Archive for July 18th, 2008

Sorak-Sorak Geladi Bersih

Besok, Opening Party Honda DBL 2008

SURABAYA - Sorak-sorak saat pertandingan basket sudah biasa. Sorak-sorak saat geladi bersih tanpa pertandingan? Itu hanya terjadi di Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2008.

Sabtu besok siang, kompetisi basket pelajar terbesar itu dibuka di GOR Kertajaya Surabaya. Bila biasanya kompetisi dibuka dengan pertandingan SMA, tahun ini Opening Party justru dibuka dengan pertandingan SMP.

Open gate pukul 12.30, tim putri SMP Santa Agnes akan membuka kompetisi melawan SMPN 12 Surabaya. Disusul tim putri SMPN 6 melawan SMPN 39 Surabaya, kemudian tim putra SMPN 12 versus SMPN 19 Surabaya. Sebagai partai puncak, ada ulangan final 2007 lalu: Tim putra SMP Petra 5 menantang juara bertahan SMP Ciputra Surabaya.

Kemarin, tujuh tim sudah berkumpul bersama panitia di GOR Kertajaya. Hanya tim putra SMP Ciputra yang mendapat dispensasi khusus (geladi bersih terpisah), karena beberapa pemainnya masih berada di luar negeri.

Mereka harus mengikuti sesi pemotretan dan geladi bersih, karena harus paham betul segala prosedur pertandingan saat Opening Party. Berbeda dari hari-hari biasa, pada laga pembuka, panitia dari DetEksi Jawa Pos memang selalu menyiapkan show khusus.

Ketika masuk lapangan, para starter dipanggil satu per satu, dan wajah mereka ditampilkan satu per satu pula di layar besar. Panitia juga menyiapkan permainan api untuk membuat suasana makin heboh.

Saat geladi bersih itulah, para pemain menunjukkan semangat yang meluap-luap. Khususnya anak-anak SMPN 12, yang bersorak-sorak di atas tribun sambil membawa atribut berbentuk hati, bertulisan ”12”. Setiap nama pemain mereka dipanggil, mereka berdiri, bertepuk tangan, dan menyerukan yel-yel. Suasana pun seperti sudah pertandingan resmi.

”Saat pembukaan nanti, tribun pasti akan penuh dan sangat ramai. Untuk membiasakan diri, kami (tim putra, Red) berusaha membuat suasana ramai itu sekarang. Supaya nanti tidak kaget,” jelas Vicky Aditya, forward tim putra Rholaz (sebutan tim SMPN 12).

Tim yel-yel SMPN 6 dan SMPN 39 kemarin juga terlihat antusias. Saat tim basketnya latihan prosesi masuk lapangan, tim yel-yel ikut menyoraki dari sisi lapangan. Mereka juga beberapa kali mencoba beraksi di lapangan. Tim yel-yel Spensix (SMPN 6) berlatih membuat piramid, sedangkan tim yel-yel Spentigs (SMPN 39) mencoba beberapa gerakan dance.

”Meski baru geladi bersih, kami sudah menganggap seperti tampil di pertandingan yang sesungguhnya. Makanya, tadi kami terus bersorak dengan semangat,” ungkap Adisa Aprilia, kapten tim yel-yel Spentigs.

Yang bikin panitia makin geleng-geleng kepala, tim yel-yel Spentigs berkali-kali terlihat pura-pura jatuh. Ketika ditanya untuk apa, jawabannya untuk mengetes kondisi pinggir lapangan.

”Kami kan belum pernah tampil di GOR Kertajaya. Jadi, kami mengetes kondisi pinggir lapangan sekaligus mereka-reka luas lapangan untuk penampilan kami yang sesungguhnya nanti,” jelas Adisa.

Usai Opening Party Sabtu besok, mulai Minggu, Honda DBL 2008 tingkat SMP langsung berlanjut di dua gedung. Yaitu, di GOR Basket Kampus C Universitas Airlangga dan Sport Hall Santa Agnes. Setiap hari, masing-masing gedung menyelenggarakan hingga sepuluh pertandingan.

Pembukaan tingkat SMA baru akan diselenggarakan 26 Juli mendatang, di gedung baru DBL Arena, di Jalan A. Yani Surabaya. (hil/rum)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 18th, 2008

East Java squad on the brink of Games supremacy

Musthofid, The Jakarta Post, Samarinda

With only the soccer finals yet to be decided, East Java clinched the overall championship at the National Games on Wednesday, relegating Jakarta to third place.

East Java can top off its triumphant run in the 12-day competition in style when it takes on Papua in the soccer final on Thursday. The Games will officially close after the match at Samarinda’s Palaran Stadium.

As of 9 p.m. on Wednesday, East Java had a medal tally of 135 gold medals, followed by hosts East Kalimantan with 115 and Jakarta with 107. West Java and Central Java rounded out the top five with 100 and 52 gold medals respectively.

Jakarta, which used to dominate the quadrennial sporting showcase in past decades, blamed its poor showing on large numbers of athletes switching allegiances to other provinces, especially East Kalimantan.

“East Kalimantan got 21 gold medals through these mercenary athletes,” said Yudi Suyoto, head of the Jakarta contingent.

Among those who joined East Kalimantan from Jakarta is equestrian athlete Larasati. East Kalimantan swept all six gold medals up for grabs in the equestrian competition.

Yudi said he would never welcome back these athletes, whom he dubbed betrayers.

“No way back,” he said.

The defending champion’s collapse was most apparent in the badminton competition. Four years ago, it took five of seven gold medals in this competition.

This year, the Jakarta badminton team could only manage three, two of which came in the finals on Wednesday, in which the team’s sportsmanship was thrown into question in the women’s singles final.

Pia Zebadiah, scheduled to play teammate Adriyani Firdasari in the final, did not show up, handing Firdasari the victory by default.

However, the team’s strategy to rest Pia for the doubles final backfired spectacularly, as North Sulawesi’s Greysia Polii and Nathalia Poluakan defeated Pia and Jo Novita 18-21, 21-14, 21-16.

Jakarta’s second gold of the day came from Simon Santoso, who defeated Central Java’s Andre Kurniawan 21-13, 21-23, 21-13 in the men’s singles.

Devin Lahardi and Lita Nurlita of West Java beat Muhammad Rijal and Yulianti of Central Java 21-10, 21-19 to win the mixed doubles gold, while Tony Gunawan and Bambang Supriyanto of East Java struggled to a 21-19, 15-21, 22-20 win over Fernando Kurniawan and Moh. Hasan of North Maluku in the men’s doubles final.

East Java, which last won the overall championship in 1996, consolidated its position at the top of the table with gold in waterskiing, archery and hang gliding.

Also taking gold in the hand gliding competition were Jakarta, Banten, North Sulawesi and Central Java.

East Java athletes also picked up three pencak silat (traditional martial arts) gold medals at Samarinda’s Sempaja Stadium, and three gold medals in sailing.

Jakarta took the most gold medals on the day, with three in pencak silat and another three in sailing. It also added one from gymnastics, as well as synchronized swimming and rock climbing.

East Kalimantan bagged two gold medals in pencak silat, with one each from hockey, waterskiing, shooting and rock climbing.

West Java, which finished third four years ago, was also a contender for third place this year. It dominate the chess competition, taking eight of 12 gold medals, the last two coming on Wednesday from the men’s and women’s team events.

Medal Tally

1. East Java
Gold: 135
Silver: 109
Bronze: 106
Total: 350

2. East Kalimantan
Gold: 115
Silver: 109
Bronze: 115
Total: 339

3. Jakarta
Gold: 107
Silver: 114
Bronze: 115
Total: 336

4. West Java
Gold: 100
Silver: 84
Bronze: 125
Total: 309

5. Central Java
Gold: 52
Silver: 77
Bronze: 74
Total: 203

Source: The Jakarta Post

Add comment July 18th, 2008


Calendar

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category