Komfie Manalo - AHN News Writer
Jakarta, Indonesia (AHN) - The navies of Indonesia and the United States on Monday began a five-day joint exercise dubbed “Naval Engagement Activity or NEA 2008″ in the East Java Province.
Indonesia’s commander of the Eastern Fleet Command Commodore Slamet Yulistiyono launched the exercise at the Eastern Fleet Command Warship training center in Ujung, Surabaya of East Java.
The exercise involves 100 U.S. Navy and 150 Indonesian Navy personnel. The U.S. deployed four warships, including the USS Tortuga, Ford, Jarret and USNS Safeguard for the war games.
The U.S. Commander Task Force (CTF) 73 Rear Admiral Nora Tyson was attended the launch.
“The NEA joint exercise between the Indonesian and the US navies has been conducted for several times and it was proven to benefit both navies,” Yulistiyono said.
“Most importantly, the joint exercise is aimed to improve soldiers’ professionalism while enhancing bilateral diplomatic ties,” he adds.
The five-day exercise will include, among others, Centrixs test aboard the USS Tortuga, health symposium, military observer, US Coast Guard training, diving in Surabaya western sailing route and marines’ training at Karang Tekok, Situbondo.
Source: http://www.allheadlinenews.com/
July 25th, 2008
LOMBA International Contest of Seamanship-Atlantic Challenge tinggal dua hari lagi. Arek-arek Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam tim ITS Maritime Challenge terus mempersiapkan diri. Terutama, mendandani si cantik Merdeka yang sudah dua bulan ini berpisah dari seluruh anggota tim.
Agar mempermudah pengiriman, beberapa bagian kapal tersebut memang dipereteli. Karena itu, tim pun harus bekerja keras merakit kapal untuk persiapan lomba. Agar efisien, mereka membagi tugas. Sembilan orang pergi ke yacht club tempat kapal bersandar untuk memperbaiki dayung yang sedikit bermasalah. Sisanya stay di sekolah Pursisalmi yang menjadi lokasi menginap untuk men-setting layar Merdeka. ”Banyak yang muji dayung kami lho. Katanya bentuknya cantik dan rumit,” kata Ahmad Ali Ridloh, anggota tim yang bertugas di kehumasan, lewat e-mail khusus kepada Jawa Pos .
Tim ITS Maritime Challenge beranggota 17 orang. Mereka adalah Rachmad Rudiyanto, Febrian Akhmad Warist, Fadwi Mukti Wibowo, Dian Adi Candra, Ahmad Ali Ridloh, Indah Budiar Pratiwi, Meta Endra Puspita, Nurfiah, Rizkilah, Haris H.M., Nanda A.Z.F., Yogi Rianto, Nur Ahmad Sugiharto, Ricky A.S., Mahendra Duta, Afri Luhur, dan Abdul Kholik.
Kini, salah satu fokus tim tersebut adalah melatih fisik. Mereka berlatih lari setiap pagi. Meski lomba sudah di depan mata, mereka berusaha tidak tegang. Karena itu, acara refreshing tetap masuk dalam agenda. Salah satunya, bermain sepak bola bersama anggota tim lawan di gym sekolah Pursisalmi. Bagi cowok anggota tim, ajang sepak bola bersama bisa dimanfaatkan untuk ”tebar pesona”. Sebab, tidak jarang cewek-cewek tim lain datang untuk melihat.
”Pernah waktu kami main sama tim Belgia, ada dua cewek Inggris datang. Namanya Victoria dan Zoe. Untuk ukuran orang Eropa, mereka tidak terlalu tinggi, tapi cantik dan seksi,” ungkap Ridloh.
Tak pelak, kehadiran dua cewek itu langsung memompa semangat mereka untuk bertanding lebih heboh. ”Tapi, pas lagi asyik main, Meta (salah seorang anggota tim, Red) mengingatkan kami untuk berlatih remo,” jelas Ridloh.
Meski acara ”pamer” mereka terhenti, para cowok ITS itu tak kehilangan akal. Mereka mengajak Victoria dan Zoe bergabung. Ternyata, dua cewek cantik tersebut terkagum-kagum melihat mereka berlatih remo dan cerewet bertanya ini-itu. Akhirnya, empat cewek yang tergabung dalam tim ITS mengajari mereka dengan telaten. Sayang, mereka hanya ikut sebentar karena keburu dipanggil untuk berlatih dengan timnya.
Selama di Finlandia, empat cewek dalam tim ITS berperan sebagai ”ibuke arek-arek”. Tidak hanya mempersiapkan diri untuk lomba, mereka juga mempersiapkan kebutuhan makanan untuk seluruh anggota. Meski demikian, tidak berarti yang cowok berpangku tangan. Mereka kebagian mencuci piring, membereskan perlengkapannya, sekaligus mengumpulkan dan membuang sampah.
Berada di negara orang dan bertemu rekan dari negara lain dimanfaatkan anggota tim ITS untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin. Misalnya, Ridloh yang baru tahu bahwa di Finlandia ada dua bahasa resmi. Yakni, bahasa Swedia dan bahasa Finlandia. ”Jadi, Jakobstad itu nama kota dari bahasa Swedia. Kalau dalam bahasa Finlandia, kota itu disebut Pietersari,” katanya.
Ridloh juga sempat mempromosikan Indonesia kepada panitia di Finlandia. ”Namanya Davi. Dia sangat antusias saat saya menceritakan tentang Surabaya yang ramai, tidak seperti Jakobstad,” ungkapnya.
Bahkan, Davi mengaku ingin segera berkunjung ke Indonesia ketika Ridloh mengatakan ada 10 kota besar di Indonesia. ”Sebab, di Finlandia, kota besarnya hanya satu, Helsinki,” ujarnya. (any/dos)
Source: Jawa Pos Online
July 25th, 2008