Wisata ke Sarang Pesawat Tempur
PAKET tur tiga hari yang digelar majalah Angkasa pekan lalu amat unik, obyek wisatanya sarang pesawat tempur, Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur. Tambah unik lagi, 50 pesertanya tidak terbang, melainkan naik Kereta Api Bima dari Jakarta ke Madiun.
“Saya sudah lama, sejak tahun 1990, ingin melancong ke Lanud (Pangkalan Udara) Iswahjudi. Baru kesampean sekarang,” ujar Agus Gara Purwanto (27), staf Kantor Pemerintah Daerah Situbondo. Padahal, jarak dari kotanya ke Madiun jauh lebih dekat ketimbang Jakarta-Madiun.
Apa sih daya tarik sarang jet tempur buru sergap TNI Angkatan Udara yang terletak di bekas Kawedanan Maospati, diapit Gunung Wilis (8.400 kaki) di bagian timur dan Gunung Lawu menjulang tinggi 10.712 kaki di bagian barat, sehingga Anggi (12), Agus Gara Purwanto, Sri Ratna Ovianita (27), serta 47 peserta lainnya tetarik pada paket tur tersebut?
Di zaman van de oorlog, awal abad ke-19, orang Belanda datang ke daerah ini karena tertarik oleh lembah suburnya, yang kemudian dijadikan tulang punggung industri gula Hindia Belanda. Peninggalan industri tersebut sampai kini masih dapat dilihat di sekitar Iswahjudi, total ada enam pabrik gula pada zaman keemasan kolonialisme Belanda di bumi kawasan Madiun, Jawa Timur, ini.
Di kawasan bekas Kawedanan Maospati sekarang hanya ada pabrik gula dan pangkalan udara yang terletak di tepi pertigaan jalan raya Madiun-Magetan-Ngawi serta berbatasan langsung dengan Kota Madiun 10 kilometer di sebelah timur dan Kota Magetan di sebelah barat (15 kilometer). Naik sedikit ke Plaosan, ada air terjun yang memesona, kemudian daerah sejuk Sarangan dengan telaga dan air terjunnya yang indah-daya tarik wisata Kota Madiun yang berhawa panas.
Berbagai alasan mereka tertarik pada paket tur kerja sama majalah Angkasa dengan TNI Angkatan Udara Republik Indonesia (Lanud Iswahjudi). Pada dasarnya adalah senang akan dunia kemiliteran, di antaranya daya tarik pesawat tempur. Ardian Pradana atau Anggi, yang termuda, murid kelas I SMP Lab School Kebayoran, Jakarta, tidak terkecuali. Dia sangat tertarik dengan pesawat tempur dan kenal baik jenis-jenis serta keunggulannya. Dengan demikian, meski baru sembuh dari sakit, orangtuanya mendukung Anggi ikut tur ke Iswahjudi.
Lain lagi dengan Ovianita yang akrab dipanggil Ovi-namanya diambil dari pesawat tempur counter insurgency (co-in) OV-10 Bronco. “Siapa tahu ada penerbang yang kecantol sama saya,” ujar Ovi polos, putri mantan perwira Komando Pendidikan AU, memberi alasan ikut tur langka tersebut.
Selain itu, kesempatan luar biasa ini juga dimanfaatkan oleh para penggemar model kit, Peter dan lima rekannya, untuk mendapat referensi decal model kit, terutama sekali warna pesawat. Sampai-sampai Peter, pemilik hobby shop model kit di Mal Taman Anggrek, membawa lembar color-guide contoh warna cat. Sementara rekan-rekannya memotret detail-detail pesawat, seperti perangkat roda pendarat, marking (identifikasi) pesawat, kesatuan skuadronnya, dan detail-detail kecil lainnya yang nantinya akan melengkapi pesawat model kit F-16, Sukhoi Su-27 dan Su-30, serta Hawk Mk-53 dan F-5.
Pesawat-pesawat tersebut adalah penghuni Lanud Iswahjudi yang membawahi Skuadron Udara 3 (F-16 Fighting Falcon), Skuadron Udara 14 (F-5 Tiger II), serta Skuadron 15 (Hawk Mk-53). Karena belum lengkap sebagai satu skuadron jumlahnya, empat pesawat Sukhoi Su-27 dan Su-30 untuk sementara bersarang di Iswahjudi sebelum nantinya menjelang akhir tahun 2004 ditempatkan di Lanud Hasanuddin, Makassar. “Insya Allah, sekitar akhir tahun, Angkatan Udara sudah dilengkapi satu skuadron jet tempur Sukhoi,” ungkap Komandan Pangkalan Udara Iswahjudi Marsekal Pertama Imam Sufaat.
DI hanggar Skuadron Udara 14, sebuah F-5 digelar lengkap dengan persenjataan yang digotongnya. Melihat jet tempur ini, 50 pengunjung wisata pangkalan tersebut langsung membidikkan lensa kamera pada burung besi tempur tersebut. Memotret diri dengan latar belakang F-5. Jet tempur supersonik Mach 1 (satu kali kecepatan suara) produk pabrik Amerika Serikat, Northrop, inilah yang mengembalikan era supersonik MiG-21 Fishbed Angkatan Udara RI-pesawat Mach 2 MiG-21 dirancang dan diproduksi pabrik Uni Soviet Mikoyan-Guverich pada tahun 1962, pada tahun itu juga Indonesia termasuk negara pemesan pertamanya!
Selain sebagai pilot pertama MiG-21F, Mayor Roesman juga mengukir rekor sebagai penerbang pertama Indonesia yang melejit Mach 2 (2.500 km/jam) di atas wilayah udara Madiun, 29 Agustus 1962. Sebanyak 24 jet tempur supersonik inilah yang pernah memperkuat Skuadron Udara 14, kemudian tahun 1980 sebanyak 16 pesawat buru sergap Mach 1 F-5 Tiger II mengembalikan kejayaan masa silam era supersonik Indonesia.
Dengan dua bus, para pengunjung kemudian didatangkan ke obyek “wisata” berikutnya, sarang pesawat tempur Hawk Mk-53, penghuni hanggar Skuadron Udara 15.
Mereka diberi keleluasaan memotret sepuas-puasnya dan duduk di kokpitnya. Demikian pula saat berada di hanggar Skuadron Udara 3, sarang jet tempur supersonik fly-by-wire F-16 Fighting Falcon-jet tercanggih jajaran TNI Angkatan Udara sebelum jet tempur mutakhir Mach 2 bermesin ganda Sukhoi Su-27 dan Su-30 buatan Rusia menjelang akhir tahun lalu tiba di bumi Madiun.
Tidak kalah menariknya adalah menyaksikan kegiatan terbang malam F-16 Fighting Falcon dan Hawk Mk-53. Semburan bola api dari exhaust F-16 dibarengi dengan derum getaran mesin turbofan Pratt & Whitney F-100 PW 220 yang menggetarkan bumi merupakan tontonan yang sukar dicari duanya. Di luar pagar pangkalan, ratusan warga Maospati menyaksikan di tepi jalan raya yang menghubungkan Kota Madiun dan Ngawi, ikut memacetkan arus lalu lintas.
Namun, puncak dari kunjungan wisata ke Lanud Iswahjudi tidak ayal lagi adalah ke hanggar peninggalan zaman Belanda di mana empat jet tempur Sukhoi disimpan. Puncak berikutnya, tatkala 10 peserta tur mendapat kesempatan menerbangkan F-16 dalam simulator. Rupanya Anggi memang sedang beruntung-dalam undian nama calon “penerbang” simulator F-16 Fighting Falcon, namanya terpilih sehingga dia menjadi pilot termuda yang menerbangkan F-16!
Yang beruntung lainnya adalah Ovi, wanita satu-satunya dari tiga peserta wanita yang mendapat rezeki nomplok, menerbangkan simulator F-16. Mungkin kenangan paling berharga bagi seluruh peserta adalah kala mereka diberi izin satu per satu dipotret duduk dalam kokpit Sukhoi Su-30.
Bahkan, Sinang Aribowo (28) begitu girangnya dapat menyentuh pesawat Sukhoi, T-shirt-nya dijadikan lap badan pesawat-mungkin kenang-kenangan yang paling berharga baginya. T-shirt biru berlogo Angkasa bekas mengelap Sukhoi akan dibingkai dan dijadikan pajangan di rumahnya.
Lain lagi peringai luapan antusiasme M Taufik (33), dipotret dengan berbagai pose di atas sayap Sukhoi. Sedang Stefanus (Boby) Kuntohari (30) sempat dipotret tiduran di atas sayap. Luapan antusiasme tidak saja menghinggapi para peserta muda, tapi juga menjangkiti peserta berumur Adi Laksamana (60), Bambang Soemarjono (57), dan Siswanto Suryadi (55).
Selain pesawat, para peserta tur juga mendapat kesempatan mengunjungi Satuan Pemeliharaan (Sathar) 61 di mana peluru kendali udara-ke-darat AGM 65 Maverick digelar. “Rudal (peluru kendali) ini bisa menenggelamkan kapal,” ungkap Letkol Tek I Made Setiawan, Komandan Sathar 61. “Biasanya rudal ini dipasang di pesawat F-16 dan pesawat Hawk 109 Skuadron Udara 1 di Supadio dan 12 di Pekanbaru,” ia menambahkan keterangannya.
Selain dapat menyentuh rudal kondang tersebut, mereka juga diberi kesempatan memanggul Kiwi, senjata panggul perontok pesawat buatan RRC yang beratnya hanya 17,5 kg. Sempat pula peserta memanggul berbagai senjata yang dirawat Sathar 61. Vero, misalnya, berpose dengan bangga bersama sebuah AK-47. Ada yang memilih senjata laras panjang M-16 dan G-3, yang lainnya duduk di kanon antipesawat terbang yang pernah berjaya pada Perang Dunia Kedua dan kini antara lain diganti perannya oleh Kiwi yang lebih ringan, akurat, dan canggih.
Dalam sejarah Lanud Iswahjudi, baru kali ini menyaksikan barang-barang di koperasi pangkalan habis diborong pembeli, terutama merchandise berupa model pesawat, T-shirt, stiker kesatuan skuadron, serta berbagai suvenir lainnya-oleh-oleh sebelum kembali ke Jakarta. (Dudi Sudibyo)
Sumber : Kompas
Add comment March 1st, 2007