Archive for March, 2007

Walikota Surabaya Janji Bangun Sarana Ski Air di Wiyung

Keluhan atlet ski air Surabaya yang harus berlatih ke Danau Ngipik Gresik, ternyata mendapat perhatian serius dari Walikota Surabaya, Drs. Bambang DH, MPd. Orang nomor satu di jajaran Pemkot Surabaya itu berjanji akan membangun fasilitas latihan dengan memanfaatkan Waduk Wiyung untuk berlatih maupun pariwisata.
Menurut Bambang DH, hampir seluruh atlet ski air yang bertanding di Pekan Olah Raga Nasional (PON) XVI Palembang berasal dari Surabaya.

Selain itu masih banyak lagi atlet-atlet junior berbakat yang kini berlatih di Danau Ngipik yang terletak tepat di PT Petrokimia Gresik berjarak sekitar 30 km dari Surabaya. \”Sudah selayaknya memang kalau Surabaya memiliki fasilitas sendiri untuk ski air, sebab hampir seluruh atlet ski air Jatim berasal dari Surabaya,\” kata Walikota Surabaya Drs Bambang DH MPd usai penandatanganan MoU antara KONI Surabaya dengan Pemkot Surabaya di Taman Rekreasi Jl Ketabang Kali Surabaya, Minggu (11/3).



“Untuk itulah kita akan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Surabaya untuk mengelola Waduk Wiyung menjadi obyek wisata, selain sebagai sarana olahraga, saya yakin Waduk Wiyung sangat berpotensi untuk pariwisata,\” katanya. 
Sementara itu di tempat yang sama Ketua Umum KONI Surabaya, H Saleh Ismail Mukadar SH sangat mendukung upaya Walikota Surabaya yang akan membangun Waduk Wiyung menjadi sarana olahraga ski Air, sebab ia mengaku prihatin dengan para atlet Surabaya yang harus menempuh jarak 30 km untuk berlatih ski air di Ngipik. Apalagi rata-rata para atlet tersebut masih berstatus pelajar dan mahasiswa.
Hal lain yang menjadi pemikiran Saleh Ismail Mukadar, KONI Surabaya memiliki dua agenda kejuaraan, yakni Piala Walikota Surabaya dan KONI Surabaya yang seharusnya digelar di kota pahlawan ini. \”Jadi aneh kalau kita menggelar Piala Walikota dan KONI Surabaya tapi tempatnya di Gresik. Saya ingin kedua even itu digelar di Surabaya,\” kata Saleh yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi E DPRD Jatim itu. 
Semenjak dijadikan sebagai Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Jatim 100 Ski Air, Danau Ngipik banyak dihadiri oleh masyarakat yang ingin melihat atraksi para atlet Jatim. Selain itu banyak juga para penghobi olah raga pancing memanfaatkan danau tersebut untuk mencari ikan. 
Tidak jauh beda dengan Waduk Wiyung yang nantinya akan dijadikan tempat latihan sekaligus obyek wisata sebagaimana halnya Danau Ngipik. Keuntungan lainnya, waduk bisa terbebas dari tanaman enceng gondog yang selalu muncul tiap musim penghujan tiba, karena untuk berlatih ski air, waduk atau danau harus bebas dari gangguan tanaman air ini.

(jatim.go.id -her, 2007-03-13 )


Add comment March 14th, 2007

Sebelum 2010, Hutan Jawa dan Madura Harus Hijau

Perum Perhutani berkomitmen untuk merehabilitasi dan mereboisasi lahan dan hutan di Pulau Jawa dan Madura sebelum tahun 2010. Langkah ini juga dilakukan untuk hutan lindung seluas 40 ribu hektare di Jawa dan Madura yang dikelola Departemen Kehutanan melalui Dinas Kehutanan setempat.

Direktur Utama Perum Perhutani Transtoto Handadhari melalui Kasi Humas Perum Perhutani Unit II Jatim, Ir Murgunadi MM ditemui di kantornya, Selasa (13/3) mengatakan, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) setempat harus bekerjasama dengan pemkab/pemkot dalam mewujudkan Indonesia Hijau 2010. 
Saat ini Perhutani membuka pintu lebar-lebar untuk seluruh stakeholder, termasuk pondok pesantren, untuk ikut membantu menjaga dan memanfaatkan hutan dengan biaya Perhutani yang dikemas dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) plus,” katanya.



Ini bisa dilihat dari penanaman bibit terakhir yang dilakukan bersama Bupati Jombang, H Suyanto sebagai tanda telah selesainya penanaman di kawasan lindung petak 16 b Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Carangwulung, BKPH Jabung, KPH Jombang pada Selasa (6/3) lalu. Kegiatan penanaman itu dilaksanakan di petak 16 b dan 16 c seluas 60,7 hektare dan didanai APBD Kabupaten Jombang 2006 sebesar Rp 137 juta lebih.
”Ini merupakan wujud komitmen sinergitas antara Pemerintah Kabupaten Jombang dengan Perum Perhutani Jombang dalam reboisasi dan rehabilitasi lahan dan hutan yang tertuang dalam MoU yang ditandatangani Bupati Jombang dan Administratur Perhutani KPH Jombang pada 24 Agustus 2006 lalu,” ujarnya.
Sinergitas itu harus tercipta dan harmonis antara Pemkab Jombang dan Perum Perhutani, karena adanya kesamaan wilayah dan komitmen kepentingan. Sinergitas ini diberlakukan di seluruh wilayah desa hutan di Jombang. Tujuan sinergitas yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi hutan, baik dalam aspek ekonomi, lingkungan maupun sosial, termasuk merehabilitasi sumber-sumber air, baik di hutan Perhutani maupun hutan rakyat.
Selain itu, Perhutani juga akan terus melakukan Operasi Hutan Lestari Tanpa Batas (OHL TB) yang bekerjasama dengan Polri untuk menindak pelaku illegal logging (pembalakan kayu liar, Red). OHL TB ini dilakukan dengan memberikan pembinaan kepada masyarakat akan pentingnya hutan dan mengupayakan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, melalui pengembangan ekonomi kerakyatan dan membentuk unit-unit bisnis kecil. 
”Pada tahun 2007, Perhutani akan memprogramkan bea siswa pendidikan gratis dan pengobatan gratis dengan membuka klinik-klinik kesehatan secara bertahap pada masyarakat di sekitar hutan,” imbuhnya.
Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Jombang, NP Adnyana menambahkan, kegiatan penanaman kawasan lindung petak 16 b dan 16 c itu merupakan implementasi dari Perda Kab Jombang No 3 tahun 2006 tentang Rehabilitasi Hutan Lindung, Rawan Bencana dan Lahan Kritis. 
”Kami berterimakasih kepada Muspida Jombang dan DPRD Jombang, karena pada tahun anggaran 2007 ini dalam APBD Kabupaten Jombang dialokasikan biaya pemberdayaan masyarakat desa hutan sebesar Rp 9,635 miliar,” tuturnya.

