Mal untuk Wisata, Kenapa Tidak?
Oleh LAMBANG PRAYOGA
Siapa pun orangnya, tak perlu mengeluarkan duit untuk membeli karcis bila ingin ke shopping mall. Kerumunan pengunjung dengan pakaian modis, barang-barang bermerek, pameran otomotif, dan bursa buku murah dengan gampang bisa dinikmati sebagai pelepas rutinitas hidup.
Ya, mal kini benar-benar membanjiri kota-kota besar di Indonesia. Hingga 2007, jumlah mal di Indonesia kurang lebih mencapai 180 unit dan sekitar 10 persen di antaranya berada di Surabaya. Dibandingkan dengan pranata bisnis yang lain, shopping mall memang lebih mengundang daya tarik. Siapa pun boleh menikmatinya, baik yang berduit maupun tidak, entah untuk jalan-jalan atau sekadar cuci mata tanpa harus membeli barang secuil pun.
Kenyamanan mal pada umumnya terletak pada hall yang luas, penataan berbagai tenant yang memungkinkan seseorang menikmati aneka komoditas bermerek. Mulai toko buku, elektronik, bioskop, fashion, sepatu, tas, food court, tempat bermain anak-anak, fitness, ruang pameran, taman, hingga tempat parkir yang luas. Tak mengherankan, kian hari mal makin populer. Dari tahun ke tahun, mal terus membentuk dirinya. Mulai pusat perbelanjaan sebagai tempat pemenuhan tuntutan konsumsi global hingga meloncat menjadi ruang publik.
Sebagai tempat terbuka, mal kini juga menjadi oasis baru, tempat orang-orang kota mencari penyegaran di akhir pekan. Perannya pun semakin menggeser fungsi taman atau alun-alun yang kian langka di kota. Meski banyak mendapat sorotan sebagai salah satu sebab gaya hidup konsumtif, toh kehadirannya makin tak bisa dihindari.
Diawali Bung Karno
Ide membangun pusat perbelanjaan modern di Indonesia kali pertama dicetuskan Ir Soekarno pada 1964 melalui pembangunan Toserba Sarinah. Meski belum disebut mal, Bung Karno menginginkan ibu kota negara memiliki ikon perbelanjaan prestisius di mata orang asing. Tujuannya, antara lain, agar orang kaya Indonesia tak perlu ke Singapura untuk belanja. Sesudah Sarinah, sesuai perkembangan ekonomi di Jakarta, muncul satu demi satu pusat belanja yang berkualitas internasional. Secara sporadis, ia juga berkembang di pinggiran kota.
Kini fungsi mal benar-benar semakin melebar. Karakter kuat yang mendominasi shopping mall berikutnya adalah hadirnya anchor tenant berupa hipermarket/pasar swalayan dengan luas 20 ribu m2 hingga 40 ribu m2 yang menjual semua kebutuhan sehari-hari. Bahkan, kini ada mal yang dilengkapi apartemen, hotel, ruang konferensi, hingga teater dan konser musik. Dari tempat itu pula, perkembangan mode dan gaya hidup metropolis tersebar luas. Peminatnya tak lagi didominasi kalangan menengah atas. Indikasi yang paling mudah dilihat adalah padatnya tempat parkir sepeda motor di akhir pekan.
Bagaimana Surabaya? Tak beda dari Jakarta, kini Surabaya telah memiliki lebih dari 15 shopping mall dan diperkirakan terus bertambah. Kelahiran shopping mall di Surabaya diawali Tunjungan Plaza, lalu disusul Delta Plaza dan Surabaya Mall pada 1986. Kehadiran tiga shopping mall itu secara perlahan diikuti pusat-pusat belanja modern lainnya di pinggiran kota hingga mencapai booming pada periode 2005-2008
Kehadiran mal di Kota Pahlawan ini telah mengukuhkan jati diri sebagai kota perdagangan. Selain itu, mal diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata. Peluang tersebut sebenarnya masih cukup terbuka. Posisi Surabaya di antara Bali dan Jogjakarta cukup untuk menjual kelebihan yang dimiliki. Termasuk, penerbangan langsung dari Kuala Lumpur, Brunei, atau Hongkong. Sektor wisata di Surabaya menjadi bergairah jika wisatawan tinggal lebih lama sambil membelanjakan dolarnya. Upaya pemkot Surabaya untuk mengangkat potensi perdagangan dan pariwisata telah dicoba melalui agenda yang diberi nama Surabaya Big Sale dalam ulang tahun ke-714 Surabaya pada 2007. Acara yang didukung Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) itu dimaksudkan untuk memanjakan warga Surabaya terhadap produk-produk yang murah dan bermutu dengan potongan hingga 80 persen. Demikian pula, para pembeli dari luar Surabaya diharapkan datang berduyun-duyun pada rangkaian acara tersebut. Terobosan itu sebenarnya sudah mulai mengarah ke karakter wisata Surabaya sebagai kota belanja. Dibandingkan dengan Bali, Jogja, atau Bromo, Surabaya nyaris tak memiliki tempat wisata andalan, baik yang berbasis alam, budaya, maupun keindahan kota. Orang luar lebih banyak datang untuk kepentingan bisnis. Keberadaan puluhan shopping mall sebenarnya memiliki peran yang cukup penting.
Misalnya, yang telah dilakukan Singapura. Secara seksama, setiap tahun Singapura menyiapkan program Singapore Great Sale (GSS) yang melibatkan semua pelaku bisnis. Untuk memancing minat orang luar, pemerintah Singapura sengaja mengorganisasi berbagai shopping mall agar memasang diskon secara serempak. Sepanjang berlangsungnya GSS, penerbangan ke sana meningkat. Aneka paket wisata, mulai yang paling murah hingga termahal, ditawarkan.
Pesta diskon dibuat sangat menggiurkan, bukan asal diskon setelah harga dinaikkan. Tak hanya berlaku bagi produk fashion, tapi juga untuk barang-barang elektronik, perhiasan, hingga kosmetik yang bisa membuat pembeli lupa diri. Dampak terhadap pariwisata pun terasa sangat signifikan. Melalui program wisata belanja tersebut, negara bersimbol kepala singa itu mampu menyedot lebih dari 8 juta wisatawan asing per tahun.
Sebenarnya, melalui program Visit Indonesia Year 2008, Surabaya dapat memanfaatkan peluang untuk mengukuhkan diri sebagai kota wisata belanja seperti yang dilakukan Singapura. Shopping mall sebagai salah satu daya tarik kota sudah saatnya dipromosikan secara internasional.
Beberapa shopping mall dapat mengusung tema-tema lokal dalam satu kluster perdagangan yang eksotis. Misalnya, kluster batik Madura, batik Tuban, Bojonegoro, kluster industri tas dan koper Tanggulangin atau industri sandal dan sepatu Wedoro. Demikian pula, keanekaragaman kuliner lokal Surabaya dapat ditawarkan sebagai pelengkap kenikmatan berbelanja.
Untuk memudahkan para pelancong, antara pengelola mal dan pengelola wisata harus saling merapatkan barisan. Misalnya, secara rutin mengagendakan program diskon seperti Great Singapore Sale disertai promosi secara serempak, pemberian potongan penerbangan ke Surabaya selama berlangsungnya acara, diskon harga kamar hotel dan bonus makan gratis di rumah makan ternama bila pengunjung berbelanja dalam jumlah tertentu. Sayang, bila program Visit Indonesia Year 2008 disia-siakan, tanpa upaya maksimal untuk menyedot dolar para pelancong.
Ranah Baru Kota Besar
Kehadiran mal seolah telah menjadi ranah baru alam kultur kehidupan kota besar. Di Amerika Serikat, misalnya, shopping mall justru banyak muncul di daerah pinggiran akibat harga tanah yang sangat mahal di pusat kota. Untuk menarik kunjungan orang kota, mal di pinggiran itu secara berkala membuat program yang memadukan unsur hiburan, wisata, dan kegiatan belanja. Jadi jangan malu disebut katrok jika Anda menghibur diri jalan-jalan di mal dan tak membeli sebiji barang pun. Kalau demikian, kenapa tak menghadirkan wisatawan mancanegara sekalian? Pasti mereka merasa gengsi kalau hanya jalan-jalan tanpa secuil oleh-oleh khas yang tak ada di negaranya.
Bukankah dalam dua tahun terakhir, pesona Surabaya sudah cukup memukau? Banyaknya pepohonan rindang dan taman-taman kota secara alamiah telah memperindah wajah kota ini. Keberhasilan mempertahankan predikat kota bersih, pembenahan jalur pedestrian di tengah kota, pembuatan taman di ruas jalur hijau, serta pembersihan beberapa stren Kalimas telah membuat panorama kota ini tak lagi gersang. Singapura saja bisa, mengapa Surabaya tidak? (*)
LAMBANG PRAYOGA
Warga kota, bekerja di sebuah perusahaan properti di Surabaya
Source: Jawa Pos Online
Add comment March 12th, 2008