Archive for March, 2008
Kecuali Penabuh Gendang, Semua Pengrawit Perempuan
Warga Surabaya asal Madiun memiliki cara tersendiri dalam mengobati kerinduan terhadap tanah kelahiran. Mereka membentuk perkumpulan karawitan. Maka, tembang-tembang Jawa seperti yang sering mereka dengar di kampung dulu kini bisa dihadirkan lagi. Bahkan, merekalah yang menjadi penembang dan pengrawitnya.
MAYA APRILIANI
Memasuki pekarangan kediaman Ketua Peguyuban Madiun (Paguma) Surabaya Soemarno Bagio di kawasan Sidosermo V-A PdK, suasa ndeso langsung terasa. Dari luar pagar, sayup-sayup terdengar alunan lagu Ketawang Puspowarno. Lagu Jawa berirama melankolis tersebut terasa menenteramkan hati. Suara khas sinden yang melengking menambah indahnya permainan musik Jawa tersebut.
Itulah suasana rumah Soemarno tiap Rabu. Nada-nada indah dari gamelan yang dimainkan para anggota Paguma Langen Budoyo benar-benar membuat pencinta seni Jawa ingin lebih lama mendengarkannya. Tiap Rabu, mereka mengadakan latihan di rumah berpagar besi tersebut.
Gamelan yang terdiri atas 15 perangkat itu dijajar rapi di teras rumah Soemarno. Mulai bonang barung, bonang penerus, slentem, demung, saron barung, saron penerus, kenong, gender, gambang, gong, dan kendang. Tiap Rabu, mulai pukul 16.00 hingga 18.00, perangkat itu dimainkan para anggota Paguma yang membentuk kelompok karawitan Langen Budoyo.
Anggota karawitan yang sebagian besar wanita tersebut tampak serius memainkan alat musik di depannya. Tak terkecuali Wiena Mashuri, ketua Langen Budoyo yang dipercaya memainkan bonang barung. Pandangan matanya selalu tertuju pada deretan bonang di hadapannya. Selain itu, indra pendengarannya wajib dipertajam untuk mendengarkan suara gamelan anggota lain supaya nada yang dihasilkan bisa serasi. “Dalam band, alat yang saya mainkan ini berfungsi sama seperti melodi,” kata Wiena.
Karena memainkan alat yang berfungsi sentral, Wiena pun terlihat sangat berhati-hati saat bermain. Sebab, jika pukulannya salah, gending yang dihasilkan menjadi jelek dan terasa fals. “Makanya, tiap berlatih, kami selalu bawa krepekan (contekan, Red),” ujar ibu satu anak tersebut.
Dalam krepekan yang sengaja dibuat kecil supaya tidak terlihat orang saat bermain itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan posisi nada. Di atas angka tersebut ada judul lagu plus tempo permainan yang harus dimainkan. “Hampir semua anggota bawa krepekan,” jelasnya lalu tersenyum.
Meski krepekan, tak harus disembunyikan. Ada juga krepekan itu yang berupa buku tulis besar yang ditempatkan di peyangga buku di depan gamelan. “Kami semua belajar mulai nol. Jadi, harus sering melihat krepekan,” kata Prien Herlini, anggota yang lain.
Namun, saat ditanggap (manggung, Red), penggunaan krepekan tersebut diminimalkan. Contekan penting itu pun disembunyikan di tempat yang aman supaya mereka terlihat profesional. “Kalau tanggapan, kami harus benar-benar kosentrasi,” tegas wanita yang memainkan kenong itu bersemangat.
Wanita yang enggan menyebutkan umurnya tersebut menuturkan, perkumpulan yang bertujuan melestarikan budaya Jawa itu berlatih sejak akhir 2000. Paguma Surabaya didirikan pada Mei 2000. Kala itu, mereka belum memiliki gamelan. Bila ingin berlatih, mereka harus pergi ke Taman Budaya meminjam gamelan. “Waktu itu, anggota yang ikut pun bisa dihitung dengan jari. Kadang hanya dua atau tiga orang,” ungkap ibu satu anak tersebut.
