SURABAYA - Warga RT 9 RW 3 Kupang Krajan, Sawahan, memiliki cara unik untuk mengolah sampah. Seminggu sekali, warga kompak membuang sampah kering ke sebuah rumah di Jalan Kupang Krajan Lor II Nomor 17. Rumah itu milik Raden Abdullah Saleh. Dia rela rumahnya yang berukuran 4 x 10 meter tersebut dijadikan tempat sampah kering.
Bermacam sampah masuk ke rumah tersebut. Mulai bungkus pasta gigi, karton boks susu, botol air mineral, dan beberapa jenis sampah kering lainnya. ”Kalau rumah itu sudah mau penuh sampah, barulah ibu-ibu PKK memilah-milahnya,” jelas Muhammad Ikhsan, 62, ketua RT 09 RW 3.
Setelah itu, baru sampah tersebut dibawa ke balai RT untuk diolah menjadi barang kerajinan. ”Biasanya sebulan sekali kami memilah sampah, baru kami buat barang kerajinan,” katanya.
Sampah yang telah dipilah itu pun berubah menjadi barang kerajinan menarik. Di antaranya, rompi, payung, dan keset. Tak cukup hanya itu, bra yang sudah tidak dipakai bisa disulap menjadi tas kecil yang cantik. ”Daripada dibuang, kan sayang. Mending dibuat tas, malah lebih bermanfaat,” ungkap Lilik, salah seorang anggota PKK RT.
Selain sampah, RT 09 RW 3 memiliki sebutan unik, yakni Kampung Mak Nyus. Mak Nyus adalah akronim Masuk Area Kampung Nyaman Udara Segar. Sebutan itu memang tidak berlebihan. Sebab, suasana di kampung tersebut memang nyaman. Di setiap rumah ada pot bunga yang berjajar rapi. Suasana makin terasa apik karena jalan berpaving dicat berwarna-warni. (obi/oni)
Source: Jawa Pos Online
July 11th, 2008
The MarkPlus Festival
SURABAYA - Hermawan Kartajaya mengungkapkan keheranan dalam The MarkPlus Festival di Grand Ballroom Hotel Shangri-La kemarin (10/7). Sebab, peserta membeludak. Panitia memperkirakan, midyear market review itu bakal diikuti 1.500 peserta. Eh, yang datang mencapai 1.700 orang.
”Ini berarti antusiasme masyarakat Surabaya terhadap marketing begitu tinggi,” kata Hermawan ketika welcome speech kemarin pagi.
Dia menegaskan, festival tersebut merupakan momen kebangkitan brand-brand Surabaya. Sebab, brand-brand itu telah terkenal. Tak hanya di tingkat lokal, tapi juga internasional. ”Jangan sampai brand Surabaya tergilas brand-brand Jakarta,” tegasnya disambut tepuk tangan penonton.
Setelah Hermawan memberikan sambutan, Menkominfo Mohammad Nuh tampil sebagai keynote speaker. Pria yang juga arek Suroboyo itu menegaskan bahwa posisi marketing tak bisa dianggap remeh. ”Marketing adalah jembatan antara produsen dengan konsumen. Posisinya sangat krusial,” kata mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu.
Sesi yang cukup dinanti kemarin pagi adalah Surabaya Sparkling Awards. Penghargaan tersebut diberikan kepada kampus-kampus yang memenangi Student Marketing Strategy Competition 2008.
Tim juri diketuai Dr Sonny Nursutan Hotama. Anggotanya adalah Yusak Anshori (Surabaya Tourism Promotion Board), Suhartoyo (kepala Dinas Pariwisata), Suwito Sumargo (MarkPlus Club), Azrul Ananda (wakil direktur Jawa Pos), Totok Chrisdianto (Hard Rock FM), dan Agus Giri Santoso (MarkPlus Inc).
Juara satu dan tiga diboyong Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Yakni, tim Semanggi pada juara pertama dan tim Soerabaya Tempo Doeloe sebagai juara ketiga. Posisi runner-up dicuri tim Obama dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Tim Semanggi yang beranggota tiga mahasiswa angkatan 2004 itu mengusung strategi holistik dalam memasarkan Surabaya. ”Kami membedakan pemasaran itu menjadi dua. Yakni, internal dan eksternal. Keduanya harus ada integrasi,” jelas Glorya Natallyna, salah seorang anggota tim.
Dia mencontohkan image-building Sparkling Surabaya. Jargon itu tak banyak dipahami warga Surabaya. Berdasar survei yang mereka lakukan sejak April, tak banyak warga metropolis yang memahami makna Sparkling Surabaya.
”Mereka memang tahu dan pernah dengar Sparkling Surabaya. Tapi, mereka tak pernah memahami apa maksud Sparkling Surabaya itu,” kata Adiel Paradiella, anggota lainnya.
Brand Surabaya yang Mendunia
Kemarin pagi, diserahkan pula Surabaya Brand Award. Yakni, penghargaan untuk brand Surabaya yang telah banyak dikenal sesuai kategorinya. Untuk menentukan, ada lima juri yang terlibat. Yakni, Nany Wijaya (direktur Jawa Pos), Daniel M. Rosyid (Indonesian Marketing Association Jatim), Errol Yonathan (direktur operasional Suara Surabaya Media), Tanadi Santoso (MarkPlus Club), serta Hermawan Kartajaya (MarkPlus Inc).
Ada sepuluh brand yang meraih penghargaan kategori lokal. Yakni, Wong Hang Distinguished Taylor, Biskuit UBM, Lem Rajawali, Jamu IBOE, Minyak Goreng Ikan Dorang, Haryono Tour and Travel, Hartono Elektronik, Kerupuk Udang Finna, Cat Emco, serta air minum dalam kemasan Club.
Sementara itu, untuk kategori nasional, terdapat sembilan brand. Yakni, Wismilak, Viva Kosmetik, So Klin, Khong Guan Biscuit, Kapal Api, Excelso Multi Rasa, Avia Paints, Herocyn, dan Asia Tile. Kemudian, dua brand yang berkategori internasional adalah Dji Sam Soe dan Maxim.
Stan Polisi di Festival
Di sela-sela The MarkPlus Festival kemarin, Ditlantas Polda Jatim-Satlantas Polwiltabes Surabaya membuka stan perpanjangan SIM serta pembayaran pajak STNK. Stan tersebut pun laris manis diserbu peserta dan warga sekitar Hotel Shangri-La. Bahkan, karyawan hotel ikut nimbrung.
Michael Widiatmoko, misalnya. Karyawan bagian costumer service itu mendatangi stan STNK saat sedang sepi. Dia ingin melakukan balik nama kendaraan roda duanya. ”Wah, maaf, kalau balik nama, harus di kantor Samsat. Di sini cuma untuk perpanjangan dan pembayaran pajak,” jelas Brigadir Azza Elfiana.
Bukan hanya itu, peserta MarkPlus Festival juga memperpanjang SIM. Salah satunya, Jenny Poespita. Anggota MarkPlus Club Surabaya tersebut mengaku sangat terbantu oleh adanya stan SIM. ”Mumpung sudah mati, jadi sekalian saja,” ujarnya.
Sejak kapan SIM-nya mati? Jenny menolak menjawab. ”Ada deh pokoknya. Sudah lewat lama soalnya,” katanya.
Sejak pukul 09.00 hingga 17.00, tujuh orang membayar pajak STNK. Asiyah Muhartin, petugas Dinas Pendapatan Daerah, menyatakan, sebenarnya jumlah itu bisa lebih banyak.
Yang mengurus SIM lebih banyak. Selama sehari penuh kemarin, Satlantas Polwiltabes menerima 49 pengajuan SIM. (aga/dos)
Source: Jawa Pos Online
July 11th, 2008