Kolaburasi Sawung Jabo-Kartolo
Menkominfo Buka FSS 2008
SURABAYA - Pembacaan cerpen dan kolaborasi musik Suroboyoan menjadi pembuka Festival Seni Surabaya (FSS) 2008. Ajang festival seni Surabaya tahunan itu dibuka oleh Menkominfo M. Nuh tadi malam. Selama 15 hari, 1-15 Juni, festival tersebut menyajikan berbagai ragam seni di kompleks Balai Pemuda Surabaya.
Dalam pembukaan tadi malam, Ratna Riantiarno membacakan cerpen berjudul Pleidoi karya Azizah Hefni. Cerpen itu menceritakan semangat kebangkitan seorang gundik untuk memperoleh hak-haknya sebagai perempuan. Cerita tersebut ditepatkan dengan momen kebangkitan nasional.
Selain pembacaan cerpen, kolaborasi musik Suroboyoan menjadi salah satu suguhan utama. Kolaborasi itu dibawakan oleh Sawung Jabo, Gong Dolly Gong (GDG), dan Kartolo cs.
Di awal penampilan, GDG menyanyikan tembang Bagong, Tetek Bengek, serta Marah dan Marah. Saat menyanyikan lagu ketiga, Kartolo naik panggung bersama Sapari. Tak ayal, pemain ludruk banyolan kawakan tersebut langsung mendapatkan tepuk tangan dari penonton.
Apalagi, dia langsung menyuguhkan lawakan yang dibawakan dengan kidungan jula-juli Suroboyoan. Acara semakin meriah saat Sawung Jabo menaiki panggung. Melalui gaya yang khas, dia membawakan empat tembang yang diiringi oleh GDG dengan gamelan slendro yang dipadu dengan alat musik modern.
Selain Sawung Jabo, pertunjukan tadi malam juga divokali oleh Alfred dan Sari “Kriwul”.
Dalam FSS tersebut, panitia mengatakan ingin menampilkan seni dan budaya Surabaya yang sebenarnya. Seperti terlihat dari beberapa program mereka yang bertajuk Hidden Generation. Dalam arena itu, FSS ingin menampilkan seni Surabaya yang selama ini tenggelam karena tidak pernah muncul ke permukaan.
Ketua Umum FSS 2008 Cak Kandar mengatakan, program-program yang disajikan dalam FSS 2008 memang diberikan khusus untuk Surabaya, apalagi bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional. “Sesuai dengan tema, yakni Tribute to Surabaya,” ucapnya.
Dalam pembukaan kemarin, M. Nuh menabuh gong. Tabuhan mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut lalu disambut riuh rendah bunyi tabuhan Sawung Jabo dan grupnya.
M. Nuh terlihat apresiatif pada penyelenggaraan FSS. Menurut dia, selayaknya masyarakat berterima kasih kepada seniman-seniman di Surabaya yang masih tetap eksis. Sebab, dengan Seni Surabaya tetap indah. “Kesenian juga bisa menjadi pemersatu,” ucapnya. (eko/dos)
Source: Jawa Pos Online
Add comment June 2nd, 2008