Archive for August 9th, 2007

Mandara Giri

Bulan ini, Pura Mandara Giri Agung Semeru kembali merayakan hari jadinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari jadi ini diisi dengan persembahyangan, tanda syukur pada Sang Pencipta.

Berdiri pada tahun 1986, Mandara Giri Agung berkembang menjadi tempat ibadah umat Hindu yang mencuri perhatian banyak orang. Tak hanya mereka yang ada di Lumajang, namun juga luar Lumajang, bahkan luar negeri. Maklum, bangunan pura yang berada di lereng sebelah timur Gunung Semeru ini terbilang sangat menawan. Lihat saja candi Bentar atau apit surang di jaba sisi, dan candi kurung atau gelungkuri di jaba tengah. Melihat bale patok, bale gong, gedong simpen, dan bale kulkul. Juga pendopo, kisi-kisi di areal utama, dan masih banyak lagi.
Dulu, Mandara Giri bermula dari bangun di atas tanah pekarangan seluas 20 x 60 meter. Setelah tiga tahun jalan, areal tanah berkembang menjadi dua hektar. Sehingga, banguan pura yang semula nampak sederhana, kini, sudah berkembang megah. Menjaga senyawa bangunan dan fungsinya, pura ini tak pernah sepi dari aktifitas keagamaan. Bermula dari upacara Pamlaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar yang digelar pada Minggu Umanis, Wuku Menail, 8 Maret 1992, pura ini mulai menjadi saksi digelarnya beberapa upacara suci.

Di hari-hari istimewa, pura ini menyedot pengunjung hingga 10 ribu orang. Rata-rata, selain ikut jadi peserta, mereka ada yang datang khusus untuk melihat proses persembahyangan secara langsung. Tak heran jika jauh hari sebelum Nyepi digelar misalnya, di Lumajang, beberapa hotel sudah dipadati wisatawan. Juga saat menjelang Odalan, upacara yang diselenggarakan di pura sebagai ulang tahun berdirinya pura, sekaligus memohon keselamatan bagi masyarakat dan alam semesta.

Mengapa hari jadi pura ini begitu bermakna? Ternyata, pendirian pura ini merupakan mimpi tersendiri bagi masyarakat Hindu di Kecamatan Senduro, Lumajang. Sejak tahun  1970-an, gagasan berdirinya sebuah pura telah muncul meski untuk merealisasikan terasa kembang kempis. Pucuk dicinta ulam tiba, beberapa tokoh Hindu di Bali menyambut baik gagasan ini. Karena, umat Hindu Bali pernah mengadakan nuur tirta (pengambilan air suci) di Patirtaan Watu Kelosot, kaki Gunung Semeru, lalu dibawa ke Bali. Prosei ini menjadi bagian dari upacara Agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, Bali, Maret 1963. Prosesi yang sama juga diualang pada tahun 1979. Eksistensi mata air suci Watu Kelosot pun makin kukuh. Sehingga, saat kebutuhan pura di Lumajang mulai berkembang menjadi wacana, dukungan pun mulai berdatangan.

Beratnya proses pendirian pura ini kemudian menjadi alasan, mengapa hari jadi Pura Mandara Giri Agung Semeru perlu dirayakan secara khusus. Mereka yang terlibat dalam perayaan ini, juga rela menyiapkan waktu khusus untuk persiapan. Seolah tak ingin ada yang luput apalagi keliru dalam perhitungan. hd laksono

Source: Majalah Traveler, Juli 2007

Add comment August 9th, 2007


Calendar

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Posts by Month

Posts by Category