Archive for February, 2007

Waduk Bening Tak Hanya untuk Pertanian dan Pengendali Banjir, tetapi Juga Wisata


SEDERET orang tengah asyik memancing ikan di Bendungan Serbaguna Bening, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur (Jatim). Suasana benar-benar tenang. Hanya ada sesekali bunyi dari kecipak air atau deru kendaraan bermotor yang melaju perlahan. Tak jauh dari kolam buatan itu, beberapa ekor rusa tengah makan rumput di kandangnya. Seekor di antaranya berlari-lari kecil ke berbagai penjuru. Kandang itu tergolong luas, sehingga hewan-hewan tersebut leluasa berlarian.

Pemandangan lain yang acapkali terlihat adalah muda-mudi yang sedang berpacaran. Ketika Kompas datang pada Rabu (15/5) siang, dua tempat yang menjadi “arena strategis” bagi mereka adalah taman pepohonan dan beberapa sisi di tepi kolam buatan. Pohon-pohonan di pinggir kolam yang menjadi peneduh dari terik Matahari membuat para remaja betah memadu kasih di sana.

Bendungan Bening terletak di perbatasan Kabupaten Nganjuk dengan Kabupaten Madiun. Letaknya menjorok ke dalam atau tepatnya ke arah utara, sekitar tiga kilometer dari Jalan Raya Madiun-Nganjuk.

Sebelum memasuki kompleks waduk, pengunjung “dimanjakan” dengan deretan ribuan pohon jati di hutan Saradan, dengan melintasi jalan beraspal yang mulus dan rata. Betul-betul rimbun. Memasuki 2,5 kilometer dari jalan raya, sebuah pos kecil memungut karcis masuk sebesar Rp 1.500.

Waduk Bening seakan identik dengan ketenangan. Air waduk yang tenang bagai simbol keselarasan dalam hidup. Kehadiran waduk di perbatasan Nganjuk-Madiun ini dapat menjadi obat bagi mereka yang telah terbiasa sibuk dengan rutinitas kerja sehari-hari.

***
BENDUNGAN Serbaguna Bening merupakan salah satu waduk yang dikelola Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta. Menurut Kepala Divisi Jasa, Air dan Sumber Air (Asa) III Jasa Tirta Ir M Idham LO CES, pemanfaatan Waduk Bening sebagai obyek wisata merupakan fungsi kesekian.

“Fungsi utama waduk itu tetap sebagai bangunan pengendali banjir dan pengairan. Namun, karena bangunan waduk selalu menarik untuk wisata, kita arahkan ke sana seperti halnya Bendung Gerak Merijan di Gampengrejo, Kediri,” katanya kepada Kompas, Jumat lalu.

Untuk kepentingan pengairan, waduk tersebut memasok air untuk 9.000 hektar sawah di Nganjuk. Manajemen Jasa Tirta juga memanfaatkan waduk untuk perikanan, karena setiap tahun disebar puluhan ribu ekor benih ikan berbagai jenis.

Bicara soal obyek wisata Waduk Bening, Idham menyatakan, rata-rata pengunjung tiap bulan berkisar 6.000 hingga 7.000 orang. “Sebagai waduk yang relatif baru, wajar kalau masih ada banyak kekurangan di Waduk Bening. Tentu jauh kalau dibandingkan dengan Waduk Selorejo yang sudah lebih lama,” katanya.

Sebagaimana obyek wisata, pengunjung ramai biasanya pada Sabtu dan Minggu. Jasa Tirta tengah berusaha merencanakan pengembangan jangka pendek untuk lebih menarik wisatawan.

Program jangka pendek itu antara lain dengan penambahan sarana permainan anak-anak, seperti kereta mini, ayunan, komedi putar, dan sebagainya. Setelah ditambah dan beroperasi dalam jangka waktu tertentu, pihaknya akan mengevaluasi sejauh mana dampak dari penambahan sarana itu.

“Kalau dampaknya betul-betul bagus, kami akan pikirkan program jangka panjang. Apakah dengan menambah penginapan, atau kolam renang. Tergantung bagaimana pembahasan selanjutnya,” jelasnya lagi.

Namun, Idham mengingatkan, semua rencana pengembangan sangat tergantung pada kemampuan keuangan perusahaan. Ia melukiskan, biaya pembersihan waduk saja sudah menghabiskan Rp 100 juta per tahun. Belum lagi ongkos lain-lain, seperti operasional alat-alat elektro-mekanis, dan sebagainya.

Satu tugas yang masih tersisa, tentunya untuk makin membuat Waduk Bening populer di masyarakat di kawasan eks-Karesidenan Kediri dan Madiun. Idham mengakui, bendungan serbaguna itu masih belum banyak dikenal masyarakat.

Oleh karena itu, kini Jasa Tirta intens menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun, antara lain dengan menggalakkan promosi. Ya, tanpa promosi rasanya percuma Waduk Bening dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi makin indah. Siapa yang akan ke sana? (ADI PRINANTYO)

Sumber : Kompas

Add comment February 19th, 2007

Bendungan Wonorejo, Primadona Baru Wisata Tulungagung


HAMPARAN air bendungan yang tenang dan berwarna biru menyapa siapa pun yang berkunjung ke Bendungan Wonorejo, 12 kilometer dari Kota Tulungagung. Suasana sejuk di salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara itu selaras dengan suasana alam sekitarnya yang serba hijau dan rindang. Di kanan-kiri jalan terhampar sawah dan deretan pepohonan.

Di beberapa sudut waduk berkapasitas tampung 122 juta meter kubik itu kerap terlihat pasangan remaja memadu kasih. Sementara di sisi lainnya, serombongan keluarga yang mengendarai mobil pribadi, berkeliling di seantero bendungan. Waduk Wonorejo tak pelak lagi merupakan “primadona” baru di dunia pariwisata Tulungagung. Sarana pemasok air PDAM Surabaya itu baru diresmikan oleh Wakil Presiden (waktu itu) Megawati Soe-karnoputri, 21 Juni 2001.

Beberapa petugas pengelola bendungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung menuturkan, pengunjung waduk pada hari Minggu selalu banyak. Jika tidak ada acara khusus semacam pentas dangdut, penghasilan dari karcis masuk rata-rata Rp 1 juta. Angka pemasukan itu bisa melonjak menjadi sekitar Rp 2 juta jika ada pergelaran khusus.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Tulungagung Ahmad Pitoyo menuturkan, perkembangan Waduk Wonorejo sebagai daerah tujuan wisata baru memang cukup menggembirakan. “Kehadiran Bendungan Wonorejo bisa menjadi kekuatan pelapis bagi obyek andalan Pantai Popoh,” katanya.

Dari data kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata di Tulungagung tergambar, angka kunjungan wisatawan ke waduk ini pada tahun 2001 menempati urutan ketiga, di bawah Pantai Indah Popoh dan Pantai Sine. Yang cukup menggembirakan, meski baru dibuka sebagai kawasan wisata pada tahun 2001, angka kunjungan selama setahun lalu sudah mencapai 5.340 orang, menembus tiga besar.

PEMBANGUNAN Waduk Wonorejo dimulai tahun 1992. Untuk keperluan pembangunan itu, sebanyak 995 keluarga telah dipindahkan dari tempat mereka bermukim. Tercatat pula tujuh orang tewas selama proses pembangunan.

Total dana yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 22,049 milyar, ditambah 18,71 milyar yen dana bantuan Pemerintah Jepang. Perusahaan Listrik Negara (PLN), usai pembuatan waduk tuntas, melengkapi dengan membangun jaringan listrik. Total biaya untuk instalasi listrik sebesar Rp 10,9 milyar, plus 577 juta yen dari Pemerintah Jepang.

Bendungan ini memiliki sejumlah fungsi penting. Antara lain, menyediakan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya sebanyak delapan meter kubik per detik, mengusahakan pembangkit tenaga listrik 6,02 megawatt, mengendalikan banjir bagi daerah seluas 1.479 hektar, dan mendukung irigasi pertanian untuk sawah seluas 1.200 hektar.

Manfaat lainnya adalah untuk masyarakat di sekitarnya. Seperti budidaya perikanan, kawasan sabuk hijau untuk tanaman keras produktif, serta pariwisata. Untuk perikanan, menurut Pimpinan Proyek Pengembangan Sungai Brantas Ir Sukistiono Dipl HE, Waduk Wonorejo dapat 200 ton ikan per tahun.

Berkaitan dengan dibukanya Waduk Wonorejo sebagai kawasan wisata, setiap pengunjung yang masuk ke kawasan waduk harus membayar Rp 2.000 per orang. Selepas melewati pintu masuk, pengunjung tinggal menempuh perjalanan sekitar satu kilometer untuk mencapai bendungan.

Sebagai primadona baru, tentu saja penampilan bendungan ini harus dipertahankan. Ini penting agar tak terjadi penyusutan jumlah pengunjung pada tahun-tahun mendatang, misalnya akibat perwajahannya yang sudah “tak seindah warna aslinya”.

Dalam tabel kunjungan wisata Tulungagung dari tahun ke tahun juga tercatat, jumlah wisatawan sejak tahun 1999 terus menurun. Dari 323.201 orang pada tahun 1999, turun menjadi 292.039 orang pada tahun 2000, dan anjlok lagi menjadi 270.535 orang pada tahun 2001.

Penurunan itu tergambar dari anjloknya jumlah wisatawan di obyek-obyek wisata tertentu, seperti di Goa Tritis (dari 1.084 di tahun 2000 menjadi 887 orang pada tahun 2001), Goa Pasir (dari 2.316 menjadi 2.253 orang), dan Can-di Ngampel (dari 541 orang menjadi hanya sembilan orang).

Pariwisata memang menyangkut soal bagaimana si pengelola kawasan wisata menyediakan kenyamanan kepada mereka yang datang sehingga pengunjung dapat betul-betul merasa rileks. Jika suasana rileks itu telah sirna, wajar pulalah jika makin sedikit wisatawan yang datang. (ADI PRINANTYO)

Sumber : Kompas

Add comment February 16th, 2007

Semalam di Pulau Sempu, Malang

Pagi buta, cuaca sedikit berkabut, puncak Arjuno tidak terlihat pagi ini. Saya dan Nefran mulai berkemas, untuk memulai perjalanan ke Pulau Sempu yang terletak di pantai Sendang Biru, kab. Malang. Sebuah mimpi lama, untuk menjelajah pulau Sempu..
Jam 06.00 pagi, kami berpamitan dengan orang tua dan mulai berjalan kaki dengan backpack di belakang, menuju pasar Lawang.  Setelah putar–putar di pasar Lawang belanja sedikit logistik untuk keperluan semalam di Sempu, kami melanjutkan perjalanan ke terminal Arjosari, Malang. Di dalam angkot  saya bersenda gurau dengan dua gadis cilik yang sedang berangkat ke sekolah, anaknya lucu–lucu dan hmm… Hmm   kembar nih, pikir saya. Ternyata dugaan saya benar.

Dari Arjosari Malang, perjalanan kami lanjutkan ke terminal Gadang, berharap ada angkot yang menurut informasi, ada yang langsung ke Sendang Biru.  Ternyata angkot tersebut tidak ada lagi, maklum sudah cukup siang kami sampai terminal. Angkot tersebut hanya ada pagi–pagi sekali. Perjalanan dengan bus elf ke Turen dibanderol Rp. 4000 / orang, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.  Menjelang siang kami tiba di Pasar Turen. Dari sini, hampir setiap saat ada angkutan desa yang berangkat ke Sendang Biru. Angkot akan berangkat bila sudah penuh.

Menjelang siang, angkot berangkat ke Sendang Biru.  Perjalanan mulai berliku dan pemandangan sepanjang jalur menuju Sendang Biru, lumayan indah dan mengelilingi beberapa pegunungan di selatan kabupaten Malang. Perjalanan menempuh hampir 3 jam, wah ternyata lumayan jauh.. Dan pantas juga kalau kami ditarik Rp. 7500 / orang.

Siang yang panas, pantai mulai terlihat.. Dan.. Wow! Ini tho, yang namanya pantai Sendang Biru. Sendang Biru sesuai namanya air lautnya sangat biru kadang berwarna kehijau–hijauan. Lumayan indah, dipantai banyak sekali kapal nelayan yang sandar ini. Dan kebetulan Sendang Biru adalah salah satu tempat pendaratan Ikan atau lebih di kenal dengan Pusat pelelangan Ikan Sendang Biru.  Kapal nelayan yang bersandar disini hampir sebagian besar adalah kapal nelayan Tuna, bandeng, dan tenggiri. Umumnya didominasi oleh nelayan asal Bugis atau terkadang asal Cilacap dan sebagian dari nelayan asal Banyuwangi. Saya menyempatkan sedikit waktu untuk datang ke pelelangan ikan, dan membeli sedikit ikan dan cumi  untuk di panggang di Pulau sempu.

Setelah puas mengambil beberapa photo, kami mengobrol dengan pak Oyik, nelayan yang akan mengantarkan kami untuk menyebrang ke pulau Sempu. Setelah negosiasi ongkos,  saya menanyakan dimana kantor PHKA  cagar alam Sempu.  Saya diantarkan oleh pak Oyik untuk melapor… tapi ternyata Petugas PHKA tidak ada ditempat. Dikantor nya hanya ada seorang volunteer yang membantu perijinan. Katanya disini pengunjung cukup mengisi buku tamu. Biayanya terserah kita. Menurut dia, petugas PHKA (polisi Kehutanan–red) sedang berurusan dengan pihak terkait, karena ada keterlibatan dengan kasus illegal logging di Hutan Cagar Alam Pulau sempu.

Setelah semua selesai. Perahu pak Oyik dengan mesinnya yang berkekuatan 1/2 PK berbahan bakar dsolar mulai di hidupkan, dan… Kami mulai di antar sampai ke pingiran pulau Sempu.  Hanya di butuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menyeberang dan kisaran tarif untuk antar jemput antara Rp. 40.000 – Rp. 70.000  tergantung pada jumlah orangnya.

Selamat datang di Sempu, begitu tertulis kawasan Cagar Alam Sempu. Dilarang menebang atau mencuri atau kena Hukuman penjara.  Peringatan ini biasa di jumpai hampir di semua kawasan Taman Nasional atau kawasan Hutan Cagar Alam di indonesia.

Perjalanan trekking untuk sampai di danau Segara Anakan, menurut pak Oyik membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sepanjang jalur trekking, Hutan Sempu lumayan bagus dan terjaga, pohon–pohon besar banyak di jumpai disini, juga sejumlah kawanan monyet dan berbagai jenis burung. Elang laut, burung rangkong, dan.. banyak lagi. Banyak sekali yang bisa di
eksplore di pulau ini. Jalur yang kami lewati berlubang, dan karena termasuk hutan tropis, jalur sepanjang trekking lumayan lembab, walaupun tidak dijumpai mata air di sepanjang jalur yang menurut saya kurang lebih sekitar 4–5 km.

Saya masih ingat pesan pak Oyik: patok no.21 belok kanan, untuk menuju ke lokasi yang kami inginkan. Tapi ternyata patok yang disebutkan tidak pernah kami jumpai. Yang saya perhatikan adalah ada danau di sebelah kanan.  Kalau kita ambil jalur kekiri kita akan menuju danau Lele, sebuah danau air tawar. Untuk menuju danau Lele masih dibutuhkan 4 jam trekking.

Mengitari pingiran danau Segara Anakan yang bening dan wow, indah sekali danau ini, akhirnya saya tiba juga di lokasi yang ada pantai nya. Laguna island nih! pantainya indah sekali dan tidak ada ombak disini, kecuali ketika ombak besar datang dan menembus lubang karang untuk mengisi danau ini dari pantai Selatan.

Di pantai ini, kami memutuskan untuk berkemah. Ternyata disana sudah ada teman lain yang sudah 2 malam di pulau Sempu ini, setelah berkenalan, tenyata ada yang namanya Aris juga! Sama deh…

Sore menjelang,  kami mulai menyalakan api, untuk membakar Ikan. Menjelang malam, kami tiduran di pantai ini sambil menikmati indahknya purnama, menatap bintang di langit dan berharap ada bintang yang jatuh malam ini sambil bercerita tentang banyak hal. Ternyata sampai jam 02.00 dini hari, disaat bulan mulai terbenam, hanya ada satu bintang jatuh.

Setiap kali saya menatap bintang di malam yang gelap, dalam hati suka bertanya dimana Tuhan, walaupun saya selalu ingat, kalau Tuhan selalu sangat dekat. Begitu juga setan, juga akan selalu sangat dekat!

Karena dingin, baru kali ini ada pantai yang dingin, kami masuk tenda dan hmm… ada Mp3 player, lumayan bisa membuat tidur menjadi lumayan pulas! Pagi–pagi sekali saya sudah terbangun dan mulai belajar berenang di danau Segara Anakan. Sekawanan monyet sibuk memperhatikan saya yang sedang berenang.

Jam 08.00 pagi, setelah berphoto bareng dengan teman–teman tenda sebelah. Kami berpisah untuk mulai meninggalkan Pulau sempu. Menurut saya, satu malah di pulau Sempu terasa kurang karena masih banyak tempat yang bisa di jelajahi.

Trekking lagi, kali ini lebih cepat dari waktu berangkat.  Pak Oyik dan perahunya sudah standby menunggu kedatangan kami. Dia ternyata sedang tidur pulas di perahu nya.

“Pak.. Pak…,  bangun. Kita sudah siap”. Ya, kami bersiap untuk memulai keliling pulau. Saya tidak bisa membayangkan ketika masih di tepian karang menatap laut lepas. Ombaknya besar sekali, dan kami harus lewat situ… Ah! Liat saja nanti, begitu pikir saya.

Jam 10.00 pagi, perahu mulai bergerak, awalnya masih nikmat, ombak tidak ada. Begitu mulai memasuki barat laut pulau Sempu, goyangan perahu cadik kami mulai membungkam hati.  Sementara ombak makin besar dan mungkin terkadang datang hampir 1,5 m.  Ini saya tandai dengan timbul dan tenggelamnya pulau karang kecil.  Pemandangan sepanjang keliling pulau sulit sekali untuk dilewatkan untuk tidak di potret.  Banyak sekali tebing–tebing tinggi, di bawahnya hantaman ombak pantai selatan tak pernah berhenti.

Setelah menempuh hampir 2 jam perjalanan yang menakjubkan, kami akhirnya sampai juga di pantai Sendang Biru.

Sepanjang jalan. Saya menyempatkan mengobrol dengan Pak Oyik yang ternyata satu–satunya pendaki Gunung yang berprofesi sebagai nelayan di Sendang B iru. Oleh karenanya, karena dia sangat suka dengan kegiatan alam bebas, kami diberi harga spesial, yaitu Rp. 60.000  untuk keliling pulau ini.

Sempu. Saya tak terlalu tahu persis, berapa luas pulau yang dihuni oleh banyak kawanan monyet dan burung ini. Di kantor PHKA, tidak ada keterangan tentang ini.  Berada di selatan – kab. Malang, berjarak sekitar 6 jam perjalanan dari Kota Malang, didalam saya berjanji untuk
kembali.

Menjelang Siang, kami mulai meninggalkan Pantai Sendang Biru. Karena angkot belum ada penumpang lain, kami harus memutar tempat pelelangan ikan sebanyak 3 kali. Disana ada ikan pari yang lumayan besar. Sampai saya bilang ke Nef, bagaimana kalau angkot balik lagi ke Pelelangan, apa kita beli aja itu ikan pari!?

Untung akhirnya, angkot penuh juga! Perjalanan akan lanjut ke Taman Nasional Meru Betiri. Ceritanya menyusul, ok?

Sumber : Kompas

Add comment February 16th, 2007

Explore the the natural phenomena of Mount Bromo

We will walking up the peak of Pananjakan to enjoy the natural beauties such as the spectacular sunrise over Mount Bromo. We leave the hotel in the very early morning and arriving at the crater rim in the dark and looking down at the luminous glow of the sulphur, then sitting on the narrow ledge watching the sun come up is a classic experience, but this area also has a lot more to offer: Enjoy The world’s best mountain scenery, explore the spectacular Sea of Sand on a horseback or by foot, that fills the caldera of Tengger mountains.

We will meet the local Tengger people, wrapped in cloaks riding around on their high stepping ponies. This area is holy to the local Tenggerese who are the only remaining Hindus in Java and thought to be the remnants of the once powerful Majapahit empire. The dawn pilgrimage to the summit is an ancient tradition.

For the really keen walkers of a challenging mountain trek, we can take you to attempt the peak of Mount Semeru at 3,676 m above sea level, an active volcano which is the highest in Java. During the trekking, we pass over the beautiful high altitude volcanic lakes, tropical rain forest, the grass land and the sub-alpine forest.
Source : www.acrossindonesia.com

Add comment February 15th, 2007

Menikmati Eksotika Panorama Malang


Tak cuma kebun apel, banyak hal bisa dinikmati di kota ini. Mulai dari wisata budaya sampai wana wisata. Punya rencana untuk jalan-jalan bersama keluarga saat Lebaran nanti? Cobalah pilih Malang sebagai tujuan wisata Anda kali ini. Tahukah Anda, sejak masa kolonial, Malang dikenal sebagai tujuan wisata dan tempat peristirahatan bagi orang-orang Belanda. Iklim tropis pegunungan yang sejuk serta panorama alamnya yang menawan menjadikan kota ini mendapat julukan, Paris Van East Java dan Switzerland of Indonesia. Julukan yang sangat indah, bukan?

Kota Malang juga merupakan pusat pertemuan beragam etnik, agama, kepercayaan, dan budaya yaitu Jawa Tengahan, Jawa Kulonan, Jawa Wetanan (Blambangan), Pesisi Lor dan Kidul, Madura, Osing (Jawa - Bali) dan Mandalungun (Madura - Jawa) sehingga memiliki keunikan serta daya tarik tersendiri.

Anda yang tinggal di Jakarta, bisa menjangkau kota ini lewat jalur darat dan udara. Bila menggunakan jasa trasportasi udara, Anda dapat menggunakan layanan maskapai penerbangan dengan rute Jakarta-Surabaya. Dari Surabaya, Anda dapat meneruskan perjalanan melalui transportasi darat. Bila dikehendaki, Anda bisa juga menggunakan jasa salah satu agen wisata di Surabaya untuk mempermudah perjalanan wisata ke kota ini.

Begitu menjejakkan di kota Malang, Anda akan segera merasakan aroma kolonial. Maklum, sejumlah bangunan asli peninggalan Belanda masih berdiri kokoh dan tampak sangat terawat di sini. Sebut saja misalnya, gedung Balai Kota yang berada di Jalan Tugu. Selain itu, ada juga hotel dan restoran dengan bangunan berarsitektur khas Eropa. Semua itu tentu saja memperkental nuansa kolonial itu.

Puas menikmati suasana kota Malang, segera lanjutkan acara jalan-jalan Anda ke wilayah-wilayah di sekitar kota ini. Untuk Anda ketahui, Malang yang terbagi menjadi tiga daerah otonom — yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu yang kini disebut Malang Raya — terdapat sekitar 66 objek wisata. Sungguh, bukan jumlah yang sedikit.

Kini, mulailah menjelajahi Kota Batu. Wilayah yang secara resmi menjadi daerah tingkat II sejak 17 Oktober 2001 ini menawarkan obyek wisata yang sangat beragam. Ada pemandian air panas Cangar, air terjun Coban Talun, gua Coban Jepang, Coban Talon, pemandian Selecta, serta wisata Bukit Apel.

Di antara tempat-tempat wisata di Batu, pemandian Selecta adalah salah satunya yang cukup diminati. Sembari menikmati hawa sejuk khas pegunungan, Anda bisa menikmati berbagai fasilitas di taman wisata ini seperti kolam renang, restoran, taman bermain anak-anak, juga panorama taman yang sangat asri.

Wana wisata
Kini, cobalah suasana yang lain. Bagaimana jika Anda mengunjungi salah satu objek wana wisata di Kabupaten Malang, yakni air terjun Coban Rondo. Terletak 12 km dari Kota Batu, Coban Rondo adalah air terjun yang memiliki ketinggian 60 m. Dibanding obyek wana wisata lainnya, Coban Rondo terhitung paling mudah dijangkau. Jalan masuk menuju lokasi sudah beraspal, sehingga sangat memudahkan wisatawan apabila ingin mengunjungi tempat ini.

Air terjun Coban Rondo menyimpan legenda unik. Konon, di bawah air terjun terdapat gua tempat tinggal seorang wanita bernama Dewi Anjarwati. Alkisah, seorang pemuda bernama Joko Lelono tertarik akan kecantikan Dewi Anjarwati dan hendak menculiknya. Lalu terjadilah pertempuran antara Joko Lelono dengan suami Anjarwati yakni Raden Baron Kusuma. Raden Baron tewas dalam pertempuran itu dan istrinya disembunyikan di gua oleh para punokawan-nya. Karena itulah tempat ini diberi nama Coban Rondo, yang artinya air terjun janda.

Selain deburan air terjun, di Coban Rondo terhampar pula kemolekan alam, hijaunya pepohonan, serta aneka satwa. Agar puas menikmati tempat ini, tak ada salahnya Anda meluangkan waktu barang satu hari untuk menginap. Tak perlu repot pasang tenda, Anda bisa kok mencari penginapan di daerah wisata Songgoriti yang berjarak sekitar 5-8 km dari lokasi Coban Rondo. Satu saran untuk Anda, jangan lupa untuk membawa jaket atau sweater bila hendak mengunjungi Coban Rondo. Ini karena Coban Rondo terletak di kawasan yang memiliki iklim sejuk. Bawa juga baju ganti untuk berjaga-jaga apabila baju Anda basah.

Melancong ke Malang, belum lengkap bila tak mengunjungi objek wisata budaya. Di wilayah Malang, bertebaran sejumlah candi. Candi Singosari, salah satunya. Candi ini terletak sekitar 12 km dari pusat kota Malang ke arah utara, tepatnya di Desa Singosari. Sejarah mencatat, candi ini didirikan pada tahun 1304 dan merupakan bagunan terakhir yang didirikan dinasti Singosari. Sayang, pembangunan candi itu sepertinya belum sempat selesai. Meski demikian, berwisata ke Candi Singosari dapat menambah pengalaman dalam melakukan wisata budaya.

Candi lain yang terdapat di Malang adalah Candi Sumberawan. Candi yang terletak di kaki Gunung Arjuna itu dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 5 km ke arah barat laut kota Malang.

Sumber : www.republika.co.id

Add comment February 14th, 2007

Pesiar sambil Belajar di Jatim Park Kota Batu


Jawa Timur (Jatim) Park yang berlokasi di Jl. Kartika nomor 2 Batu ini menawarkan wahana rekreasi hiburan baru untuk segala usia.Mulai anak-anak, remaja hingga kakek nenek. Memang, obyek wisata ini dipersiapkan sebagai tempat wisata keluarga di Jawa Timur. Untuk menuju ke lokasi Jatim Park tidak terlalu sulit. Sebab, obyek itu hanya 2,5 kilo meter dari pusat Kota Batu. Didalam obyek wisata yang luasnya sekitar 22 hektare dengan ketinggian 850 meter diatas permukaan laut ini, menyimpan beraneka ragam pengetahuan, hiburan sebagai sarana bermain.

Jawa Timur (Jatim) Park yang berlokasi di Jl. Kartika nomor 2 Batu ini menawarkan wahana rekreasi hiburan baru untuk segala usia.Mulai anak-anak, remaja hingga kakek nenek. Memang, obyek wisata ini dipersiapkan sebagai tempat wisata keluarga di Jawa Timur. Untuk menuju ke lokasi Jatim Park tidak terlalu sulit. Sebab, obyek itu hanya 2,5 kilo meter dari pusat Kota Batu. Didalam obyek wisata yang luasnya sekitar 22 hektare dengan ketinggian 850 meter diatas permukaan laut ini, menyimpan beraneka ragam pengetahuan, hiburan sebagai sarana bermain.

Jawa Timur Park boleh dikata obyek wisata paling beda di Jatim, karena selain menawarkan kepada wisatawan untul berekreasi juga sekaligus untuk kegiatan belajar. Karena kita akan mendapat pengetahuan baru selain hiburan. Hal ini bisa dilihat dari berbagai fasilitas yang disediakan Jawa Timur Park, terdapat sedikitnya ada 36 macam fasilitas yang bisa dinikmati pengunjung. Sebelum menikmati seluruh sarana hiburan, pada saat awal masuk lokasi akan diberi sajian berupa Galeri Nusantara. Setelah itu masuk ke Taman Sejarah yang berisi miniatur candi-candi miniatur di Jawa Timur seperti Candi Sumberawan(Singosari-Kabupaten Malang), rumah adat Kiai Hasan Besari Ponorogo dan Stupa Sumberawan.

Fasilitas lain yang bisa dinikmati adalah Taman Agro yang menyajikan tanaman dan buah-buahan langka, Animal Diorama, berisi binatang-binatang unik yang sudah diawetkan, sarana bermain seperti boling, lempar bola, disko skuter, food centre Ken Dedes dan Ken Arok. Dan masih banyak lagip

Di Jatim Park, terdapat 36 wahana yang merupakan `simulasi’ tur keliling Jawa Timur. Tiket masuknya berkisar antara Rp. 10.000,- hingga Rp. 15.000, per orang. Ada dua hotel yang dikelola oleh tempat ini, yaitu Klub Bunga dan Pondok Jatim Park. Pondok Jatim Park sendiri menawarkan tiga tipe kamar dan disediakan khusus untuk wisatawan yang berkunjung ke Jatim Park, dengan harga mulai Rp. 40.000,- hingga Rp. 450.000,per malam.

Sumber : http://wong-mbatu.or.id/

Add comment February 14th, 2007

Menikmati Keindahan Alam Pegunungan di Jawa Timur

Bumi perkemahan Coban Talun, Batu, Jawa Timur. Sebuah kawasan wana wisata di lereng barat gunung Arjuna - Welirang dengan paduan panorama alam pegunungan dan pemandangan kota Batu serta air terjun yang menawan. Coban Talun dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi lebih kurang 30 menit dari kota Malang ke arah kota Batu. Dari alun-alun kota Batu kita bisa mengambil arah Selecta - Cangar. Atau jika kita dari Surabaya dapat langsung mengambil jalur Cangar melalui Trawas. Disarankan untuk tidak melalui jalur ini pada malam hari karena tidak terdapat lampu penerangan jalan serta kondisi jalan yang berliku-liku dengan turunan curam.

 
Kawasan wana wisata Coban Talun dikelola oleh pemerintah kota Batu dan telah disediakan berbagai fasilitas umum yang berhubungan dengan kegiatan alam. Kamar mandi, WC, air bersih, persewaan tenda, kayu bakar, lampu minyak, generator, dan perlengkapan lain. Di wana wisata ini juga banyak terdapat warung makan yang berjejer rapi di pintu masuk bumi perkemahan, warung cinderamata dan oleh-oleh, tanaman hias, tanaman buah khas Batu seperti apel dan stroberi, serta sayuran. Coban Talun (Coban = Air terjun) sendiri dikelilingi oleh areal perkebunan apel rakyat dan merupakan sentra penghasil apel di kota Batu. Sedangkan lokasi perkemahan berada di sebuah tanah lapang di tengah hutan pinus. Lokasi ini sering digunakan untuk perkemahan, diklat, outware bound, baik oleh instansi pemerintahan, swasta, universitas, sekolah, maupun masyarakat umum.Jika kita memandang lepas ke arah timur akan tampak puncak gunung Arjuna dan Welirang yang selalu mengeluarkan asap solfatara. Sementara di sisi barat terbentang lembah, dimana terdapat sebuah sungai yang sangat jernih dan dingin. Sungai inilah yang menjadi sumber dari air terjun Coban Talun. Sementara jika kita memandang ke arah selatan pada malam hari tampak kerlap kerlip kota Batu yang sangat menawan. Dari puncak punggungan bukit kita dapat menikmati hamparan kebun apel dengan buahnya yang siap untuk dipetik. Excited!

Sesuai dengan tema acara, peserta yang sebagian besar berasal dari perwakilan komunitas weblog Yogyakarta, Surabaya, dan Malang harus menggunakan tenda dan matras sebagai alas tidur. Panitia telah menyediakan beberapa tenda dome dan satu tenda kompi selama kegiatan berlangsung. Adapun peserta dan panitia yang berpartisipasi dalam acara ini diantaranya Ableh, Koebiz, Doneeh, Killy, Lala, Dino, Thomas (mewakili komunitas Angkringan), Ameck, Dibbie, Uyet, Idon (kriwul), Alarix, Balung, Mirza, Funs (mewakili komunitas Cangkrukan selaku penyelenggara), Dian dan Patri (mewakili komunitas BlogMal), serta Agnis (mewakili komunitas sipil).

