Archive for April, 2008

Usung Seni Tradisional ke Mal

SURABAYA - Berbagai kiat dilakukan Dinas Pariwisata Jawa Timur untuk meyukseskan program Visit Indonesia Year 2008. Salah satunya adalah mengusung kesenian tradisional ke mal.

Selama tiga hari, sejak kemarin hingga besok (Sabtu, 12/4), berbagai jenis kesenian dari sembilan daerah di Jatim ditampilkan di pusat perbelanjaan baru, City of Tomorrow. Dua daerah berkesempatan tampil pada hari pertama kemarin (10/4). Yakni, grup musik Kramat Perkusi dari Pamekasan dan kelompok seni Gema Buana dari Bondowoso.

Grup Kramat Perkusi tak menyia-nyiakan kesempatan tampil di Surabaya. Grup yang memadukan alat musik modern dan tradisional tersebut tampil atraktif, sehingga mampu mengundang perhatian pengunjung.

Bukan hanya alat musik resmi yang dimainkan. Mereka juga menciptakan alat musik sendiri dari drum minyak. “Ini tong (drum, Red) berfungsi sebagai bas” kata Rismulyadi, pemimpin grup.

Menurut dia, alat tersebut dibuat dari tong yang dibungkus kain dan bagian atasnya dilapisi karet. Selain itu, ada sebuah tong bekas yang oleh para nelayan biasa digunakan menyimpan udang. Alat musik lain yang dipakai, antara lain, rebana, kendang, kenong, dan gong.

Rismulyadi menyatakan, sebelum menggunakan alat-alat semacam itu, awalnya mereka memanfaatkan alat-alat rumah tangga. “Sekarang sering tampil, jadi mulai pakai alat beneran,” ungkapnya.

Kesenian asal Pamekasan tersebut biasa disebut Ul-Daul. Menurut Rismulyadi, kesenian tersebut bermula dari pengamanan ketat di Madura pada 1998. “Biar nggak sepi, warga main musik,” jelasnya.

Biasanya kesenian itu berkeliling kampung, terutama saat bulan puasa. “Membangunkan untuk sahur,” ujarnya.

Tak mau kalah oleh Pamekasan, Bondowoso juga unjuk kebolehan. Grup kesenian Gema Buana membawakan sendratari berjudul Ronteg Singo Ulung. Tari itu bermula dari upacara bersih desa yang kemudian berkembang menjadi seni pertunjukan. “Yang ditonjolkan nilai estetis tari,” kata Sugeng, pemimpin kelompok.

Mereka membawakan tarian yang bercerita itu diiringi alat musik tradisional. Misalnya, saron, kendang, kenong, serta gong.

Sendratari tersebut diambil dari cerita rakyat di desa kecil di Bondowoso. Alkisah, ada seorang tokoh masyarakat yang luar biasa sakti. Dia adalah seorang pemimpin yang bijaksana. Tak ayal, dia dipercaya menjabat demang. Dalam menjalankan tugasnya, dia dibantu seorang kerabat yang punya kekuatan magis. Siapa saja bisa ditaklukkan, termasuk binatang. “Salah satunya adalah singa yang selalu membawa keberuntungan,” ujar alumnus STKW tersebut.

Bagaimana komentar mereka setelah tampil di mal? Menurut Rismulyadi, mal bisa menjadi alternatif tempat untuk kesenian tradisional. “Di mal tidak harus dengan sesuatu yang berbau modern,” tegasnya.

Menurut dia, masyarakat kota juga harus mengenal permainan musik tradisional. “Mungkin mereka kaget dengar bunyi kedombrengan seperti ini di mal,” kata Ris berseloroh. Hal senada dikatakan Sugeng. “Masyarakat harus tahu,” tegasnya.

Hari ini (11/4), akan tampil Kuda Lumping dan Campursari dari Trenggalek dan Dagelan Jawa Timur dari Surabaya. Selain empat daerah tersebut, daerah-daerah yang akan tampil hingga besok adalah Jember, Batu, Kota Malang, Sampang, dan Banyuwangi. Sebagai penutup, akan tampil Tukul Arwana. (dee/nw)

Source: Jawa Pos Online

Add comment April 11th, 2008

Concerns mud volcano now spewing explosive gas

Indonesians living near a devastating mud volcano that has spewed sludge for nearly two years say they now have to contend with flammable gas.

A government official says highly concentrated methane is pouring into nearby residential areas.

The deputy head of the government team managing the disaster says some locals are too afraid to cook at home in case they cause an explosion.

The official says they are determining whether the gas originates from the mud volcano, or is produced from sewage in the pipes.

The mudflow, near Indonesia’s second-largest city of Surabaya in East Java, has displaced about 15,000 households since it began spewing in May 2006.

Source: http://www.abc.net.au/

Add comment April 10th, 2008

Kenalkan Budaya, Kuda Lumping di Mall

MULAI besok (10/4) diadakan pergelaran budaya dari daerah-daerah di Jawa Timur. Acara yang melibatkan 12 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur itu diadakan di atrium City of Tomorrow (Cito) Surabaya.

“Ingin mengenalkan pada masyarakat,” kata Dr Harun MSi, Kepala Dinas Pariwisata Jawa Timur. Berbagai pertunjukan dari daerah ditampilkan untuk menghibur pengunjung yang datang. Ketika ditanya alasan kenapa memilih mal sebagai tempat pergelaran, Harun menjawab, tujuannya untuk mengedukasi masyarakat agar tahu kebudayaan lokal.

Hal senada diungkapkan oleh Arifin Hiantaro, General manajer Cito. Dia menyampaikan bahwa pihaknya menyambut positif kerja sama itu. “Kita punya budaya sendiri, kenapa harus pakai budaya luar,” kata Arifin. Pihaknya ingin memperkenalkan kembali budaya yang sudah tak lagi dikenal masyarakat. “Misalnya dagelan atau campursari, sekarang penikmatnya terbatas,” katanya.

Selain pertunjukan kesenian yang ada di Jawa Timur, pengunjung juga dikenalkan dengan kebudayaan lewat pameran kebudayaan. Tidak hanya kabupaten/kota yang ada di Jatim, ada pula sanggar atau galeri kesenian turut berpartisipasi. “Sanggar Alang-Alang juga turut serta kok,” ujar Harun. (dee/dos)

Source: Jawa Pos Online

Add comment April 9th, 2008

Health minister to dedicate Japanese funded polyclinic in Jombang

Surabaya, E Java (ANTARA News) - Health Minister Siti Fadilah Supari on Wednesday (April 9) is scheduled to inaugurate a Japanese funded polyclinic of Tebuireng Islamic Boarding School in Jombang, East Java province, a spokesman said.

Arvil Syahadat, information officer at the Japanese Consulate General in Surabaya told Antara here on Tuesday that the poly-clinic was funded under a Japanese government`s grant worth US$82,341, the equivalent of Rp 745 million.

The construction of the polyclinic was started in December 2007 and took four months to complete, he said.

The inaugural function will also be attended by Japanese Consul General in Surabaya Shoji Sato, and head of the Tebu Ireng Islamic Boarding School Solahuddin Wahid.

Arvil said the Tebu Ireng polyclinic is only one of several humanitarian projects realized with a Japanese government`s grant under the Grant Assistance for Human Security Projects program.

To date the Japanese government, in this case its Consulate General in Surabaya, has provided 32 grants for small scale projcts in the provinces of East Java, Nusa Tenggara and Kalimantan.(*)

Source: ANTARA News

Add comment April 9th, 2008

Suramadu bridge expected to be completed next year

Indra Harsaputra and Wahyoe Boediwardhana

Vice President Jusuf Kalla has called for the Suramadu bridge linking Surabaya and Madura island in East Java to be completed before the start of general elections in April 2009.

“With the bridge in operation, campaigns to Madura could easily be conducted,” Kalla said in a visit to the project on Sunday.

Kalla was accompanied by East Java Governor Imam Utomo and a number of ministers, including minister of industry Fahmi Idris and minister of public works Joko Kirmanto.

The 5.4-kilometer bridge is under construction between Surabaya in Java and the town of Bangkalan on the island of Madura.

The Rp 3 trillion (US$330 million) bridge, to be the longest in Indonesia, will have two lanes in each direction plus an emergency lane and a dedicated lane for motorcycles.

Yudha Andita, chief of the bridge development project, said the bridge was 76.27 percent complete at the end of last month.

He said the construction of the bridge, which was designed during the Soeharto era and kicked off by former president Megawati Soekarnoputri, was entering a vital stage of the central section in the deepest waters.

“Don’t worry about the money because the government has allocated Rp 900 billion for the remainder of the project,” Kalla said, adding that the money was being processed by the office of the state minister of the national development planning agency (Bappenas).

“At Bappenas, the process is easy. But (the money) will be disbursed in stages because if it was disbursed all at once, it could enter the pockets,” said Kalla.

During his visit to Malang, East Java, on Sunday, Kalla expressed confidence Indonesia would not suffer from a food shortage as has been forecast by some analysts.

“I’ve already seen and checked personally. I’m convinced we will not suffer from any food shortage in years ahead,” Kalla said at a ceremony for the harvest of hybrid rice at Tanggung village in Turen, Malang.

Kalla said he had just visited a number of rice production centers in West, Central and East Java, Lampung and Sulawesi, where farmers were optimistic about raising their rice production.

He further said farmers’ current production of 4 to 5 tons of unhusked rice per hectare could be raised with the assistance of modern technology.

Source: The Jakarta Post

Add comment April 8th, 2008

Gaet Pelancong Lokal, Bikin Tourism Fair

SURABAYA - Dinas Pariwisata (Disparta) Jatim serius mendukung program Visit Indonesia Year 2008 (Tahun Kunjungan Wisata) yang dicanangkan pemerintah. Bersama 12 kabupaten/kota di Jatim, Disparta menyelenggarakan Tourism Fair di City of Tomorrow (Cito) mulai Rabu (2/4).

Kepala Disparta Jatim Harun mengatakan, pameran wisata yang dihelat hingga 13 April itu bertujuan menggairahkan Tahun Kunjungan Wisata. “Lewat Tourism Fair ini, kami ingin meningkatkan kecintaan warga Jatim terhadap objek wisata daerah,” ujarnya kemarin (3/4). Dia berharap, pameran tersebut bisa meningkatkan kunjungan wisatawan domestik.

Pameran yang diikuti lima Biro Perjalanan Wisata (BPW) itu menampilkan sejumlah potensi seni dan budaya. Terutama, potensi objek wisata masing-masing daerah. “Ada pula handycraft, seperti batik Tuban dan Madura, serta makanan tradisional yang dipamerkan,” tambah Harun. Rencananya, mulai 10-13 April bakal disuguhkan serangkaian gelar seni budaya.

Harun berharap, even wisata yang baru pertama diselenggarakan tersebut bisa dilaksanakan reguler. Disparta berharap, Tourism Fair kelak menjadi agenda tetap Pemprov Jatim dan dijadwalkan dua kali dalam setahun. Dengan demikian, pemerintah kabupaten/kota yang terlibat dalam pameran wisata lebih banyak.

Terkait pencanangan Tahun Kunjungan Wisata, Disparta Jatim menargetkan pertumbuhan wisatawan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. “Tahun ini, kami menargetkan pertumbuhan wisatawan domestik hingga 2-3 persen dan wisatawan mancanegara 10 persen,” paparnya.(hep/oki)

Source: Jawa Pos Online

Add comment April 7th, 2008

Cycling: Anuar powers back with sprint wins

By : Arnaz M. Khairul

WHEN all their cards were down, Le Tua Cycling Team rose to rally behind Anuar Manan for the sprinter to grab his second consecutive points classification win in the Tour of East Java in Indonesia yesterday.

Over the five days of the Tour, which ended in Surabaya yesterday, Malaysia’s top team Le Tua had lost the green (points) and yellow (overall individual) after taking charge of both leads on the opening stage last Monday.

Anuar, 22, was two points behind Algerian Hannachi Abdelbaset of the Doha Team entering the 51-km criterium in Surabaya yesterday and emphatically stole back the jersey by winning both intermediate sprints on offer.

Anuar had also won the points classification in the Tour of East Java last year and it is his second green jersey this year after his feat in the Jelajah Malaysia in January.

The teams classification saw Le Tua maintain their fourth spot, while the national team improved from last to 18th in the final classification.

RESULTS — Stage 5 (51km Surabaya Criterium): 1 Mitchell Docker (Aus) Drapac-Porsche 1:06.38s, 2 Erik Hoffman (Nam) Giant Asia, 3 Bernard Sulzberger (Aus) LeTua, 4 Ferinanto (Ina) Dispora-Jatim, 5 Shinri Suzuki (Jpn) Skil-Shimano — all same time.

Final standings — General classification (yellow jersey): 1 Ghader Mizbani (Iran) Tabriz Petrochemical 12:25.34s, 2 Ahad Kazemi Sarai (Iran) Tabriz Petrochemical +1:34s, 3 Jai Crawford (Aus) Trek-Marco Polo +1:53s

Points classification (green jersey): 1 Anuar Manan (Mas) LeTua 18 points, 2 Hannachi Abdelbaset (Alg) Doha Team 15, 3 Vyacheslav Dyadichkin (Kaz) Polygon-Sweet Nice 8.

Teams classification: 1 Tabriz Petrochemical (Iran) 37:20.37s, 2 Polygon-Sweet Nice (Ina) +22:57s, 3 Giant Asia (Tpe) +23:21s, 4 Le Tua (Mas) +32:49s, 5 Jaysportswear-Beacon (Phi) +36:32s.

Source: http://www.nst.com.my/

Add comment April 7th, 2008

Tenun Abaca, Dibuat dari Serat Pohon Pisang

Hanya Diproduksi di Desa Kemiren, Banyuwangi
Banyuwangi-
Selain dikenal dengan kesenian tari gandrung, Kabupaten Banyuwangi juga menyimpan kerajinan tradisional. Itulahテつ kerajinan tenun berbahan dasar serat pohon pisang atau yang dikenal dengan nama serat abaca.
JENIS tenun tersebut diproduksi di Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren,テつ Glagah. Adapun abaca merupakan salah satu spesies pisang, yang jika di Indonesia gampang ditemukan di Kalimantan dan Sumatera.
Pisang tersebut diproduksi bukan untuk diambil buahnya melainkan khusus diambil batangnya. Dari batang tersebut diperoleh serat abaca yang halus namun sangatテつ kuat, yang biasa digunakan untuk tali penambat perahu.

Di Filipina, serat abacaテつ digunakan sebagai salah satu bahan pembuat uang. Sedangkan di Banyuwangi, serat abaca ditenun menjadi berbagai produk hiasan rumah, menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).テつ Kerajinan yang dihasilkan dengan ATBM tersebut berupa taplak meja, alas piring, dan tirai.

Para penenun serat abaca semuanya perempuan dari desa setempat atau desa di sekitar Kemiren. Home industry serat abaca dilakukan sejak enam tahun silam oleh Sanggar Genjahテつ Arum. Pemilik sanggar tersebut, Setyawan Subekti alias Iwan, menjalin kerjasama dengan perkebunan pisangテつ di Kecamatan Songgon.

“Ketika melihat banyak pengangguran di desa ini, maka Pak Iwanテつ mencoba membuat terobosan agar para perempuan di sini menghasilkan uang,” kata Yanti Dwiテつ Lestari, penanggungjawab sanggar tersebut.
Enam tahun lalu, sejumlah perempuan dikirim ke Jogjakarta untuk mendapat pelatihan menenun. Hasilnya kemudian dipraktikkan di Banyuwangi. Awalnya, alat yang digunakan untuk menenun juga didatangkan dari Jogjakarta, yakni sebanyak 20 unit ATBM.
Cara menenun, setiap serat pisang dipilah sebesar rambut. Setelah ditata rapi, para perempuan menenunnyaテつ menjadi taplak, alas piring atau tirai. Sebuah alas piring bisa dikerjakan dalam waktu satu jam, sedangkan taplak meja dikerjakan perlu waktu dua jam. “Kalau tirai ya lebih lama lagi, karena ukurannya lebih panjang,” lanjut Yanti.
Setiap bulan, sanggar tersebut bisa memproduksi 400 buah alas piring dan 200 buah taplakテつ meja. Setiap alas piring dijual dengan harga Rp 10.000 per buah, dan taplak meja Rp 20.000 per buah.
Dalam sebulan, sekitar 25 kilogram serat pohon pisang dihabiskan untuk ditenun.
Hasil kerajinan dari serat pisang tersebut dikirim ke Bali dan Jakarta. “Kadang kamiテつ mengirim pesanan 1.200 buah alas piring dan 400 taplak meja,” Jelas Yanti.
Home industry tenunan serat abaca dikerjakan oleh tujuh sampaiテつ sembilan perempuan usia belasan tahun yangテつ rata-rata hanya lulusan SD dan SMP. Mereka bekerja mulai pukul 07.00 WIB - 16.00 WIB, denhan penghasilan rata-rata Rp 15.000.
“Untuk setiap alas piring saya mendapatkan upah Rp 2.500, taplak meja Rp 4.500, dan tirai Rp 20.000 per buah,” aku salah seorang penenun, Dwiyanti.
pantauan Surya, ATBM serat abaca di Kemiren merupakan satu-satunya di Banyuwangi.テつ Desa ini dijadikan desa wisata oleh Pemkab Banyuwangi. Jika Anda datang ke desa yangテつ berjarak sekitar 15 kilometer arah barat dari Kota Banyuwangi itu, Anda akan memperoleh suguhan desa adat Banyuwangi, mulai dari bentuk rumah asli Banyuwangi danテつ berbagai macam ritual adat setempat.

Source: Surya Online

Add comment April 4th, 2008

Kota Malang Tidak Lagi Malang

Setelah memantapkan diri sebagai Kota Pendidikan yang dilanjutkan dengan menobatkan diri pula sebagai Kota Pendidikan Internasional, Kota Malang sudah teramat layak menyandang itu semua.
Memasuki usianya yang ke-94, kota Malang benar-benar menjadi kota kebanggan. Tidak hanya bagi warga Kota Malang tentunya, namun juga bagi masyarakat Jawa Timur dan rakyat Indonesia secara umum. Menyambut hari ulang tahun yang jatuh 1 April, Kota Malang kini tidak lagi malang.

Sebuah kota yang tidak terlalu besar tentunya, namun kini keberadaannya cukup diperhitungkan dibanding dengan kota-kota lain di wilayah Jawa Timur. Karakter tersendiri membedakan antara Kota Malang, yang hanya memiliki lima kecamatan dibandingkan dengan daerah-daerah lain di wilayah Jatim.

Setelah memantapkan diri sebagai Kota Pendidikan yang dilanjutkan dengan menobatkan diri pula sebagai Kota Pendidikan Internasional, Kota Malang sudah teramat layak menyandang itu semua. Bukan hanya karena ada puluhan universitas yang muncul dan banyak sekolah unggulan yang ditelorkan, semangat menemukan kembali esensi pendidikan seakan-akan tertancap dan tertanam dalam sanubari setiap elemen masyarakatnya.

Tak heran ketika dalam beberapa dekade terakhir, Kota Malang jauh di depan melampui daerah-daerah yang lain. Berbagai penghargaan dan prestasi banyak diraih oleh Kota Malang terutama dalam bidang pendidikan mulai yang bertaraf regional, nasional, maupun internasional. Baik yang bersifat kelembagaan maupun perorangan.

Baru-baru ini, Kota Malang dipercaya pula menjadi salah satu contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam penerapan teknologi informasi berbasis internet. Hal ini ditandai dengan pilot project warung masyarakat informasif (warmasif) oleh Departemen Komunikasi dan Informatika di Kota Pendidikan ini beberapa waktu lalu.

Selain itu, sebagai sebuah kota yang sedang berkembang, Kota Malang tentunya terus berbenah diri. Berbagai persoalan selain pendidikan, semisal bidang sosial, ekonomi dan pembangunan harus selalu dimunculkan beriringan dengan perkembangan kota yang dinamis. Semoga kota ini semakin jaya, Malang Kucecwara!

Oleh Ahmad Makki Hasan
Guru SMA Negeri di Kota Malang
ahmadmakkih@yahoo.com

Source: Surya Online

Add comment April 3rd, 2008

Kuliner , Bondan Syuting di Hotel Santika

MALANG - Program acara Wisata Kuliner yang tayang di Trans TV melakukan syuting paket itu di Hotel Santika Premiere, Senin (17/3) mulai pukul 09.00 WIB. Bertempat di poolside, Santika menyajikan masakan tradisional sesuai tema yakni tema makanan tempo dulu. Pemandunya tentu saja, Bondan Winarno. テ「竄ャナ適ami menyajikan menu Ayam Penyon sambal matah,テ「竄ャツ terang Hilda Muthia Arava, PR Hotel Santika Premiere dalam rilisnya, Senin (17/3).テつ Syuting memakan waktu 1,5 jam karena terdapat proses memasak ayam penyon sampai dengan penyajiannya di Area Kulala Bar & Teras.

Selain Bondan yang terkenal dengan sebutan Mak Nyuuss jika sedang menyantap makanan yang lezat, pria kelahiran Surabaya 29 April 1950 ini didampingi Chef EDP Bagus.
Bondan tampak antusias melihat pengolahan menu ini yang berbahan dasar cabe hitam, lada putih, ketumbar, kayumanis, cengkeh, kemiri yang dicampur dengan bawang merah dan putih serta kunyit dan diberi perasan air jeruk limau. テ「竄ャナ釘ahan campuran ini kemudian menjadi bumbu kuning,テ「竄ャツ tambah Hilda.

Sedang sambal matah dibuat dari bahan bawang merah, cabe rawit hijau, cabe merah, sereh, terasi Bali, garam dan minyak kelapa. Sedang minumannya diracik khusus oleh Asisten Bartender, Kadek dengan Blue Saphire. vie

Source: Surya Online

Add comment April 2nd, 2008

Next Posts Previous Posts


Calendar

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Posts by Month

Posts by Category