Tambak Dukuh I Dicanangkan sebagai Kampung Batik Surabaya
Sering Terima Pesanan dari Malaysia dan Myanmar
Satu lagi ikon wisata Metropolis tercipta. Daerah Tambak Dukuh I, RT 1/RW IX, kemarin (4/5) dicanangkan sebagai kampung batik Surabaya. Pencanangan itu ditandai pembuatan logo batik raksasa yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri).
TITIK ANDRIYANI, Surabaya
Batik raksasa bermotif logo Kota Surabaya itu kemarin pagi dipamerkan di Taman Surya. Kain batik berukuran 9,8 x 19,4 meter tersebut berhasil menyita perhatian pengunjung. Bentuknya yang unik membuat tim penilai angkat jempol.
Penghargaan pun diberikan kepada Wali Kota Bambang D.H. dan Arek Production yang diwakili Faiqah Esmail serta Camat Genteng Bambang Udi Ukoro. Pemberian penghargaan itu sekaligus menjadi ajang pencanangan Tambah Dukuh I sebagai kampung batik. “Kami berharap kampung batik bisa menjadi ikon Surabaya dan Jatim,” ujar Bambang.
Peminat batik, kata dia, kini tak perlu lagi mencari batik ke luar kota. Mereka cukup datang ke Tambak Dukuh I yang menyediakan bermacam motif batik.
Bambang pantas berbangga. Selain menambah alternatif wisata kota ini, penghargaan tersebut menjadi kado istimewa menjelang Hari Jadi Ke-715 Kota Surabaya (HJKS) yang jatuh pada 31 Mei mendatang.
Manajer Muri Paulus Pangka menyatakan, penghargaan diberikan karena motif yang diangkat adalah logo kota terbesar yang dituangkan dalam bentuk batik. Dia mengungkapkan, batik merupakan kebanggaan tersendiri. “Sebab, batik adalah ikon bangsa. Karena itu, setiap mengesahkan rekor Muri, saya selalu memakai batik,” ungkapnya.
Sementara itu, perintis kampung batik, Faiqah Esmail, berharap permukimannya bisa menjadi sentra batik di Jatim. Karena itu, kini dia berupaya menggandeng ibu-ibu di kawasan permukimannya. “Terutama ibu-ibu yang menganggur, lantas kami ajari cara membatik,” jelasnya.
Kini, dia sudah memiliki 16 macam batik dari 16 daerah di Jatim. Termasuk, batik khas Surabaya yang bernama batik Sawunggaling.
Dia menceritakan soal ketertarikannya terhadap batik. “Saya tergugah waktu kali pertama mengikuti pelatihan membatik di Solo beberapa tahun silam,” katanya.
Saat itu, Faiqah bertekad mengembangkan serta melestarikan kebudayaan batik di negeri ini. Tak disangka, usaha kecil-kecilan yang dia rintis semakin berkembang. Kini, tiga di antara delapan anaknya mengembangkan bisnis yang sama. “Mereka sekarang mengembangkan usaha ini di Madura,” jelasnya.
Tak hanya melayani pasar lokal, bisnisnya sudah merambah ke luar negeri. Pesanan dari Malaysia, Myanmar, dan negara Asia lainnya sering diterima. “Pokoknya, begitu ada pesenan, langsung saya kirim,” tegasnya.
Padahal, Faiqah baru memulai usahanya pada 2002. Namun, dalam tempo relatif singkat, kini dia sudah memiliki 43 pekerja.
Camat Genteng Bambang Udi Ukoro berjanji membantu supaya merek dagang batik Faiqah terdaftar. “Di Disperindag Surabaya sih sudah, sementara Disperindag Provinsi masih dalam proses,” ujarnya. Kampung Batik, kata dia, diharapkan menjadi daya tarik baru kota ini. (oni)
Source: Jawa Pos Online
Add comment May 5th, 2008