Archive for September 10th, 2007

Makam Peneleh Jadi Wisata Historis

SURABAYA - Kompleks Pemakaman Belanda yang lazim disebut dengan Makam Peneleh di kawasan Undaan segera dipugar. Pemkot berencana merombaknya menjadi kawasan wisata bernilai historis.

Saat ini, dinas kebersihan dan pertamanan (DKP) sedang menggodok konsep wisata di kuburan yang aktivitas pemakamannya sudah vakum sejak 1955 itu. “Konsep desainnya kami lombakan untuk berbagai universitas,” kata Tri Rismaharini, kepala DKP.

Dia menjelaskan, Pemerintah Belanda bekerja sama dengan PBB sudah memberikan sinyal akan mengubah fungsi makam menjadi public space. Sinyal itu disambut DKP dengan merumuskan konsep wisata historis.

Risma menerangkan, makam peninggalan Belanda tersebut kini sudah tidak lagi bisa dijadikan pemakaman. Sebab, makam yang luasnya mencapai 4,5 hektare itu sudah penuh. “Belanda dan PBB ingin merevitalisasi Makam Peneleh. Kami sepakat, perubahan wajah makam itu dilakukan untuk membawa manfaat lebih bagi warga sekitarnya,” paparnya.

Rencana tersebut diperkuat catatan tulisan tangan peninggalan Pemerintah Belanda yang disimpan DKP. Dalam catatan itu disebutkan bahwa tidak semua makam diisi jenazah. Untuk makam yang terisi jenazah, rangka akan dipindahkan ke sebagian tempat. Sebagian tempat yang tidak digunakan itulah yang akan dimanfaatkan.

“PBB juga bersedia mengeluarkan dana untuk menghubungi ahli waris dari makam-makam yang sudah terisi. Mereka sangat mendukung,” jelasnya.

Mungkin, makam itu akan dipugar dengan penambahan taman, sudut-sudut penjualan suvenir hasil usaha warga, arena jalan-jalan, dan perlengkapan rekreasi pasif lainnya, seperti tempat duduk. “Paling tidak, dengan rencana pemugaran tersebut, kondisi makam bisa lebih terawat. Saya yakin, keluarga penghuni makam juga menyambut baik langkah itu,” terang Risma. (ode)

Source: Jawa Pos

Add comment September 10th, 2007

German studies ‘Panji’ stories

SURABAYA: Lydia Kleven, an archaeologist from Koln University, Germany, said Tuesday at a seminar in Surabaya she was doing her thesis on the Panji stories of East Java.

The stories date back to the Majapahit kingdom era.

“I’m very much interested in the Panji stories because the characters have uniquely East Javanese traits and are not influenced by either the West Javanese or Indian styles. In fact, in those days, Indonesian culture was heavily influenced by Indian culture,” she said.

Kleven said she first got to know the Panji stories in 1996, while on a visit to Kendalisodo Temple, which is situated on the slopes of Mount Penanggungan. She saw in the reliefs of the temple that the main character, Panji, was wearing headgear. This depiction, she added, had also been found in a number of other temples in East Java.

“It seems that during the times of the Majapahit kingdom wearing headgear was the prevailing trend, not only among the nobility but also among commoners. The same is true of the accessories worn by a number of characters in these stories. They are unique and cannot be found in other temples outside East Java,” she said.

The Panji stories of love and heroism spread following the expansion of the kingdom’s power to other countries in Southeast Asia. –JP/Indra Harsaputra

Source: http://www.thejakartapost.com/

Add comment September 10th, 2007


Calendar

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Posts by Month

Posts by Category