According to a regulation of the Finance Minister, the insurance company AJB Bumi Putera is not allowed to run business in the property sector, but only in the financing sector.
However, with the sale as an excuse, AJB management insisted on taking over the management of Hyatt Regency and changed its name into Bumi Surabaya Hotel.
COPYRIGHT © 2008
Source: ANTARA News
September 22nd, 2008
SURABAYA - Alkisah, Prabu Duryudana, pembarep Kurawa yang juga raja Astina, marah besar. Sebab, di negerinya berdiri padepokan baru yang dipimpin Begawan Yudowolo. Duryudana lantas mengutus Ditya Kolondaru untuk mengusir Yudowolo dari bumi Astina.
Namun, cerita tak berakhir sesederhana itu. Sebab, sejatinya, Kolondaru -raksasa yang mengerikan- itu adalah jelmaan Jamus Kalimasada, senjata milik Yudhistira, sulung Pandawa. Sebelumnya, senjata pusaka tersebut dicuri oleh Duryudana. Sedangkan Yudowolo adalah jelmaan Petruk, punakawan berhidung panjang. Akhirnya, Jamus Kalimasada, yang kerap diartikan sebagai ”kalimat syahadat” bisa kembali ke tangan Yudhistira dengan selamat.
Lakon Begawan Yudowolo itu kemarin (21/9) dipentaskan Ki B.S. Prayoga di Royal Plaza. Tentu bukan lakon tersebut yang membuat pentas itu terasa istimewa. Bersama 14 kru, Ki Prayoga memainkan wayang kulit dengan racikan musik modern. Pasalnya, grup wayang yang bermarkas di Jalan Mojo tersebut menggunakan keyboard dan drum sebagai pengganti gamelan lengkap. Peranti itu melengkapi rebab, seruling, kendang, dan sejumlah gamelan.
Pergelaran wayang di dalam mal tersebut cukup mengundang perhatian pengunjung. Salah seorang penonton adalah Ratih Heryuliati, 45, warga Jemursari. Ratih yang sedang berbelanja bersama keluarganya memilih duduk menyaksikan wayang kulit. ”Irama gamelannya membuat saya tertarik. Belum tentu setahun sekali saya bisa menyaksikan wayang,” katanya.
Wayang campursari modern itu diselenggarakan dalam rangka Gebyar Ramadhan Bazaar Matahari. Store Manager Matahari Totok Indras mengatakan, pertunjukan tersebut bisa kembali mengangkat pamor wayang kulit. ”Kalau pertunjukannya dilakukan di dalam mal, kan banyak yang menonton,” tuturnya. Karena nuansanya Ramadan, para sinden tidak hanya menyanyikan lagu-lagu Jawa. Mereka juga melantunkan selawat dan puji-pujian. (jan/dos)
Source: Jawa Pos Online
September 22nd, 2008
Previous Posts