Hunting Harga agar Tak Kecolongan
May 2nd, 2008
SURABAYA - Perhelatan Surabaya Shopping Festival (SSF) 2008 mendapat tanggapan beragam dari masyarakat metropolis. Bagi Diah Ismoyo, salah seorang pengunjung Supermal Pakuwon Indah, even SSF 2008 menjadi hiburan tambahan bagi dirinya beserta keluarga.
“Mal sudah tersebar di seluruh pelosok Surabaya. Tapi, kalau ada diskon, apalagi dengan embel-embel undian dan dilakukan di 14 mal, pasti belanjanya jadi seru,” ujarnya.ÂÂ
Penghobi belanja itu mengaku memanfaatkan ajang diskon untuk membeli item yang diidamkan. “Hari ini saya beli tiga tas yang diskonnya 20-30 persen,” ungkapnya lantas menunjukkan tiga paper bag yang memuat buruannya.
Hal serupa diungkapkan Fitria Hikmasari, warga Pucang Anom, Surabaya, saat ditemui di Maspion Square kemarin. Ibu dua putri yang berbelanja bersama sang suami itu mengaku menunggu momen SSF 2008. Meski demikian, perempuan 32 tahun tersebut tidak sepenuhnya percaya pada diskon yang diberikan tenant. “Dulu, saya punya pengalaman buruk,” kisah Fitria.
Dia menceritakan, pada ajang Surabaya Big Sale 2004, dirinya berbelanja barang diskon cukup banyak. “Saya berpikir, mumpung diskon, jadi langsung borong. Ternyata, setelah program big sale berakhir, beberapa barang yang saya beli itu harganya normal. Sepertinya harga barang tersebut dinaikkan lebih dulu, baru didiskon,” kata pengusaha katering tersebut.
Kali ini, dia tidak ingin kecolongan. Beberapa hari sebelum SSF 2008 dibuka, dirinya hunting harga barang impian. “Saya sudah ingat-ingat harganya. Jadi, kalau diskonnya bohongan, saya tahu,” tegas Fitria yang mengincar sepasang sepatu dan pakaian brand asing tersebut.
Untuk Ridwan Alawi, pengunjung Hi-Tech Mall yang ditemui kemarin, SSF 2008 bisa menjadi ajang unjuk gigi bagi Surabaya. “Kita tidak kalah oleh Jakarta. Saat ini, apa yang dijual di Jakarta dijual di Surabaya,” ungkap lelaki 40 tahun yang berniat mencari notebook itu.
Bahkan, kata pemilik nursery tersebut, SSF 2008 bisa dimanfaatkan untuk menarik shopper yang biasanya berbelanja ke Hongkong, Singapura, atau Malaysia. “Memang harus ada komitmen dari brand-brand ternama juga. Sebab, yang belanja ke luar negeri biasanya mencari barang branded berbanderol ekonomis,” ujarnya. (ign/rth/tia)
Source: Jawa Pos Online
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed