Archive for January 4th, 2008

Malang’s educators get online lessons

Wahyoe Boediwardhana, The Jakarta Post, Malang

The front yard at SMK 4 state vocational school in East Java’s city of Malang was quite crowded — but not with students.

Instead, some 1,200 teachers from across Malang were gathered to attend information and communications technology training (ICT).

School vice principal Sri Oentari said participants gathered in the school’s large hall before they were divided according to their respective skills into four large groups including principals, IT tutors, administrative staffers and librarians.

These groups were further divided again into 20 groups, each comprising of 60 persons. Each group attended internet training for three days, led by a trainer from SMK 4.

“This training will later be related closely with the network education program we are establishing,” Sri told The Jakarta Post in mid December.

Head of Malang’s education office M Shofwan said teachers taking part in the training had come from some 300 different schools across Malang, including private and state elementary schools, as well as junior and senior high schools.

“They are trained on ICT for four months, until March, 2008,” Shofwan said.

Internet training for teachers in Malang today was very important, said Shofwan, because some 500 schools, or 80 percent of schools in the city, had already been connected to the internet.

“We estimate that by the end of 2008 all schools will be linked,” said Shofwan.

“This is a breakthrough and it will enhance the narrow outlook of educators and students thus far.”

Internet connection for all schools, Shofwan said, allowed greater and faster access to education materials from the country’s ministry of education.

Shofwan said it would also see schools less dependent on paper and see students less likely to spend their pocket money at internet cafes or kiosks where he said they had access to pornographic sites.

He said the roll-out of internet access and e-learning programs for the city’s schools would soon encourage students to use computers to complete and submit their homework online.

Students and tutors would also have access online to National Examination model questions posted by the National Education Ministry through its official website.

“The network program is designed to be able to overcome the scarcity of teachers,” Shofwan said.

“For example, other schools can access English lessons taught by a a good English teacher via teleconference,” he said.

At the moment however Shofwan said each school was obliged to procure their own computers, and pay for their own internet access.

Malang’s administration said it was working together with PT Telkom state telecommunications company to provide telephone and internet links.

PT Telkom’s East Java communications manager Djadi Soegiarto said, “This is in line with the agreement between Telkom and the education office in 2006″.

“Telkom has been assigned to provide infrastructure for the National Education Network and to provide information access in schools as well as training programs,” Djadi said.

“At a bandwidth of 200 megabytes per second, internet access in Jakarta can be used to support long-distance learning programs as well as online data procurement to students and teachers.”

Shofwan said obstacles the education system was facing included teachers’ and students’ inability to want or accept change.

“I often hear people say they can still live and carry out activities without the internet,” Shofwan said.

But he said they would need to fight for change.

“Now is different from before.”

Schools in Malang have established links, especially with education institutions in Singapore, Belgium, the United States, Germany, Malaysia and the Netherlands, thanks to internet access.

“Representatives from contacts made in Belgium come to Malang every three to four months to offer assistance and provide supporting equipment, such as computers,” Shofwan said.

Source: The Jakarta Post

Add comment January 4th, 2008

Melihat Pesta Pernikahan Hindu di Pura Giri Wilis Nganjuk

Sesuai Warigo, Berlangsung 1 Januari Pukul 11.00
Untuk kali pertama Pura Giri Wilis di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, menggelar pesta pernikahan adat Hindu. Banyak hal menarik dalam pesta pernikahan langka tersebut yang digelar tepat pada awal tahun.

ANTUJI H. MASROH, Nganjuk

Bagi warga Nganjuk, menyaksikan pernikahan dengan tata cara Hindu amatlah jarang. Di kabupaten yang berjuluk Kota Angin ini, pernikahan semacam itu juga belum pernah berlangsung sebelumnya.

Dan baru kemarin upacara pernikahan Hindu tersebut dilangsungkan. Tempatnya, di satu-satunya pura yang ada di Nganjuk. Yakni di Pura Giri Wilis.

Mungkin karena baru pertama kali, wajah-wajah yang hadir di upacara sakral tersebut, sebagian besar berasal dari Desa Bajulan, terlihat berbinar. Mendung, yang kemudian diikuti hujan rintik-rintik, tak mengurangi semangat mereka melangkah menuju lokasi upacara sekitar pukul 09.00.

Keramaian pun terlihat di pura yang dibangun sekitar delapan tahun lalu tersebut. Puluhan orang yang datang. Memenuhi halaman pura, bagian tengah, serta bagian dalam pura yang berada di lereng gunung Wilis itu.

Pakaian mereka beragam. Ada yang serba putih, berkebaya, atau berdandan seperti layaknya menghadiri hajatan pernikahan. Banyak juga diantara kaum lelakinya yang memakai ikat kepala khas umat Hindu.

Sebagian, undangan yang hadir mengikatkan kain warna kuning di pinggangnya. Persis seperti ketika upacara keagamaan digelar di pura tersebut.

Tapi, tidak semua seperti itu. Karena sebagian undangan yang datang juga masyarakat luas, sebagian juga mengenakan kopiah hitam bagi yang laki-laki. Atau berkerudung dan berjilbab. Kebanyakan duduk-duduk di halaman, di bawah tenda, ketika acara belum dimulai.

Pada bagian tenda yang lain, ada sepasang kursi pengantin dan beragam perlengkapannya. Tak ubahnya dekorasi pernikahan yang banyak digelar selama ini.

Ketika pukul 09.00, seorang pandita, asal Kediri, duduk di atas mimbar kecil. Pandita itu menggerincingkan lonceng kecilnya tanpa henti. Sementara tangannya memegang sekuncup bunga serta memercikkan air yang ada di hadapannya. Doa yang keluar dari mulut pandita tersebut menambah suasana semakin hikmat.

Berikutnya, dua sejoli berpakaian pengantin keluar dari pura. Dua mempelai yang berbahagia itu adalah Lasidi, 25, dan Dami Rahayu, 25. Dua dari segelintir pemuda Hindu yang tinggal di Desa Bajulan, yang akan berikrar sehidup semati dalam upacara sesuai keyakinan mereka.

Diiringi nada merdu dari seperangkat gamelan, Lasidi dan Rahayu, yang merupakan anak tokoh masyarakat Hindu setempat, lantas melangkah ke hadapan Ida Bawasti, pandita yang memimpin upacara itu. Kembali, sang pandita mengucapkan doa-doa dengan penuh hikmat. Sambil terus-menerus membunyikan lonceng kecilnya.

Sampai akhirnya sang pandita yang mengenakan pakaian serba putih memercik-mercikkan air suci. “Itu proses penyucian pengantin sebelum memasuki gahesta (pernikahan, Red),” terang Damri, pamangku atau pemimpin Pura Giri Wilis.

Setelah disucikan, dua sejoli yang sudah lama menjadi pasangan kekasih itu kembali dibawa masuk ke dalam pura. “Mereka lalu meminta izin kepada leluhur untuk melanjutkan hidup ke jenjang selanjutnya,” lanjut Damri yang kemarin juga memakai pakaian serba putih.

Selanjutnya, berbagai tahap prosesi upacara terus dilakoni kedua sejoli itu. Damri, yang menjadi sesepuh pura, sibuk mengatur jalannya upacara. Karena yang pertama, memang terlihat agak kaku.

Seperti ketika prosesi memisahkan kembali kedua pengantin itu, dan mengaraknya beberapa saat, sebelum kemudian mempertemukannya kembali. “Maklum ini yang pertama. Tapi sudah lancar. Persiapannya cuma lima hari,” aku Damri.

Bila di pernikahan cara Islam ada ijab-kabul atau akad nikah, maka di prosesi pernikahan Hindu hal itu disebut patemon. “Yakni saat keduanya dipertemukan kembali setelah diarak tadi, itu yang disebut dengan patemon atau pertemuan,” jelasnya.

Ada yang menarik dari puncak upacara pernikahan itu. Berlangsung pada 1 Januari 2008 pukul 11.00. Dan itu bukan tanpa sebab. “Sesuai ajaran Hindu kami menggunakan warigo sebagai dasar untuk menentukannya,” jelasnya.

Warigo adalah ajaran Hindu untuk menentukan ’hari baik’ untuk melakukan sesuatu. “Ini semacam ilmu astrologi yang berdasarkan tanggal kelahiran kedua mempelai. Kalau sudah ditentukan harus dilaksanaan saat itu, tidak boleh dilanggar,” ujarnya.

Makanya, meski bertepatan dengan hari pertama 2008, pelaksanaan upacara pernikahan pertama di pura itu kemarin tidak ada kaitannya dengan perayaan tahun baru. “Hanya kebetulan. Hari baik yang didapat dari kedua mempelai ternyata pas tahun baru,” terang pria yang bercita-cita menjadikan puranya itu sebagai pusat berbagai kegiatan umat Hindu setempat, termasuk untuk upacara pernikahan. (fud)

Source: Jawa Pos Online

Add comment January 4th, 2008


Calendar

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category