Sumber : jatim.go.id

Add comment March 14th, 2007

Nasi Petis Tanpa Petis

Serombongan JS-ers Surabaya melakukan perjalanan “dinas” – artinya: jalan-jalan dan makan-makan – ke Pulau Madura. Begitu tiba di kota pertama, Bangkalan, mereka langsung nyosor ke Warung “Amboina”. Memang terdengar out of place. Wong warung makan di pulaunya Pak Sakerah, kok namanya Amboina? Kita hanya dapat menduga bahwa pemiliknya dulu adalah seorang matroos (awak kapal) yang berlayar ke berbagai penjuru, dan tertambat hatinya dengan keindahan Amboina Manise.

Pendek kata, “Amboina” adalah warung makan yang terkenal sejak zaman tempo doeloe. Warungnya rapi, bercat hijau, terletak di pinggir lun-alun. (Harap dicatat, di Madura tidak ada alun-alun. Yang ada lun-alun, tak iye? Di Madura juga tak ada TK, karena yang ada adalah TN alias Taman Nak-kanak. He he, memang sama saja, hanya pelafalannya yang beda).

Warungnya bergaya khas tempo doeloe. Karena sempit, hanya ada dua deretan bangku panjang menghadap meja panjang yang menempel ke masing-masing dinding. Karena laris, tak jarang tamu harus antre menunggu giliran tempat duduk. Tak heran pula bila tamu yang datang berdua akan terpisah tempat duduknya karena keterbatasan tempat.

Hidangan paling populer di “Amboina” adalah soto dan nasi petis. Madura memang terkenal sotonya. Tetapi, Soto babat dari Bangkalan berbeda secara distinctive dari Soto Pamekasan, dan berbeda pula dari Soto Sumenep.

Konon, teman-teman JS terkejut karena nasi petis yang mereka pesan ternyata sama sekali tidak mengandung petis. Bagi orang Surabaya, yang disebut petis adalah paste dari udang yang agak encer dan berwarna kehitaman. Di Madura, petisnya terbuat dari ikan, disebut jukok, dan berwarna kemerahan.

Lagi-lagi, masalah nomenklatur atau atau standarisasi penamaan makanan yang di Indonesia ternyata sangat bervariasi – kalau tidak ingin menyebutnya kacau. Maka, jangan heran kalau di Madura yang disebut petis adalah masakan yang berpenampilan mirip opor. Jadi, telur petis adalah telur rebus yang dimasak dengan bumbu opor.

Nasi petis adalah nasi putih dengan lauk telur petis, ditambah empal, paru goreng, semur daging sapi yang empuk dan sangat lezat, serta sambal yang puedessss. Ternyata, semur di Madura dimasak dengan bumbu jintan, sehingga rasanya lebih mantap. Verdict untuk nasi petis “Amboina”? Jangan dilewatkan!

“Pusat”-nya Madura adalah Sumenep. Di sana masih ada Kraton yang dirawat rapi, dan bahkan hingga sekarang masih menjadi tempat kediaman resmi Bupati. Kompleks Kraton dilestarikan sebagai Museum Kraton yang dibuka untuk umum. Karcis masuknya hanya Rp 1000 per orang. Bangunan Kraton yang dibangun pada awal abad ke-18 ini memiliki ciri arsitektur gabungan antara Eropa dan Tiongkok dengan ukir-ukiran gagrak Madura.

Di pinggir Sumenep, di atas sebuah bukit, terdapat sebuah makam raja-raja Madura yang banyak dikunjungi peziarah dan wisatawan. Kompleks makam ini disebut Asta Tinggi. Ciri arsitektur Eropa dengan nuansa Islam sangat menonjol pada beberapa bangunan yang berada di kompleks makam. Sebuah masjid besar berada di tengah makam.

Tentu saja soto merupakan jenis masakan yang paling dibanggakan orang Madura. Soto Sumenep mempunyai ciri khas, yaitu disajikan dengan lontong dan singkong rebus. Karena singkong atau ubi kayu disebut sebagai sabreng dalam bahasa Madura, maka Soto Sumenep pun dikenal dengan nama soto sabreng. Lucunya, sekalipun sudah ada singkong dalam soto, side dish-nya adalah kroket yang terbuat dari singkong, disebut kroket sabreng. Sotonya memakai potongan daging sapi rebus (kadang-kadang juga ayam dan jerohan ayam), tumis tauge (kecambah), soun, dan diberi sambal kacang sebelum kemudian disiram kuah soto bening yang gurih.

Selain soto, di Madura juga ada sup yang disebut kaldu. Yang paling populer adalah kaldu kokot, yaitu sup dengan bagian bawah kaki (sepatu) sapi. Kokot-nya empuk sekali karena direbus lama. Ada juga yang disebut kaldu super atau kaldu kikil, yaitu sup bagian lutut (dengkul) sapi. Disebut super karena ukurannya memang super. Satu dengkul sapi utuh tersaji dalam piring yang menjadi tampak kekecilan.

Kebetulan saya sempat mencicipi kaldu di tiga warung yang dijagokan di tiga kota: Sumenep (Warung “Ibu Adnan”), Pamekasan (Warung Kaldu “Pintu Gerbang”), dan Sampang (Depot Ghozali).

Di Sumenep dan Pamekasan, kuah kaldunya berwarna kuning dan kental karena dicampur dengan sumsum dari tulang-tulang yang dimasak. Di kedua kota itu, ada pilihan untuk ditambah dengan kacang hijau sehingga lebih mirip seperti gulai kacang hijau (dalcha) yang juga populer di India-Pakistan. Karenanya, setelah mencicipi kaldu di kedua tempat itu, saya langsung merasa berdosa karena telah memasukkan begitu banyak kolesterol ke dalam tubuh.

Di Sumenep, kaldunya masih lagi ditambahi ulekan kacang tanah. Ibu penjualnya juga menyarankan agar saya menambahkan telur ayam mentah ke dalam kuah kaldu. Wuah, itu tantangan yang tidak berani saya terima. Akan membuat saya berdosa dua kali!

Untungnya, saya diajari cara makan kaldu kokot yang sangat berlemak itu agar terasa kurang machtig. Tambahkan perasan air jeruk nipis dan kecap manis pada kuah, dan tiba-tiba rasanya berubah menjadi segar dan ringan.

Favorit saya adalah kaldu kokot di Sampang. Kuahnya bening dan segar sehingga betul-betul memenuhi syarat untuk disebut sup. Sumsumnya juga masih utuh di dalam tulang dan dapat dihirup dengan menggunakan sedotan minuman. Slurrrrp …..

Jangan pula heran bila menemukan hidangan khas Madura yang bernama kalsot. Coba tebak! Itu adalah kaldu campur soto. He he he …

Jajanan Sumenep yang khas adalah kuwe apen. Sebenarnya ini adalah apem atau serabi dari tepung beras. Menurut Erni Sulistiyana, JS-er Surabaya yang masa kecilnya di Madura, ada beberapa kata dalam bahasa Madura yang berbeda sedikit dari bahasa Jawa. Apem jadi apen. Jajan jadi jejen. “Katanya, itu karena orang Jawa yang tiba di Pulau Madura terserang mabuk laut di perjalanan, sehingga bicaranya tidak lurus lagi,” kata Erni.

Kuwe apen disajikan dengan saus gula merah encer. Kemudian diberi topping gula merah yang dikocok sampai berbusa seperti whipped cream. Cara penyajian inilah yang membuat kuwe apen Sumenep sangat khas dibanding serabi yang lain.

Sekitar 30 kilometer di Barat Laut Sumenep, terdapat Pantai Lombang yang indah. Beberapa kilometer sebelum tiba di sana, tampak banyak petani cemara bonsai menjajakan dagangan mereka. Ternyata, Pantai Lombang memang berpagar ribuan pohon cemara (jenis kasuarina) alami yang membuat pantainya teduh. Air laut yang berada di Pantai Utara tampak biru cerah.

Di tepi pantai banyak penjual rujak dan es kelapa muda. Rujak di Jawa Timur dan Madura memang berbeda dengan rujak di daerah-daerah Indonesia lainnya. Rujak di Jawa Timur dan Madura tidak memakai buah – kecuali ketimun – dan memakai sayur. Rujak yang dijual di Pantai Lombang adalah versi yang paling umum didapati di Madura.

Terdiri atas bayam (Madura: tarnyak) dan tauge (tombung) rebus, diberi irisan ketimun, lontong, dan tahu. Diberi topping berupa rencekan kripik singkong (krepek tette) khas Madura, dan kemudian disiram sambal yang pedas dan lezat. Sambalnya diuleg untuk setiap porsi, terbuat dari kacang tanah disangrai, cabe rawit, gula pasir, dan petis ikan.

Madura memang bukan hanya Pulau Garam. Ternyata, banyak makanan khas yang memerkaya khasanah Pusaka Kuliner Indonesia.

Sumber : community.kompas.com

2 comments March 8th, 2007

Agro Wisata Kebun Kopi Jampit Kalisat Jember

KAWASAN wisata Kebun Kalisat-Jampit memang unik dan mengandung tantangan tersendiri. Dari aspek akses masuk menuju lokasi wisata itu saja sudah menimbulkan rasa ingin tahu pengunjung, belum lagi lokasi yang tersembunyi dan terpencil di sekitar dataran tinggi Ijen. Perkebunan kopi ini dengan mudah bisa diakses dari jalan raya jalur Kota Bondowoso- Kabupaten Situbondo.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer, kita akan menjumpai pertigaan Gardu Atak. Dari pertigaan tersebut, kita berbelok ke arah timur melewati Sukosari. Dari sana, lalu berbelok ke arah utara untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang berkelok- kelok menuju Perkebunan Kopi Arabika Kalisat–Jampit yang terletak di Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso.

Dari Gardu Atak menuju Kebun Kalisat–Jampit, terbentang jarak sepanjang 43 kilometer. Di sepanjang perjalanan, panorama perkebunan, baik itu perkebunan cokelat atau tebu, sangat mendominasi. Selain itu, udara sejuk khas pegunungan akan segera menyergap begitu sampai di jalanan menuju lokasi kebun.
Kalau Anda pergi ke sana naik kendaraan atau angkutan umum, hanya ada satu jenis angkutan yang bisa dipakai, yakni kendaraan angkutan pedesaan seperti mikrolet dengan ongkos Rp 6.000 per orang, sampai ke perkebunan.
Namun, perlu diingat, angkutan tersebut merupakan angkutan pedesaan sehingga bagi pengunjung yang memiliki jiwa petualang, harap memahami jadwal keberangkatan dan kedatangan angkutan yang serba tidak pasti.

ADMINISTRATUR Kebun Kalisat–Jampit Syuhadak menceritakan, obyek Wisata Agro Kalisat–Jampit Arabika Home Stay atau lebih dikenal sebagai Kebun Kalisat-Jampit dan biasa disingkat menjadi Kaja itu memiliki sejarah tersendiri.
Tempat itu pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1900-an dengan nama Davit Bernie Administrate Kantoor. Pada tahun 1955 berubah nama menjadi Landbouw Matschappij oud Djember. Kemudian pada tahun 1958, kebun tersebut diambil alih atau dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Di tahun 1961 dinamai PPN Kesatuan Jawa Timur VII. Tahun 1963 berubah lagi menjadi PNP XXVI.
Tahun 1972 berubah menjadi PT Perkebunan XXVI (Persero). Dengan pergantian pemerintahan, sejak tahun 1996 sampai sekarang, lalu menjadi PT Perkebunan Nusantara XII.

Berdiri di atas lahan seluas 3.105,40 hektar, perkebunan yang menawarkan kopi arabika sebagai komoditas wisata andalan itu terletak pada ketinggian 1.100-1.550 meter di atas permukaan air laut. Karena tingkat elevasi yang berbeda- beda itulah, cita rasa setiap varietas kopi yang dihasilkan menjadi beragam dan khas.
Karena tingkat elevasi yang lumayan tinggi itu, di kala musim pancaroba, dari musim hujan ke musim kemarau, suhu bisa menjadi sangat rendah, sampai empat derajat Celsius pada dini hari.
Syuhadak menuturkan, awal ide mendirikan tempat wisata Kebun Kalisat-Jampit itu adalah kebanggaan karena kopi yang dihasilkan merupakan kopi khusus yang sudah dikenal sejak zaman dulu, yaitu kopi yang dikenal sebagai kopi jawa atau java coffee yang tidak akan ditemui di tempat lain
Yang ditanam di sana pun kopi jenis yang sudah dikenal di dunia perdagangan kopi arabika internasional, seperti kopi jenis tibika, kartika I dan II, serta jenis usda.
Namun, yang lebih mendukung terwujudnya ide pendirian kebun itu adalah hasil pengamatan petugas PT Perkebunan Nusantara XII, banyak wisatawan asing, terutama asal Perancis, betah berlama-lama tinggal di kawasan itu. Terutama karena di puncak kawasan itu terdapat kawasan Kawah Ijen yang indah.

Para wisatawan betah berada di kawasan itu karena kawasan tersebut terkenal sebagai kawasan yang sejuk dan tenang. “Wisatawan Perancis itu sangat menyukai suasana alam dan ketenangan,” katanya.
Berawal dari temuan itulah, PT Perkebunan Nusantara XII lantas membangun beberapa fasilitas yang bisa dimanfaatkan pengunjung. Di antaranya berupa 19 buah kamar home stay dan 5 buah kamar Jampit Guest House. Sarana akomodasi juga dilengkapi kolam renang, kolam pancing, dan lapangan tenis.
Wisatawan Perancis memang yang tercatat terbanyak. Tahun 2001, wisatawan Perancis yang datang sekitar 657 orang, meningkat di tahun 2002 menjadi 954 orang. Tahun 2003 menjadi 413 orang dan meningkat lagi menjadi 924 pengunjung pada 2004. Wisatawan asing lainnya fluktuatif antara 200-an sampai 300-an per tahun.
Yang membanggakan adalah jumlah kunjungan wisatawan lokal yang terus meningkat. Tahun 2001 tercatat sebanyak 1.863 orang. Tahun 2002 1.336 orang, tahun 2003 sebanyak 1.486 orang, dan tahun 2004 ada 1.546 orang.

SALAH satu tawaran paket wisata yang tidak bisa dilewatkan begitu saja adalah tur pabrik dan tur kebun. Dengan mengikuti kedua tur tersebut, pengunjung bisa menyaksikan aktivitas kerja keseharian sehingga bisa mengetahui proses panen dan pascapanen.
Syuhadak menuturkan, tur kebun paling bagus dilakukan pada bulan-bulan panen raya kopi arabika, yaitu sekitar bulan Juli-Agustus. Saat-saat itu, wisatawan bisa turut merasakan menjadi petani kopi yang memetik bijih kopi.
Melewati proses pemanenan merupakan pengalaman tersendiri yang menyenangkan. Mulai dari pendataan pemetik, tahap pemetikan, tahap pemisahan biji kopi berwarna merah dan hijau, hingga penyerahan hasil petikan ke pabrik.
A Mahmudy, sinder pabrik di lingkungan Kebun Kalisat– Jampit sebagai pemandu, akan mengantar wisatawan melihat bak-bak pemisah bijih kopi hingga ke pengolahan. Proses diawali dengan pemisahan bijih merah dengan hijau. Bijih hijau langsung diproses, sedangkan bijih merah dipisahkan antara bijih tenggelam dan bijih rambangan.
Bijih-bijih itu lalu difermentasi selama 36 jam lalu ditiriskan selama 12 jam. “Proses fermentasi dan penirisan merupakan faktor penentu awal kualitas bijih kopi,” katanya. Berikutnya lalu dijemur di bawah sinar matahari selama 9–10 hari sampai kadar air 36 persen. Dilanjutkan dengan pengeringan mekanik, 36–48 jam sampai kadar air 11 persen.
Bijih kopi kemudian disimpan, disortir, disangrai, kemudian dipak.
Penyimpanan dan pengepakan yang tepat akan menimbulkan cita rasa khas kopi tercipta. Sekitar 90 persen produk diekspor ke luar negeri dan sisanya untuk suplai.

Dikitari pemandangan alam yang elok dan kekhasan tradisi masyarakat petani kopi menjadikan Kebun Kalisat–Jampit salah satu areal romantis di dataran tinggi Ijen. Sungguh suatu perjalanan wisata yang unik dan berbeda.

Add comment March 8th, 2007

Dari Cafe hingga Museum Rokok Kretek

Terletak di “Surabaya lama”, di komplek bangunan megah bergaya colonial Belanda ini dibangun pada tahun 1858 dan saat ini merupakan situs bersejarah yang dilestarikan. Awalnya digunakan sebagai panti asuhan putra yang dikelola oleh pemerintah Belanda, kompleks ini dibeli pada tahun 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, untuk dijadikan pabrik rokok Sampoerna yang pertama.

Kompleks ini terdiri dari sebuah auditorium sentral yang luas, dua bangunan lebih kecil di sayap timur dan barat serta beberapa bangsal luas berlantai satu dibelakang auditorium sentral. Bangunan di kedua sayap auditorium kemudian diubah menjadi tempat kediaman keluarga, sementara bangsal-bangsal besar yang menyerupai gudang dimanfaatkan untuk pengolahan tembakau dan cengkeh, peracikan, pelintingan dan pengepakan, percetakan serta pemrosesan barang jadi.

 

Sampai saat ini, kompleks ini masih berfungsi sebagai pabrik untuk memproduksi rokok kretek paling bergengsi di Indonesia, Dji Sam Soe. Memperingati ulang tahun ke-90 Sampoerna di tahun 2003, kompleks utama telah dipugar dengan seksama dan saat ini terbuka untuk masyarakat umum.

Auditorium sentral saat ini difungsikan sebagai museum dan sayap timur telah disulap menjadi suatu bangunan unik yang menaungi sebuah kafe, kios dan galeri seni. Bangunan di sayap barat tetap dipertahankan sebagai kediaman resmi keluarga.

Museum

Museum di House of Sampoerna menawarkan pengalaman yang unik bagi pengunjung. Mulai dari cerita tentang keluarga pendiri sampai melihat dari dekat fasilitas produksi rokok linting tangan dan berakhir dengan pengalaman tak terlupakan melinting sendiri sebatang rokok Dji Sam Soe. Anda dapat bergabung dengan 3.900 wanita di pabrik ini, melinting rokok dengan alat tradisional. Mereka melakukannya dengan kecepatan lebih dari 325 batang rokok per jam.

Toko Museum di HoS menawarkan berbagai macam cinderamata, termasuk didalamnya miniature alat linting rokok tradisional, paket, cengkeh, buku - buku dan kaos

Kios

Kios di House of Sampoerna siap mensuplai anda dengan berbagai pilihan barang termasuk cangkir, kaos, jaket, asbak, topi, tas dan masih banyak lagi. Barang - barang ini cocok untuk dipakai sendiri juga untuk cenderamata

Kafe

Dengan sentuhan Art Deco, kilau kreativitas bebas serta taburan sejarah, kafe menawarkan suatu pengalaman bersantap yang unik. Memadukan kaca timah asli dan panel kayu jati ukir berusia seabad dengan desain modern yang bersih. Aneka hidangan selera barat dan Asia dipersiapkan khusus untuk memuaskan selera pengunjung, bahkan bagi mereka yang sangat kritis terhadap rasa. Pada malam tertentu, life music akan mengiringi santap malam anda.

Galeri Seni

Mempersembahkan serangkaian pameran karya seniman Indonesia terbaik serta menyediakan tempat bagi para seniman muda berbakat untuk menggelar karya mereka. Galeri ini menyajikan karya bermutu yang hanya tersedia untuk dipamerkan maupun untuk dijual.

Kelompok Usaha Sampoerna

Sampoerna didirikan dengan bertumpu pada usaha tembakau dan cengkeh. Perusahaan ini termasuk salah satu produsen rokok kretek (tembakau dan cengkeh) tertua dan yang berkembang paling pesat di Indonesia, pasar rokok terbesar ke-4 didunia.

Didirikan pada tahun 1913, Sampoerna merupakan perusahaan rokok kretek pertama yang masuk ke bursa efek Jakarta. Sampoerna telah berhasil mengembangkan usaha rokoknya ke berbagai wilayah di luar Indonesia dan melakukan diversifikasi di dalam negeri, di bidang distribusi dan transportasi, percetakan dan pengemasan serta perdagangan eceran dan grosir.

Sumber : Marketing HOS

Add comment March 6th, 2007

Monumen Jalesveva Jayamahe: Sosok Perwira Angkatan Laut

Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) merupakan suatu bukti hasil karya besar dan sangat mengagumkan karya anak bangsa. Suatu pewarisan nilai sejarah yang tinggi, sebagai cerminan kebesaran bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari. Makna lain dari sosok patung ini adalah sebagai simbol kesiapan menerima tongkat estapet pengabdian dari generasi ke generasi berikutnya.

Monumen ini berbentuk patung setinggi 30,6 meter yang ditopang oleh Gedung setinggi 30 meter. Patung ini menggambarkan seorang Perwira TNI Angkatan Laut lengkap dengan pedang kehormatannya berdiri tegak menatap ke arah laut dengan penuh keyakinan dan kesungguhan siap menerjang ombak dan menempuh badai menuju arah yang telah ditunjukkan yaitu cita-cita bangsa Indonesia.

Monumen yang dibangun atas inisiatif Kepala Staf TNI Angkatan Laut pada waktu itu, Laksamana TNI Muhamad Arifin dan dirancang oleh Nyoman Nuarta tersebut dapat berfungsi pula sebagai menara Lampu Pemandu (Mercu Suar) bagi kapal-kapal yang berlayar di sekitarnya. Persis dibawah monumen terdapat gong raksasa Kyai Tentrem, bergaris tengah 6 meter dan berat lebih dari 2 ton. 

Monumen Jalesveva Jayamahe diambil dari semboyan TNI AL yang berarti “di
laut kita jaya” tingginya 60 meter. Bangunan itu terdiri dari gedung beton
bundar empat lantai 30 meter yang dijadikan tumpuan patung tembaga setinggi
30 meter. Pada bagian dinding gedung ini dibuat diorama sejarah kepahlawanan pejuang-pejuang bahari (TNI AL) sejak jaman prarevolusi phisik sampai tahun 90-an.

Sedangkan gedung penopangnya berfungsi sebagai Museum TNI AL dan sekaligus juga sebagai “Eksekutif Meeting Room”. Patung itu menggambarkan seorang Kolonel TNI Angkatan Laut dengan pakaian dinas upacara (PDU 1). Tangan kanannya berkacak pinggang dan tangan kirinya memegang pedang komando. Mata sang kolonel menatap ke laut luas. Pada lantai dasar bangunan bundar itu gong Kyai Tentrem dipajang.
 
Menurut Kepala Staf TNI AL Laksamana Madya Arief Kushariadi, perwira yang dipatungkan sengaja diberi pangkat Kolonel. “Karena kolonel merupakan jenjang seorang perwira memasuki tahap matang dan siap memasuki jabatan teras,” katanya. Mengapa memandang ke laut ?
” Karena masa depan kita ada di lautan,” katanya lagi. Pihak Angkatan Laut,
kata Arief, ”berharap pula agar monumen ini akan menjadi andalan wisata
pantai di Surabaya.

Monumen ini dibangun sejak 1990 dan diresmikan pada bulan Desember 1996 yaitu bertepatan dengan hari Armada RI tanggal 5 Desember 1996 oleh Presiden Soeharto, dengan biaya Rp 27 milyar. Patung itu disebut-sebut tertinggi kedua di dunia setelah Patung Liberty, 85 meter, yang berada di mulut pelabuhan New York. Sang kolonel itu berangka baja dan berkulit tembaga. Perancangnya, Nyoman Nuarta, pematung kondang dari Bandung yang juga menggarap patung tembaga Garuda Wishnu Kencana di Jimbaran, Bali. Oleh Nyoman tubuh patung itu dicetak di bengkelnya di Bandung dalam bentuk potongan-potongan modul. Setelah komplet, baru kemudian dibawa ke Surabaya dan disambung-sambung. Untuk membuat patung itu, Nyoman Nuarta mendapat pasokan 3.000 ton tembaga dari PLN, 60 ton dari Telkom, dan sejumlah tembaga bekas selongsong peluru.

Latar belakang dibangunnya Monjaya adalah adanya gagasan, bahwa bagaimanapun majunya suatu Bangsa hendaknya harus tetap berpijak pada sejarah. Artinya, “Bangsa yang besar adalah Bangsa yang bisa menghargai jasa Pahlawannya”. Dari sekian banyak Pahlawan dan sesepuh yang telah berjasa dalam merintis, menegakkan dan mengisi kemerdekaan bangsa dan NKRI, termasuk didalamnya para pahlawan dari TNI Angkatan Laut. Tak terbilang pengorbanan yang telah mereka sumbangkan. Bahkan jiwapun mereka berikan. Hanya sebagian kecil dari mereka yang kita kenal dan namanya telah diabadikan menjadi nama-nama Kapal Perang Republik Indonesia.

Selain sebagai tanda penghargaan dan kenang-kenangan dari generasi penerus yang masih hidup, juga diharapkan dapat memberi dorongan untuk meneruskan perjuangan mereka menuju tercapainya cita-cita Angkatan Laut yang Besar, Kuat dan Profesional dalam wadah NKRI yang adil dan makmur.

Tanpa mengecilkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di Sibolga, Tegal, Pasuruan, Bali atau dimanapun di tanah air Indonesia ini sejarah Ujung sebagai bagian wilayah kota Pahlawan Surabaya memang tak bisa dipisahkan dari sejarah TNI AL, yaitu terjadinya peristiwa perebutan Kaigun SE 21/24 Butai pada 3 Oktober 1945, yang ditandai dengan sumpah oleh para Bahariawan Penataran Angkatan Laut (PAL) yaitu “Saya rela dan ikhlas mengorbankan harta benda maupun Jiwa raga untuk Nusa dan Bangsa”.

Dalam pagelaran peristiwa sejarah TNI AL berikutnya, Ujung berperan sangat penting, yaitu merupakan pangkalan (Home Base) kapal-kapal perang TNI AL terbesar sampai sekarang, sehingga tidaklah terlalu mengada-ada bila sebagian masyarakat menamakan kota Surabaya sebagai kota pelaut atau kota Angkatan Laut.
 
Karena itu layaklah bilamana Monumen Jalesveva Jayamahe dibangun di Ujung Surabaya. Selain itu, diharapkan pula pendirian monumen ini dapat menambah semaraknya Ujung Surabaya yang berarti ikut menambah indahnya Surabaya sebagai kota Pahlawan dan Indarmadi (lndustri, Perdagangan, Maritim dan Pendidikan).

Add comment March 6th, 2007

Selesai Makan, Belanja Anggrek di Kota Pahlawan


Sejak Agustus 2005,  Pasar Anggrek di Kawasan Darmo Satelit Surabaya berdiri. Sebanyak 7 pekebun yang tergabung dalam Surabaya Orchid Society. Diantaranya Renny Orchid, Foresta Orchid, Bale Air, Nona Orchid. Lahan milik Jasa Marga tersebut dikelola dengan Sistem sewa per bulan. Lokasi yang strategis karena terletak di depan pintu tol darmo dan kawasan perumahan mewah.
Disini dijual berbagai jenis anggrek mulai Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp.,dan Cymbidium sp.  yang merupakan anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.  Sedangkan anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang seperti Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.

Selain itu, di kawasan ini juga berdiri beberapa Restaurant yang cukup representatif untuk keluarga maupun untuk menjamu relasi bisnis dengan berbagai menu pilihan. Masakan Jepang, China, Seafood, Indonesia dll. Suasana sejuk dengan pemandangan luas yang dihiasi berbagai tanaman indah.

Media tanam anggrek juga dijual disini seperti pakis, mos serabut kelapa, arang, serutan kayu, disertai campuran pecahan genting atau batu bata. Tanaman hias daun agloenema, adenium, jenis palm, euphorbia bakalan anggrek dalam botol.  Kisaran harga anggrek yang ditawarkan Rp 25.000 - 300.000.

Umumnya anggrek budidaya memerlukan temperatur sekitar 28° C sehingga perlu atapnya diberi polinet bila diletakkan di tempat terbuka.  Tetapi temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Silakan berkunjung ke Pasar Anggrek Surabaya

Add comment March 5th, 2007

Petualangan Dunia Air Sinbad di Surabaya


Berjuta kesegaran dan keceriaan menunggu di Ciputra Waterpark. Kunjungilah wahana-wahana air terbaik di seluruh Nusantara ini, yang siap membawa Anda dan keluarga kedalam petualangan dunia air Sinbad yang tak terlupakan.
Ceria, Seru, Penuh tantangan !!!

Sirens River, Sungai ini khusus dirancang untuk membuat anda dan keluarga menjadi semakin akrab dan intim. Nikmati asyiknya bersantai sekeluarga sembari menyusuri sungai buatan sepanjang 425 meter. Arus Sirens River yang tenang akan membawa anda menjelajahi serunya cerita petualangan 1001 malam di tengah riaknya dunia air Sinbad.

Chimera Pool
Bebaskan tawa seluruh anggota keluarga ! termasuk juga si kecil turut berkecipak-kecipak dengan teman-temannya kan ? Chimera Pool adalah kolam khusus bagi balita untuk bermain sepuasnya. Dilengkapi dengan rentetan air mancur kecil yang tiba-tiba memancar bergantian, kolam balita ini akan memancing tawa dan keceriaan buah hati anda.

Marina Lagoon
Biarkan anak-anak larut dalam imajinasi mereka yang luas. marina Lagoon menyediakan sarana bermain untuk anak-anak yang dilengkapi dengan permainan seluncur kecil dan jembatan untuk mereka berkumpul dan bersenda gurau. Disini mereka memiliki kesempatan untuk belajar berosialisasi dan mencari teman baru melalui berbagai petualangan imajinatif yang mereka miliki.

Sinbad Playground
Jelajahi menara-menara istana bermain Sinbad yang tersambung satu sama lain oleh jembatan goyang. Menara-menara ini dilengkapi dengan watercannon untuk menjahili teman, dan yang lebih seru lagi adalah drum air raksasa yang siap menumpahkan 5000 galon air dan memandikan anda dalam keceriaan.

Roc Tower
Menara seluncur setinggi 15 meter ini penuh dengan tantangan. Dijamin membuat semua yang mencobanya ketagihan terus. Melajulah dengan kecepatan tinggi dalam terowongan yang memacu adrenalin. dan “byurr…!” Tiba-tiba anda sudah dibawah dan ingin segera mengulangi pengalaman yang luar biasa seru.

Syracuse Beach
Berkejar-kejaran dengan ombak bersama keluarga pasti akan menorehkan senyum dan tawa. Anda tidak akan menyangka kapan ombak besar atau ombak riak-riak kecil saja yang datang selanjutnya. Nikmati kolam arus seluas 1800 m2 dengan kedalaman hingga 1,2 meter. Selain itu juga dapat bersantai dengan suasana pantai ditemani oleh paus raksasa yang baik hati dan lucu.
Sumber : Marketing Dept. Ciputra Waterpark

2 comments March 5th, 2007

Wisata Air Terjun Nglirip


Wisata Air Terjun Nglirip WISATA air terjun Nglirip yang terletak di wilayah Kecamatan Singgahan, lebih kurang 35 KM arah barat daya dari Kota Tuban. Untuk mencapai lokasi ini bagi para pengunjung yang tidak menggunakan mobil pribadi dapat menggunakan angkutan umum. Terdapat dua rute angkutan yaitu: Rute pertama melalui Montong; yaitu naik angkutan umum dari terminal Tuban dengan jurusan Montong, kemudian dilanjutkan dengan naik kendaraan jurusan Jojogan.

Objek wisata Nglirip terletak antara Montong - Jojogan, sehingga para pengunjung dapat langsung melihatnya jika melewati rute ini. Rute kedua melalui Singgahan dari terminal Tuban naik bis jurusan Jatirogo, bis ini akan transit di terminal Kab. Bojonegoro yang kemudian dilanjutkan ke tujuan utama, Jatirogo. Jika pengunjung memilih rute ini, dapat turun di pertigaan Warung Anjlok - Jojogan. Dari sini, Nglirip hanya berjarak kurang dari satu kilo meter.


Jika tidak malas, anda dapat berjalan kaki sampai ke Nglirip, atau naik angkutan jurusan Montong. Sesampainya di sini para pengunjung akan menyaksikan pemandangan sangat indah, dari pinggir jalan saja kita dapat melihat jatuhnya air dari tebing yang di atasnya terdapat jembatan kecil. Bagi yang ingin menyusuri aliran bawah air terjun harap berhati-hati, karena jalanan setapak akan sangat licin, terutama di musim hujan.

Yang tampak oleh mata jika berada di bawah air terjun Nglirip adalah derasnya air yang jatuh dengan bebas dari ketinggian kurang lebih 25 M, satu hal lagi jika kita perhatikan dengan baik bahwa terdapat goa yang cukup besar di balik air terjun ini. Dahulu kala dipercayai sebagai tempat bersemedi bagi leluhur yang berilmu tinggi.

Jika mau menuju ke arah timur dari lokasi air terjun, para pengunjung akan mendapatkan lokasi sumber air alam (Kerawak) yang ke luar dengan derasnya di tepian sungai. Sudah pasti ini akan membuat para pengunjung ingin mandi. Lokasi ini masih sangat alami, belum ada bangunan apapun, dan sekali lagi agar berhati-hati karena banjir dadakan dapat datang tiba-tiba terutama di musim hujan. Bila menuju ke arah timur lagi dari lokasi sumber air, pengunjung dapat menjumpai lokasi berkumpulnya kelelawar, yaitu Goa Lawa.

Untuk mencapai lokasi ini harus berjalan kaki 2 kilo lagi arah timur, penggemar wisata goa juga dapat mengunjungi Goa Putri Asih yang baru saja di ekplorasi akhir tahun 2002 lalu, konon goa ini lebih luas dari Goa Akbar yang berada tepat di tengah Kota Tuban. dede/net

Sumber : Waspada.co.id

Add comment March 2nd, 2007

Pelangi Pariwisata Bojonegoro


Sebuah obyek wisata yang ada di Bojonegoro, Tirtawana Dander, di dalam kawasan yang terletak 12 kilometer dari Kota Bojonegoro tersebut tampak terhampar rumput hijau. Hutan jati yang daunnya mulai melebar karena siraman air hujan membentengi area tersebut. Kayu jati memang merupakan salah satu komoditas andalan Bojonegoro.

Ada pula beberapa patung binatang dan permainan anak-anak. Masih di area yang sama terdapat pondok wisata dengan 12 kamar dan sebuah pesanggrahan. Sebuah pintu berhiaskan motif wayang di atasnya. Didalamnya terdapat hamparan air sebuah kolam renang.

Wisata Kayangan Api.

Dari sumber itu pula, api Pekan Olahraga Nasional ke-15 tahun 2000 di Surabaya diambil untuk kemudian diarak keliling Jawa Timur. Selain itu, Kayangan Api juga dipercaya masyarakat sekitar mempunyai nilai magis dan keterkaitan dengan Kerajaan Majapahit.

Begitu memasuki gapura, tampak berdiri jajaran tiang. Di tengah tiang tersebut terdapat sebuah lingkaran batu. Dari lingkaran itu menguap gelombang panas, sementara api unggun berwarna kuning kemerahan menari-nari tertiup angin.

Konon, nyala Kayangan Api digunakan oleh Empu Kriya Kusuma (nama samaran dari Empu Supagati) untuk pembuatan keris pusaka guna mengembalikan Majapahit dari tangan pemberontak. Sayangnya, cahaya api itu tidak terlalu terlihat di siang hari. Sehingga disarankan sampai dilokasi malam hari jam tujuh keatas.  Sekitar 80 meter dari Kayangan Api, mengikuti jalan setapak yang telah disediakan, pengunjung dituntun menuju ke semacam kolam.

KOLAM yang satu ini berbeda dari kolam lainnya. Air keruh kolam itu menggelegak/blukuthuk begitu kira-kira bunyinya, dengan gelembung-gelembung yang menyerupai air mendidih. Aroma belerang tersebar begitu mendekat ke sumber air hangat itu. Masyarakat sekitar menamainya Blekuthuk. Uniknya, air tak akan terasa panas jika disentuh. Dipercaya bahwa air itu punya khasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Empu Kriya Kusuma memang mempunyai keterkaitan yang erat dengan kawasan tersebut. Tak jauh dari Kayangan Api, misalnya, terdapat sebuah pohon beringin besar yang dipagari kayu. Tepat di bawahnya tersusun gundukan batu bata berukuran 20 cm x 30 cm. Ada yang mempercayai di bawah pohon itulah tempat tirakat Empu Kriya Kusuma sambil membuat kerisnya. Salah satu kerisnya yang terkenal adalah Dapur Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo yang kini menjadi pusaka kabupaten.

Batu bata tersebut ada kemiripan dengan batu sejenis peninggalan Kerajaan Majapahit yang banyak tersebar di situs Trowulan. Terlihat dari ukuran batu bata dan tanda boto kluwung atau goresan tiga jari yang membentuk pelangi.

Untuk memasuki kawasan Kayangan Api, Dander, misalnya, pengunjung harus menempuh perjalanan belasan kilometer membelah hutan jati, sawah, dan permukiman penduduk. Angkutan umum juga tidak menjangkau kawasan Kayangan Api dan Tirtawana Dander.

Daerah juga harus menyadari potensi dan kelemahan yang dimilikinya. Untuk mengembangkan pariwisata di daerah, pemerintah daerah perlu menghilangkan arogansi dan mau bekerja sama dengan daerah lain untuk membuat rute wisata. Bojonegoro, misalnya, dapat dibuat paket wisata dengan melibatkan obyek yang ada di Tuban dan Cepu yang telah terlebih dahulu terkenal. Dan, didirikan pusat informasi pula di daerah tetangga itu.(Indira Permanasari)
Sumber : Kompas

Add comment March 2nd, 2007

Next Posts Previous Posts


Calendar

March 2007
M T W T F S S
« Feb   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Posts by Month

Posts by Category