Melihat Pesta Pernikahan Hindu di Pura Giri Wilis Nganjuk
January 4th, 2008
Sesuai Warigo, Berlangsung 1 Januari Pukul 11.00
Untuk kali pertama Pura Giri Wilis di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, menggelar pesta pernikahan adat Hindu. Banyak hal menarik dalam pesta pernikahan langka tersebut yang digelar tepat pada awal tahun.
ANTUJI H. MASROH, Nganjuk
Bagi warga Nganjuk, menyaksikan pernikahan dengan tata cara Hindu amatlah jarang. Di kabupaten yang berjuluk Kota Angin ini, pernikahan semacam itu juga belum pernah berlangsung sebelumnya.
Dan baru kemarin upacara pernikahan Hindu tersebut dilangsungkan. Tempatnya, di satu-satunya pura yang ada di Nganjuk. Yakni di Pura Giri Wilis.
Mungkin karena baru pertama kali, wajah-wajah yang hadir di upacara sakral tersebut, sebagian besar berasal dari Desa Bajulan, terlihat berbinar. Mendung, yang kemudian diikuti hujan rintik-rintik, tak mengurangi semangat mereka melangkah menuju lokasi upacara sekitar pukul 09.00.
Keramaian pun terlihat di pura yang dibangun sekitar delapan tahun lalu tersebut. Puluhan orang yang datang. Memenuhi halaman pura, bagian tengah, serta bagian dalam pura yang berada di lereng gunung Wilis itu.
Pakaian mereka beragam. Ada yang serba putih, berkebaya, atau berdandan seperti layaknya menghadiri hajatan pernikahan. Banyak juga diantara kaum lelakinya yang memakai ikat kepala khas umat Hindu.
Sebagian, undangan yang hadir mengikatkan kain warna kuning di pinggangnya. Persis seperti ketika upacara keagamaan digelar di pura tersebut.
Tapi, tidak semua seperti itu. Karena sebagian undangan yang datang juga masyarakat luas, sebagian juga mengenakan kopiah hitam bagi yang laki-laki. Atau berkerudung dan berjilbab. Kebanyakan duduk-duduk di halaman, di bawah tenda, ketika acara belum dimulai.
Pada bagian tenda yang lain, ada sepasang kursi pengantin dan beragam perlengkapannya. Tak ubahnya dekorasi pernikahan yang banyak digelar selama ini.
Ketika pukul 09.00, seorang pandita, asal Kediri, duduk di atas mimbar kecil. Pandita itu menggerincingkan lonceng kecilnya tanpa henti. Sementara tangannya memegang sekuncup bunga serta memercikkan air yang ada di hadapannya. Doa yang keluar dari mulut pandita tersebut menambah suasana semakin hikmat.
Berikutnya, dua sejoli berpakaian pengantin keluar dari pura. Dua mempelai yang berbahagia itu adalah Lasidi, 25, dan Dami Rahayu, 25. Dua dari segelintir pemuda Hindu yang tinggal di Desa Bajulan, yang akan berikrar sehidup semati dalam upacara sesuai keyakinan mereka.
Diiringi nada merdu dari seperangkat gamelan, Lasidi dan Rahayu, yang merupakan anak tokoh masyarakat Hindu setempat, lantas melangkah ke hadapan Ida Bawasti, pandita yang memimpin upacara itu. Kembali, sang pandita mengucapkan doa-doa dengan penuh hikmat. Sambil terus-menerus membunyikan lonceng kecilnya.
Sampai akhirnya sang pandita yang mengenakan pakaian serba putih memercik-mercikkan air suci. “Itu proses penyucian pengantin sebelum memasuki gahesta (pernikahan, Red),” terang Damri, pamangku atau pemimpin Pura Giri Wilis.
Setelah disucikan, dua sejoli yang sudah lama menjadi pasangan kekasih itu kembali dibawa masuk ke dalam pura. “Mereka lalu meminta izin kepada leluhur untuk melanjutkan hidup ke jenjang selanjutnya,” lanjut Damri yang kemarin juga memakai pakaian serba putih.
Selanjutnya, berbagai tahap prosesi upacara terus dilakoni kedua sejoli itu. Damri, yang menjadi sesepuh pura, sibuk mengatur jalannya upacara. Karena yang pertama, memang terlihat agak kaku.
Seperti ketika prosesi memisahkan kembali kedua pengantin itu, dan mengaraknya beberapa saat, sebelum kemudian mempertemukannya kembali. “Maklum ini yang pertama. Tapi sudah lancar. Persiapannya cuma lima hari,” aku Damri.
Bila di pernikahan cara Islam ada ijab-kabul atau akad nikah, maka di prosesi pernikahan Hindu hal itu disebut patemon. “Yakni saat keduanya dipertemukan kembali setelah diarak tadi, itu yang disebut dengan patemon atau pertemuan,” jelasnya.
Ada yang menarik dari puncak upacara pernikahan itu. Berlangsung pada 1 Januari 2008 pukul 11.00. Dan itu bukan tanpa sebab. “Sesuai ajaran Hindu kami menggunakan warigo sebagai dasar untuk menentukannya,” jelasnya.
Warigo adalah ajaran Hindu untuk menentukan ’hari baik’ untuk melakukan sesuatu. “Ini semacam ilmu astrologi yang berdasarkan tanggal kelahiran kedua mempelai. Kalau sudah ditentukan harus dilaksanaan saat itu, tidak boleh dilanggar,” ujarnya.
Makanya, meski bertepatan dengan hari pertama 2008, pelaksanaan upacara pernikahan pertama di pura itu kemarin tidak ada kaitannya dengan perayaan tahun baru. “Hanya kebetulan. Hari baik yang didapat dari kedua mempelai ternyata pas tahun baru,” terang pria yang bercita-cita menjadikan puranya itu sebagai pusat berbagai kegiatan umat Hindu setempat, termasuk untuk upacara pernikahan. (fud)
Source: Jawa Pos Online
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed