Pentas Balet Amal Bernuansa Mesir
February 4th, 2008
SURABAYA - Alkisah, Firaun punya seorang putri bernama Aspicia, yang jatuh cinta pada pemuda bernama Ta Hor. Namun, Firaun ternyata sudah menjodohkan Aspicia dengan Nubian, raja yang kaya raya.
Telanjur cinta, dua sejoli itu pun melarikan diri untuk menghindari kemurkaan Firaun. Melihat keteguhan hati putri cantiknya itu, hati Firaun luluh. Dia menyetujui hubungan cinta tersebut. Kisah cinta itu pun berakhir bahagia.
Novel karya penulis Prancis, Theopile Gautier, itu dipentaskan dalam balet kolosal, The Pharaoh Daughter, di ballroom Hotel Sheraton petang kemarin. Pementasan amal untuk anak-anak kurang mampu itu memang mencoba menyuguhkan sesuatu yang beda dari tema-tema balet klasik sebelumnya. “Cerita bertema Mesir ini memang tidak sesering lakon Sleeping Beauty, Rapunzel, dan lakon klasik lainnya,” kata koreografer Ekawati Loekito.
Mengusung tema bernuansa Kerajaan Mesir kuno, pementasan itu pun didominasi kostum-kostum penari berwarna keemasan dipadu kombinasi warna biru, putih, hitam, dan merah.
Sentuhan Timur Tengah terasa semakin kental dengan desain kostum prajurit dan raja yang menyerupai Spinx. Misalnya, tutup kepala berwarna keemasan. Busana kebesaran raja juga didesain berupa jubah terusan warna kuning mengkilat.
Untuk menambah kesan kemegahan Kerajaan Mesir, para penari berhias gelang-gelang keemasan di lengan dan pergelangan tangan. “Sesuai tema, warna-warna kostum lebih colorful dan banyak modelnya. Tidak seperti pagelaran balet klasik yang didominasi warna putih,” terang Ekawati.
Drama balet hasil kerja bareng Sheraton Hotel and Towers dengan Center Point Dance Studio itu disajikan dalam empat babak. Yulia Liemena tampil sebagai putri Aspicia dan penari tamu asal Filipina, Edmund Gaerlan, sebagai kekasih Aspicia. Keduanya tampak beberapa kali melakukan teknik pas de deux, menarikan suatu tarian berdua.
Mereka juga tampil menawan kala melakukan teknik lifting. Ketika Edmund mengangkat Yulia di bahu sembari menarikan gerakan-gerakan balet. Yulia sesekali menarikan gerakan-gerakan cantik.
Seperti ketika dia menari dengan melompat sambil berputar. Para solist atau penari tunggal juga melakukan foutte berkali-kali. Mereka melakukan gerakan berputar dengan satu kaki secara terus menerus dalam 16 kali putaran.
Dalam pementasan berdurasi satu setengah jam itu para penari anak-anak turut memeriahkan panggung. Mereka berperan sebagai dayang-dayang dan unta. Para penari cilik itu rata-rata berusia 3 hingga 10 tahun.
Pementasan kali ketiga itu merupakan salah satu dari rangkaian program organisasi anak-anak PBB, UNICEF, yang dihelat Sheraton Surabaya. Acara malam penggalangan dana itu meraup Rp 10 juta yang langsung disumbangkan kepada UNICEF. “Kami akan menyediakan obat-obatan dan imunisasi bagi anak-anak miskin,” kata Andang Kristanto duta UNICEF Sheraton Surabaya Hotel dan Towers. (ken/cfu)
Source: Jawa Pos Online
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed