Archive for July, 2008

Impikan Wisata Sungai

Kawasan Jemur Ngawinan dikenal sebagai daerah padat. Sungai Kebon Agung di sana pun sering tak terawat. Sebab, pemkot jarang mengeruk sungai tersebut. Padahal, warga sering membuang sampah dan kotoran di saluran yang langsung menuju laut itu.

Namun, Ketua RT 7 RW 2 Jemurwonosari Moch. Zamroji punya cita-cita menarik. Dia ingin menjadikan Sungai Kebon Agung sebagai sarana wisata air. Hal itu dia sampaikan saat mempresentasikan program lingkungan di kantor Kelurahan Jemurwonosari kemarin (20/7). Acara tersebut dipantau langsung Lurah Jemurwonosari Diah Ernawati.

”Dulu, kali itu sering dipakai lomba panjat pinang. Tapi, sungai dibendung dulu di dua sisi, sehingga airnya melimpah dan bisa buat main perahu-perahuan,” ungkapnya.

Tapi, dia menyadari, tidak mudah merealisasikan impian tersebut. Karena itu, saat ini dia memiliki target yang tidak terlalu muluk. ”Saya ingin agar pemahaman warga terhadap kebersihan lingkungan semakin meningkat. Itu dulu yang penting,” tegasnya.

Zamroji juga mengeluhkan minimnya perhatian pemkot terhadap saluran Kebon Agung. ”Pemkot sangat jarang mengeruk. Padahal, timbunan sampah sangat mengganggu warga,” katanya. (oni)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 21st, 2008

Sorak-Sorak Geladi Bersih

Besok, Opening Party Honda DBL 2008

SURABAYA - Sorak-sorak saat pertandingan basket sudah biasa. Sorak-sorak saat geladi bersih tanpa pertandingan? Itu hanya terjadi di Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2008.

Sabtu besok siang, kompetisi basket pelajar terbesar itu dibuka di GOR Kertajaya Surabaya. Bila biasanya kompetisi dibuka dengan pertandingan SMA, tahun ini Opening Party justru dibuka dengan pertandingan SMP.

Open gate pukul 12.30, tim putri SMP Santa Agnes akan membuka kompetisi melawan SMPN 12 Surabaya. Disusul tim putri SMPN 6 melawan SMPN 39 Surabaya, kemudian tim putra SMPN 12 versus SMPN 19 Surabaya. Sebagai partai puncak, ada ulangan final 2007 lalu: Tim putra SMP Petra 5 menantang juara bertahan SMP Ciputra Surabaya.

Kemarin, tujuh tim sudah berkumpul bersama panitia di GOR Kertajaya. Hanya tim putra SMP Ciputra yang mendapat dispensasi khusus (geladi bersih terpisah), karena beberapa pemainnya masih berada di luar negeri.

Mereka harus mengikuti sesi pemotretan dan geladi bersih, karena harus paham betul segala prosedur pertandingan saat Opening Party. Berbeda dari hari-hari biasa, pada laga pembuka, panitia dari DetEksi Jawa Pos memang selalu menyiapkan show khusus.

Ketika masuk lapangan, para starter dipanggil satu per satu, dan wajah mereka ditampilkan satu per satu pula di layar besar. Panitia juga menyiapkan permainan api untuk membuat suasana makin heboh.

Saat geladi bersih itulah, para pemain menunjukkan semangat yang meluap-luap. Khususnya anak-anak SMPN 12, yang bersorak-sorak di atas tribun sambil membawa atribut berbentuk hati, bertulisan ”12”. Setiap nama pemain mereka dipanggil, mereka berdiri, bertepuk tangan, dan menyerukan yel-yel. Suasana pun seperti sudah pertandingan resmi.

”Saat pembukaan nanti, tribun pasti akan penuh dan sangat ramai. Untuk membiasakan diri, kami (tim putra, Red) berusaha membuat suasana ramai itu sekarang. Supaya nanti tidak kaget,” jelas Vicky Aditya, forward tim putra Rholaz (sebutan tim SMPN 12).

