Langen Budoyo, Perkumpulan Karawitan Warga Surabaya asal Madiun
Kecuali Penabuh Gendang, Semua Pengrawit Perempuan
Warga Surabaya asal Madiun memiliki cara tersendiri dalam mengobati kerinduan terhadap tanah kelahiran. Mereka membentuk perkumpulan karawitan. Maka, tembang-tembang Jawa seperti yang sering mereka dengar di kampung dulu kini bisa dihadirkan lagi. Bahkan, merekalah yang menjadi penembang dan pengrawitnya.
MAYA APRILIANI
Memasuki pekarangan kediaman Ketua Peguyuban Madiun (Paguma) Surabaya Soemarno Bagio di kawasan Sidosermo V-A PdK, suasa ndeso langsung terasa. Dari luar pagar, sayup-sayup terdengar alunan lagu Ketawang Puspowarno. Lagu Jawa berirama melankolis tersebut terasa menenteramkan hati. Suara khas sinden yang melengking menambah indahnya permainan musik Jawa tersebut.
Itulah suasana rumah Soemarno tiap Rabu. Nada-nada indah dari gamelan yang dimainkan para anggota Paguma Langen Budoyo benar-benar membuat pencinta seni Jawa ingin lebih lama mendengarkannya. Tiap Rabu, mereka mengadakan latihan di rumah berpagar besi tersebut.
Gamelan yang terdiri atas 15 perangkat itu dijajar rapi di teras rumah Soemarno. Mulai bonang barung, bonang penerus, slentem, demung, saron barung, saron penerus, kenong, gender, gambang, gong, dan kendang. Tiap Rabu, mulai pukul 16.00 hingga 18.00, perangkat itu dimainkan para anggota Paguma yang membentuk kelompok karawitan Langen Budoyo.
Anggota karawitan yang sebagian besar wanita tersebut tampak serius memainkan alat musik di depannya. Tak terkecuali Wiena Mashuri, ketua Langen Budoyo yang dipercaya memainkan bonang barung. Pandangan matanya selalu tertuju pada deretan bonang di hadapannya. Selain itu, indra pendengarannya wajib dipertajam untuk mendengarkan suara gamelan anggota lain supaya nada yang dihasilkan bisa serasi. “Dalam band, alat yang saya mainkan ini berfungsi sama seperti melodi,” kata Wiena.
Karena memainkan alat yang berfungsi sentral, Wiena pun terlihat sangat berhati-hati saat bermain. Sebab, jika pukulannya salah, gending yang dihasilkan menjadi jelek dan terasa fals. “Makanya, tiap berlatih, kami selalu bawa krepekan (contekan, Red),” ujar ibu satu anak tersebut.
Dalam krepekan yang sengaja dibuat kecil supaya tidak terlihat orang saat bermain itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan posisi nada. Di atas angka tersebut ada judul lagu plus tempo permainan yang harus dimainkan. “Hampir semua anggota bawa krepekan,” jelasnya lalu tersenyum.
Meski krepekan, tak harus disembunyikan. Ada juga krepekan itu yang berupa buku tulis besar yang ditempatkan di peyangga buku di depan gamelan. “Kami semua belajar mulai nol. Jadi, harus sering melihat krepekan,” kata Prien Herlini, anggota yang lain.
Namun, saat ditanggap (manggung, Red), penggunaan krepekan tersebut diminimalkan. Contekan penting itu pun disembunyikan di tempat yang aman supaya mereka terlihat profesional. “Kalau tanggapan, kami harus benar-benar kosentrasi,” tegas wanita yang memainkan kenong itu bersemangat.
Wanita yang enggan menyebutkan umurnya tersebut menuturkan, perkumpulan yang bertujuan melestarikan budaya Jawa itu berlatih sejak akhir 2000. Paguma Surabaya didirikan pada Mei 2000. Kala itu, mereka belum memiliki gamelan. Bila ingin berlatih, mereka harus pergi ke Taman Budaya meminjam gamelan. “Waktu itu, anggota yang ikut pun bisa dihitung dengan jari. Kadang hanya dua atau tiga orang,” ungkap ibu satu anak tersebut.
Sedikitnya anggota yang tertarik itu membuat jadwal latihan tidak lancar. Tidak jarang mereka membatalkan latihan gara-gara yang ikut sedikit. Tapi, setelah Soemarno membeli seperangkat gamelan, anggota yang ikut berlatih bertambah banyak. Tiap latihan, sedikitnya 23 anggota hadir. Mereka terdiri atas 19 wanita dan empat pria. Para pria bertugas memegang alat-alat yang sulit dimainkan kaum hawa. Misalnya, kendang.
“Maklum, anggota Paguma Langen Budoyo sudah berumur 50 tahun plus, jadi sulit belajar kendang,” ujar Wiena.
Dua minggu terakhir, kelompok karawitan tersebut giat berlatih. Mereka bahkan menambah waktu latihan. Kalau biasanya hanya dua jam, kini menjadi 3-4 jam. Sebab, 22 Maret nanti, mereka harus manggung di rumah salah seorang anggota Paguma. Karena itu, mereka juga menghafal sedikitnya sembilan gending wajib untuk acara tersebut. Di antaranya, Pamuji, Majemuk, Puspowarno, Eling-Eling, Wilujeng, dan Subokastowo.
Untuk manggung, kelompok karawitan ibu-ibu tersebut tidak pernah memasang tarif. Mereka menerima berapa pun uang yang diberikan si penanggap. Biasanya, dana itu dipakai untuk mengangkut gamelan, biaya perawatan, dan masuk ke kas peguyuban. “Kalau penabuhnya, tidak perlu diberi imbalan. Bisa tampil saja kami sudah senang,” tegas Wiena.
Bukan hanya para penabuh yang terlihat giat. Djoko Soemarno, sang pelatih grup karawitan itu pun, sangat bersemangat. Dia harus bekerja ekstrakeras untuk melatih para penabuh gamelan yang sudah berumur tersebut. “Sebagai pelatih, saya harus bisa mengerti keinginan mereka,” jelasnya.
Berbekal sikap terbuka, Djoko mampu menyatukan pengrawit yang berasal dari berbagai latar belakang itu. Mulai dokter, istri dokter, istri profesor, hingga istri mantan pejabat. “Saya senang, apa yang saya inginkan bisa terwujud melalui karawitan ini. Para ibu ini manut-manut (menurut, Red),” ungkapnya lantas tersenyum.
Sebagai ketua, Soemarno Bagio ikut bangga melihat peguyubannya memiliki aktivitas berarti. Terlebih, mereka bisa diberdayakan di berbagai kegiatan. “Setidaknya, kami bisa ikut melestarikan budaya Jawa supaya tetap ada,” ujarnya.
Sejatinya, kata dia, Paguma awalnya didirikan sebagai ajang kumpul orang Madiun yang ada di Surabaya. Tapi, lama-kelamaan, perkumpulan tersebut berkembang hingga memiliki berbagai kegiatan. Selain aktivitas karawitan Langen Budoyo, mereka sering mengadakan seminar dan latihan dansa tiap Senin. “Selain kumpul-kumpul, kami bisa menyalurkan hobi untuk bermain gamelan atau dansa,” kata pria berusia 61 tahun tersebut.
Menurut Ismono, penasihat Paguma Surabaya, karawitan bukanlah hal baru bagi anggotanya. Sebab, waktu kecil, banyak di antara mereka yang telah belajar menari maupun bermain gamelan sebagai hobi. “Jadi, saat kumpul-kumpul, mereka juga bisa menyalurkan hobi,” jelasnya. (*)
Source: Jawa Pos Online
Add comment March 19th, 2008