Archive for May 16th, 2008

Pamerkan Makanan Suroboyoan

Tinggal Pilih Di Food Court Level 1 BG Junction
Tak perlu jauh-jauh jika ingin mencari aneka makanan khas Surabaya. Sebab, mulai hari ini hingga 18 Mei, BG Junction menghelat Festival Masakan Khas Surabaya di food court level 1. Ada beragam sajian tradisional khas Surabaya yang bisa dinikmati. Mulai semanggi Surabaya, lontong kikil, lontong balap, lontong mi, rujak cingur, hingga bubur Madura.

Menurut Yeni Novilia, asisstant manager advertising & promotion BG Junction, festival makanan itu merupakan bagian dari even rutin bulanan. Setiap sebulan sekali, pengunjung kami suguhi beragam masakan bertema. “Temanya bergantung momen,” ujarnya. Karena Mei bertepatan dengan hari ulang tahun Surabaya, tema masakan khas Surabaya pun dipilih.

Dia menambahkan, festival makanan memang menjadi even unggulan BG Junction. Sebab, animo masyarakat terhadap acara tersebut cukup bagus. Setiap diadakan, menu makanan yang dijajakan selalu habis terjual. “Terutama saat akhir pekan. Sebelum jam tutup, banyak makanan habis duluan,” jelasnya.

Untuk even itu, BG Junction menggandeng pedagang-pedagang kaki lima yang cukup dikenal. Bubur Madura, misalnya. BG Junction mengundang pedagang bubur Madura dari Pasar Atom yang cukup dikenal. Begitu juga rujak cingur. Yang mengisi stan adalah penjual rujak cingur dari Jagiran. “Tapi, ada juga yang berasal dari tenant kami sendiri. Seperti, lontong balap dan lontong mi Gloria,” tuturnya.

Para pedagang yang diundang tersebut menempati stan-stan gerobak yang telah disediakan. Untuk memudahkan pembeli, setiap gerobak dipasangi papan petunjuk tentang informasi menu yang dijajakan. Per porsi makanan dijual mulai Rp 4 ribu-Rp 10 ribu.

Salah satu stan yang cukup diapresiasi oleh pengunjung adalah stan semanggi Surabaya. Masakanan legendaris yang terdiri atas daun semanggi rebus yang diguyur petis itu dikunjungi cukup banyak pembeli. “Lumayan, sudah laku sepuluh porsi lebih,” ucap Kunati, si peracik semanggi, ketika baru buka dua jam. Olahan semanggi Surabaya perempuan 48 tahun itu cukup nikmat. Selain bumbu petisnya memikat lidah, daun semangginya berasa berbeda. Tidak berbau langu, rasanya pun gurih.

Kunati memang mengolahnya dengan teknik khusus. Menurut dia, daun semanggi tidak sekadar direbus. “Setelah direbus, daun semanggi saya taruh di atas wajan. Lalu, saya panaskan lagi sampai airnya hilang,” jelasnya. Dengan begitu, bau langu akan lenyap bersama dengan menghilangnya uap air.

Selain menikmati makanan lezat, dihadirkan hiburan band akustik El-Quarto. Pertunjukan musik tersebut hadir kemarin (15/5) dan saat penutupan pada Minggu, 18 Mei. Festival Masakan Khas Surabaya itu dibuka mulai pukul 10.00 hingga 21.30. (ign/kum)

Source: Jawa Pos Online

Add comment May 16th, 2008

Tourism Minister, Asean Chief try to play angklung

Jakarta (ANTARA News) - Culture and Tourism Minister Jero Wacik and ASEAN Secretary General Surin Pitsuwan sit side by side playing the “angklung” traditional musical bamboo instrument while looking at each other once a while and chuckling when the sound of their music is not in harmony.

Jero Wacik and Surin Pitsuwan tried to play the bamboo musical instrument from West Java in the ASEAN Best Music Show, “The Mosaic Archipelago”, at Jakarta Art Building on Tuesday night.

The event was concluded with a segment of an “Angklung Interactive” in which the guests who were ASEAN ambassadors and other foreigners each got an angklung and played together.

From the stage on the occasion, a young woman in traditional “kebaya” - woman`s blouse the front of which is pinned together - asked the the audience to play the angklung and sang the songs Kicir-kicir, I Have a Dream, and Heal the World.

Jero Wacik and Surin Pitsuwan looked chummy and played their angklung to follow the instructor on the stage.

“Let us try to play our angklung,” the culture and tourism minister told the ASEAN chief, who that night wore a black suit.

The minister said the ASEAN Best Music Show was the first of its kind in Jakarta and a similar event would also be held in other ASEAN countries in the future.

“The event will become a new history for ASEAN in its effort to strengthen the bond of friendship through a musical show. The diversities and the differences of each ASEAN member country will be the uniting power of the Association of Southeast Asian Nations,” Jero Wacik said.

He noted that the ASEAN Best Music Show was designed to introduce and promote the Association`s arts and cultural diversity to the rest of the world.

At least nine traditional dances and musical instruments from Papua, Bali, East Java, Riau, Aceh, East Kalimantan, East Nusa Tenggara, West Java, and North Sumatra, were played in the event. (*)

Source: ANTARA News

Add comment May 16th, 2008


Calendar

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Posts by Month

Posts by Category