Waspadai Daya Pikat Pakis Monyet
SURABAYA - Sudah lama pasar tanaman hias dikuasai tumbuhan semacam anthurium, adenium, aglonema, atau sansivera. Kini hati penikmat tanaman hias terpikat kehadiran pakis monyet, sebentuk tanaman berbulu berwarna kecokelatan. Tanaman itu memang lucu dan unik. Namun, tak banyak yang tahu bahwa penjualan pakis monyet dinaungi isu penipuan dan perusakan alam.
“Saya sebenarnya tahu adanya larangan pengambilan pakis monyet di hutan. Tapi, kami kan cuma kulak dari seseorang. Jadi, jangan kami yang disalahkan,” kata Rizal Bajrie, pemilik stan tanaman yang kini sedang berpameran di pelataran Balai Pemuda.
Dalam pameran tersebut, pakis monyet memang mencuri perhatian. Betapa tidak, bentuknya aneh. Hanya serupa bonggol berbulu cokelat keemasan seperti monyet. Tak heran, tanaman bernama latin Cibotium barometz itu disebut pakis monyet. Ada juga yang menyebut sebagai ayam emas, pakis emas, bahkan pakis Sun Go Kong. Karena laris, harganya cukup mahal. Yaitu, Rp 100 ribu-Rp 200 ribu untuk tanaman berdiameter sekitar 20 sentimeter. Beberapa tanaman pun didandani cukup cantik dengan disisir dan diberi hiasan mata.
Sebenarnya, beberapa pembeli pakis monyet sempat mengeluh. Meski dirawat secara baik, tanaman tersebut hanya bertahan sekitar satu bulan. “Setelah itu, bulunya rontok dan tiba-tiba mati,” kata Fani, warga Waru, Sidoarjo, yang kepincut membeli pakis monyet sekitar dua bulan lalu.
Beberapa sumber menuliskan bahwa bagian berbulu yang elok itu sebenarnya adalah tunas tanaman pakis yang tumbuh di hutan. Tunas tersebut tumbuh bersama induknya. Ketika masih berbentuk tunas, pakis diselimuti bulu cokelat. Saat itu, tunas tersebut direnggut dan diperjualbelikan. Akhirnya, tunas tersebut berumur pendek. Batang induknya pun membusuk dan mati.
Karena itu, kini kian banyak kampanye yang melarang jual beli bonggol berbulu tersebut. Tetapi, pedagang tetap bergeming. “Kami cuma kulak,” tegas Rizal. Dia mengaku tak pernah dikomplain pembeli. Selain itu, dia mengaku punya tanaman berusia 5 bulan yang masih baik-baik saja. Di stan itu, Rizal mengaku mengambil stok 15 tanaman. “Kini sudah tujuh yang laku,” ujarnya.
Selain pakis monyet, di pameran tersebut hadir pula simbar. Bentuk dan warna tanaman hias itu menyerupai pakis monyet. Keduanya berbulu cokelat. Tapi, batang daun simbar saling melengkung ke dalam hingga lebih menyerupai gumpalan. Tidak seperti pakis monyet, tanaman asal Sulawesi tersebut memiliki daun di sela-sela gundukan lengkungannya. Karena mirip, harganya pun tidak jauh berbeda. “Satunya Rp 150.000, tidak mahal,” ujar Ananda Gideon Saputra, pedagang simbar, di stan Montana miliknya. (ken/dos)
Source: Jawa Pos Online
Add comment February 27th, 2008