Luncurkan Buku Tourist Guide Bahasa Jepang
April 25th, 2008
Orang Jepang yang terkenal suka melancong langsung dibidik Surabaya Promotion Tourism Board (STPB). Kemarin STPB me-launching buku panduan pariwisata Surabaya dalam bahasa Jepang. Dalam buku yang dicetak full colour tersebut terdapat informasi lebih lengkap tentang Surabaya dan Jawa Timur. Sebelumnya, STPB meluncurkan Sparkling Surabaya Book Guide bahasa Jepang versi hitam putih pada pertengahan 2007 lalu.ÂÂ
Peluncuran guide book berjudul Sparkling Surabaya and East Java kemarin dihadiri Wali Kota Bambang D.H., Kepala Dinas Pariwisata Jatim Harun, Deputy Konsul Jenderal Jepang untuk Surabaya Taniuchi Tetsuro, dan executive director STPB Yusak Anshori. Peluncuran buku dilakukan di ruang sidang Balai Kota Pemkot Surabaya.
Bukan tanpa alasan kali ini versi full colour dengan edisi lengkap diluncurkan. Pasalnya, kata Yusak, Jepang memiliki potensi pasar cukup besar di Surabaya dan Jawa Timur. Buku itu akan disebarkan ke 25 perkumpulan Japan Club dan seluruh provinsi di Indonesia.
Yusak menyebut, wisatawan yang berkunjung ke Jawa Timur pada 2006 mencapai 4.753 orang. Pada 2007, jumlahnya meningkat menjadi 5.394 orang, atau naik 13,5 persen. “Kami berharap peluncuran buku ini bisa mendongkrak wisatawan Jepang ke Surabaya maupun Jatim.” tuturnya.
Dia menambahkan, saat ini wisatawan Jepang yang berkunjung ke Surabaya menempati peringkat keempat setelah Malaysia, Singapura, dan Taiwan. STPB menargetkan kenaikan wisatawan Jepang tahun ini minimal mencapai 15 persen.
Menurut dia, secara umum tahun ini peningkatan wisatawan ke Surabaya cukup tinggi, yakni mencapai 56 persen. “Lebih baik dibanding Bali yang hanya 23 persen. Namun, kita belum memilah mereka yang datang ke sini untuk berbisnis atau turis murni,” terangnya.
Alhasil, meningkatnya jumlah wisatawan itu juga berimbas terhadap menggeliatnya bisnis hotel-hotel di Surabaya. Ini dibuktikan dengan kenaikan pajak hotel yang diterima pemkot. Berturut-turut pendapatan yang diterima dari pajak hotel pada 2005, 2006, dan 2007 mencapai Rp 119 M, Rp 140 M, dan Rp 159 M.
Peluncuran buku itu, kata Yusak, diharapkan menjadi sarana meyakinkan perusahaan penerbangan supaya ada direct flight dari Jepang ke Surabaya dan sebaliknya.
Wali Kota Bambang D.H. menambahkan, wisatawan Jepang memiliki keunikan tersendiri. Mereka tidak mengenal musim berlibur. “Mereka bisa berwisata kapan saja. Tak hanya para muda-mudi, mereka yang berusia tua. Karena Jepang sendiri dikenal dengan usia harapan hidup yang tinggi di dunia,” tuturnya.
Karena itu, kata Bambang, pemkot akan terus menggalakkan perbaikan infrastruktur maupun keamanan kota. “Faktor keamanan menjadi penunjang untuk menarik wisatawan di kota ini,” terangnya. (kit/nw)
Source: Jawa Pos Online
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed