Cap Go Meh, Kemeriahan Akhir Imlek
February 22nd, 2008
SURABAYA - Cap Go Meh atau tanggal 15 pada bulan Cia Gwee dalam sistem penanggalan Tiongkok selalu diperingati secara meriah oleh warga Tionghoa. Kemeriahan Cap Go Meh itulah yang juga terasa di beberapa kelenteng di Surabaya.
Di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hong San Ko Tee, misalnya. Sekitar 200 umat mengunjungi kelenteng di Jalan Cokroaminoto tersebut. Tepat pukul 12.00, suhu Jhonny Hu memimpin doa di tempat ibadah yang juga disebut Kelenteng Cokro itu.
Dalam doa tersebut, permohonan kebahagiaan dipanjatkan. “Kebahagiaan sehari-hari, rumah tangga, penghasilan, kesehatan, dan usia panjang,” ujar Jhonny dalam doanya.
Yang bersembahyang kemarin bukan hanya umat Kelenteng Cokro. “Siapa pun boleh datang,” kata Juliani, pemimpin kelenteng.
Setelah sembahyang, sekotak lontong Cap Go Meh disediakan untuk umat. “Kira-kira seperti Lebaran ketupat,” jelas Juliani.
Menurut dia, makan lontong bersama tersebut juga punya makna. “Tanda kesuburan dan kesenangan karena bisa berkumpul,” tegasnya.
Dalam dialek Tiongkok Selatan, Cap Go Meh diartikan sebagai malam kelima belas. Itu adalah hari terakhir rangkaian kemeriahan tahun baru Imlek. Salah satu ciri khas perayaan tersebut adalah adanya pertunjukan liang-liong dan barongsai. Di Kelenteng Cokro kemarin, liang-liong dimainkan oleh sepuluh wanita berbaju merah. Para ibu itu terlihat bersemangat memainkan naga raksasa tersebut.
Barongsai ditampilkan di Kelenteng Pak Kik Bio-Hian Thian Siang Tee, Jalan Jagalan. “Untuk menolak bala,” ujar Surya Ajie, ketua umum kelenteng.
Dia berharap bangsa Indonesia dibebaskan dari marabahaya. Bencana alam di Indonesia juga berkurang. “Gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.
Surya juga mengharapkan umat tidak lagi mementingkan diri sendiri, tapi juga kepentingan seluruh umat. (dee/dos)
Source: Jawa Pos Online
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed