Monumen-Monumen yang Terabaikan
August 28th, 2007
Selasa, 28 Agt 2007,
Oleh Arif Pribadi
Surabaya dengan statusnya sebagai Kota Pahlawan memang sudah lengkap dengan masih tersisanya sejumlah bangunan cagar budaya dan berdirinya monumen perjuangan di beberapa lokasi. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemerintah Kota Surabaya mencatat, setidaknya ada 26 monumen berdiri kukuh di kota ini. Namun sayang, jumlah yang cukup besar itu tidak memiliki arti apa pun bagi kemajuan Surabaya.
Sebenarnya, apa arti sebuah monumen? Dalam istilah Jerman, monumen atau denkmal secara harfiah memiliki fungsi utama sebagai sebuah simbol dalam ruang publik yang mengajak orang berpikir (denken) dan memberikan petunjuk-petunjuk kepada jejak sejarah. Berdirinya suatu monumen diharapkan mampu mendorong para pengunjung untuk merefleksikan peristiwa sejarah menjadi motivasi di kehidupan sehari-hari (Goethe Institute).
Merujuk pada definisi itu, jika pemkot cukup jeli memanfaatkan peluang, berdirinya simbol-simbol perjuangan tersebut bisa mendatangkan dua manfaat. Pertama, sebagai sumbangsih sejarah dalam kurikulum pendidikan berbasis kompetensi. Kedua, membangkitkan pariwisata Surabaya yang belum menemukan jati dirinya.
Monumen dan Pendidikan
Sebagai saksi bisu perjuangan, monumen dibangun atas dasar penghormatan terhadap jasa-jasa para pahlawan yang berjuang pada masanya. Struktur bangunan monumen biasanya khas dan cenderung sama, yakni sebuah kolase yang menggambarkan kejadian peperangan saat itu. Struktur bangunannya hampir sama dengan candi-candi yang dibangun pada zaman Majapahit.
Penggambaran simbolis itu bisa dijadikan bahan dalam mata pelajaran sejarah. Para pendidik bisa memanfaatkan Sabtu (atau Minggu) untuk mengajak para siswa mengunjungi monumen-monumen perjuangan tersebut. Setidaknya, selain memahami sejarah nasional, para siswa (di Surabaya) memahami sejarah kotanya. Mereka tidak perlu sekaligus mengunjungi ke-26 monumen yang ada, tapi bisa dibagi berdasar kedekatan lokasinya.
Monumen dan Pariwisata
Surabaya sebagai kota transit hingga sekarang dianggap belum mampu menjadi tempat tujuan wisata utama bagi wisatawan domestik maupun asing. Padahal, sejak Surabaya Tourism and Promotion Board (STPB) dicanangkan pemerintah pada Mei 2005, pemkot terus berupaya menggali potensi wisata di Surabaya. Sebagai Kota Pahlawan, mestinya Surabaya tidak kehilangan “jati diri”-nya. Tentu pemkot bisa mendeskripsikan sebutan Kota Pahlawan dengan mengelola cagar budaya dan monumen perjuangan. Sebab, menjadikan monumen sebagai daya tarik pariwisata sudah dilakukan berbagai negara.
Tembok Berlin, Jerman, bisa jadi merupakan simbol tragedi kemanusiaan yang membagi Kota Berlin menjadi dua, Berlin Barat dan Timur, yang dibangun semasa perang dingin. Tembok itu telah memakan banyak korban, warga kedua negara yang bermaksud menyeberang. Kini setelah Tembok Berlin runtuh dan menyatukan kota dan masyarakat Berlin, beberapa bagian temboknya sengaja dibiarkan sebagai saksi sejarah dan monumen tragedi kemanusiaan yang patut dikenang umat manusia di bumi ini.
Contoh lain, Ground Zero 9/11 di Amerika. Meski lampu sorot yang menembus langit hanya menyala setahun sekali saat peringatan 11 September berlangsung, puing-puing reruntuhan dan foto-foto para korban keganasan teroris yang terpampang di Ground Zero tetap memiliki nilai jual tinggi bagi wisata internasional.
Lalu, bagaimana Surabaya? Pemkot bisa memulainya dengan mengelola sebuah paket perjalanan wisata seperti “Refleksi Perjuangan Arek-Arek Suroboyo” mengingat kota ini dikenal dengan para pejuangnya yang gigih melawan penjajah. Jadi, peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato (Hotel Majapahit) sampai terbunuhnya Jenderal Mallaby bukan cuma dinikmati melalui diorama di dalam Tugu Pahlawan. Tapi, semua peristiwa sejarah itu diwujudkan dalam sebuah paket perjalanan wisata.
Menjadikan 26 monumen perjuangan sebagai salah satu daya tarik wisata mungkin tidaklah terlalu sulit. Sebab, kenangan yang menyertainya tidak semata-mata milik warga Surabaya, tetapi sudah mendunia menjadi milik orang Belanda, Jepang, sampai Inggris. Tidaklah juga terlalu sulit untuk “menawarkan” objek-objek itu kepada turis, asalkan ada fokus pengelolaan dari Pemkot Surabaya. Bukankah dengan mendatangkan wisatawan ke kota ini, otomatis pemkot mendapat pemasukan untuk memelihara monumen-monumen tersebut? Datangnya wisatawan sama juga dengan bertiupnya angin segar bagi sejarah perjuangan kota ini. (*)
Arif Pribadi
Penyiar Radio Mercury Surabaya
Source: http://www.jawapos.co.id/
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed