Archive for July, 2008

Girly untuk ABG, Glamor Dewasa

Topik kecantikan selalu mampu menjadi magnet yang kuat dalam menarik perhatian perempuan. Meski sudah sering diadakan, demo make-up masih tak surut peminat. Hal itu terlihat pada acara Superwoman yang diselenggarakan di Atrium Supermal Pakuwon Indah (SPI) kemarin (30/7).

Menghadirkan make-up artist bernama Kun Kun untuk berbagi ilmu, kegiatan tersebut dipenuhi peserta. Kun Kun mempraktikkan dua gaya make-up, untuk gadis ABG dan perempuan dewasa. ”Yang ABG bertema girly, yang dewasa glamor,” ujarnya.

Dalam demo, Kun Kun memilih dominasi warna biru dan pink bagi ABG. Riasan mata dipadu warna biru snow flakes. ”Seumuran mereka pakai warna-warna soft,” ucapnya.

Dia juga berbagi tip kepada remaja yang hadir. Dalam merias wajah, jangan terlalu tebal mengaplikasikan bedak. ”Tipis saja,” katanya.

Alasannya, kualitas kulit yang masih bagus tidak membutuhkan bedak berlebihan. ”Jika sudah terbiasa make-up, nggak apa-apa bermain warna. Tapi, kalau belum, pilih saja warna natural,” ujarnya.

Menurut Kun Kun, make-up minimalis saat ini sedang in. Sudah bukan zamannya memakai riasan tebal. ”Sekarang wanita ingin tampil cantik, tapi tidak mau terlihat memakai riasan. Makanya, lebih banyak bermain warna soft,” jelasnya.

Demo kedua menampilkan riasan glamor. Kun Kun lebih banyak bermain dengan warna gold. Kesan tajam namun soft ditampilkan pada riasan mata sang model. Bagian dalam menggunakan warna hijau, namun sudut luar mata dipertajam cokelat gelap.

Trik yang sama bisa diterapkan bila seorang wanita harus mengunjungi dua acara dalam sehari sekaligus, pagi dan malam. Tidak perlu repot-repot mengubah seluruh riasan. ”Pakai riasan yang sama tidak apa-apa,” tegasnya.

Hanya, fokuskan riasan di sudut luar mata. ”Pertajam bagian itu,” ujarnya.

Acara yang merupakan rangkaian Superday @ Supermal itu juga diramaikan peragaan busana kasual oleh model Nik’s Karamasu International Modeling School. (jan/ayi)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 31st, 2008

Face to Fish Wadji Iwak

SURABAYA - Pelukis Wadji Martha Saputra atau yang terkenal dengan nama Wadji Iwak kembali menggelar pameran tunggal. Pada pameran bertajuk Face to Fish itu, Wadji memajang 21 karya terbarunya di Galeri Surabaya, 27 Juli - 2 Agustus. Wadji memang tidak bisa meninggalkan ‘’sosok” ikan pada setiap lukisannya.

”Bagi saya, ikan punya filosofi tinggi. Dia enerjik, tidak pernah lelah, dan selalu berdzikir,” ungkapnya.

Entah ikan laut atau air tawar, tetap saja rasa dagingnya tawar. ”Saya artikan, dia punya prinsip yang kuat,” tegasnya. Prinsip itu pula yang dianut Wadji untuk selalu berkarya. ”Supaya nggak kalah dengan pelukis muda,” jelasnya.

Pameran ini memang sudah disiapkan Wadji setahun yang lalu. Dia ingin menampilkan karya yang berbeda. ”Tidak ikan nyel, ada simbol dan pesan di setiap lukisan,” kata pelukis kelahiran Jombang 53 tahun yang lalu ini. Karya-karyanya kali ini merupakan gambaran rasa yang ada di dalam hatinya.

Wadji melakukan kolaborasi antara ikan dan makna kehidupan. Seperti lukisannya yang berjudul Rindu Kebebasan. Lukisan itu menggambarkan seorang anak kecil sedang menggenggam burung merpati di sebelahnya terdapat akuarium kecil yang berisi banyak ikan. Latar lukisan itu berwarna merah polos.

Dua gambar itu memiliki persamaan. Anak kecil menginginkan sebuah kebebasan yang disimbolkan dengan burung merpati. Sedangkan ikan dalam akuarium juga menginginkan kebebasan bergerak, karena akuarium itu terlalu sempit.

Lalu ada lukisan yang berjudul Berdialog. Lukisan itu bergambar seorang wanita dengan mimik wajah seperti sedang berbicara, lalu di depannya terdapat banyak ikan. Seolah sedang berbicara dengan wanita tersebut. Lukisan inilah yang akhirnya menjadi inspirasi Wadji menamai pamerannya Face to Fish.

Dari semua lukisan yang dipamerkan. Menurut Wadji, lukisan berjudul Proses Kehidupan yang pertama kali dia buat. ”Perlu proses berpikir lama saat membuatnya,” ungkap Wadji.(jan)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 29th, 2008

Surabaya mangrove forests home to 140 species of Java`s biggest birds

Surabaya, East Java (ANTARA News) - The mangrove forest conservation area in Wonorejo on Surabaya`s east coast has 140 species of Java island`s biggest birds.

Bambang DH, mayor of Surabaya, said here last week end of the 140 bird species, about 84 are categorized as sedentary , 12 species as protected and 44 as migrant species.

“We should thank God that we have a good environment here. We hope the bird diversity can be maintained,” he said after launching a drive to plant 15,000 mangrove trees on Surabaya`s east coast.

Surabaya`s east coast also constitutes a mangrove conservation center area and a buffer zone in the seaside ecosystem which is protected by the provincial government.

“Initially we issued a provincial administration regulation to protect the mangrove conservation center to avoid misuse of the conservation area,” he said.

Thus, he asked all members of the local community to continue protecting the area.

If the mangrove conservation center area can be maintained well, there will be an added value, for instance, as a tourist object, he said, adding his office was preparing to implement the so called family tourism concept in the area. (*)

COPYRIGHT © 2008

Source: ANTARA News

Add comment July 29th, 2008

Pemuda Asia Pasifik Membahas Lingkungan

SURABAYA - Sejak kemarin (27/7) hingga Kamis (31/7), Surabaya menjadi tuan rumah Youth Camp ”We Care for the World”, sebuah perkemahan pemuda dari sebelas negara di Asia Pasifik. Mereka membahas berbagai hal. Salah satunya adalah isu-isu lingkungan dan perubahan iklim dari perspektif interfaith (lintas agama).

Peserta datang dari Australia, Selandia Baru, Fiji, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Singapore, Timor Leste, dan Vietnam. “Peserta berumur 18 tahun-25 tahun. Kira-kira jumlahnya 150 orang. Kami harap mereka akan menjadi agent of change isu-isu lingkungan di negara masing-masing,” kata Humas Klub Tunas Hijau Nizam Wahyu Ardhika.

Acara pembukaan camp itu dilangsungkan di Cyber Park, Taman Flora Bratang (dulu Kebon Bibit). Para peserta sudah akrab pada acara tersebut. Mereka sudah berbagi cerita. Salah satu topiknya adalah makanan-makanan khas Surabaya yang kebetulan menjadi hidangan sarapan. “Kalau di Brunei, cendol bernama cendil,” tutur Khairunisa, peserta dari Brunei Darussalam, dengan logat Inggris beraksen Melayu.

Selain itu, sembari menunggu pembukaan, anak-anak muda tersebut mencoba-coba gamelan yang ada di panggung. Mereka memukul-mukul peranti musik khas Jawa itu dengan riang. “Saya sering mendengar tentang alat musik tersebut. Tapi, baru kali ini saya melihat langsung,” ungkap Kamolchanok Supawong, delegasi Thailand.

Para pemuda itu memang antusias mengikuti camp tersebut. Kebanyakan di antara mereka telah concern terhadap isu-isu lingkungan. “Negara-negara peserta mengalami kegelisahan yang sama dengan Indonesia mengenai isu lingkungan,” tambah Nizam.

Pembahasan isu lingkungan dari kacamata agama merupakan perspektif baru. Sebab, kebanyakan isu lingkungan dicarikan solusi melalui bingkai ilmiah, seperti teknik lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun kebijakan pemerintah. Perspektif agama sebenarnya memiliki magnet dan solutif karena kebanyakan negara Asia Tenggara masih memegang teguh tradisi religius masing-masing.

Dalam camp, selain tema lingkungan, akan ada diskusi-diskusi menyangkut pemahaman agama setiap peserta. Diskusi itu dipandu beberapa narasumber berbagai agama di Indonesia.

“Saya datang untuk bertukar pikiran dengan delegasi dari negara lain tentang isu lingkungan. Terutama, persoalan manajemen sampah yang menjadi isu sentral lingkungan di Filipina,” jelas Christina Vellasenyor, mahasiswa Marriam College Filipina jurusan politik internasional.

Secara umum, masalah lingkungan di negara Asia Tenggara memang sama. Menurut para delegasi itu, masalah lebih berpusat pada tingginya nilai polusi akibat tingginya penggunaan kendaraan bermotor. “Keadaan di Surabaya hampir mirip dengan di Thailand, polusi menjadi problem utama,” ucap Chatcharee L., salah seorang delegasi Thailand yang biasa dipanggil Kao.

Dari Indonesia, delegasi juga berasal dari lintas agama dan organisasi. Salah satu di antaranya adalah Niko Fajar Setiawan yang mewakili Himpunan Mahasiswa Buddha Indonesia (Hikmahbudhi). Menurut dia, isu lingkungan memang tidak bisa diselesaikan seratus persen, tapi bisa dicegah untuk masa depan. “Pencegahan itu harus dilakukan agar anak cucu kita bisa menikmati alam seperti kita,” tegas mahasiswa Sastra Rusia UI itu.

Mulai besok, para peserta akan berdiskusi, melakukan observasi lingkungan ke daerah-daerah di Surabaya, hingga menanam pohon dan bersosialisasi dengan warga. (pra/dos)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 28th, 2008

Keabadian Gaya Victoria

KEMEGAHAN gaun masa Victoria seolah tak tergantikan. Hingga kini, kemewahan gaya bangsawan Inggris abad lampau itu terus memberi inspirasi pada gaun-gaun pengantin yang anggun dan megah. Itu dibuktikan Mee Djin, perancang Surabaya, dalam pameran Wedding Open House Unforgettable Moment di Shangri-La kemarin (27/7).

Mee Djin memamerkan empat belas koleksi baju. Terdiri atas, gaun pengantin Victoria klasik, gaun pengantin kontemporer, serta gaun pesta. Karakter khas Victoria tampil kuat pada gaun. Misalnya, motif flora di bagian bawah gaun yang khas ukiran abad ke-19. Lengan baju dibuat puff (menggembung), kerah baju tinggi, serta kerut di bagian dada.

Bagian bawah gaun tentu saja juga menggembung. Namun, Mee Djin membuatnya sedikit berbeda. Dia tidak menggunakan bantuan petticoat (pakaian dalam) untuk efek mengembang. ”Saya lebih bermain ke potongan saja,” jelas lulusan The Haagse School voor Mode en Kleding, Belanda, itu.

Untuk gaun pengantin kontemporer, Mee Djin menampilkan modifikasi Cheongsam. Busana adat Tionghoa tersebut sedikit diubah pakemnya. Tetap menampilkan potongan asimetris pada bagian depan, namun manik kancingnya diganti bebatuan agar tampil lebih glamor.

Pada kreasi gaun pengantin kontemporer yang lain, perempuan 34 tahun itu menyuguhkan permainan detail yang menarik. Salah satunya dengan mengaplikasikan pita pada bagian bawah. Pun motif gaun dibuat dengan memadukan antara motif floral dengan garis. (ign/dos)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 28th, 2008

U.S., Indonesia Hold Naval War Games

Komfie Manalo - AHN News Writer

Jakarta, Indonesia (AHN) - The navies of Indonesia and the United States on Monday began a five-day joint exercise dubbed “Naval Engagement Activity or NEA 2008″ in the East Java Province.

Indonesia’s commander of the Eastern Fleet Command Commodore Slamet Yulistiyono launched the exercise at the Eastern Fleet Command Warship training center in Ujung, Surabaya of East Java.

The exercise involves 100 U.S. Navy and 150 Indonesian Navy personnel. The U.S. deployed four warships, including the USS Tortuga, Ford, Jarret and USNS Safeguard for the war games.

The U.S. Commander Task Force (CTF) 73 Rear Admiral Nora Tyson was attended the launch.

“The NEA joint exercise between the Indonesian and the US navies has been conducted for several times and it was proven to benefit both navies,” Yulistiyono said.

“Most importantly, the joint exercise is aimed to improve soldiers’ professionalism while enhancing bilateral diplomatic ties,” he adds.

The five-day exercise will include, among others, Centrixs test aboard the USS Tortuga, health symposium, military observer, US Coast Guard training, diving in Surabaya western sailing route and marines’ training at Karang Tekok, Situbondo.

Source: http://www.allheadlinenews.com/

Add comment July 25th, 2008

Pikat Gadis Inggris dengan Tari Remo

LOMBA International Contest of Seamanship-Atlantic Challenge tinggal dua hari lagi. Arek-arek Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam tim ITS Maritime Challenge terus mempersiapkan diri. Terutama, mendandani si cantik Merdeka yang sudah dua bulan ini berpisah dari seluruh anggota tim.

Agar mempermudah pengiriman, beberapa bagian kapal tersebut memang dipereteli. Karena itu, tim pun harus bekerja keras merakit kapal untuk persiapan lomba. Agar efisien, mereka membagi tugas. Sembilan orang pergi ke yacht club tempat kapal bersandar untuk memperbaiki dayung yang sedikit bermasalah. Sisanya stay di sekolah Pursisalmi yang menjadi lokasi menginap untuk men-setting layar Merdeka. ”Banyak yang muji dayung kami lho. Katanya bentuknya cantik dan rumit,” kata Ahmad Ali Ridloh, anggota tim yang bertugas di kehumasan, lewat e-mail khusus kepada Jawa Pos .

Tim ITS Maritime Challenge beranggota 17 orang. Mereka adalah Rachmad Rudiyanto, Febrian Akhmad Warist, Fadwi Mukti Wibowo, Dian Adi Candra, Ahmad Ali Ridloh, Indah Budiar Pratiwi, Meta Endra Puspita, Nurfiah, Rizkilah, Haris H.M., Nanda A.Z.F., Yogi Rianto, Nur Ahmad Sugiharto, Ricky A.S., Mahendra Duta, Afri Luhur, dan Abdul Kholik.

Kini, salah satu fokus tim tersebut adalah melatih fisik. Mereka berlatih lari setiap pagi. Meski lomba sudah di depan mata, mereka berusaha tidak tegang. Karena itu, acara refreshing tetap masuk dalam agenda. Salah satunya, bermain sepak bola bersama anggota tim lawan di gym sekolah Pursisalmi. Bagi cowok anggota tim, ajang sepak bola bersama bisa dimanfaatkan untuk ”tebar pesona”. Sebab, tidak jarang cewek-cewek tim lain datang untuk melihat.

”Pernah waktu kami main sama tim Belgia, ada dua cewek Inggris datang. Namanya Victoria dan Zoe. Untuk ukuran orang Eropa, mereka tidak terlalu tinggi, tapi cantik dan seksi,” ungkap Ridloh.

Tak pelak, kehadiran dua cewek itu langsung memompa semangat mereka untuk bertanding lebih heboh. ”Tapi, pas lagi asyik main, Meta (salah seorang anggota tim, Red) mengingatkan kami untuk berlatih remo,” jelas Ridloh.

Meski acara ”pamer” mereka terhenti, para cowok ITS itu tak kehilangan akal. Mereka mengajak Victoria dan Zoe bergabung. Ternyata, dua cewek cantik tersebut terkagum-kagum melihat mereka berlatih remo dan cerewet bertanya ini-itu. Akhirnya, empat cewek yang tergabung dalam tim ITS mengajari mereka dengan telaten. Sayang, mereka hanya ikut sebentar karena keburu dipanggil untuk berlatih dengan timnya.

Selama di Finlandia, empat cewek dalam tim ITS berperan sebagai ”ibuke arek-arek”. Tidak hanya mempersiapkan diri untuk lomba, mereka juga mempersiapkan kebutuhan makanan untuk seluruh anggota. Meski demikian, tidak berarti yang cowok berpangku tangan. Mereka kebagian mencuci piring, membereskan perlengkapannya, sekaligus mengumpulkan dan membuang sampah.

Berada di negara orang dan bertemu rekan dari negara lain dimanfaatkan anggota tim ITS untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin. Misalnya, Ridloh yang baru tahu bahwa di Finlandia ada dua bahasa resmi. Yakni, bahasa Swedia dan bahasa Finlandia. ”Jadi, Jakobstad itu nama kota dari bahasa Swedia. Kalau dalam bahasa Finlandia, kota itu disebut Pietersari,” katanya.

Ridloh juga sempat mempromosikan Indonesia kepada panitia di Finlandia. ”Namanya Davi. Dia sangat antusias saat saya menceritakan tentang Surabaya yang ramai, tidak seperti Jakobstad,” ungkapnya.

Bahkan, Davi mengaku ingin segera berkunjung ke Indonesia ketika Ridloh mengatakan ada 10 kota besar di Indonesia. ”Sebab, di Finlandia, kota besarnya hanya satu, Helsinki,” ujarnya. (any/dos)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 25th, 2008

New hub for inter-Asean travel

There is even an air of optimism here that Johor Baru will soon be a favourite destination among Asean travellers since AirAsia started operating flights to and from here to Bangkok, Jakarta and Surabaya recently.

More than 9,000 passengers flew by AirAsia to Bangkok in the first five months of this year, which is an average of some 1,800 passengers a month and similarly for the return flight..

The Johor Baru-Jakarta flight which made its debut early this year, saw the low- cost carrier ferrying some 11,500 passengers until June, with an average of 1,930 passengers per month.

More than 9,900 passengers were on in-coming flights.

The Johor Baru-Surabaya flight, launched in April, carried more than 6,000 passengers until last month.

Travels agents here agreed the figures were very encouraging.

State executive councillor for tourism Hoo Seong Chan said the low-cost flights were a boon, not only for the tourism industry but also to Johoreans who want to avoid the inconvenience of having to board flights at the Kuala Lumpur International Airport or Singapore.

“It is also good for Johor tourism as tourists can now fly into Johor Baru on a direct flight, which is more convenient and cheaper.”

Hoo said in view of the increasing number of tourists, Johor Tourism plans to introduce an eight-point strategy, which focuses on the homestay programme; eco-tourism; health tourism; sports, food, shopping; golfing and beaches.

“Hotel operators and those who managed tourist attractions need to also come up with new ideas, like the introduction of dinner cultural shows.”

He said the state goverment was also playing its part by organising tourism-related programmes such as the recent five-day trip for 37 Jakarta-based travel agents and writers, carried out with the co-operation of Tourism Malaysia and AirAsia.

Source: http://travel.asiaone.com/

Add comment July 24th, 2008

WITNESS: Mining sulfur in a volcano

Ed Davies is deputy bureau chief Indonesia, where many live with smoldering volcanoes and frequent earthquakes. He joined Reuters in 1996 in Hong Kong and has also been based in Singapore and South Korea. In the following story, he describes spending a day with the sulfur miners of an East Java volcano.

By Ed Davies

KAWAH IJEN, Indonesia (Reuters) - Protected only by a piece of rag stuffed loosely into his mouth, a miner hacks off chunks of bubbling red-hot sulfur oozing downslope before being driven back by a choking wall of foul smelling gases.

Despite the luxury of wearing a NATO-issue gas mask, I am also forced backwards by the sudden swirl of pungent yellow-white vapors that slashes visibility to a few feet.

We are in the “kitchen”, as it is known to Indonesian miners who harvest molten sulfur pouring from fumaroles next to the volcanic Kawah Ijen, or lone crater, lake.

Shadowed by East Java’s Gunung Merapi volcano, the moonscape-like land has no vegetation, although the 200 meter (660 ft) deep crater lake — one of the most acidic in the world — is a breathtaking turquoise.

The noxious odor is somewhere between ammonia and rotten eggs.

Up to about 200 miners a day make a living here using metal rods to break off pieces of hardening yellow sulfur spilling out of pipes attached to the fumaroles, then lugging the huge weights up and out of the crater.

The miners — who are freelance and paid according to how much they lug down the mountain — can earn up to about $7-$10 a day in a rural area where farm laborers make only about 15,000 rupiah ($1.64) a day.

The sulfur has a range of uses from cosmetics to gun powder, but a mine official said it was currently being supplied to a local factory where it is used to bleach sugar.

A switch in the wind clears the air and some miners stroll over to chat and inspect the gas masks I and a photographer are wearing. A few have basic-looking masks, but most rely on little more than a piece of T-shirt gripped in their teeth.

They puff on cigarettes, preferring the strong taste of Indonesian clove-infused “kreteks” over the sulfurous gases, which have left some with streaming eyes and spluttering coughs.

Asked about health risks, most shrug with a grin. Some indicate sore stomachs and allergies and one shows the hollow stumps of his teeth, deteriorating in the acid conditions.

Gatot Subroto of PT Candu Ngrimbi, the firm operating the mine, said the miners had previously turned down masks it had offered complaining they restricted their breathing.

“They prefer to use a piece of cloth or towel drenched in water, which they bite on and then breath through their mouth,” he said.

FOLLOW THE YELLOW DUST…

To get near the crater lake took a six-hour drive from Indonesia’s second city of Surabaya, as teak forests made way to coffee plantations on the fertile volcanic soil.

Finding our way was easy once we were on the 4 km (2.5 mile) trail near dawn — a sprinkling of yellow sulfur dust lined the route.

Then the first miners appeared, their eyelashes and hair caked in sulfur, each carrying a pair of bamboo baskets perched on their shoulders loaded with chunks of brilliant yellow.

I was breathing heavily on the climb, but some of the miners power-walked with loads of up to 95 kg (210 lbs), setting off a creak in the bamboo support onto which the baskets were lashed.

I tried to lift a pair of full baskets that had been left by the trail to be picked up later. I could barely budge them.

After climbing to the top of the crater, the miners carry their loads to a cluster of crude shelters housing a canteen and temporary bunks with wood fires, to keep out the cold at night.

Grabbing a quick break, and often a cigarette, miners weigh their bamboo baskets before carrying the load down a further 3 km to a collection point near a rough road.

Before the road was completed, they had to carry the baskets weighing far more than themselves a further 17 km.

A flow of more intrepid tourists visits the area, which the miners have grown accustomed to: some pose for photographs and offer to sell interestingly shaped pieces of sulfur, often still warm from the heat of the earth.

GASPING FOR AIR

Straddling the Pacific “Ring of Fire”, where continental plates collide, Indonesia is dotted with hundreds of volcanoes and sees intense seismic activity.

I have seen how this awesome power can give — replenishing the country’s rich soil — and take away: the bloated, mud-strewn corpses retrieved hours after a tsunami has brushed all aside.

After barely 30 minutes at lone crater lake, we had to retreat as the area filled again with vapors.

I’m carrying nothing, but the climb back to the top of the crater leaves me at times doubled-up on the ground gasping for air and fumbling to put on my olive-green gas mask.

Many in Indonesia endure tough livelihoods but the miners, often wearing only skimpy sandals, haul up to 15 tons of sulfur a day in this stark and risky place.

Seven were killed by poisonous gas in 1974 and a French tourist died in 1997 after a fall near the crater lake.

Arifin, a 38-year-old miner, said he did not want his children following in his path. Like many of the men, he revealed raw-looking calluses that had developed on his shoulder from carrying the huge weights.

The motivation to do such an incredibly hard job is simple in a country where millions live on less than $2 a day.

“I had no job so I decided to work here. Income is good,” said Mohammad Soleh Hidyat, 33, from a village about 30 km away.

He said 50 young new miners had started working recently.

By mid-afternoon, the miners’ day is nearly over, their baskets are re-weighed and they are paid 500 rupiah (55 U.S. cents) per kg in cash before the sulfur is loaded onto a truck.

Finally able to relax, they chat cheerfully, some playing checkers on the dusty ground with small chunks of sulfur.

(Additional reporting by Retno Heriwati in Surabaya; Editing by Sara Ledwith)

Source: http://in.reuters.com/

Add comment July 22nd, 2008

Atraksi Arak-arakan Jaran Kencak

SURABAYA - Arak-arakan jaran kencak yang biasanya digelar dalam prosesi acara sunatan atau semacamnya kemarin (20/7) meramaikan G-Walk Percussion Festival 2008, di G-Walk Citraland. Arak-arakan diiringi musik perkusi Kelompok Kenong Telo dari Jember. Panggung juga dimeriahkan kelompok perkusi Banyu Geni dari Surabaya.

Arak-arakan jaran kencak terlihat sangat meriah. Bukan hanya dari tampilan dua kuda yang didandani dengan kostum warna-warni, tapi juga tampilan musik perkusinya. Mereka menyajikan musik-musik bernuansa dinamis khas Madura.

Sementara itu, di area panggung, tampil Kelompok Banyu Geni dengan sajian musik karawitan. Kelompok musik asal Taman Budaya Jawa Timur itu menampilkan komposisi Delima.

Begitu kelompok Banyu Geni usai, giliran Kenong Telo beserta arak-arakannya naik ke panggung. Kelompok musik yang beranggotakan 15 personel tersebut mengenakan kostum khas Madura.

Mereka menampilkan 10 komposisi lagu-lagu Madura, seperti Tanduk Majeng, Pajar Lagu, dan Nyelok Aeng. Tidak sekadar bermain musik, mereka juga bernyanyi. Pada beberapa lagu kelompok tersebut menyanyikan liriknya dalam bahasa Suroboyoan yang dipelesetkan. Seperti sepenggal lirik yang berbunyi, ”onok tempe diuleni, adik ipe ojok digerayangi.”

Di tengah-tengah pertunjukan, kelompok tersebut mengundang seorang penonton ke panggung untuk dinaikkan ke punggung kuda sembari berjoget diiringi musik perkusi.

Menurut Heri Lento, panitia G-Walk Festival 2008, kehadiran kelompok perkusi asal Jember tersebut tergolong spesial. ”Selain menyajikan musik perkusi yang kental dengan unsur tradisional, mereka juga menampilkan atraksi tambahan yaitu kuda kencak yang sangat atraktif. Itu nilai plusnya,” jelasnya. (ken/ari)

Source: Jawa Pos Online

Add comment July 21st, 2008

Previous Posts


Calendar

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category