Wisata Kuliner ke Lereng Lawu
March 20th, 2007
Jangan keburu bangga jika Anda jago masak kalau belum merasakan tantangan yang ditawarkan Griya Kula. Ini rumah makan tradisional yang terletak di Kalisamin, Tawangmangu. Tempat sejuk ini terletak di lereng Gunung Lawu, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di tempat inilah Anda akan merasakan uniknya wisata kuliner dan agraris. Menikmati asrinya pemandangan pegunungan, memetik sayuran, lalu memasaknya sendiri.
Bersama simbok-simbok Kalisamin, pengunjung warung bisa memilih sayuran langsung dari lereng gunung–tidak usah khawatir terhadap pestisida, karena tanaman yang tersedia ditanam secara organik–atau menangkap ikan dari kolam kecil. Jika ingin menyantap daging ayam, Anda juga bisa menangkapnya sendiri di kandang. Seru!
Petualangan kuliner belum berhenti sampai di sana. Kemampuan memasak Anda akan diuji saat berhadapan dengan perabot masak ala kampung. Tungku kayu bakar dan periuk berjelaga sudah menanti Anda. Lupakan saja nikmatnya menekan tombol kompor gas atau microwave di dapur Anda.
Jangan pula berharap Anda akan menemukan bumbu masak siap pakai seperti yang biasa tersedia di rak dapur. Tidak pula persediaan bumbu beku dan yang sudah dihaluskan karena tidak ada listrik untuk mengoperasikan kulkas atau peralatan penghancur bumbu elektrik.
Tawaran wisata kuliner gaya Griya Kula ini memang jarang dijumpai di tempat lain, apalagi di kawasan perkotaan. Nuansa agraris tidak hanya didapat dari lingkungan yang menyuguhkan keindahan alam pegunungan. Begitu masuk ke kawasan wisata ini, Anda akan disuguhi wedang serai, wedang jahe, atau jamu beras kencur sebagai minuman penyambut. Nikmat sekali jika menyeruput minuman panas ini sembari duduk di gubuk di tepi sungai.
Terletak di tepi jalan raya menuju Tawangmangu, atau sekitar 35 kilometer dari Solo, Griya Kula Kalisamin didirikan mantan Produser dan Direktur Net-TV Boy Rifai setahun silam. Ia dibantu oleh sekitar 30 warga di lingkungan Kalisamin yang bekerja sebagai pegawai restorannya.
“Saya ingin menyuguhkan wisata yang lain bagi mereka yang biasa hidup dengan irama perkotaan,†kata Boy.
Suasana akrab, tenang, dan alami memang menjadi daya tarik utama wisata kuliner yang ditawarkan Boy. Begitu pengunjung masuk ke lokasi wisata, pelayan akan menuntun Anda menuju gubuk di tepi sungai, persis di bibir tebing.
Anda akan ditawari paket memasak sendiri atau menunggu makanan dimasak oleh pelayan. Tinggal pilih. Tidak lama, para pelayan datang menghidangkan satu set teko berisi teh dan gula batu. Makanan kecil, seperti singkong goreng dan singkong rebus, menjadi teman saat memilih menu.
Jika memilih tidak memasak sendiri, seraya menunggu hidangan datang, Anda akan diajak berjalan-jalan menikmati pemandangan. Anak-anak bisa bermain di sungai atau melihat bagaimana cara menanam padi di sawah sekitar restoran dengan bantuan para pemandu.
Anda juga bisa mampir untuk melihat-lihat suasana di Griya Kula, tempat menginap yang termasuk ke dalam kompleks wisata kuliner ini. Desainnya khas pedesaan, rumah-rumah sederhana dari kayu, bambu, dan daun kelapa. Bila sedang beruntung, Anda bisa menyaksikan seniman sedang pentas di sekitar tempat penginapan ini.
“Rendra dan Slamet Gundono (dalang wayang suket) pernah manggung di sini,†kata Boy.
Tidak lama, pelayan akan memanggil Anda kembali ke gubuk. Hidangan sudah menunggu. Di atas perangkat makan yang sudah usang, dengan tampah berpelapis daun pisang, nasi putih dan deretan lauk pauk terhidang menggugah selera. Segala jenis masakan tradisional, yang mungkin sudah jarang Anda temukan di restoran kota besar, ada di sini. Brambang asem, masakan yang dikenal orang desa, juga tersuguh di sini. Ada pula gurame acar kuning, bermacam jenis urap kacang-kacangan, belut goreng, ayam kampung, dan sebagainya.
“Semua dimasak dengan bahan alami. Minyak goreng bukan buatan pabrik, tapi minyak bikinan kampung,†kata Boy. Untuk melengkapi kesan pedesaan, para pengunjung menyantap makanan tanpa sendok dan garpu. “Lebih nikmat makan dengan cara muluk,†kata seorang pengunjung. Maksudnya makan pakai tangan saja.
Jangan berharap Anda akan menemukan makanan dan minuman bikinan pabrik di sini. Lupakan juga jika Anda ingin membeli rokok. “Kami tidak menyediakan rokok,†kata Boy.
Selain wisata kuliner, Boy–yang mengaku menanamkan modal semiliar rupiah di Waroengkoe–juga mengelola wisata outbound. “Saya tertarik mengelola lahan yang saya miliki untuk sekolah alam,†katanya.
Dengan konsep kembali ke alam ini, anak-anak akan diajak mengenal bagaimana kegiatan bercocok tanam gaya pak tani. “Sekolah alam akan resmi berjalan Mei nanti,†kata Boy.
Di hari libur, tempat wisata milik Boy ini luar biasa penuh. Jangan berharap Anda bisa mendapatkan tempat jika belum memesan. Kebanyakan pengunjung berasal dari Jakarta, Madiun, Yogyakarta, Surabaya, dan kota lainnya. “Anda bisa melepas penat dan berangan-angan di sini,†kata Boy.
Menurut Boy, wisata kuliner miliknya buka 24 jam bagi pengunjung. “Cuma, ya, itu tadi, harus siap hidup tanpa listrik,†katanya diiringi tawa.
Sumber : imronrosyid.wordpress.com
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed