Saat kebanyakan orang tengah bersiap-siap bergelung di bawah kehangatan selimut. Warga sebuah gang kecil di Keputran Panjungan gang 33 no 66, malah menjadikan malam hari sebagai waktunya mengais nafkah.
Gang kecil yang tak pernah tidur di malam hari, selalu ramai dengan suara-suara bocah kecil berlarian. Inilah sebuah kampung di di tengah kota Surabaya. Sebuah kampung di mana, kaum perempuan membuat jajan pasar, dan kaum laki-laki bekerja sebagai kuli bangunan, buruh pabrik, tukang parkir dan tukang becak.
Keluarga Lepet
Tidak ada yang menjelaskan mulai kapan warga Keputran Panjungan memiliki profesi sebagai pembuat jajan pasar. Seperti cerita keluarga ini, hampir lima belas tahun Bu Umi, bersama suami dan empat orang anaknya melakoni malam dengan berkutat di depan sebuah baskom besar berisi beras ketan, kacang merah dan parutan kelapa. Tangan-tangan mungil anaknya kebagian tugas memasukkan campuran beras ketan ke dalam janur. Sang suami sibuk memisahan daun janur dari batang lidinya.
Sesekali, wanita ini beranjak dari duduknya, mengambil janur yang telah terisi beras ketan lalu memasukkannya ke dalam panci. Wuss…, uap panas lalu menyembur keluar begitu tutup panci dibuka. Tinggal menunggu lima jam sampai akhirnya lepet itu matang.Rumah kecil ini terasa begitu pengap dan panas karena harus berbagi dengan lima kompor minyak tanah untuk mengukus lepet.
Mendadar Gulung
Kaum perempuan pembuat jajan pasar pasrah dengan nasib yang menggiring mereka bekerja larut malam hingga dini hari. Sepeti nasib Jumaa’ti membuat dadar gulung. Ibu satu anak ini duduk di lorong gang, duduk di atas dingklik, sebelah kanannya baskom besar berisi adonan dadar gulung.
Di depannya dua kompor menyala dengan api sedang, sambil menuang adonan ke wajan teflon mata wanita ini sesekali membagi perhatian ke layar televisi. Adonan yang telah digoreng lalu ditelungkupkan ke dalam piring ceper, kemudian diisi parutan kelapa yang telah diberi gula.Lalu di gulung.
Dalam semalam Ia meyelesaikan sekitar 600 buah dadar gulung. Dadar gulung ini dijual perbuah Rp 250 sampai di pasar harga jualnya menjadi Rp 300. “Untungnya paling banyak dua puluh lima ribu,” kata Jumaa’ti. Keuntungan yang tidak seberapa ini, diakui ibu satu anak tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi sang suami hanya bekerja sebagai tukang parkir di Gramedia.
Hidup dari hari ke hari bertambah berat, minyak tanah langka dan harga-harga terus merangkak membuat beban kian saat dirasakan ibu-ibu pembuat jajan pasar ini. “Saya bekerja pagi, siang dan malam. Mulai subuh berangkat ke pasar, setelah itu menyiapkan adonan. Siang hari, membuat apem, dan perut ayam. Malam hari menggoreng cucur. Saya bekerja terus, tapi kebutuhan tetap saja tidak mencukupi,” keluh Jumaa’ti. Keluhan demi keluhan, yang lebih mirip keputusasaan itu kemudian mengalir, mempersalahkan si pembuat kebijakan atas melambungnya harga-harga sekarang ini. “Mbak titip pesan kalau bisa harga-harga jangan naik, yang menderita orang kecil kayak kita ini,” ucap pilu seorang ibu.
Sumber : http://jagomakan.blogspot.com
March 20th, 2007
Jangan keburu bangga jika Anda jago masak kalau belum merasakan tantangan yang ditawarkan Griya Kula. Ini rumah makan tradisional yang terletak di Kalisamin, Tawangmangu. Tempat sejuk ini terletak di lereng Gunung Lawu, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di tempat inilah Anda akan merasakan uniknya wisata kuliner dan agraris. Menikmati asrinya pemandangan pegunungan, memetik sayuran, lalu memasaknya sendiri.
Bersama simbok-simbok Kalisamin, pengunjung warung bisa memilih sayuran langsung dari lereng gunung–tidak usah khawatir terhadap pestisida, karena tanaman yang tersedia ditanam secara organik–atau menangkap ikan dari kolam kecil. Jika ingin menyantap daging ayam, Anda juga bisa menangkapnya sendiri di kandang. Seru!
Petualangan kuliner belum berhenti sampai di sana. Kemampuan memasak Anda akan diuji saat berhadapan dengan perabot masak ala kampung. Tungku kayu bakar dan periuk berjelaga sudah menanti Anda. Lupakan saja nikmatnya menekan tombol kompor gas atau microwave di dapur Anda.
Jangan pula berharap Anda akan menemukan bumbu masak siap pakai seperti yang biasa tersedia di rak dapur. Tidak pula persediaan bumbu beku dan yang sudah dihaluskan karena tidak ada listrik untuk mengoperasikan kulkas atau peralatan penghancur bumbu elektrik.
Tawaran wisata kuliner gaya Griya Kula ini memang jarang dijumpai di tempat lain, apalagi di kawasan perkotaan. Nuansa agraris tidak hanya didapat dari lingkungan yang menyuguhkan keindahan alam pegunungan. Begitu masuk ke kawasan wisata ini, Anda akan disuguhi wedang serai, wedang jahe, atau jamu beras kencur sebagai minuman penyambut. Nikmat sekali jika menyeruput minuman panas ini sembari duduk di gubuk di tepi sungai.
Terletak di tepi jalan raya menuju Tawangmangu, atau sekitar 35 kilometer dari Solo, Griya Kula Kalisamin didirikan mantan Produser dan Direktur Net-TV Boy Rifai setahun silam. Ia dibantu oleh sekitar 30 warga di lingkungan Kalisamin yang bekerja sebagai pegawai restorannya.
“Saya ingin menyuguhkan wisata yang lain bagi mereka yang biasa hidup dengan irama perkotaan,” kata Boy.
Suasana akrab, tenang, dan alami memang menjadi daya tarik utama wisata kuliner yang ditawarkan Boy. Begitu pengunjung masuk ke lokasi wisata, pelayan akan menuntun Anda menuju gubuk di tepi sungai, persis di bibir tebing.
Anda akan ditawari paket memasak sendiri atau menunggu makanan dimasak oleh pelayan. Tinggal pilih. Tidak lama, para pelayan datang menghidangkan satu set teko berisi teh dan gula batu. Makanan kecil, seperti singkong goreng dan singkong rebus, menjadi teman saat memilih menu.
Jika memilih tidak memasak sendiri, seraya menunggu hidangan datang, Anda akan diajak berjalan-jalan menikmati pemandangan. Anak-anak bisa bermain di sungai atau melihat bagaimana cara menanam padi di sawah sekitar restoran dengan bantuan para pemandu.
Anda juga bisa mampir untuk melihat-lihat suasana di Griya Kula, tempat menginap yang termasuk ke dalam kompleks wisata kuliner ini. Desainnya khas pedesaan, rumah-rumah sederhana dari kayu, bambu, dan daun kelapa. Bila sedang beruntung, Anda bisa menyaksikan seniman sedang pentas di sekitar tempat penginapan ini.
“Rendra dan Slamet Gundono (dalang wayang suket) pernah manggung di sini,” kata Boy.
Tidak lama, pelayan akan memanggil Anda kembali ke gubuk. Hidangan sudah menunggu. Di atas perangkat makan yang sudah usang, dengan tampah berpelapis daun pisang, nasi putih dan deretan lauk pauk terhidang menggugah selera. Segala jenis masakan tradisional, yang mungkin sudah jarang Anda temukan di restoran kota besar, ada di sini. Brambang asem, masakan yang dikenal orang desa, juga tersuguh di sini. Ada pula gurame acar kuning, bermacam jenis urap kacang-kacangan, belut goreng, ayam kampung, dan sebagainya.
“Semua dimasak dengan bahan alami. Minyak goreng bukan buatan pabrik, tapi minyak bikinan kampung,” kata Boy. Untuk melengkapi kesan pedesaan, para pengunjung menyantap makanan tanpa sendok dan garpu. “Lebih nikmat makan dengan cara muluk,” kata seorang pengunjung. Maksudnya makan pakai tangan saja.
Jangan berharap Anda akan menemukan makanan dan minuman bikinan pabrik di sini. Lupakan juga jika Anda ingin membeli rokok. “Kami tidak menyediakan rokok,” kata Boy.
Selain wisata kuliner, Boy–yang mengaku menanamkan modal semiliar rupiah di Waroengkoe–juga mengelola wisata outbound. “Saya tertarik mengelola lahan yang saya miliki untuk sekolah alam,” katanya.
Dengan konsep kembali ke alam ini, anak-anak akan diajak mengenal bagaimana kegiatan bercocok tanam gaya pak tani. “Sekolah alam akan resmi berjalan Mei nanti,” kata Boy.
Di hari libur, tempat wisata milik Boy ini luar biasa penuh. Jangan berharap Anda bisa mendapatkan tempat jika belum memesan. Kebanyakan pengunjung berasal dari Jakarta, Madiun, Yogyakarta, Surabaya, dan kota lainnya. “Anda bisa melepas penat dan berangan-angan di sini,” kata Boy.
Menurut Boy, wisata kuliner miliknya buka 24 jam bagi pengunjung. “Cuma, ya, itu tadi, harus siap hidup tanpa listrik,” katanya diiringi tawa.
Sumber : imronrosyid.wordpress.com
March 20th, 2007