Tenun Abaca, Dibuat dari Serat Pohon Pisang

April 4th, 2008

Hanya Diproduksi di Desa Kemiren, Banyuwangi
Banyuwangi-
Selain dikenal dengan kesenian tari gandrung, Kabupaten Banyuwangi juga menyimpan kerajinan tradisional. Itulahテつ kerajinan tenun berbahan dasar serat pohon pisang atau yang dikenal dengan nama serat abaca.
JENIS tenun tersebut diproduksi di Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren,テつ Glagah. Adapun abaca merupakan salah satu spesies pisang, yang jika di Indonesia gampang ditemukan di Kalimantan dan Sumatera.
Pisang tersebut diproduksi bukan untuk diambil buahnya melainkan khusus diambil batangnya. Dari batang tersebut diperoleh serat abaca yang halus namun sangatテつ kuat, yang biasa digunakan untuk tali penambat perahu.

Di Filipina, serat abacaテつ digunakan sebagai salah satu bahan pembuat uang. Sedangkan di Banyuwangi, serat abaca ditenun menjadi berbagai produk hiasan rumah, menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).テつ Kerajinan yang dihasilkan dengan ATBM tersebut berupa taplak meja, alas piring, dan tirai.

Para penenun serat abaca semuanya perempuan dari desa setempat atau desa di sekitar Kemiren. Home industry serat abaca dilakukan sejak enam tahun silam oleh Sanggar Genjahテつ Arum. Pemilik sanggar tersebut, Setyawan Subekti alias Iwan, menjalin kerjasama dengan perkebunan pisangテつ di Kecamatan Songgon.

“Ketika melihat banyak pengangguran di desa ini, maka Pak Iwanテつ mencoba membuat terobosan agar para perempuan di sini menghasilkan uang,” kata Yanti Dwiテつ Lestari, penanggungjawab sanggar tersebut.
Enam tahun lalu, sejumlah perempuan dikirim ke Jogjakarta untuk mendapat pelatihan menenun. Hasilnya kemudian dipraktikkan di Banyuwangi. Awalnya, alat yang digunakan untuk menenun juga didatangkan dari Jogjakarta, yakni sebanyak 20 unit ATBM.
Cara menenun, setiap serat pisang dipilah sebesar rambut. Setelah ditata rapi, para perempuan menenunnyaテつ menjadi taplak, alas piring atau tirai. Sebuah alas piring bisa dikerjakan dalam waktu satu jam, sedangkan taplak meja dikerjakan perlu waktu dua jam. “Kalau tirai ya lebih lama lagi, karena ukurannya lebih panjang,” lanjut Yanti.
Setiap bulan, sanggar tersebut bisa memproduksi 400 buah alas piring dan 200 buah taplakテつ meja. Setiap alas piring dijual dengan harga Rp 10.000 per buah, dan taplak meja Rp 20.000 per buah.
Dalam sebulan, sekitar 25 kilogram serat pohon pisang dihabiskan untuk ditenun.
Hasil kerajinan dari serat pisang tersebut dikirim ke Bali dan Jakarta. “Kadang kamiテつ mengirim pesanan 1.200 buah alas piring dan 400 taplak meja,” Jelas Yanti.
Home industry tenunan serat abaca dikerjakan oleh tujuh sampaiテつ sembilan perempuan usia belasan tahun yangテつ rata-rata hanya lulusan SD dan SMP. Mereka bekerja mulai pukul 07.00 WIB - 16.00 WIB, denhan penghasilan rata-rata Rp 15.000.
“Untuk setiap alas piring saya mendapatkan upah Rp 2.500, taplak meja Rp 4.500, dan tirai Rp 20.000 per buah,” aku salah seorang penenun, Dwiyanti.
pantauan Surya, ATBM serat abaca di Kemiren merupakan satu-satunya di Banyuwangi.テつ Desa ini dijadikan desa wisata oleh Pemkab Banyuwangi. Jika Anda datang ke desa yangテつ berjarak sekitar 15 kilometer arah barat dari Kota Banyuwangi itu, Anda akan memperoleh suguhan desa adat Banyuwangi, mulai dari bentuk rumah asli Banyuwangi danテつ berbagai macam ritual adat setempat.

Source: Surya Online

Entry Filed under: East Java News

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts