Gaun Kresek Menang Kompetisi
SURABAYA - Di tangan para perancang muda kreatif, bahan-bahan bekas mampu disulap menjadi gaun unik nan menawan. Hal itu terlihat dalam kompetisi sekaligus fashion show busana ramah lingkungan di Kafe Taman, Surabaya Plaza Hotel, kemarin (30/6). Peserta acara adalah 10 finalis yang terpilih dari sejumlah pendaftar ajang Eco-Fashion Competition Art of Recycling.
Meski mayoritas bahan dasar yang digunakan serupa, yaitu sedotan, kantong plastik, dan tali rafia, tampilan gaun daur ulang tersebut beragam. Ada gaun lengan panjang dengan rok lebar dari kombinasi sedotan merah dan putih. Ada juga desainer yang memilih memadukan tas kresek merah, aluminum foil, hingga kain belacu.
Salah seorang peserta, Eveline Anggraini, unjuk karya lewat gaun malam backless. Sekilas, gaun itu tak berbeda seperti biasa. Kesan seksi terlihat lewat bagian dada yang dibuat model halter. Gaun cantik itu dibuat dari tujuh kresek hitam. Untuk bagian bawah gaun, kresek itu dipotong-potong memanjang, lalu ditempelkan dengan mika.
Untuk bagian atas, kresek dipercantik dengan dua pita kain berwarna hitam yang dililitkan di sekitar pinggang dan bawah dada. Lulusan jurusan arsitektur Universitas Kristen Petra tersebut juga menggunakan kresek yang ditempeli borci sebagai pemanis di bagian leher dan sedikit di bagian pinggang. Gaun yang diberi judul Plastic Princess itu tidak menggunakan resleting. Untuk mengaitkan, dibuat tali berbentuk pita di bagian belakang.
Menurut perancang berusia 27 tahun tersebut, inspirasi gaun daur ulang itu datang ketika dirinya menyaksikan kantong plastik hitam berukuran besar. ”Saya tertarik pada bentang lebar kantong plastik besar tersebut dan warna hitamnya itu melambangkan sesuatu yang elegan,” ungkap Eveline.
Deby Austhi lebih suka menciptakan gaun daur ulang dengan kesan spektakuler. Mengandalkan puluhan gelas air mineral, siswa SMA Kristen Gloria tersebut menyajikan gaun ala Victorian dengan sebuah korset dan mini skirt berbentuk full clock melebar. Gelas-gelas plastik tersebut dipotong-potong, kemudian dibentuk menjadi segi tiga-segi tiga kecil yang ditempelkan pada kain knitting.
Di bagian belakang gaun, terdapat dua ekor gaun yang juga terbuat dari segi tiga-segi tiga potongan gelas tersebut. Gaun yang diberi nama Victorian’s Swan itu diciptakan gadis 16 tahun tersebut hanya dalam empat hari. Dari mana Deby mendapatkan puluhan gelas minuman tersebut? ”Sebelum musim liburan sekolah, aku minta sama teman-temanku untuk tidak membuang gelas air mereka,” ujar gadis yang sebentar lagi duduk di kelas XI SMA tersebut.
Di antara kesepuluh gaun yang dikompetisikan, tidak semua merupakan gaun-gaun wanita dewasa. Irene Maria Lenny Hariyati Gunawan menciptakan gaun daur ulang lucu berbahan karung beras, sejumlah bungkus detergen maupun pembersih lantai, dan sedotan berbagai ukuran. Gaun two pieces rancangannya tersebut diperagakan oleh putri kecilnya yang masih berusia tujuh tahun, Melinda Gabriel Tusmin.
Dalam kompetisi tersebut, hadir sebagai dewan juri, Astied Priyawan (desainer), Elizabeth Njo May Fen (owner Bunka School of Fashion), dan Amelia Mari Geisha (Walhi). Berdasar putusan juri, kompetisi tersebut dimenangi Eveline Anggraini sebagai pemenang pertama. Pemenang kedua adalah Irene Maria Lenny Hariyati Gunawan dan posisi ketiga diduduki Deby Austhi. Mereka mendapat hadiah uang tunai dan beasiswa di Bunka. ”Para peserta sudah menampilkan karya yang terbaik. Namun, pertimbangan bahan dasar yang benar-benar dari bahan bekas juga penting,” jelas Elizabeth.(ken/ayi)
Source: Jawa Pos Online
Add comment July 1st, 2008