Archive for March 10th, 2008

Ketika Para Seniman dan Pencinta Sejarah Memberi Penghargaan Pusaka Surabaya

Lewat Award, Ingin Menggugah Kepedulian Masyarakat
Tahun ini seabad Kebangkitan Bangsa. Namun, apa yang tersisa dari peradaban sejarah bangsa kita? Itulah yang mencuat dalam benak budayawan dan sejarawan yang bergabung dalam Surabaya Heritage dan Komunitas Pekerja Seni dan Pencinta Sejarah (KPSPS) Surabaya. Mereka pun meluncurkan penghargaan 100 Pusaka Surabaya.

TITIK ANDRIYANI

COK tangio, kebunmu diisingi, ojo bideg ae. Jika diterjemahkan bebas, kalimat ala Suroboyoan yang cenderung kasar itu berarti: Ayo segera bangun. Ada orang berak di kebunmu. Jangan diam saja.

Kalimat bernada agitatif (memengaruhi orang) tersebut ada pada salah satu frame lukisan Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto karya Dukan Wahyudi. Kemarin (9/3), lukisan itu ditempatkan di rumah yang pernah ditempati pahlawan nasional tersebut, di Jalan Peneleh VII.

Pada bagian lain lukisan, tertera lukisan De Onge Kroonde van Java yang berarti Raja Jawa tanpa Mahkota. “Ini buah penghargaan kami terhadap HOS Cokroaminoto,” kata Jansen Jasien, ketua KPSPS.

“Lukisan itu menggambarkan titik nadir dalam seratus tahun peringatan Hari Kebangkitan Bangsa. Mau dibawa ke mana negara ini?” ujar Freddy H. Istanto, ketua Surabaya Heritage.

Memang, pada peringatan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional tersebut, dua lembaga pencinta sejarah itu merayakan dengan cara berbeda. Mereka memilih program penghargaan 100 Pusaka Surabaya. Upaya itu mereka anggap sebagai bentuk kepedulian terhadap objek bersejarah. Mulai bangunan rumah tinggal, gedung bersejarah, jembatan, maupun terhadap perseorangan yang dinilai memiliki konstribusi dalam menjaga warisan budaya.

Freddy mengungkapkan, ada beberapa kriteria penghargaan yang diberikan kepada institusi atau individu. Yakni, memiliki kepedulian tinggi terhadap pusaka Surabaya. Termasuk, dengan konsisten menjaga, merawat, serta melestarikan pusaka Surabaya.

Menurut Freddy, pusaka Surabaya adalah bangunan yang memiliki nilai kesejarahan terhadap kota ini, memiliki keunikan dan khas Surabaya, serta mempunyai sumbangan terhadap sektor pariwisata. “Bentuk pusaka itu bisa gedung, jembatan, kuliner, seni, dan budaya. Misalnya, ludruk, reog Suroboyo, lukisan, dan musik,” jelasnya.

Program peluncuran penghargaan itu diawali bulan ini. Tiap bulan bakal dipilih sepuluh pusaka yang diberi penghargaan. “Dengan demikian, akhir tahun ini diharapkan kita sudah memberikan penghargaan terhadap seratus pusaka,” ujarnya.

Launching program tersebut kemarin dilakukan di kediaman HOS Cokroaminoto, pahlawan nasional yang juga kakek buyut Maya Estianty (Maia Ahmad). Selain rumah HOS Cokroaminoto, sembilan pusaka lain yang terpilih bulan ini adalah gedung PTPN (PT Perkebunan Nusantara) X, PTPN XI, PTPN XII, PTPG (PT Pabrik Gula) Rajawali Nusantara, House of Sampoerna, Zangrandi, Gedung Wismilak, Gedung Bakormas, dan Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL).

Kediaman HOS Cokroaminoto, kata Freddy, dinilai memiliki kontribusi besar terhadap kebangkitan bangsa ini. “Beliau termasuk salah seorang pelopor kebangkitan bangsa ini,” tegasnya.

Peninggalan rumah itu tidak terlihat terlalu kuno. Bahan kayu masih mendominasi rumah bercat gading tersebut.

Wiwiek Ghani, salah seorang kerabat keturunan HOS Cokroaminoto, mengisahkan bahwa rumah tersebut pernah dihuni Bung Karno selama menyelesaikan studi sekolah menengah tingkat pertama. “Di rumah itu pula Bung Karno menimba ilmu dari eyang Cokro,” jelasnya.

Karena itu, Surabaya Heritage dan KPSPS berharap penghargaan yang mereka berikan tersebut bisa menggugah semua orang untuk peduli serta bangkit dalam seabad kebangkitan bangsa ini. (dos)

Source: Jawa Pos Online

Add comment March 10th, 2008

Sentuhan Polos Japanese Style

SURABAYA - Budaya Jepang dengan segala keunikannya bisa menjadi inspirasi dalam berbusana. Sabtu malam (8/3), peragaan busana ala Jepang digelar di gedung Gita Tamtama Jalan Genteng Kali. Gaun-gaun malam modifikasi Japanese Style rancangan Elizabeth Nyo May Fen ini tampil simple nan glamour, meski tanpa sentuhan kilau ornamen-ornamen payet.

Mengusung tema Le Japon Artistique, Elizabeth yang akrab disapa Afen itu mencoba memadukan kesan glamour gaun malam dengan sentuhan artistik negeri matahari terbit tersebut. Warna-warna gold, krem, dan dark brown mendominasi gaun-gaun malam sepanjang mata kaki yang dipadu dengan kimono-kimono modifikasi. Seperti salah satu gaun panjang berwarna dark brown yang dipadu dengan kimono pendek berwarna keemasan yang didesain menyerupai blazer. Untuk mempermanis tampilan gaun, ujung kimono dibuat miring dilengkapi dengan seutas obi, ikat pinggang lebar yang melekat di bagian pinggang. 

Meski terkesan glamour, gaun-gaun berbahan tafetta dan kain lame ini minim ornamen borci dan payet. Tapi, nuansa polos yang melekat pada tiap gaun ini tetap tampak cantik. “Saya memang ingin berkreasi dengan kain bahan dari pada dengan ornamen payet dan borci yang berkesan berat,” terang Afen. Wanita berambut panjang itu menambahkan bahwa tren busana plain atau polos sudah mulai digemari wanita di berbagai belahan dunia

Tapi bukan berarti tanpa hiasan. Gaun-gaun tersebut dipercantik dengan ornamen -ornamen yang lebih menyerupai sulaman-sulaman halus dan lipatan-lipatan pada bagian ujung atau lengan gaun. Seperti gaun dengan motif loreng misalnya. Pada bagian lengan, lipatan-lipatan besar tampak menimbulkan efek menggelembung. Sedangkan pada bagian upper body hingga pinggul, motif loreng kotak-kotak mendominasi. Gaun berbahan kombinasi tafetta dan kain lame ini semakin menawan dengan bagian bawah gaun yang ditenun Jacquard, berupa sulaman-sulaman halus bernuansa bunga-bunga putih. Selain sulaman, bagian ujung gaun juga dipercantik dengan 20 lipatan.

Nuansa Jepang yang ditampilkan gaun-gaun yang diperagakan enam model ini semakin kental dengan riasan ala wanita Jepang. Yakni, sudut mata yang dibuat naik berbaur dengan warna-warna silver dan gold di bagian mata. Warna merah darah juga ikut mendominasi warna bibir untuk mempertegas kesan glamour.

Tidak hanya itu, di bagian kepala, terpasang hiasan cantik berupa kipas mungil yang dipasang menyamping hingga payung kertas kecil yang dipadu dengan sanggul Jepang. (ken/nw)

Source: Jawa Pos Online

Add comment March 10th, 2008


Calendar

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Posts by Month

Posts by Category