Delapan Negara Ikuti Festival Buddha
Mulai Besok, Pamerkan Stupa Raksasa dan Diorama 108 Meter
SURABAYA - Delapan negara akan mengikuti Buddhist Festival 2008 di Surabaya, 25-30 Juni. Pengunjung dapat menyaksikan beragam artefak sejarah agama Buddha serta mengikuti seminar yang menghadirkan, antara lain budayawan Goenawan Mohammad, Anand Khrisna, Budi Darma, dan Sapardi Djoko Damono.
Buddhist Festival kedua itu dipusatkan di Supermal Ballroom dan Supermal Convention Centre. Selain pameran artefak Buddha dan seminar, panitia menyiapkan pameran dagang dan panggung hiburan pada penutupan yang menghadirkan penyanyi Trie Utami dan dua pianis Malaysia, Ou Yang Yao Chih dan Cha Seng Tiang.
Artefak Buddha yang akan dipamerkan meliputi replika reclining Buddha (Buddha tidur) sepanjang 23 meter dan replika Tugu Asoka yang merupakan simbol perdamaian antarumat beragama. Yang tak kalah spektakuler adalah replika stupa setinggi 8 meter. Begitu besarnya, stupa raksasa itu mampu dimasuki 25-30 orang sekaligus.
”Di dalamnya pengunjung bisa menikmati lukisan benda-benda alam semesta,” jelas Ketua Panitia Buddhist Festival Soetanto Adi kemarin (23/6).
Turut dipamerkan kitab suci agama Buddha, Tripitaka, yang ditulis dalam enam bahasa. Juga relik (sisa pembakaran jenazah) sang Buddha Gautama beserta murid-muridnya. ”Festival ini juga menghadirkan 45 diorama sepanjang 108 meter. Diorama ini menceritakan riwayat hidup serta perjuangan Buddha Gautama,” imbuh Soetanto.
Menurut Soetanto, festival itu merupakan kegiatan agama Buddha di Indonesia pertama yang melibatkan negara-negara tetangga. Yakni, Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, India, Sri Lanka, dan Nepal. ”Ada yang diwakili organisasi. Ada juga yang merupakan perwakilan dari negara itu,” jelasnya.
Berbagai aliran serta komunitas Agama Buddha dari seluruh Indonesia turut diundang. Ada sekitar 28 komunitas. Menurut Soetanto, melalui festival seni budaya itu, umat Buddha ingin berperan serta menyumbangkan pikiran dan tenaga dengan cara mengingatkan kembali nilai-nilai kebajikan dan keluhuran bangsa yang semakin luntur.
Festival tersebut, kata Soetanto, juga bertujuan memperkenalkan dan menyegarkan warisan-warisan kesenian dan budaya Buddha asli Indonesia. ”Karena itu, kami mengundang masyarakat luas untuk menyaksikan festival ini. Festival ini tidak hanya untuk umat Buddha,” tegasnya. (ign/ari)
Source: Jawa Pos Online
Add comment June 24th, 2008