Sedikitnya anggota yang tertarik itu membuat jadwal latihan tidak lancar. Tidak jarang mereka membatalkan latihan gara-gara yang ikut sedikit. Tapi, setelah Soemarno membeli seperangkat gamelan, anggota yang ikut berlatih bertambah banyak. Tiap latihan, sedikitnya 23 anggota hadir. Mereka terdiri atas 19 wanita dan empat pria. Para pria bertugas memegang alat-alat yang sulit dimainkan kaum hawa. Misalnya, kendang.
“Maklum, anggota Paguma Langen Budoyo sudah berumur 50 tahun plus, jadi sulit belajar kendang,” ujar Wiena.
Dua minggu terakhir, kelompok karawitan tersebut giat berlatih. Mereka bahkan menambah waktu latihan. Kalau biasanya hanya dua jam, kini menjadi 3-4 jam. Sebab, 22 Maret nanti, mereka harus manggung di rumah salah seorang anggota Paguma. Karena itu, mereka juga menghafal sedikitnya sembilan gending wajib untuk acara tersebut. Di antaranya, Pamuji, Majemuk, Puspowarno, Eling-Eling, Wilujeng, dan Subokastowo.
Untuk manggung, kelompok karawitan ibu-ibu tersebut tidak pernah memasang tarif. Mereka menerima berapa pun uang yang diberikan si penanggap. Biasanya, dana itu dipakai untuk mengangkut gamelan, biaya perawatan, dan masuk ke kas peguyuban. “Kalau penabuhnya, tidak perlu diberi imbalan. Bisa tampil saja kami sudah senang,” tegas Wiena.
Bukan hanya para penabuh yang terlihat giat. Djoko Soemarno, sang pelatih grup karawitan itu pun, sangat bersemangat. Dia harus bekerja ekstrakeras untuk melatih para penabuh gamelan yang sudah berumur tersebut. “Sebagai pelatih, saya harus bisa mengerti keinginan mereka,” jelasnya.
Berbekal sikap terbuka, Djoko mampu menyatukan pengrawit yang berasal dari berbagai latar belakang itu. Mulai dokter, istri dokter, istri profesor, hingga istri mantan pejabat. “Saya senang, apa yang saya inginkan bisa terwujud melalui karawitan ini. Para ibu ini manut-manut (menurut, Red),” ungkapnya lantas tersenyum.
Sebagai ketua, Soemarno Bagio ikut bangga melihat peguyubannya memiliki aktivitas berarti. Terlebih, mereka bisa diberdayakan di berbagai kegiatan. “Setidaknya, kami bisa ikut melestarikan budaya Jawa supaya tetap ada,” ujarnya.
Sejatinya, kata dia, Paguma awalnya didirikan sebagai ajang kumpul orang Madiun yang ada di Surabaya. Tapi, lama-kelamaan, perkumpulan tersebut berkembang hingga memiliki berbagai kegiatan. Selain aktivitas karawitan Langen Budoyo, mereka sering mengadakan seminar dan latihan dansa tiap Senin. “Selain kumpul-kumpul, kami bisa menyalurkan hobi untuk bermain gamelan atau dansa,” kata pria berusia 61 tahun tersebut.
Menurut Ismono, penasihat Paguma Surabaya, karawitan bukanlah hal baru bagi anggotanya. Sebab, waktu kecil, banyak di antara mereka yang telah belajar menari maupun bermain gamelan sebagai hobi. “Jadi, saat kumpul-kumpul, mereka juga bisa menyalurkan hobi,” jelasnya. (*)
Source: Jawa Pos Online
March 19th, 2008
SURABAYA - Mencintai Rasulullah Muhammad SAW bisa dilakukan dengan mengenang hari lahirnya. Hal itulah yang digagas Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Al-Falah kemarin (18/3).
Momen Maulid Nabi yang dikemas dengan operet tersebut berkisah tentang kelahiran Nabi Muhammad. Alkisah, Raja Abrahah tampak murka melihat Kakbah di Kota Makkah masih dikunjungi banyak orang. Padahal, dia telah membangun rumah peribadatan nan megah untuk menandingi.
Abrahah pun berniat menghancurkan Kakbah melalui pasukannya. Ketika pasukan gajah sedang bersiap bertempur, tiba-tiba Allah SWT mengirimkan sekawanan burung Ababil yang melemparkan batuan sijjil panas untuk mengalahkan pasukan Abrahah. Tepat pada saat itu, 12 Rabiulawal 571 Masehi (Tahun Gajah), lahirlah Muhammad, sang Rasulullah.
Operet tersebut dibawakan 10 siswa yang mengenakan kostum perang, berperan sebagai pohon kurma, membawa topeng gajah, dan membawa senjata mainan. Yang lain bersalawat seraya melemparkan batu sijjil. Siswa dan guru pun tampil dengan kostum ala Arab. Siswa laki-laki mengenakan gamis dan serban. Siswa perempuan mengenakan burqah dan cadar.
Setelah menampilkan operet, siswa langsung berpawai di seputar Jalan Siak-Komering-Indragiri- Cipunegara-Siak seraya membawa poster bertulisan sifat teladan Muhammad. Sepanjang jalan mereka juga tak henti-henti menyenandungkan salawat Nabi.
Pada akhir acara, siswa menikmati Arabian food atau makanan khas Arab yang terdiri atas kacang, kurma, kismis, dan roti maryam.
Kepala KB-TK Al-Falah Siti Fauziah menjelaskan, selama ini, anak hanya mengenal kisah Nabi Muhammad lewat cerita. “Berbeda efeknya jika mereka merasakan sendiri suasana kelahiran Nabi Muhammad,” ungkapnya.
Hal itu juga dikatakan salah seorang siswa, Ahmad Abdul Aziz, yang memerankan pasukan Abrahah. Menurut dia, dengan ikut operet, dirinya bisa merasakan langsung. “Saya pengen kayak Nabi Muhammad,” ujar siswa TK B itu malu-malu. (ita/nw)
Source: Jawa Pos Online
March 19th, 2008
Makin banyak rusa berkeliaran di Taman Flora, Kebun Bibit, Bratang. Setelah pekan lalu mendapatkan sumbangan tiga ekor dari bupati Madiun dan Kebun Binatang Surabaya (KBS), kemarin (17/3) RSU dr Soetomo menambah koleksi dengan menyumbangkan empat ekor rusa Bawean.
Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Hidayat Syah berjanji terus menambah koleksi binatang lincah itu. Paling tidak, dari RSU dr Soetomo akan dikirimkan 10 lagi rusa Bawean. Sebelumnya, rusa di RSU dr Soetomo berjumlah 31 ekor. “Kandang dan tempat untuk rusa-rusa itu sudah kami siapkan,” katanya.
Pemindahan rusa dari RSU dr Soetomo ke Taman Flora itu dilakukan sore menjelang magrib untuk menyiasati kemacetan lalu lintas. Sebab, kamacetan di jalan bisa membuat rusa-rusa tersebut stres. “Kami tadi sengaja membiusnya karena kalau ditempatkan di dalam kandang, pasti berontak dan tubuhnya luka-luka,” kata Hidayat.
Wali Kota Bambang D.H. melihat rusa-rusa tersebut di Taman Flora. Upaya meramaikan Taman Flora tak berhenti di situ. Dalam waktu dekat, DKP akan membangun sangkar burung besar dalam bentuk kubah (dome). Sangkar burung itu akan diisi unggas-unggas hias sumbangan berbagai pihak. Di antaranya, KBS dan dari pribadi wali kota.
DKP, kata Hidayat, bertanggung jawab mewarat hewan-hewan hutan itu. Untuk perawatan unggas dan rusa-rusa tersebut, DKP menggandeng Dinas Perikanan, Kelautan, Peternakan, Pertanian, dan Kehutanan (DPKPPK).
“Unggas mendapatkan suntikan antiflu burung secara rutin. Sementara, rusa-rusa akan mendapat perawatan dari DPKPPK,” terang Hidayat. “Sementara ini memang masih uji coba. Kalau memang sukses dan masyarakat menyukainya, kami akan menambah koleksi lagi,” imbuhnya. (aga/ari)
Source: Jawa Pos Online
March 18th, 2008
SEBENTUK rel yang melengkung itu memang menyimpan cerita. Di atas besi-besi itu pernah lewat gerbong-gerbong besi. Namun, kesibukan itu kini tak ada lagi, lenyap ditelan zaman. Rel melengkung itulah yang lantas diabadikan Fitri dalam karyanya Tak Akan Terlewati.
Fitri adalah salah seorang anggota Aktivitas Fotografi (Afo) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang berpameran di Royal Plaza kemarin (17/3). Sebanyak 45 foto dipajang dalam rangka ulang tahun ke-16 Afo.
Pameran itu pun seolah menjadi ajang reuni. Sebab, yang dipamerkan adalah karya anggota tiga angkatan. Beragam teknik fotografi, mulai still life hingga low light, dipajang.(ken/dos)
Source: Jawa Pos Online
March 18th, 2008
CNN’s Arwa Damon visited a national park in East Java, part of Indonesia, on March 7, and reports on her experience with scientists working to save the habitat of the endangered gibbon species.
EAST JAVA, Indonesia — Primatologist Dr. Jatna Supriatna scans the treetops in a national park on the island of Java, looking for gibbons. This area is home to about 150 of the remaining 4,000 Java gibbons. These highly acrobatic creatures are easy prey on the ground and live well above it in the jungle canopy.
“They like the trees here, the fruit from the trees, so sometimes they are here,” Supriatna says softly, as we trek through the natural beauty with midday light streaming through the foliage.
“This is keystone to the gibbons. You can’t kill the trees” he continues emphatically, pointing out the dainty figs that are a staple part of the gibbons’ diet.
But that’s exactly what’s going on. Indonesia has the shameful distinction of holding the “highest deforestation” title in the 2008 Guinness Book of World Records, destroying an estimated 300 soccer fields of forest every hour.
According to the World Wildlife Fund, these shy and elusive creatures are the most endangered of all ape species.
“They don’t have any too big a natural enemy, but encroachment,” Supriatna explains.
Through the foliage we can see the electrical towers from the human communities, slowly eating away at what’s left of this protected land.
Baby gibbons are also subject to illegal poaching because they are considered cute pets and, according to Supriatna, selling for thousands of dollars on the black market.
“They kill the mother because they want to have the baby,” Supriatna says. “So if they kill the mother, there is no chance for survival of the population, of the gibbon.”
In a project run by Conservation International, primatologists are trying to rehabilitate gibbons they saved from people’s homes. UuUu, a 7-year-old female, is tranquilized and gently moved to the “introduction cage.”
Because gibbons live in family groups, her only chance of survival in the wild is with a mate. As she sits hunched over in a corner, drooling and smacking her lips from the effect of the drugs, in the neighboring cage, Kiss Kiss, a male, emits low whimpers, a visible sign of his agitation.
Watch the effort to get the pair to mate »
UuUu slowly shakes off the drugs and groggily clambers on the fencing.
“They will spend at least a week watching each other,” Supriatna explains laughing. “Not like humans. They have to invest a lot in the pairing because when they are in nature, they have to find the right guy for the female because their entire life, they will be there. It’s not like they can choose one and just move to the other.”
For this species, there are no one-night stands. And Kiss Kiss can attest to just how picky female gibbons can be. He was already rejected by a female he spent six months with.
In the five years since this project began, there have only been three successful couplings, between the 16 gibbons at the center. So far no couples have been introduced back into the wild. Not only do the primatologists have to get the pairs to mate, but they also have to teach them vital lessons about their diet. For these gibbons that were snatched from the wild, nature can be poisonous.
This makes preserving those already there even more important. Gibbons are a vital part of this already fragile ecosystem, crucial to seed distribution and the health of the ecosystem. Supriatna warns that changing the balance of nature will cause disasters.
In the distance, as the afternoon rains start to roll in, we can hear the gibbon’s melodic song. Supriatna’s picks out the male-female duet.
“Listen, the female [is] usually singing a little bit longer and louder.”
The haunting melody gets louder, but the gibbon pair it’s coming from isn’t close enough for us to see. But its easy to imagine them deftly swinging through the canopy. And the realization sets in, that the gibbon song, like the nature we hear it in, risks being a thing of the past.
Source: http://edition.cnn.com/2008/WORLD
March 17th, 2008
SURABAYA - Bagi umat Katolik, kemarin adalah awal Pekan Suci, masa menyambut Paskah, Minggu (23/3) pekan depan. Mengawali masa itu, gereja merayakan Hari Minggu Palma (Palem) untuk memperingati peristiwa masuknya Yesus ke Kota Jerusalem.
Salah satu yang mengadakan Misa Minggu Palma adalah Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY). Pada misa pukul 16.30 yang dipimpin Romo Eko Budi Susilo Pr, kepala Paroki HKY, itu umat memenuhi gereja di Jalan Polisi Istimewa tersebut. Masing-masing umat membawa setangkai palem yang disediakan di halaman gereja.
Di awal misa, saat prosesi arak-arakan Romo memasuki gereja, umat melambai-lambaikan daun palem itu. Beberapa di antaranya menebarkan daun palem di karpet merah gereja yang bernama latin Ecclesia Cordis Jesu tersebut. Pastor yang memakai casula (jubah untuk memimpin misa) merah itu lantas memberkati daun tersebut dengan memercikkan air suci.
Daun palem itu lantas dibawa umat pulang dan dijadikan hiasan. Misalnya, disematkan di salib selama setahun.
Prosesi tersebut memang merujuk pada kisah Injil yang terjadi sekitar 2 ribu tahun silam. Kala itu, Yesus memasuki Jerusalem menunggang keledai. Kedatangannya ternyata dielu-elukan dan disambut bak raja oleh penduduk Jerusalem. Warga Jerusalem melambai-lambaikan daun palem.
Ternyata, kisah bahagia tersebut adalah awal lakon sengsara yang harus dijalani Yesus. Sepekan setelah itu, Sang Juru Selamat tersebut harus wafat di kayu salib hingga akhirnya bangkit pada Hari Paskah.
“Peristiwa ini mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan,” kata Vonny Rumambi, salah seorang umat yang mengikuti misa kemarin.
Salah satu tradisi pada Hari Minggu Palma adalah pembacaan passio atau kisah sengsara Yesus. Bagi umat Katolik, selama pekan suci, ada tiga hari suci yang terkait dengan momen sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus.
Tiga hari suci itu disebut Triduum. Yaitu, Kamis Putih (memperingati perjamuan terakhir Yesus atau the last supper) yang jatuh pada 20 Maret. Setelah itu, ada Jumat Agung (21 Maret) yang memperingati via dolorosa atau jalan salib Yesus. Sabtu Suci (22 Maret), malam menjelang Paskah. Pada tiga hari suci tersebut, gereja mengadakan misa dan perayaan akbar. Paskah atau hari kebangkitan itu jatuh pada 23 Maret. Itu memungkasi masa puasa umat Katolik yang telah berlangsung 40 hari. (ken/dos)
Source: Jawa Pos Online
March 17th, 2008
SURABAYA - Lahan bekas Kebun Bibit Bratang belakangan ini sudah menjadi alternatif tempat rekreasi keluarga. Kini, tempat itu bakal lebih ramai pengunjung setelah Dinas Kebersihan dan Petamanan (DKP) Pemkot Surabaya, melengkapinya dengan tiga ekor rusa tutul dari Madiun. Dua di antaranya berjenis kelamin betina.
Dengan demikian, areal yang nyaris lepas dari tangan pemkot tersebut merupakan paduan dari taman flora, taman teknologi (technopark), dan taman fauna. “Memang, keberadaan taman itu kami maksudkan untuk edukasi bagi anak-anak,” jelas Kabid Pertamanan dan Penerangan Jalan Umum (PJU) Aminuddin. Taman tersebut juga bisa dipakai arena outbond dan sudut baca.
Dalam waktu dekat, taman yang lebih dikenal dengan sebutan Kebun Bibit itu akan dilengkapi sepuluh ekor menjangan Bawean sumbangan RSU dr Soetomo Surabaya. Menurut Aminuddin, jauh-jauh hari, pihaknya sudah mempersiapkan kandang rusa. Pagar yang digunakan untuk kandang itu bekas pagar di Taman Prestasi. “Paving-nya juga bekas bongkaran Taman Prestasi,” imbuhnya.
Tambahan fasilitas itu, lanjut Aminuddin, diharapkan bisa lebih menarik pengunjung. “Selama ini, banyak tempat wisata dalam kota. Namun, semuanya dikomersilkan,” katanya. Apalagi, mayoritas pengunjung adalah anak-anak. “Segmen kami memang anak-anak, pelajar, dan mahasiswa.”
Ngenet di bawah rerimbunan pohon juga bisa. Gratis lagi. Sebab, kawasan itu dilengkapi fasilitas wi-fi. Di sudut-sudut taman itu juga tersedia ruang baca.
Arif Riyanto, siswa kelas III SDN Ngagel Rejo yang kemarin datang bersama dua orang temannya senang mengamati rusa-rusa itu. “Lucu, masih kecil-kecil,” kata bocah itu sambil melempar dedaunan pada rusa-rusa tersebut. (kit/cfu)
Source: Jawa Pos Online
March 14th, 2008
A clutch of 14 rare Komodo Dragons has been hatched at an Indonesian zoo.
It follows earlier success at the Surabaya Zoo in East Java with 13 eggs, and brings the zoo’s collection of the reptiles to 41.
The Varanus Komodoensis or Komodo Dragon is the world’s largest lizard, and can only be found living in the wild on arid volcanic islands in Indonesia.
They are listed as an endangered species, with fewer than 5,000 left.
Babies weigh about five to six ounces each, but when fully grown they can be more than three metres (10 ft) and weigh up to 100 kg (220 lbs).
The lizards regularly prey on animals as large as pigs, deer and even adult water buffalo, and will eat anything they can overpower - including other Komodo Dragons.
© Independent Television News Limited 2008. All rights reserved.
Source: http://itn.co.uk/news/
March 13th, 2008
Oleh LAMBANG PRAYOGA
Siapa pun orangnya, tak perlu mengeluarkan duit untuk membeli karcis bila ingin ke shopping mall. Kerumunan pengunjung dengan pakaian modis, barang-barang bermerek, pameran otomotif, dan bursa buku murah dengan gampang bisa dinikmati sebagai pelepas rutinitas hidup.
Ya, mal kini benar-benar membanjiri kota-kota besar di Indonesia. Hingga 2007, jumlah mal di Indonesia kurang lebih mencapai 180 unit dan sekitar 10 persen di antaranya berada di Surabaya. Dibandingkan dengan pranata bisnis yang lain, shopping mall memang lebih mengundang daya tarik. Siapa pun boleh menikmatinya, baik yang berduit maupun tidak, entah untuk jalan-jalan atau sekadar cuci mata tanpa harus membeli barang secuil pun.
Kenyamanan mal pada umumnya terletak pada hall yang luas, penataan berbagai tenant yang memungkinkan seseorang menikmati aneka komoditas bermerek. Mulai toko buku, elektronik, bioskop, fashion, sepatu, tas, food court, tempat bermain anak-anak, fitness, ruang pameran, taman, hingga tempat parkir yang luas. Tak mengherankan, kian hari mal makin populer. Dari tahun ke tahun, mal terus membentuk dirinya. Mulai pusat perbelanjaan sebagai tempat pemenuhan tuntutan konsumsi global hingga meloncat menjadi ruang publik.
Sebagai tempat terbuka, mal kini juga menjadi oasis baru, tempat orang-orang kota mencari penyegaran di akhir pekan. Perannya pun semakin menggeser fungsi taman atau alun-alun yang kian langka di kota. Meski banyak mendapat sorotan sebagai salah satu sebab gaya hidup konsumtif, toh kehadirannya makin tak bisa dihindari.
Diawali Bung Karno
Ide membangun pusat perbelanjaan modern di Indonesia kali pertama dicetuskan Ir Soekarno pada 1964 melalui pembangunan Toserba Sarinah. Meski belum disebut mal, Bung Karno menginginkan ibu kota negara memiliki ikon perbelanjaan prestisius di mata orang asing. Tujuannya, antara lain, agar orang kaya Indonesia tak perlu ke Singapura untuk belanja. Sesudah Sarinah, sesuai perkembangan ekonomi di Jakarta, muncul satu demi satu pusat belanja yang berkualitas internasional. Secara sporadis, ia juga berkembang di pinggiran kota.
Kini fungsi mal benar-benar semakin melebar. Karakter kuat yang mendominasi shopping mall berikutnya adalah hadirnya anchor tenant berupa hipermarket/pasar swalayan dengan luas 20 ribu m2 hingga 40 ribu m2 yang menjual semua kebutuhan sehari-hari. Bahkan, kini ada mal yang dilengkapi apartemen, hotel, ruang konferensi, hingga teater dan konser musik. Dari tempat itu pula, perkembangan mode dan gaya hidup metropolis tersebar luas. Peminatnya tak lagi didominasi kalangan menengah atas. Indikasi yang paling mudah dilihat adalah padatnya tempat parkir sepeda motor di akhir pekan.
Bagaimana Surabaya? Tak beda dari Jakarta, kini Surabaya telah memiliki lebih dari 15 shopping mall dan diperkirakan terus bertambah. Kelahiran shopping mall di Surabaya diawali Tunjungan Plaza, lalu disusul Delta Plaza dan Surabaya Mall pada 1986. Kehadiran tiga shopping mall itu secara perlahan diikuti pusat-pusat belanja modern lainnya di pinggiran kota hingga mencapai booming pada periode 2005-2008
Kehadiran mal di Kota Pahlawan ini telah mengukuhkan jati diri sebagai kota perdagangan. Selain itu, mal diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata. Peluang tersebut sebenarnya masih cukup terbuka. Posisi Surabaya di antara Bali dan Jogjakarta cukup untuk menjual kelebihan yang dimiliki. Termasuk, penerbangan langsung dari Kuala Lumpur, Brunei, atau Hongkong. Sektor wisata di Surabaya menjadi bergairah jika wisatawan tinggal lebih lama sambil membelanjakan dolarnya. Upaya pemkot Surabaya untuk mengangkat potensi perdagangan dan pariwisata telah dicoba melalui agenda yang diberi nama Surabaya Big Sale dalam ulang tahun ke-714 Surabaya pada 2007. Acara yang didukung Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) itu dimaksudkan untuk memanjakan warga Surabaya terhadap produk-produk yang murah dan bermutu dengan potongan hingga 80 persen. Demikian pula, para pembeli dari luar Surabaya diharapkan datang berduyun-duyun pada rangkaian acara tersebut. Terobosan itu sebenarnya sudah mulai mengarah ke karakter wisata Surabaya sebagai kota belanja. Dibandingkan dengan Bali, Jogja, atau Bromo, Surabaya nyaris tak memiliki tempat wisata andalan, baik yang berbasis alam, budaya, maupun keindahan kota. Orang luar lebih banyak datang untuk kepentingan bisnis. Keberadaan puluhan shopping mall sebenarnya memiliki peran yang cukup penting.
Misalnya, yang telah dilakukan Singapura. Secara seksama, setiap tahun Singapura menyiapkan program Singapore Great Sale (GSS) yang melibatkan semua pelaku bisnis. Untuk memancing minat orang luar, pemerintah Singapura sengaja mengorganisasi berbagai shopping mall agar memasang diskon secara serempak. Sepanjang berlangsungnya GSS, penerbangan ke sana meningkat. Aneka paket wisata, mulai yang paling murah hingga termahal, ditawarkan.
Pesta diskon dibuat sangat menggiurkan, bukan asal diskon setelah harga dinaikkan. Tak hanya berlaku bagi produk fashion, tapi juga untuk barang-barang elektronik, perhiasan, hingga kosmetik yang bisa membuat pembeli lupa diri. Dampak terhadap pariwisata pun terasa sangat signifikan. Melalui program wisata belanja tersebut, negara bersimbol kepala singa itu mampu menyedot lebih dari 8 juta wisatawan asing per tahun.
Sebenarnya, melalui program Visit Indonesia Year 2008, Surabaya dapat memanfaatkan peluang untuk mengukuhkan diri sebagai kota wisata belanja seperti yang dilakukan Singapura. Shopping mall sebagai salah satu daya tarik kota sudah saatnya dipromosikan secara internasional.
Beberapa shopping mall dapat mengusung tema-tema lokal dalam satu kluster perdagangan yang eksotis. Misalnya, kluster batik Madura, batik Tuban, Bojonegoro, kluster industri tas dan koper Tanggulangin atau industri sandal dan sepatu Wedoro. Demikian pula, keanekaragaman kuliner lokal Surabaya dapat ditawarkan sebagai pelengkap kenikmatan berbelanja.
Untuk memudahkan para pelancong, antara pengelola mal dan pengelola wisata harus saling merapatkan barisan. Misalnya, secara rutin mengagendakan program diskon seperti Great Singapore Sale disertai promosi secara serempak, pemberian potongan penerbangan ke Surabaya selama berlangsungnya acara, diskon harga kamar hotel dan bonus makan gratis di rumah makan ternama bila pengunjung berbelanja dalam jumlah tertentu. Sayang, bila program Visit Indonesia Year 2008 disia-siakan, tanpa upaya maksimal untuk menyedot dolar para pelancong.
Ranah Baru Kota Besar
Kehadiran mal seolah telah menjadi ranah baru alam kultur kehidupan kota besar. Di Amerika Serikat, misalnya, shopping mall justru banyak muncul di daerah pinggiran akibat harga tanah yang sangat mahal di pusat kota. Untuk menarik kunjungan orang kota, mal di pinggiran itu secara berkala membuat program yang memadukan unsur hiburan, wisata, dan kegiatan belanja. Jadi jangan malu disebut katrok jika Anda menghibur diri jalan-jalan di mal dan tak membeli sebiji barang pun. Kalau demikian, kenapa tak menghadirkan wisatawan mancanegara sekalian? Pasti mereka merasa gengsi kalau hanya jalan-jalan tanpa secuil oleh-oleh khas yang tak ada di negaranya.
Bukankah dalam dua tahun terakhir, pesona Surabaya sudah cukup memukau? Banyaknya pepohonan rindang dan taman-taman kota secara alamiah telah memperindah wajah kota ini. Keberhasilan mempertahankan predikat kota bersih, pembenahan jalur pedestrian di tengah kota, pembuatan taman di ruas jalur hijau, serta pembersihan beberapa stren Kalimas telah membuat panorama kota ini tak lagi gersang. Singapura saja bisa, mengapa Surabaya tidak? (*)
LAMBANG PRAYOGA
Warga kota, bekerja di sebuah perusahaan properti di Surabaya
Source: Jawa Pos Online
March 12th, 2008
Irawaty Wardany , The Jakarta Post , Denpasar
While Balinese Hindus observed Nyepi (the Day of Silence) on Friday in their respective homes, a large number of the island’s non-Hindu residents preferred to spend the day in hotels.
Occupancy in several hotels in the Nusa Dua tourism enclave increased up to 10 percent more than on ordinary days.
“The occupancy rate for this hotel during Nyepi was 70 percent, 10 percent more than an ordinary day,” Westin Resort Nusa Dua public relations director Reinata Tjoa told The Jakarta Post on Saturday.
Most guests were Balinese, but who did not celebrate Nyepi, Reinata said.
“Most of them were families with two or three children,” she said.
They may have been concerned that their children could have disturbed neighbors on the day of silence, and so opted to check-in to hotels over the holiday, Reinata said.
The hotel provided activities for both parents, and children during Nyepi, she said.
“We had yoga classes for mothers and children and other children’s activities were held around the hotel,” Reinata said.
During Nyepi, around 90 percent of the island’s 3.5 million inhabitants practiced catur berata penyepian (the four abstinences): amati geni (refraining from lighting fires or using lights), amati karya (refraining from working), amati lelanguan (refraining from indulging in leisure activities) and amati lelungan (refraining from leaving the home).
Jimbaran Bali Intercontinental Resort public relations director Dewi Anggraini said the hotel’s occupancy during Nyepi was 49.8 percent.
“That was quite a lot higher than usual,” she said.
Some, who preferred to spend the holiday outside Bali, flocked to Gilimanuk in the lead-up to the day of silence.
“During Nyepi, it becomes really silent. You don’t see anyone out in the streets and we were not even allowed to sit on our own verandah,” Ubed (originally from East Java) said Thursday, as quoted by beritabali.com.
Ubed was not comfortable with this, he said.
During Nyepi, Bali seemed like a vacant island as people all stayed at home. As night came the island became pitch dark, broken only once in a while by the flashlights of pecalang (traditional village guards) inspecting the neighborhood.
Another Bali resident, Ayu Trisnawati, said she wanted to experience a different atmosphere for this year’s Nyepi and preferred to spend it in Banyuwangi, East Java.
“I wanted to spend Nyepi at Blambangan Temple so that I can maintain a relationship with Hindu people there,” she said.
Source: The Jakarta Post
March 11th, 2008
Next Posts
Previous Posts