Archive for November 23rd, 2007

Lagu Daerah dalam Grafis

SURABAYA - Mas, Mas, Mas, ojo dipleroki. Mas, Mas, Mas, ojo dipleroki. Karepku njaluk diesemi. Bait-bait lagu Ojo Dipleroki yang beken lewat irama campursari itu kemarin (22/11) dipajang di Galeri Seni di House of Sampoerna (Art Gallery at House of Sampoerna). Lagu itu dipajang mahasiswa semester VII Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen (UK) Petra dalam rangka pameran visualisasi lagu daerah.

Sebanyak 46 buku dan poster ditampilkan pada acara yang dihelat hingga 10 Desember tersebut. “Sebenarnya ada 199 karya. Tapi, kami menyeleksinya,” kata Deddi Duto Hartanto, dosen DKV UK Petra.

Setiap buku memuat visualisasi satu lagu daerah. Mahasiswa diberi kebebasan memilih tiga gaya desain untuk dipadukan dalam satu buku. Unsur budaya, seperti rumah adat, pakaian adat, dan arti lagu daerah, menjadi pokok penting yang tidak boleh dilewatkan dalam visualisasi tersebut. “Meski bentuknya lagu, kami tidak menuntut adanya not musik sebagai panduan untuk menyanyikan lagu,” jelasnya.

Dua lantai galeri pun seolah menggambarkan kekayaan total seluruh daerah Nusantara. Sebab, ada 25 lagu dari daerah berbeda yang ditampilkan dalam 46 karya tersebut. Butuh satu bulan untuk mengerjakan tiap buku dan poster itu. “Desainnya buatan tangan, tapi pewarnaan dan finishing dikerjakan dengan komputer. Hasilnya juga dicetak dengan mesin printer,” tuturnya.

Gracesilia, salah seorang peserta pameran, mengangkat lagu Yamko Rambe Yamko dari Papua. Di bukunya, Grace mencoba menampilkan kehidupan masyarakat Papua yang menyatu dengan alam. Penggambaran alur kehidupan disesuaikan dengan makna lagu tentang akhir kehidupan, yaitu kematian. “Perlu menelisik berbagai sumber selain mengetahui arti masing-masing kata dalam lagu Yamko Rambe Yamko,” ungkapnya.

Memang, pameran itu seolah menguatkan pendapat bahwa para mahasiswa tersebut tak boleh melupakan budayanya. Itu juga yang disentil dalam lagu Ojo Dipleroki. Yaitu, Mbok ya sing eling; Eling bab apa, Mas?; Iku budaya; Ancene bener kandhamu. (uji)

Source: Jawa Pos Online

Add comment November 23rd, 2007

Paduan Batik, Bordir, dan Payet

SURABAYA - Batik modern semakin digemari oleh desainer busana. Beragamnya busana batik juga meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap batik. Paduan bordir dan payet masih menjadi pilihan utama untuk menyiasati kesan tua batik.

Yuliani, misalnya. Desainer kebaya modern yang mengadakan peragaan busana di pembukaan Batik, Bordir, and Accessories Fair 2007 di Maspion Convention Center kemarin (22/11) itu menyatakan jatuh cinta pada batik karena keanggunannya. “Batik memiliki desain yang unik dan melambangkan karakter masyarakat setiap daerah asal batik tersebut,” katanya kemarin.

Di antara 14 gaun pesta yang ditampilkan, dia memaksimalkan kombinasi bordir dan payet pada sembilan gaun. “Yang dipadukan dengan batik, lima busana,” ucapnya. Untuk pesta, dia mengatakan, payet dapat menambah kesan glamor. Sebab, payet menjadi aksesori busana.

Pemilik rumah busana Juliet itu cukup senang dengan apresiasi masyarakat Surabaya terhadap batik. Dalam sebulan, rata-rata dia menerima pesanan 200 gaun batik. “Dulu, orang berpikir bahwa desain baju batik hanya untuk acara penting, seperti pernikahan atau wisuda. Sekarang, untuk pesta saja, mereka pesan gaun batik,” tuturnya. Setiap gaun rata-rata dipatok dengan harga Rp 2,5-15 juta.

Batik, Bordir, dan Accessories Fair 2007 diikuti oleh 80 pengusaha dan perajin di Jatim. Batik Madura mendominasi pameran yang diselenggarakan hingga 25 November tersebut. Dadan M. Kushendarman, direktur eksekutif panitia pameran, berharap, kecintaan warga Surabaya terhadap batik, bordir, dan payet sebagai warisan budaya dapat ditingkatkan dengan adanya pameran itu. “Peragaan busana tersebut menunjukkan bahwa batik juga bisa dibuat menjadi busana yang bernuansa modern,” ujarnya. (uji)

Source: Jawa Pos Online

Add comment November 23rd, 2007


Calendar

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Posts by Month

Posts by Category