Tim yel-yel SMPN 6 dan SMPN 39 kemarin juga terlihat antusias. Saat tim basketnya latihan prosesi masuk lapangan, tim yel-yel ikut menyoraki dari sisi lapangan. Mereka juga beberapa kali mencoba beraksi di lapangan. Tim yel-yel Spensix (SMPN 6) berlatih membuat piramid, sedangkan tim yel-yel Spentigs (SMPN 39) mencoba beberapa gerakan dance.

”Meski baru geladi bersih, kami sudah menganggap seperti tampil di pertandingan yang sesungguhnya. Makanya, tadi kami terus bersorak dengan semangat,” ungkap Adisa Aprilia, kapten tim yel-yel Spentigs.

Yang bikin panitia makin geleng-geleng kepala, tim yel-yel Spentigs berkali-kali terlihat pura-pura jatuh. Ketika ditanya untuk apa, jawabannya untuk mengetes kondisi pinggir lapangan.

”Kami kan belum pernah tampil di GOR Kertajaya. Jadi, kami mengetes kondisi pinggir lapangan sekaligus mereka-reka luas lapangan untuk penampilan kami yang sesungguhnya nanti,” jelas Adisa.

Usai Opening Party Sabtu besok, mulai Minggu, Honda DBL 2008 tingkat SMP langsung berlanjut di dua gedung. Yaitu, di GOR Basket Kampus C Universitas Airlangga dan Sport Hall Santa Agnes. Setiap hari, masing-masing gedung menyelenggarakan hingga sepuluh pertandingan.

Pembukaan tingkat SMA baru akan diselenggarakan 26 Juli mendatang, di gedung baru DBL Arena, di Jalan A. Yani Surabaya. (hil/rum)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 18th, 2008

East Java squad on the brink of Games supremacy

Musthofid, The Jakarta Post, Samarinda

With only the soccer finals yet to be decided, East Java clinched the overall championship at the National Games on Wednesday, relegating Jakarta to third place.

East Java can top off its triumphant run in the 12-day competition in style when it takes on Papua in the soccer final on Thursday. The Games will officially close after the match at Samarinda’s Palaran Stadium.

As of 9 p.m. on Wednesday, East Java had a medal tally of 135 gold medals, followed by hosts East Kalimantan with 115 and Jakarta with 107. West Java and Central Java rounded out the top five with 100 and 52 gold medals respectively.

Jakarta, which used to dominate the quadrennial sporting showcase in past decades, blamed its poor showing on large numbers of athletes switching allegiances to other provinces, especially East Kalimantan.

“East Kalimantan got 21 gold medals through these mercenary athletes,” said Yudi Suyoto, head of the Jakarta contingent.

Among those who joined East Kalimantan from Jakarta is equestrian athlete Larasati. East Kalimantan swept all six gold medals up for grabs in the equestrian competition.

Yudi said he would never welcome back these athletes, whom he dubbed betrayers.

“No way back,” he said.

The defending champion’s collapse was most apparent in the badminton competition. Four years ago, it took five of seven gold medals in this competition.

This year, the Jakarta badminton team could only manage three, two of which came in the finals on Wednesday, in which the team’s sportsmanship was thrown into question in the women’s singles final.

Pia Zebadiah, scheduled to play teammate Adriyani Firdasari in the final, did not show up, handing Firdasari the victory by default.

However, the team’s strategy to rest Pia for the doubles final backfired spectacularly, as North Sulawesi’s Greysia Polii and Nathalia Poluakan defeated Pia and Jo Novita 18-21, 21-14, 21-16.

Jakarta’s second gold of the day came from Simon Santoso, who defeated Central Java’s Andre Kurniawan 21-13, 21-23, 21-13 in the men’s singles.

Devin Lahardi and Lita Nurlita of West Java beat Muhammad Rijal and Yulianti of Central Java 21-10, 21-19 to win the mixed doubles gold, while Tony Gunawan and Bambang Supriyanto of East Java struggled to a 21-19, 15-21, 22-20 win over Fernando Kurniawan and Moh. Hasan of North Maluku in the men’s doubles final.

East Java, which last won the overall championship in 1996, consolidated its position at the top of the table with gold in waterskiing, archery and hang gliding.

Also taking gold in the hand gliding competition were Jakarta, Banten, North Sulawesi and Central Java.

East Java athletes also picked up three pencak silat (traditional martial arts) gold medals at Samarinda’s Sempaja Stadium, and three gold medals in sailing.

Jakarta took the most gold medals on the day, with three in pencak silat and another three in sailing. It also added one from gymnastics, as well as synchronized swimming and rock climbing.

East Kalimantan bagged two gold medals in pencak silat, with one each from hockey, waterskiing, shooting and rock climbing.

West Java, which finished third four years ago, was also a contender for third place this year. It dominate the chess competition, taking eight of 12 gold medals, the last two coming on Wednesday from the men’s and women’s team events.

Medal Tally

1. East Java
Gold: 135
Silver: 109
Bronze: 106
Total: 350

2. East Kalimantan
Gold: 115
Silver: 109
Bronze: 115
Total: 339

3. Jakarta
Gold: 107
Silver: 114
Bronze: 115
Total: 336

4. West Java
Gold: 100
Silver: 84
Bronze: 125
Total: 309

5. Central Java
Gold: 52
Silver: 77
Bronze: 74
Total: 203

Source: The Jakarta Post

Add comment July 18th, 2008

Kolam Ikan di Taman Flora

SURABAYA - Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya terus melakukan pembenahan dan penambahan fasilitas di Taman Flora, Bratang. Setelah mendatangkan rusa tutul dari Madiun dan RSU dr Soetomo, kini DKP sedang membangun kolam ikan di taman itu. Tujuannya untuk memanjakan pengunjung dari berbagai golongan usia.

”Antusiasme warga untuk mengunjungi Taman Flora saat ini lagi tinggi-tingginya. Kami perlu meresponsnys,” cetus Hidayat Syah, kepala DKP Surabaya kemarin.

Salah satu upaya yang dilakukan DKP saat ini dengan menyulap tandon air di Taman Flora menjadi kolam ikan. DKP hanya memberi tambahan filter penjernih air untuk menjadikan kolam ikan itu. Setelah jadi, kolam itu akan ditebar berbagai jenis ikan hias. ”Anak-anak pasti suka. Kami berharap Taman Flora nanti juga menjadi salah satu ikon kota ini selain Taman Bungkul,” ungkapnya.

Setelah DKP memelihara burung dan rusa tutul, kehadiran ikan hias di kolam itu diharapkan bisa menjadi daya tarik pengunjung. Apalagi, pengadaan kolamnya tidak sampai memakan anggaran banyak. ”Pokoknya di bawah Rp 50 juta. Itu masuk proyek PL (penunjukan langsung, Red) kok,” tutur pria asli Palembang itu.

Tak sekedar membuat kolam, DKP juga akan melengkapi dengan berbagai tanaman hias di sekitar kolam, seperti bunga anggrek dan mawar. ”Sekarang anak-anak senang berlama-lama di sini. Mereka tak sekadar bermain dan bergembira, tapi banyak yang menikmati tempat ini dengan belajar. Mungkin karena suasananya yang nyaman,” jelas Hidayat.

DKP juga akan melengkapi area taman dengan sarana outbound. Dengan demikian, lengkaplah sarana dan prasarana hiburan di taman itu. ”Taman ini akan dikenal sebagai pusat hiburan keluarga,” ucapnya.

Sarana outbound itu misalnya seperti jembatan dari yang melintang di dua tempat. Praktis ketika outbound dilakukan, kerja sama antara satu orang dengan yang lain akan terjalin. ”Tujuannya kita untuk mengikis sifat individualistis warga kota. Yakni dengan mengakrabkan lewat jembatan tadi,” tutur alumnus ITS itu.

Dengan berbagai fasilitas di taman Taman Flora bisa menjadi sarana pelepas lelah dari rutinitas sehari-hari. ”Sebisa mungkin kami ingin memperbanyak ruang publik yang menghibur untuk warga kota,” ujarnya. Dengan begitu, Surabaya diharapkan memiliki ikon wisata sendiri. (kit/ari)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 17th, 2008

Pameran Karya Sepasang Hati

SURABAYA - Pelukis sketsa Tedja Suminar untuk kali pertama berpameran bersama istrinya yang sudah tiada, Moetiana. Dalam pameran di art gallery House of Sampoerna pada 15 Juli-4 Agustus itu, Tedja menampilkan 31 karya sketsa, sedangkan mendiang sang istri memamerkan 19 lukisan.

Pameran bertajuk Dua Dimensi Karya Sepasang Hati Tedja & Moetiana itu terasa istimewa karena yang ditampilkan karya-karya kenangan sepasang kekasih. Hampir seluruh lukisan dekoratif Moetiana bernuansa Pulau Dewata. Mulai gerak dinamis penarinya, suasana pasar, hingga aktivitas keseharian penduduk. Moetiana seolah ingin bercerita keindahan Pulau Bali yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.

Tedja banyak menyuguhkan karya yang menggambarkan berbagai situs di Surabaya sebagai objek. Mulai bangunan paling modern hingga situs-situs tradisional.(ken/ari)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 16th, 2008

Pameran Lukisan Reuni Alumni Unesa

SURABAYA - Acara temu alumni tidak selalu dilakukan dengan gathering night atau semacamnya. Para alumnus Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 1987-2003 mengadakan even pameran lukisan bersama sebagai ajang reuni itu. Pameran tersebut diadakan di Galeri Surabaya, Kompleks Balai Pemuda, 14-19 Juli 2008.

Pameran bertajuk “Lintas Generasi” tersebut menampilkan 21 lukisan berbagai aliran dan tema. “Kami membebaskan teman-teman untuk berkreasi sebebas-bebasnya,” jelas Purnadi, salah seorang pelukis.

Kebebasan berkreasi itu terlihat dari karya masing-masing pelukis. Mulai realis, surealis, hingga abstrak, semua ada. Setiap pelukis saling menyajikan gaya dan tema favorit masing-masing. Ada yang memilih kehidupan sehari-hari. Ada pula yang melontarkan kritik sosial. Lukisan-lukisan tersebut juga dijual dengan harga berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 10 juta.

Untuk media, kebanyakan, pelukis menggunakan cat acrylic dan cat minyak. Namun, ada pula yang menggunakan beberapa media (mix media) seperti pensil atau bolpoin yang dipadu dengan cat minyak.

Salah satu karya yang menggunakan mix media adalah lukisan milik Purnadi. Lukisan berjudul Keberkahan itu menggambarkan tokoh Semar yang tengah menaburkan bunga kamboja. Sosok Semar dilukis menggunakan bolpoin. Sedangkan bunga-bunga yang jatuh berguguran dengan latar warna biru sebagai langit dan warna cokelat untuk tanah menggunakan cat minyak.

Pelukis lainnya, Ahmad Sifin, menggunakan pensil warna dan cat acrylic untuk menggoreskan objek gambar. Ahmad menyajikan sebuah lukisan bergambar seorang wanita yang mengenakan jubah panjang sebagai penutup kepala. Wanita itu sedang membaca Alquran. Lukisan bertajuk Wanita Sebenarnya tersebut seolah menggambarkan sosok wanita ideal menurut si pelukis. (ken/ari)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 15th, 2008

Kreatifitas ala Kampung Mak Nyus

SURABAYA - Warga RT 9 RW 3 Kupang Krajan, Sawahan, memiliki cara unik untuk mengolah sampah. Seminggu sekali, warga kompak membuang sampah kering ke sebuah rumah di Jalan Kupang Krajan Lor II Nomor 17. Rumah itu milik Raden Abdullah Saleh. Dia rela rumahnya yang berukuran 4 x 10 meter tersebut dijadikan tempat sampah kering.

Bermacam sampah masuk ke rumah tersebut. Mulai bungkus pasta gigi, karton boks susu, botol air mineral, dan beberapa jenis sampah kering lainnya. ”Kalau rumah itu sudah mau penuh sampah, barulah ibu-ibu PKK memilah-milahnya,” jelas Muhammad Ikhsan, 62, ketua RT 09 RW 3.

Setelah itu, baru sampah tersebut dibawa ke balai RT untuk diolah menjadi barang kerajinan. ”Biasanya sebulan sekali kami memilah sampah, baru kami buat barang kerajinan,” katanya.

Sampah yang telah dipilah itu pun berubah menjadi barang kerajinan menarik. Di antaranya, rompi, payung, dan keset. Tak cukup hanya itu, bra yang sudah tidak dipakai bisa disulap menjadi tas kecil yang cantik. ”Daripada dibuang, kan sayang. Mending dibuat tas, malah lebih bermanfaat,” ungkap Lilik, salah seorang anggota PKK RT.

Selain sampah, RT 09 RW 3 memiliki sebutan unik, yakni Kampung Mak Nyus. Mak Nyus adalah akronim Masuk Area Kampung Nyaman Udara Segar. Sebutan itu memang tidak berlebihan. Sebab, suasana di kampung tersebut memang nyaman. Di setiap rumah ada pot bunga yang berjajar rapi. Suasana makin terasa apik karena jalan berpaving dicat berwarna-warni. (obi/oni)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 11th, 2008

Momen Kebangkitan Brand Surabaya

The MarkPlus Festival

SURABAYA - Hermawan Kartajaya mengungkapkan keheranan dalam The MarkPlus Festival di Grand Ballroom Hotel Shangri-La kemarin (10/7). Sebab, peserta membeludak. Panitia memperkirakan, midyear market review itu bakal diikuti 1.500 peserta. Eh, yang datang mencapai 1.700 orang.

”Ini berarti antusiasme masyarakat Surabaya terhadap marketing begitu tinggi,” kata Hermawan ketika welcome speech kemarin pagi.

Dia menegaskan, festival tersebut merupakan momen kebangkitan brand-brand Surabaya. Sebab, brand-brand itu telah terkenal. Tak hanya di tingkat lokal, tapi juga internasional. ”Jangan sampai brand Surabaya tergilas brand-brand Jakarta,” tegasnya disambut tepuk tangan penonton.

Setelah Hermawan memberikan sambutan, Menkominfo Mohammad Nuh tampil sebagai keynote speaker. Pria yang juga arek Suroboyo itu menegaskan bahwa posisi marketing tak bisa dianggap remeh. ”Marketing adalah jembatan antara produsen dengan konsumen. Posisinya sangat krusial,” kata mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu.

Sesi yang cukup dinanti kemarin pagi adalah Surabaya Sparkling Awards. Penghargaan tersebut diberikan kepada kampus-kampus yang memenangi Student Marketing Strategy Competition 2008.

Tim juri diketuai Dr Sonny Nursutan Hotama. Anggotanya adalah Yusak Anshori (Surabaya Tourism Promotion Board), Suhartoyo (kepala Dinas Pariwisata), Suwito Sumargo (MarkPlus Club), Azrul Ananda (wakil direktur Jawa Pos), Totok Chrisdianto (Hard Rock FM), dan Agus Giri Santoso (MarkPlus Inc).

Juara satu dan tiga diboyong Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Yakni, tim Semanggi pada juara pertama dan tim Soerabaya Tempo Doeloe sebagai juara ketiga. Posisi runner-up dicuri tim Obama dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Tim Semanggi yang beranggota tiga mahasiswa angkatan 2004 itu mengusung strategi holistik dalam memasarkan Surabaya. ”Kami membedakan pemasaran itu menjadi dua. Yakni, internal dan eksternal. Keduanya harus ada integrasi,” jelas Glorya Natallyna, salah seorang anggota tim.

Dia mencontohkan image-building Sparkling Surabaya. Jargon itu tak banyak dipahami warga Surabaya. Berdasar survei yang mereka lakukan sejak April, tak banyak warga metropolis yang memahami makna Sparkling Surabaya.

”Mereka memang tahu dan pernah dengar Sparkling Surabaya. Tapi, mereka tak pernah memahami apa maksud Sparkling Surabaya itu,” kata Adiel Paradiella, anggota lainnya.

Brand Surabaya yang Mendunia

Kemarin pagi, diserahkan pula Surabaya Brand Award. Yakni, penghargaan untuk brand Surabaya yang telah banyak dikenal sesuai kategorinya. Untuk menentukan, ada lima juri yang terlibat. Yakni, Nany Wijaya (direktur Jawa Pos), Daniel M. Rosyid (Indonesian Marketing Association Jatim), Errol Yonathan (direktur operasional Suara Surabaya Media), Tanadi Santoso (MarkPlus Club), serta Hermawan Kartajaya (MarkPlus Inc).

Ada sepuluh brand yang meraih penghargaan kategori lokal. Yakni, Wong Hang Distinguished Taylor, Biskuit UBM, Lem Rajawali, Jamu IBOE, Minyak Goreng Ikan Dorang, Haryono Tour and Travel, Hartono Elektronik, Kerupuk Udang Finna, Cat Emco, serta air minum dalam kemasan Club.

Sementara itu, untuk kategori nasional, terdapat sembilan brand. Yakni, Wismilak, Viva Kosmetik, So Klin, Khong Guan Biscuit, Kapal Api, Excelso Multi Rasa, Avia Paints, Herocyn, dan Asia Tile. Kemudian, dua brand yang berkategori internasional adalah Dji Sam Soe dan Maxim.

Stan Polisi di Festival

Di sela-sela The MarkPlus Festival kemarin, Ditlantas Polda Jatim-Satlantas Polwiltabes Surabaya membuka stan perpanjangan SIM serta pembayaran pajak STNK. Stan tersebut pun laris manis diserbu peserta dan warga sekitar Hotel Shangri-La. Bahkan, karyawan hotel ikut nimbrung.

Michael Widiatmoko, misalnya. Karyawan bagian costumer service itu mendatangi stan STNK saat sedang sepi. Dia ingin melakukan balik nama kendaraan roda duanya. ”Wah, maaf, kalau balik nama, harus di kantor Samsat. Di sini cuma untuk perpanjangan dan pembayaran pajak,” jelas Brigadir Azza Elfiana.

Bukan hanya itu, peserta MarkPlus Festival juga memperpanjang SIM. Salah satunya, Jenny Poespita. Anggota MarkPlus Club Surabaya tersebut mengaku sangat terbantu oleh adanya stan SIM. ”Mumpung sudah mati, jadi sekalian saja,” ujarnya.

Sejak kapan SIM-nya mati? Jenny menolak menjawab. ”Ada deh pokoknya. Sudah lewat lama soalnya,” katanya.

Sejak pukul 09.00 hingga 17.00, tujuh orang membayar pajak STNK. Asiyah Muhartin, petugas Dinas Pendapatan Daerah, menyatakan, sebenarnya jumlah itu bisa lebih banyak.

Yang mengurus SIM lebih banyak. Selama sehari penuh kemarin, Satlantas Polwiltabes menerima 49 pengajuan SIM. (aga/dos)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 11th, 2008

Wisata Air Jadi Jujukan Liburan

SURABAYA - Menginjak minggu terakhir liburan sekolah, tempat-tempat wisata lokal masih dipadati pengunjung. Tak sedikit yang datang dari luar kota.

Di Ciputra Waterpark, misalnya. Ribuan pengunjung silih berganti menikmati wisata air di kawasan Surabaya Barat itu. Sejak buka pukul 10.00, pengunjung antre di loket tiket. “Semakin sore makin banyak pengunjung yang datang,” ujar Rosmeila Mayasari, sales & marketing coordinator Ciputra Waterpark.

Menurut Maya, jumlah pengunjung pada liburan sekolah tahun ini tak jauh berbeda dengan liburan tahun lalu. Rata-rata, waterpark didatangi 4.000-5.000 orang dalam sehari.

Lonjakan pengunjung tersebut tidak berpengaruh pada harga tiket masuk yang naik menjadi Rp 65 ribu yang berlaku pada musim liburan.

Walaupun jumlah pengunjung setiap hari rata-rata sama, sesaknya tidak begitu terasa. Menurut Maya, itu disebabkan Ciputra Waterpark memasuki bulan ini memberlakukan jam buka lebih lama. Jika biasanya jam buka mulai pukul satu siang, jam buka di masa liburan diajukan mulai pukul 10.00. “Kedatangan pengunjung lebih mengalir. Tidak menumpuk pada jam-jam tertentu,” jelas Maya.

Pengunjung dari luar kota juga banyak. Misalnya, keluarga Kasmidi yang datang dari Kalimantan Tengah. “Empat anak saya liburan semua. Kebetulan, ada saudara di Surabaya, jadi kami liburan di sini,” tuturnya.

Kemarin (9/7), Waterpark Ciputra juga kedatangan selebriti yang juga anggota DPR Adjie Massaid dan anak-anaknya. Mantan suami penyanyi Reza Artamevia tersebut tampak menikmati berbagai permainan air bersama dua anaknya.

Waterfun Plasa Marina pun tak kalah ramai. Rata-rata pengunjung mencapai 300 orang per hari. “Pukul dua siang sudah terasa penuh,” jelas Yunus Tamin, manajer Waterfun.

Untuk mengantisipasi banyaknya pengunjung, pengelola Waterfun juga menerapkan jam buka lebih pagi. Meski belakangan lonjakan pengunjung sudah begitu terasa, menurut Yunus, puncaknya diperkirakan terjadi pada akhir pekan ini. (ign/ari)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 10th, 2008

E. Java snags three golds on athletics opening day

Musthofid, The Jakarta Post, Samarinda, East Kalimantan

East Java won three of six gold medals on offer on the opening day of the track and field competition at the National Games (PON) at Palaran Stadium in Samarinda on Monday.

Darwati won the first gold for East Java by winning the 20-kilometer walk in the morning. Lusi Febrianti and Eddy Zakaria accounted for the other two golds, in the women’s high jump and men’s 110-meter hurdles, respectively.

West Java, West Papua and Riau won the other three golds, while Central Java, North Sumatra, East Nusa Tenggara, Bangka Belitung and Papua all picked up silver and bronze medals.

Djoko Sudargo, chief of East Java’s athletics team, expressed his pleasure with the results of the first day of the track and field competition, saying three golds was beyond their wildest expectations.

“I did not expect gold in the high jump. We were surprised that Lusi (Febriyanti) won it for us,” Djoko said.

Lusi cleared 1.65 meters to finish ahead of West Java’s Dewi Ika Puspita and Helam Nurul Ulfa.

In the women’s 20-kilometer walk, Darwati finished in a time of one hour, 49 minutes and 33 seconds. Indonesian veteran Tersiana Riwu Rohi of East Nusa Tenggara finished in third place in a time of 1:57:55, behind Central Java’s Risa Wijayanti (1:51:53).

East Java’s third gold came late in the day, with Eddy Zakaria winning the men’s 110-meter hurdles in 14.18 seconds. Zulkarnaen Purba of North Sumatra and Eddy’s teammate, Rusli, finished second and third, respectively.

“This is the fruit of long training that started at the end of PON 2004. We are still counting on our veterans, but they were still be able to beat their younger rivals,” Djoko said, adding that the team would be happy with another two medals in track and field.

A total of 46 gold medals are on offer in track and field.

In the men’s 20-kilometer walk, Kristian L. Tobing of North Sumatra won in a time of 1:35:50. Sutrisno of Central Java followed in second in 1:37:51 and Andre Maulana of West Java finished third (1:37:55).

West Java’s Dony Susanto won the men’s long jump with a leap of 7.45 meters. Slamet Susanto of East Java and Asril of Bangka Belitung finished second and third with jumps of 7.29 and 7.18 meters, respectively.

The last gold on offer went to West Papua in the men’s javelin, with Julius Morin taking the event with a throw of 67.01 meters. Agustinus Mahuse of Papua finished in second with 65.79 meters, and M. Rusmanto won bronze for Central Java with a throw of 63.80 meters.

The opening day of the track and field competition also saw preliminary heats in men’s and women’s 200 meters and 800 meters.

Olympic hopeful Suryo Agung Wibowo, who represents Central Java, is the favorite to win the men’s 200 meters in Tuesday’s final after finishing with the fastest qualifying time.

Irene Truitje Joseph, a past champ in the women’s 100 meters, could only finish with the second-fastest qualifying time in the 200 meters, behind Dedeh Erawati. Both run for Jakarta.

“I’m not expecting to win the 200 meters. I’m concentrating on the 100 meters although Dedeh will still be the favorite along with Serafi (Anelis),” said the 29-year-old Irene, who is participating in her fourth PON since 1996. She won 100 meters gold at the 1999 Southeast Asian Games.

Source: The Jakarta Post

Add comment July 9th, 2008

Next Posts Previous Posts


Calendar

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category