Simbolisasi Surabaya sebagai Pintu Dunia

July 7th, 2008

SURABAYA - Cross Culture Festival (CCF) 2008 berakhir tadi malam. Sesi pemungkas acara tersebut dilangsungkan di Taman Surya. Parade kesenian tiga negara mengakhiri rangkaian festival yang telah berlangsung mulai 4 Juli tersebut.

Acara penutupan tadi malam dimulai Wali Kota Bambang D.H. Hadir pula Wali Kota Jogjakarta Herry Zudianto, Kepala Dinas Pariwisata Jatim Harun, perwakilan konsulat negara-negara sahabat, serta para bupati dan wali kota se-Jatim.

Sesi acara itu diberi tema Surabaya Satu. Sesi tersebut menggambarkan bahwa Surabaya adalah pintu dunia. Yang tampil pada sesi itu adalah delegasi seni dari negara-negara sahabat. Paduan suara Xinghai dari Xiamen tampil mengawali acara tersebut. Mereka menyanyikan lagu Surabaya, Ayo Mama, Bengawan Solo, serta lagu Song of Gulayu yang membawa mereka menjadi juara tingkat dunia.

Setelah itu, dilanjutkan tari seang kra tip khaw dari Thailand. Tari tersebut menceritakan situasi ketika wanita mengantarkan makanan untuk suami di sawah. Selanjutnya delegasi Busan tampil membawakan musik instrumen. Dalam penampilan sebelumnya, Busan selalu tampil dalam dua sesi. Tapi pada malam puncak CCF, mereka menggabungkan permainan Chae Su Man (memainkan dae gum) dan Park Soon Ja (memainkan tae pyung so) yang diiringi percussion quartet.

Suasana bertambah meriah ketika 30 penari Yosakoi dari Unair berlari dari sisi kiri panggung. Peraih juara umum Festival Yosakoi 2008 itu memang mendapat kesempatan untuk tampil di malam puncak CCF. Mereka tampil dengan penuh semangat. Gebrakan belum selesai karena setelah itu 50 orang memainkan reog Ponorogo. Setelah penampilan atraktif reog, giliran delapan penari cantik dari Sanggar Gito Maron mempersembahkan tari geleng ro’om dengan gemulai. Mereka diiringi tabuhan perkusi dari komunitas Semut Ireng.

Penampilan sesi kedua diisi tarian-tarian dari daerah Jawa Timur. Sesuai temanya, Pelangi Jawa Timur, yang menggambarkan bahwa Surabaya sebagai jendela untuk melihat warna-warni kesenian daerah sendiri. Kabupaten Lamongan menampilkan tari boran. Tari itu menggambarkan tentang suasana kehidupan para penjual nasi boran (makanan khas Lamongan). Delapan penari mengenakan kebaya berwarna pink dan hijau tampil sangat energik. Mereka menari sambil membawa boran (tempat nasi). Bahkan, mereka melakukan atraksi sling melempar boran antarpenari.

Pada sesi tersebut juga ditampilkan kolaborasi antara reog, tari singo wulung (Bondowoso), dan tari kuwung wetan (Surabaya). Mula-mula empat orang yang membawa dadak merak menari di atas panggung, sedangkan empat singa berwarna putih (dibawakan delapan orang) menari di bawah panggung. Kemudian muncul sepuluh penari kuwung wetan dengan mengibaskan selendang kuning ke kanan dan ke kiri. Di tengah pertunjukan, singa naik ke atas panggung. Saat musik berhenti, singa itu membentuk piramida sebagai tanda penghormatan kepada tamu dan penonton.

Sesi terakhir diisi tari Nusantara. Mulai Aceh, Jogjakarta, Bali, hingga Papua. Itu memang menggambarkan bahwa Surabaya bisa disebut Indonesia kecil. Di sini semua bisa melihat budaya dari Nusantara. Diawali dengan tari saman yang dibawakan Sanggar Raff Dance Company, penonton langsung dibawa ke Kota Jogjakarta. Tari nirbaya dipersembahkan delegasi seni Kota Gudeg tersebut.

Selanjutnya, tari kilai khatulistiwa. Lima tarian dari daerah Sumatera Barat, DKI Jakarta, Kalimantan, Jawa Barat, dan Sulawesi disajikan secara medley. Tari tersebut dibawakan duta penari Jawa Timur 2007 dan Sanggar Siti Nurbaya. Tari cenderawasih (Bali) dibawakan secara apik oleh empat penari dari Sanggar Nareswari. Mereka tampak cantik mengenakan kostum tari Bali. Papua juga tidak mau kalah. Mereka menampilkan tari humbelo sajojo. Tari yang dibawakan enam orang dari Perkumpulan Papua Surabaya itu sangat rancak. Mereka juga memakai kostum rumbai dengan aksesori mahkota dari bulu burung cenderawasih dan kasuari. Tak lupa, mereka menggunakan jubi-jubi (tombak) untuk menari.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Suhartoyo mengatakan bahwa kegiatan festival seperti itu layak diadakan setiap tahun. ”Jadi, setiap tahun selalu ada peningkatan, baik kualitas maupun kuantitas,” katanya. CCF tersebut juga merupakan salah satu upaya pengembangan potensi pariwisata Kota Surabaya. ”Salah satunya, terjalinnya kerja sama dengan negara-negara sister city,” lanjut Wiwik Widayati, kepala bagian kerja sama Pemkot Surabaya. (jan/dos)

Source: Jawa Pos Online

Entry Filed under: East Java News

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts