SURABAYA - Menghadap Bumi adalah tajuk pameran seni rupa karya Iwan Yusuf di Galeri Surabaya, 15-23 November 2007. Tema itu dipilih karena dalam karya-karyanya, Iwan menuangkan nuansa bumi dan alam. Selain itu, dalam beberapa karya, dia menekankan perlunya orang bersujud kepada penguasa alam semesta.
Pelukis Surabaya asal Gorontalo tersebut memamerkan beberapa jenis karya seni rupa. Antara lain, lukisan (painting), drawing, patung, dan instalasi. Pameran tersebut dibuka monolog Sistri Wahyuni. Monolog berjudul Hidup, Sakit, Mati itu seolah menjadi satu kesatuan dengan tema yang diusung Iwan.
Salah satu instalasi Iwan berjudul Spirit. Pada karya itu, ada puisi Meraih dunia, bukan untuk dipuja. Ia cinta berduri. “Itu menandakan bahwa bumi ini tak hanya untuk dipuja. Tetapi, bumi harus dilestarikan dan dijaga untuk kelangsungan hidup umat manusia,” katanya. (top)
Source: Jawa Pos Online
November 16th, 2007
MONUMEN para pahlawan tak dikenal baru saja diresmikan. Patung-patung itu pun merasa bangga terhadap peresmian itu. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka kian muak. Patung-patung itu kerap disalahfungsikan. Bagaimanapun, kehadiran mereka tetap dimaknai secara khusus oleh orang-orang yang memuja patung tersebut.
Lakon adaptasi naskah Monumen karya Indra Tranggono itulah yang dipentaskan Komunitas Teater Surabaya pada Festival Cak Durasim (FCD) 2007 di Gedung Cak Durasim tadi malam. “Saya ingin memberi arti di setiap pentas sehingga penonton bisa pulang membawa sebuah perenungan,” kata Jujuk Prabowo, sutradara, saat geladi resik kemarin (15/11). Dalam lakon itu, mereka memang ingin menggugat kekuasaan dan pengusaha.
Dikisahkan, kebanggaan para patung tersebut hanya berlangsung sesaat. Waktu akhirnya menyeret patung-patung itu pada problem masyarakat. Misalnya, ada pencari togel yang minta “nomor sip” kepada salah satu patung. “Jangan salahkan mereka yang memang hanya bisa mengadu kepada kita yang dianggap pahlawan,” kata salah satu patung.
Monumen tersebut semakin terlupakan saat perawatan rutin tidak lagi dilakukan penguasa yang dulu meresmikannya. Kemudian datang seorang pelacur yang mengadukan nasibnya, sepi pelanggan. Dengan membakar dupa, sekali lagi, monumen tersebut dimintai pertolongan agar memanggil pelanggan untuk sang pelacur.
Di sekitar monumen itu, akhirnya terjadi keributan. Sang pengusaha mengumumkan rencana pembongkaran monumen untuk dijadikan mal. Seniman, pejudi togel, dan pelacur berhamburan di panggung untuk menyampaikan protes. Patung kembali berdialog. “Yang membela kita justru rakyat kecil. Mereka butuh sosok pemimpin yang bisa mendengarkan keluh kesahnya,” ujar sang patung.
Widodo Basuki, penyair sastra Jawa yang memerankan tokoh seniman, mengatakan, lakon tersebut merupakan sebuah usaha menggugat pemerintah agar bisa menempatkan rakyat sebagai pahlawan yang sesungguhnya. “Banyak proyek yang menghabiskan banyak uang rakyat. Namun, rakyat justru tidak mendapatkan manfaat dari proyek tersebut,” katanya setelah pentas.
Selain pentas tersebut, FCD 2007 tadi malam menghadirkan dalang wayang kulit Suparno Hadi dalam lakon Rabine Narasoma.
Hari ini ada empat agenda dalam FCD. Yaitu, lomba baca puisi, pementasan lakon Sandal Jepit, lakon Lambung Mangkurat di Nagara Dipa, dan kesenian daerah Sunda. (uji)
Source: Jawa Pos Online
November 16th, 2007