Momen Kebangkitan Brand Surabaya
July 11th, 2008
The MarkPlus Festival
SURABAYA - Hermawan Kartajaya mengungkapkan keheranan dalam The MarkPlus Festival di Grand Ballroom Hotel Shangri-La kemarin (10/7). Sebab, peserta membeludak. Panitia memperkirakan, midyear market review itu bakal diikuti 1.500 peserta. Eh, yang datang mencapai 1.700 orang.
”Ini berarti antusiasme masyarakat Surabaya terhadap marketing begitu tinggi,” kata Hermawan ketika welcome speech kemarin pagi.
Dia menegaskan, festival tersebut merupakan momen kebangkitan brand-brand Surabaya. Sebab, brand-brand itu telah terkenal. Tak hanya di tingkat lokal, tapi juga internasional. ”Jangan sampai brand Surabaya tergilas brand-brand Jakarta,” tegasnya disambut tepuk tangan penonton.
Setelah Hermawan memberikan sambutan, Menkominfo Mohammad Nuh tampil sebagai keynote speaker. Pria yang juga arek Suroboyo itu menegaskan bahwa posisi marketing tak bisa dianggap remeh. ”Marketing adalah jembatan antara produsen dengan konsumen. Posisinya sangat krusial,” kata mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu.
Sesi yang cukup dinanti kemarin pagi adalah Surabaya Sparkling Awards. Penghargaan tersebut diberikan kepada kampus-kampus yang memenangi Student Marketing Strategy Competition 2008.
Tim juri diketuai Dr Sonny Nursutan Hotama. Anggotanya adalah Yusak Anshori (Surabaya Tourism Promotion Board), Suhartoyo (kepala Dinas Pariwisata), Suwito Sumargo (MarkPlus Club), Azrul Ananda (wakil direktur Jawa Pos), Totok Chrisdianto (Hard Rock FM), dan Agus Giri Santoso (MarkPlus Inc).
Juara satu dan tiga diboyong Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Yakni, tim Semanggi pada juara pertama dan tim Soerabaya Tempo Doeloe sebagai juara ketiga. Posisi runner-up dicuri tim Obama dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Tim Semanggi yang beranggota tiga mahasiswa angkatan 2004 itu mengusung strategi holistik dalam memasarkan Surabaya. ”Kami membedakan pemasaran itu menjadi dua. Yakni, internal dan eksternal. Keduanya harus ada integrasi,” jelas Glorya Natallyna, salah seorang anggota tim.
Dia mencontohkan image-building Sparkling Surabaya. Jargon itu tak banyak dipahami warga Surabaya. Berdasar survei yang mereka lakukan sejak April, tak banyak warga metropolis yang memahami makna Sparkling Surabaya.
”Mereka memang tahu dan pernah dengar Sparkling Surabaya. Tapi, mereka tak pernah memahami apa maksud Sparkling Surabaya itu,” kata Adiel Paradiella, anggota lainnya.
Brand Surabaya yang Mendunia
Kemarin pagi, diserahkan pula Surabaya Brand Award. Yakni, penghargaan untuk brand Surabaya yang telah banyak dikenal sesuai kategorinya. Untuk menentukan, ada lima juri yang terlibat. Yakni, Nany Wijaya (direktur Jawa Pos), Daniel M. Rosyid (Indonesian Marketing Association Jatim), Errol Yonathan (direktur operasional Suara Surabaya Media), Tanadi Santoso (MarkPlus Club), serta Hermawan Kartajaya (MarkPlus Inc).
Ada sepuluh brand yang meraih penghargaan kategori lokal. Yakni, Wong Hang Distinguished Taylor, Biskuit UBM, Lem Rajawali, Jamu IBOE, Minyak Goreng Ikan Dorang, Haryono Tour and Travel, Hartono Elektronik, Kerupuk Udang Finna, Cat Emco, serta air minum dalam kemasan Club.
Sementara itu, untuk kategori nasional, terdapat sembilan brand. Yakni, Wismilak, Viva Kosmetik, So Klin, Khong Guan Biscuit, Kapal Api, Excelso Multi Rasa, Avia Paints, Herocyn, dan Asia Tile. Kemudian, dua brand yang berkategori internasional adalah Dji Sam Soe dan Maxim.
Stan Polisi di Festival
Di sela-sela The MarkPlus Festival kemarin, Ditlantas Polda Jatim-Satlantas Polwiltabes Surabaya membuka stan perpanjangan SIM serta pembayaran pajak STNK. Stan tersebut pun laris manis diserbu peserta dan warga sekitar Hotel Shangri-La. Bahkan, karyawan hotel ikut nimbrung.
Michael Widiatmoko, misalnya. Karyawan bagian costumer service itu mendatangi stan STNK saat sedang sepi. Dia ingin melakukan balik nama kendaraan roda duanya. ”Wah, maaf, kalau balik nama, harus di kantor Samsat. Di sini cuma untuk perpanjangan dan pembayaran pajak,” jelas Brigadir Azza Elfiana.
Bukan hanya itu, peserta MarkPlus Festival juga memperpanjang SIM. Salah satunya, Jenny Poespita. Anggota MarkPlus Club Surabaya tersebut mengaku sangat terbantu oleh adanya stan SIM. ”Mumpung sudah mati, jadi sekalian saja,” ujarnya.
Sejak kapan SIM-nya mati? Jenny menolak menjawab. ”Ada deh pokoknya. Sudah lewat lama soalnya,” katanya.
Sejak pukul 09.00 hingga 17.00, tujuh orang membayar pajak STNK. Asiyah Muhartin, petugas Dinas Pendapatan Daerah, menyatakan, sebenarnya jumlah itu bisa lebih banyak.
Yang mengurus SIM lebih banyak. Selama sehari penuh kemarin, Satlantas Polwiltabes menerima 49 pengajuan SIM. (aga/dos)
Source: Jawa Pos Online
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed