Archive for March 8th, 2007

Nasi Petis Tanpa Petis

Serombongan JS-ers Surabaya melakukan perjalanan “dinas” – artinya: jalan-jalan dan makan-makan – ke Pulau Madura. Begitu tiba di kota pertama, Bangkalan, mereka langsung nyosor ke Warung “Amboina”. Memang terdengar out of place. Wong warung makan di pulaunya Pak Sakerah, kok namanya Amboina? Kita hanya dapat menduga bahwa pemiliknya dulu adalah seorang matroos (awak kapal) yang berlayar ke berbagai penjuru, dan tertambat hatinya dengan keindahan Amboina Manise.

Pendek kata, “Amboina” adalah warung makan yang terkenal sejak zaman tempo doeloe. Warungnya rapi, bercat hijau, terletak di pinggir lun-alun. (Harap dicatat, di Madura tidak ada alun-alun. Yang ada lun-alun, tak iye? Di Madura juga tak ada TK, karena yang ada adalah TN alias Taman Nak-kanak. He he, memang sama saja, hanya pelafalannya yang beda).

Warungnya bergaya khas tempo doeloe. Karena sempit, hanya ada dua deretan bangku panjang menghadap meja panjang yang menempel ke masing-masing dinding. Karena laris, tak jarang tamu harus antre menunggu giliran tempat duduk. Tak heran pula bila tamu yang datang berdua akan terpisah tempat duduknya karena keterbatasan tempat.

Hidangan paling populer di “Amboina” adalah soto dan nasi petis. Madura memang terkenal sotonya. Tetapi, Soto babat dari Bangkalan berbeda secara distinctive dari Soto Pamekasan, dan berbeda pula dari Soto Sumenep.

Konon, teman-teman JS terkejut karena nasi petis yang mereka pesan ternyata sama sekali tidak mengandung petis. Bagi orang Surabaya, yang disebut petis adalah paste dari udang yang agak encer dan berwarna kehitaman. Di Madura, petisnya terbuat dari ikan, disebut jukok, dan berwarna kemerahan.

Lagi-lagi, masalah nomenklatur atau atau standarisasi penamaan makanan yang di Indonesia ternyata sangat bervariasi – kalau tidak ingin menyebutnya kacau. Maka, jangan heran kalau di Madura yang disebut petis adalah masakan yang berpenampilan mirip opor. Jadi, telur petis adalah telur rebus yang dimasak dengan bumbu opor.

Nasi petis adalah nasi putih dengan lauk telur petis, ditambah empal, paru goreng, semur daging sapi yang empuk dan sangat lezat, serta sambal yang puedessss. Ternyata, semur di Madura dimasak dengan bumbu jintan, sehingga rasanya lebih mantap. Verdict untuk nasi petis “Amboina”? Jangan dilewatkan!

“Pusat”-nya Madura adalah Sumenep. Di sana masih ada Kraton yang dirawat rapi, dan bahkan hingga sekarang masih menjadi tempat kediaman resmi Bupati. Kompleks Kraton dilestarikan sebagai Museum Kraton yang dibuka untuk umum. Karcis masuknya hanya Rp 1000 per orang. Bangunan Kraton yang dibangun pada awal abad ke-18 ini memiliki ciri arsitektur gabungan antara Eropa dan Tiongkok dengan ukir-ukiran gagrak Madura.

Di pinggir Sumenep, di atas sebuah bukit, terdapat sebuah makam raja-raja Madura yang banyak dikunjungi peziarah dan wisatawan. Kompleks makam ini disebut Asta Tinggi. Ciri arsitektur Eropa dengan nuansa Islam sangat menonjol pada beberapa bangunan yang berada di kompleks makam. Sebuah masjid besar berada di tengah makam.

Tentu saja soto merupakan jenis masakan yang paling dibanggakan orang Madura. Soto Sumenep mempunyai ciri khas, yaitu disajikan dengan lontong dan singkong rebus. Karena singkong atau ubi kayu disebut sebagai sabreng dalam bahasa Madura, maka Soto Sumenep pun dikenal dengan nama soto sabreng. Lucunya, sekalipun sudah ada singkong dalam soto, side dish-nya adalah kroket yang terbuat dari singkong, disebut kroket sabreng. Sotonya memakai potongan daging sapi rebus (kadang-kadang juga ayam dan jerohan ayam), tumis tauge (kecambah), soun, dan diberi sambal kacang sebelum kemudian disiram kuah soto bening yang gurih.

Selain soto, di Madura juga ada sup yang disebut kaldu. Yang paling populer adalah kaldu kokot, yaitu sup dengan bagian bawah kaki (sepatu) sapi. Kokot-nya empuk sekali karena direbus lama. Ada juga yang disebut kaldu super atau kaldu kikil, yaitu sup bagian lutut (dengkul) sapi. Disebut super karena ukurannya memang super. Satu dengkul sapi utuh tersaji dalam piring yang menjadi tampak kekecilan.

Kebetulan saya sempat mencicipi kaldu di tiga warung yang dijagokan di tiga kota: Sumenep (Warung “Ibu Adnan”), Pamekasan (Warung Kaldu “Pintu Gerbang”), dan Sampang (Depot Ghozali).

Di Sumenep dan Pamekasan, kuah kaldunya berwarna kuning dan kental karena dicampur dengan sumsum dari tulang-tulang yang dimasak. Di kedua kota itu, ada pilihan untuk ditambah dengan kacang hijau sehingga lebih mirip seperti gulai kacang hijau (dalcha) yang juga populer di India-Pakistan. Karenanya, setelah mencicipi kaldu di kedua tempat itu, saya langsung merasa berdosa karena telah memasukkan begitu banyak kolesterol ke dalam tubuh.

Di Sumenep, kaldunya masih lagi ditambahi ulekan kacang tanah. Ibu penjualnya juga menyarankan agar saya menambahkan telur ayam mentah ke dalam kuah kaldu. Wuah, itu tantangan yang tidak berani saya terima. Akan membuat saya berdosa dua kali!

Untungnya, saya diajari cara makan kaldu kokot yang sangat berlemak itu agar terasa kurang machtig. Tambahkan perasan air jeruk nipis dan kecap manis pada kuah, dan tiba-tiba rasanya berubah menjadi segar dan ringan.

Favorit saya adalah kaldu kokot di Sampang. Kuahnya bening dan segar sehingga betul-betul memenuhi syarat untuk disebut sup. Sumsumnya juga masih utuh di dalam tulang dan dapat dihirup dengan menggunakan sedotan minuman. Slurrrrp …..

Jangan pula heran bila menemukan hidangan khas Madura yang bernama kalsot. Coba tebak! Itu adalah kaldu campur soto. He he he …

Jajanan Sumenep yang khas adalah kuwe apen. Sebenarnya ini adalah apem atau serabi dari tepung beras. Menurut Erni Sulistiyana, JS-er Surabaya yang masa kecilnya di Madura, ada beberapa kata dalam bahasa Madura yang berbeda sedikit dari bahasa Jawa. Apem jadi apen. Jajan jadi jejen. “Katanya, itu karena orang Jawa yang tiba di Pulau Madura terserang mabuk laut di perjalanan, sehingga bicaranya tidak lurus lagi,” kata Erni.

Kuwe apen disajikan dengan saus gula merah encer. Kemudian diberi topping gula merah yang dikocok sampai berbusa seperti whipped cream. Cara penyajian inilah yang membuat kuwe apen Sumenep sangat khas dibanding serabi yang lain.

Sekitar 30 kilometer di Barat Laut Sumenep, terdapat Pantai Lombang yang indah. Beberapa kilometer sebelum tiba di sana, tampak banyak petani cemara bonsai menjajakan dagangan mereka. Ternyata, Pantai Lombang memang berpagar ribuan pohon cemara (jenis kasuarina) alami yang membuat pantainya teduh. Air laut yang berada di Pantai Utara tampak biru cerah.

Di tepi pantai banyak penjual rujak dan es kelapa muda. Rujak di Jawa Timur dan Madura memang berbeda dengan rujak di daerah-daerah Indonesia lainnya. Rujak di Jawa Timur dan Madura tidak memakai buah – kecuali ketimun – dan memakai sayur. Rujak yang dijual di Pantai Lombang adalah versi yang paling umum didapati di Madura.

Terdiri atas bayam (Madura: tarnyak) dan tauge (tombung) rebus, diberi irisan ketimun, lontong, dan tahu. Diberi topping berupa rencekan kripik singkong (krepek tette) khas Madura, dan kemudian disiram sambal yang pedas dan lezat. Sambalnya diuleg untuk setiap porsi, terbuat dari kacang tanah disangrai, cabe rawit, gula pasir, dan petis ikan.

Madura memang bukan hanya Pulau Garam. Ternyata, banyak makanan khas yang memerkaya khasanah Pusaka Kuliner Indonesia.

Sumber : community.kompas.com

2 comments March 8th, 2007

Agro Wisata Kebun Kopi Jampit Kalisat Jember

KAWASAN wisata Kebun Kalisat-Jampit memang unik dan mengandung tantangan tersendiri. Dari aspek akses masuk menuju lokasi wisata itu saja sudah menimbulkan rasa ingin tahu pengunjung, belum lagi lokasi yang tersembunyi dan terpencil di sekitar dataran tinggi Ijen. Perkebunan kopi ini dengan mudah bisa diakses dari jalan raya jalur Kota Bondowoso- Kabupaten Situbondo.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer, kita akan menjumpai pertigaan Gardu Atak. Dari pertigaan tersebut, kita berbelok ke arah timur melewati Sukosari. Dari sana, lalu berbelok ke arah utara untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang berkelok- kelok menuju Perkebunan Kopi Arabika Kalisat–Jampit yang terletak di Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso.

Dari Gardu Atak menuju Kebun Kalisat–Jampit, terbentang jarak sepanjang 43 kilometer. Di sepanjang perjalanan, panorama perkebunan, baik itu perkebunan cokelat atau tebu, sangat mendominasi. Selain itu, udara sejuk khas pegunungan akan segera menyergap begitu sampai di jalanan menuju lokasi kebun.
Kalau Anda pergi ke sana naik kendaraan atau angkutan umum, hanya ada satu jenis angkutan yang bisa dipakai, yakni kendaraan angkutan pedesaan seperti mikrolet dengan ongkos Rp 6.000 per orang, sampai ke perkebunan.
Namun, perlu diingat, angkutan tersebut merupakan angkutan pedesaan sehingga bagi pengunjung yang memiliki jiwa petualang, harap memahami jadwal keberangkatan dan kedatangan angkutan yang serba tidak pasti.

ADMINISTRATUR Kebun Kalisat–Jampit Syuhadak menceritakan, obyek Wisata Agro Kalisat–Jampit Arabika Home Stay atau lebih dikenal sebagai Kebun Kalisat-Jampit dan biasa disingkat menjadi Kaja itu memiliki sejarah tersendiri.
Tempat itu pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1900-an dengan nama Davit Bernie Administrate Kantoor. Pada tahun 1955 berubah nama menjadi Landbouw Matschappij oud Djember. Kemudian pada tahun 1958, kebun tersebut diambil alih atau dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Di tahun 1961 dinamai PPN Kesatuan Jawa Timur VII. Tahun 1963 berubah lagi menjadi PNP XXVI.
Tahun 1972 berubah menjadi PT Perkebunan XXVI (Persero). Dengan pergantian pemerintahan, sejak tahun 1996 sampai sekarang, lalu menjadi PT Perkebunan Nusantara XII.

Berdiri di atas lahan seluas 3.105,40 hektar, perkebunan yang menawarkan kopi arabika sebagai komoditas wisata andalan itu terletak pada ketinggian 1.100-1.550 meter di atas permukaan air laut. Karena tingkat elevasi yang berbeda- beda itulah, cita rasa setiap varietas kopi yang dihasilkan menjadi beragam dan khas.
Karena tingkat elevasi yang lumayan tinggi itu, di kala musim pancaroba, dari musim hujan ke musim kemarau, suhu bisa menjadi sangat rendah, sampai empat derajat Celsius pada dini hari.
Syuhadak menuturkan, awal ide mendirikan tempat wisata Kebun Kalisat-Jampit itu adalah kebanggaan karena kopi yang dihasilkan merupakan kopi khusus yang sudah dikenal sejak zaman dulu, yaitu kopi yang dikenal sebagai kopi jawa atau java coffee yang tidak akan ditemui di tempat lain
Yang ditanam di sana pun kopi jenis yang sudah dikenal di dunia perdagangan kopi arabika internasional, seperti kopi jenis tibika, kartika I dan II, serta jenis usda.
Namun, yang lebih mendukung terwujudnya ide pendirian kebun itu adalah hasil pengamatan petugas PT Perkebunan Nusantara XII, banyak wisatawan asing, terutama asal Perancis, betah berlama-lama tinggal di kawasan itu. Terutama karena di puncak kawasan itu terdapat kawasan Kawah Ijen yang indah.

Para wisatawan betah berada di kawasan itu karena kawasan tersebut terkenal sebagai kawasan yang sejuk dan tenang. “Wisatawan Perancis itu sangat menyukai suasana alam dan ketenangan,” katanya.
Berawal dari temuan itulah, PT Perkebunan Nusantara XII lantas membangun beberapa fasilitas yang bisa dimanfaatkan pengunjung. Di antaranya berupa 19 buah kamar home stay dan 5 buah kamar Jampit Guest House. Sarana akomodasi juga dilengkapi kolam renang, kolam pancing, dan lapangan tenis.
Wisatawan Perancis memang yang tercatat terbanyak. Tahun 2001, wisatawan Perancis yang datang sekitar 657 orang, meningkat di tahun 2002 menjadi 954 orang. Tahun 2003 menjadi 413 orang dan meningkat lagi menjadi 924 pengunjung pada 2004. Wisatawan asing lainnya fluktuatif antara 200-an sampai 300-an per tahun.
Yang membanggakan adalah jumlah kunjungan wisatawan lokal yang terus meningkat. Tahun 2001 tercatat sebanyak 1.863 orang. Tahun 2002 1.336 orang, tahun 2003 sebanyak 1.486 orang, dan tahun 2004 ada 1.546 orang.

SALAH satu tawaran paket wisata yang tidak bisa dilewatkan begitu saja adalah tur pabrik dan tur kebun. Dengan mengikuti kedua tur tersebut, pengunjung bisa menyaksikan aktivitas kerja keseharian sehingga bisa mengetahui proses panen dan pascapanen.
Syuhadak menuturkan, tur kebun paling bagus dilakukan pada bulan-bulan panen raya kopi arabika, yaitu sekitar bulan Juli-Agustus. Saat-saat itu, wisatawan bisa turut merasakan menjadi petani kopi yang memetik bijih kopi.
Melewati proses pemanenan merupakan pengalaman tersendiri yang menyenangkan. Mulai dari pendataan pemetik, tahap pemetikan, tahap pemisahan biji kopi berwarna merah dan hijau, hingga penyerahan hasil petikan ke pabrik.
A Mahmudy, sinder pabrik di lingkungan Kebun Kalisat– Jampit sebagai pemandu, akan mengantar wisatawan melihat bak-bak pemisah bijih kopi hingga ke pengolahan. Proses diawali dengan pemisahan bijih merah dengan hijau. Bijih hijau langsung diproses, sedangkan bijih merah dipisahkan antara bijih tenggelam dan bijih rambangan.
Bijih-bijih itu lalu difermentasi selama 36 jam lalu ditiriskan selama 12 jam. “Proses fermentasi dan penirisan merupakan faktor penentu awal kualitas bijih kopi,” katanya. Berikutnya lalu dijemur di bawah sinar matahari selama 9–10 hari sampai kadar air 36 persen. Dilanjutkan dengan pengeringan mekanik, 36–48 jam sampai kadar air 11 persen.
Bijih kopi kemudian disimpan, disortir, disangrai, kemudian dipak.
Penyimpanan dan pengepakan yang tepat akan menimbulkan cita rasa khas kopi tercipta. Sekitar 90 persen produk diekspor ke luar negeri dan sisanya untuk suplai.

Dikitari pemandangan alam yang elok dan kekhasan tradisi masyarakat petani kopi menjadikan Kebun Kalisat–Jampit salah satu areal romantis di dataran tinggi Ijen. Sungguh suatu perjalanan wisata yang unik dan berbeda.

Add comment March 8th, 2007


Calendar

March 2007
M T W T F S S
« Feb   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Posts by Month

Posts by Category