Pemkot Gagas Sister City dengan Australia
September 18th, 2007
SURABAYA - Pemkot terus berupaya mengembangkan jalinan kerja sama dengan kota-kota di luar negeri. Saat ini, yang mulai dikembangkan adalah kerja sama dengan pemkot di Australia.
Untuk itu, kemarin (17/9) Wali Kota Bambang D.H. menerima kunjungan Atase Pendidikan, Sains, dan Pelatihan Australia Dr Shannon Smith di rumah dinas. Pertemuan itu berlangsung sekitar satu jam. Beberapa pejabat pemkot terkait juga ikut serta.
Bambang mengatakan, kerja sama sister city Surabaya-Australia dimulai dengan pengembangan sister school. Ke depan, pengiriman guru-guru ke Australia terus dilakukan, terutama guru-guru dari sekolah yang telah ditetapkan sebagai sekolah bertaraf internasional (SBI).
Di lain pihak, Australia juga mengirimkan beberapa native speaker secara rutin ke Surabaya. “Saya pikir sebagai kota metropolis, kerja sama seperti ini sangat penting dilakukan,” ujar wali kota asal Pacitan tersebut.
Smith mengatakan, banyak hal yang dapat dipelajari para guru Surabaya di Australia apabila kegiatan pertukaran benar-benar terlaksana. Mulai metodologi pengajaran, pedagogik, hingga manajemen kelas. “Para pengajar akan didatangkan dari universitas di Australia,” jelasnya.
Para guru nantinya diajak melihat langsung sistem pendidikan di sekolah-sekolah di Australia. Smith tidak memungkiri bahwa sistem pendidikan Australia dan Surabaya tentu berbeda. Namun, dengan pengayaan wawasan, kualitas guru diharapkan semakin bertambah.
“Mungkin solusinya, akan dicarikan sekolah-sekolah dengan sistem pendidikan yang hampir sama. Secara umum sebenarnya tak terlalu berbeda,” sambungnya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemkot Sahudi menambahkan, pengembangan SBI lewat jalinan kerja sama dengan Negeri Kanguru itu memang penting. Menurut dia, sudah selayaknya guru-guru kelas SBI mendapat pengalaman internasional untuk memperkaya proses pembelajaran. “Karena itu, pengiriman guru-guru SBI bakal dilakukan secara berkala,” katanya.
Rencananya, setiap sekolah SBI diminta mengirimkan empat guru di bidang sains dan bahasa Inggris. Waktu yang diberikan untuk para guru menimba ilmu antara satu hingga tiga bulan.(kit/ara)
Source: Jawa Pos
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed