Wisata Air Terjun Nglirip WISATA air terjun Nglirip yang terletak di wilayah Kecamatan Singgahan, lebih kurang 35 KM arah barat daya dari Kota Tuban. Untuk mencapai lokasi ini bagi para pengunjung yang tidak menggunakan mobil pribadi dapat menggunakan angkutan umum. Terdapat dua rute angkutan yaitu: Rute pertama melalui Montong; yaitu naik angkutan umum dari terminal Tuban dengan jurusan Montong, kemudian dilanjutkan dengan naik kendaraan jurusan Jojogan.
Objek wisata Nglirip terletak antara Montong - Jojogan, sehingga para pengunjung dapat langsung melihatnya jika melewati rute ini. Rute kedua melalui Singgahan dari terminal Tuban naik bis jurusan Jatirogo, bis ini akan transit di terminal Kab. Bojonegoro yang kemudian dilanjutkan ke tujuan utama, Jatirogo. Jika pengunjung memilih rute ini, dapat turun di pertigaan Warung Anjlok - Jojogan. Dari sini, Nglirip hanya berjarak kurang dari satu kilo meter.
Jika tidak malas, anda dapat berjalan kaki sampai ke Nglirip, atau naik angkutan jurusan Montong. Sesampainya di sini para pengunjung akan menyaksikan pemandangan sangat indah, dari pinggir jalan saja kita dapat melihat jatuhnya air dari tebing yang di atasnya terdapat jembatan kecil. Bagi yang ingin menyusuri aliran bawah air terjun harap berhati-hati, karena jalanan setapak akan sangat licin, terutama di musim hujan.
Yang tampak oleh mata jika berada di bawah air terjun Nglirip adalah derasnya air yang jatuh dengan bebas dari ketinggian kurang lebih 25 M, satu hal lagi jika kita perhatikan dengan baik bahwa terdapat goa yang cukup besar di balik air terjun ini. Dahulu kala dipercayai sebagai tempat bersemedi bagi leluhur yang berilmu tinggi.
Jika mau menuju ke arah timur dari lokasi air terjun, para pengunjung akan mendapatkan lokasi sumber air alam (Kerawak) yang ke luar dengan derasnya di tepian sungai. Sudah pasti ini akan membuat para pengunjung ingin mandi. Lokasi ini masih sangat alami, belum ada bangunan apapun, dan sekali lagi agar berhati-hati karena banjir dadakan dapat datang tiba-tiba terutama di musim hujan. Bila menuju ke arah timur lagi dari lokasi sumber air, pengunjung dapat menjumpai lokasi berkumpulnya kelelawar, yaitu Goa Lawa.
Untuk mencapai lokasi ini harus berjalan kaki 2 kilo lagi arah timur, penggemar wisata goa juga dapat mengunjungi Goa Putri Asih yang baru saja di ekplorasi akhir tahun 2002 lalu, konon goa ini lebih luas dari Goa Akbar yang berada tepat di tengah Kota Tuban. dede/net
Sumber : Waspada.co.id
March 2nd, 2007
Sebuah obyek wisata yang ada di Bojonegoro, Tirtawana Dander, di dalam kawasan yang terletak 12 kilometer dari Kota Bojonegoro tersebut tampak terhampar rumput hijau. Hutan jati yang daunnya mulai melebar karena siraman air hujan membentengi area tersebut. Kayu jati memang merupakan salah satu komoditas andalan Bojonegoro.
Ada pula beberapa patung binatang dan permainan anak-anak. Masih di area yang sama terdapat pondok wisata dengan 12 kamar dan sebuah pesanggrahan. Sebuah pintu berhiaskan motif wayang di atasnya. Didalamnya terdapat hamparan air sebuah kolam renang.
Wisata Kayangan Api.
Dari sumber itu pula, api Pekan Olahraga Nasional ke-15 tahun 2000 di Surabaya diambil untuk kemudian diarak keliling Jawa Timur. Selain itu, Kayangan Api juga dipercaya masyarakat sekitar mempunyai nilai magis dan keterkaitan dengan Kerajaan Majapahit.
Begitu memasuki gapura, tampak berdiri jajaran tiang. Di tengah tiang tersebut terdapat sebuah lingkaran batu. Dari lingkaran itu menguap gelombang panas, sementara api unggun berwarna kuning kemerahan menari-nari tertiup angin.
Konon, nyala Kayangan Api digunakan oleh Empu Kriya Kusuma (nama samaran dari Empu Supagati) untuk pembuatan keris pusaka guna mengembalikan Majapahit dari tangan pemberontak. Sayangnya, cahaya api itu tidak terlalu terlihat di siang hari. Sehingga disarankan sampai dilokasi malam hari jam tujuh keatas. Sekitar 80 meter dari Kayangan Api, mengikuti jalan setapak yang telah disediakan, pengunjung dituntun menuju ke semacam kolam.
KOLAM yang satu ini berbeda dari kolam lainnya. Air keruh kolam itu menggelegak/blukuthuk begitu kira-kira bunyinya, dengan gelembung-gelembung yang menyerupai air mendidih. Aroma belerang tersebar begitu mendekat ke sumber air hangat itu. Masyarakat sekitar menamainya Blekuthuk. Uniknya, air tak akan terasa panas jika disentuh. Dipercaya bahwa air itu punya khasiat menyembuhkan berbagai penyakit.
Empu Kriya Kusuma memang mempunyai keterkaitan yang erat dengan kawasan tersebut. Tak jauh dari Kayangan Api, misalnya, terdapat sebuah pohon beringin besar yang dipagari kayu. Tepat di bawahnya tersusun gundukan batu bata berukuran 20 cm x 30 cm. Ada yang mempercayai di bawah pohon itulah tempat tirakat Empu Kriya Kusuma sambil membuat kerisnya. Salah satu kerisnya yang terkenal adalah Dapur Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo yang kini menjadi pusaka kabupaten.
Batu bata tersebut ada kemiripan dengan batu sejenis peninggalan Kerajaan Majapahit yang banyak tersebar di situs Trowulan. Terlihat dari ukuran batu bata dan tanda boto kluwung atau goresan tiga jari yang membentuk pelangi.
Untuk memasuki kawasan Kayangan Api, Dander, misalnya, pengunjung harus menempuh perjalanan belasan kilometer membelah hutan jati, sawah, dan permukiman penduduk. Angkutan umum juga tidak menjangkau kawasan Kayangan Api dan Tirtawana Dander.
Daerah juga harus menyadari potensi dan kelemahan yang dimilikinya. Untuk mengembangkan pariwisata di daerah, pemerintah daerah perlu menghilangkan arogansi dan mau bekerja sama dengan daerah lain untuk membuat rute wisata. Bojonegoro, misalnya, dapat dibuat paket wisata dengan melibatkan obyek yang ada di Tuban dan Cepu yang telah terlebih dahulu terkenal. Dan, didirikan pusat informasi pula di daerah tetangga itu.(Indira Permanasari)
Sumber : Kompas
March 2nd, 2007