Di hari pertama peserta dijamu makan malam bersama panitia pada acara welcome party. Api unggun dinyalakan semalam suntuk untuk mengusir hawa dingin. Selain itu bara dari api unggun dimanfaatkan untuk membakar ubi merah khas Batu. Rasanya cukup manis dan legit. Ditambah aroma gula yang keluar dari ubi terbakar sehingga menambah cita rasa tersendiri.

Acara sarasehan dan tukar pengalaman diadakan pada hari kedua. Dalam acara ini baik peserta maupun panitia membaur saling berbagi pengalaman dan ilmu baik yang berhubungan dengan weblog, internet, atau hal-hal lain yang sifatnya produktif. Umpan pak Idon dari Cangkrukan untuk mengembangkan simbiosis antar komunitas disambut positif oleh Doneeh dari Angkringan. Dimana nantinya dari beberapa komunitas dapat berkolaborasi untuk saling mendukung dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat baik untuk komunitas itu sendiri maupun untuk para anggota-anggotanya.

Pada hari ketiga hanya beberapa peserta yang tersisa. Dian dan Patri terpaksa kembali ke Malang karena tak kuasa menahan dinginnya udara di sana. Selain itu, Doneeh, Killy, Lala, Thomas, dan Dino juga harus meninggalkan perkemahan pada hari kedua. Praktis peserta yang tersisa hanya Koebiz dan Ableh, selebihnya adalah panitia merangkap peserta. Acara pada hari terakhir ini adalah jungle track menyusuri jalan setapak di sepanjang lembah untuk menuju air terjun. Perjalanan menuju ke sana sangat menyenangkan. Menyusuri jalan setapak, menyeruak di rimbunan semak, menyeberangi sungai, melintasi punggungan bukit, sampai menuruni lembah yang cukup curam. Pemandangan dari punggungan bukit cukup mempesona. Terlebih saat kita sampai di dasar air terjun, dimana air menghempas batu-batu besar dan menimbulkan butiran-butiran kecil air menyerupai kabut. Menyegarkan. Tak terasakan lelahnya perjalanan menuju ke sana. Pun pada saat kita menyentuh airnya. Jernih dan dingin. Sangat disayangkan, keindahan itu harus dicemari oleh limbah dan sampah. Banyak sekali plastik kemasan makanan, botol air mineral, dan kaleng minuman yang berserakan di sepanjang sungai dan kawasan air terjun meskipun telah disediakan tempat pembuangan sampah.

Intermezo!

Obyek-obyek yang dapat kita kunjungi di seputar Malang. Dari arah Surabaya, sebelum memasuki kota Pandaan, kita bisa singgah ke Taman Safari II. Selain itu, masih ada wisata pegunungan di daerah Trawas. Dan jika mengambil jalur Trawas, kita bisa langsung menuju Cangar - Selecta - Batu, namun jika mengambil jalur Pandaan - Malang maka kita bisa mampir sejenak ke situs purbakala di wilayah Singosari. Sepanjang perjalanan menuju kota Batu, masih banyak obyek yang bisa ditemui. Jika punya banyak waktu, kita bisa mampir di kota Malang. Lalu taman Sengkaling, wisata agro petik apel dan stroberi, Selecta, pemandian air panas Cangar, dan Coban Talun selain wilayah Batu sendiri cukup menawan untuk dinikmati. Apabila kita keluar dari Batu melalui Kediri, kita dapat melihat memandang lepas ke arah kota Malang dan Batu dengan leluasa serta belantara hutan punus sepanjang perjalanan. Tak ketinggalan obyek wisata Coban Rondo menanti untuk dijelajahi.

Selain obyek wisata, penikmat wisata kuliner-pun seakan dimanjakan oleh makanan-makanan khas di tiap-tiap daerah yang dilalui. KUD kota Batu menyediakan berbagai macam olahan susu, madu, aneka olahan apel dan stoberi, aneka keripik buah dan kentang. Sepanjang jalan menuju Batu penjaja buah terutama apel Batu, Manalagi dan apel Ana memajang dagangannya menggunakan keranjang nylon. Selain itu, Bakpao Telo yang mempunyai beragam menu berbahan dasar telo (ubi jalar) tentunya menjadi satu pengalaman menarik. Mulai dari bakpao, pizza, cone untuk es krim, aneka kue dan roti, keripik, semua berbahan dasar ubi jalar.

Akhirnya perjalananpun harus berakhir. Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Perpisahan adalah awal dari pertemuan berikutnya. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari alam, termasuk di dalamnya tingkah laku dan kepedulian kita terhadap sesama dan alam. Sampai jumpa pada gathering berikutnya, blog to nature. Dan bus PATAS itu akhirnya membawa Koebiz dan Ableh kembali ke peradaban.

Sumber : http://angkringan.or.id

Add comment February 13th, 2007

Antara Agrowisata dan Agroindustri

Malang dan Batu andalan pariwisata di Jawa Timur. Rombongan murid-murid sekolah dari berbagai penjuru di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan menggunakan bus besar muncul silih berganti. Juga dari beberapa daerah lain, seperti Jawa Barat dan Jakarta. Jalanan menjadi sesak dan sering meningkat menjadi kemacetan.

Jika Anda datang dari arah Surabaya, mulai Kebun Raya Purwodadi sampai masuk kota Lawang kendaraan biasanya sudah merambat. Apalagi di Singosari, yang terus berlangsung sampai tujuan wisata di Malang atau Batu. Demikian pula mereka yang datang dari arah selatan (Kepanjen), mulai dekat Pabrik Gula Kebonagung kendaraan sudah merayap. Terlebih jika truk pengangkut tebu pun hilir mudik.

 

Rombongan pelancong sebagian besar menuju obyek wisata alam, seperti Selecta dan permandian air panas Songgoriti. Obyek baru yang cukup menarik adalah Jatim Park dan Taman Rekreasi Sengkaling. Permandian Wendit, peninggalan Kerajaan Singosari, dan beberapa keindahan alam lain kurang peminat. Padahal, air terjun Coban Rondo, sumber air panas Cangar, Coban Talun, dan arboretum Sumber Brantas tidak kalah menariknya. Tetapi beberapa obyek ini memang sulit didatangi rombongan dengan kendaraan besar.

Fakta di atas memberikan isyarat bahwa akses menuju Malang dan Batu sudah kurang memadai. Jika ingin lewat Mojokerto, Jombang, atau Kediri, kondisi jalannya juga kurang menguntungkan untuk kendaraan besar. Kendaraan kecil pun banyak yang enggan, kecuali mereka yang suka berpetualang.

Agrowisata

Obyek wisata baru yang sedang berkembang adalah agrowisata dan agroindustri. Rintisan yang cukup sukses dilakukan Kusuma Agrowisata (KA) tahun 1989 dengan empat hektar kebun apel. Dalam tahun 2005 pengelola memperluas arealnya menjadi 35,5 hektar lengkap dengan bangunan hotel, sarana olahraga, serta agroindustri. Kita berwisata sambil berolahraga, mengenali jenis-jenis tanaman, serta menikmati buahnya atau menikmati beberapa jenis produk buah yang diolah menjadi beragam minuman dan makanan.

Sebutlah produk langsung KA berupa buah apel, jeruk, stroberi, kopi, sayuran hidroponik, serta berbagai macam tanaman hias. Agroindustri yang dikelolanya memiliki produk primadona berupa sari apel. Disusul jenang, selai, wingko, brem, serta tuak yang semuanya berbahan baku apel segar.

Sari apel yang mulai diproduksi tahun 2000 dengan skala home industry mendapat sambutan yang sangat baik dari konsumen.

Terobosan

Agrowisata dan agroindustri baru beberapa tahun terakhir ini dilirik pengusaha bidang pariwisata.

Pengembangan pariwisata jenis ini merupakan alternatif yang bisa dijadikan terobosan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Batu yang dikenal kaya akan hortikulturanya.

Pariwisata agro ini sekaligus bisa menambah dan menyemarakkan obyek-obyek wisata yang telah ada. Apalagi beberapa obyek wisata alam yang dulu indah kini sebagian mulai buram, baik karena salah urus atau akibat lingkungan yang kualitasnya cenderung terus merosot.

Batu sangat potensial untuk pengembangan agrowisata maupun agroindustri. Di negara maju keduanya mulai dikembangkan lewat komoditas hortikultura.

Apel merupakan buah unggulan Batu karena daerahnya tinggi kering sehingga cocok dengan agroklimat tanaman ini. Dibandingkan dengan daerah asalnya yang beriklim sedang, dengan teknik budidaya, apel di Batu bisa dipanen sepanjang tahun. Di daerah asalnya hanya panen sekali setahun karena saat musim dingin, apel di sana dormant (tidur, tidak berbuah). Daerah Poncokusumo dan Nongkojajar juga cocok untuk tanaman apel.

Memang banyak kendala untuk mengelola agribisnis, termasuk agrowisata dan agroindustri. Kendala itu terutama adalah masalah modal, pemasaran, perizinan, sumber daya manusia, dan kurangnya koordinasi antarinstansi pemerintah. Akibatnya, kita terus kalah cepat dengan negara lain, seperti Thailand, Taiwan, Singapura, atau Belanda.

Dia menyayangkan bahwa Kota Batu kurang gesit menangani keunggulan daerahnya. Padahal, beberapa pejabat teras Pemerintah Kota Batu sudah melakukan studi banding ke beberapa negara yang dikenal maju agrowisata dan agroindustrinya.

Masa depan Batu memang pada agrowisata dan agroindustri. Untuk itu tanah dan lingkungan harus diperbaiki. Sudah sekitar setengah abad tanah di sini digerojok pupuk kimia dan pestisida dalam meningkatkan produk pertanian. Rupanya bukan hanya tanah yang terus dimanfaatkan untuk mengais rezeki. Beberapa obyek wisata kurang terawat dan fasilitasnya pun minim. Jalanan menuju arboretum Sumber Brantas terus ke sumber air panas Cangar, misalnya, dalam bulan Juni 2005 di beberapa lokasi mengalami kerusakan berat. Bahkan batu-batu fondasinya ada yang sudah berantakan.

Beberapa obyek wisata yang dikelola Perum Perhutani rupanya juga lepas koordinasi dengan pemerintah daerah (Kota Batu/ Kabupaten Malang).

Penggundulan hutan yang masih terus berjalan di lereng Arjuno sudah banyak merusak lingkungan sekitar sumber Kali Brantas. Demikian juga pemanfaatan lahan yang banyak ”kacau” untuk tanaman sayur-mayur atau lainnya. Malahan pernah diributkan hadirnya perusahaan jamur di daerah Cangar.

Tiga tahun lalu Wali Kota Batu pernah melontarkan rencana untuk menjadikan kebun apel petani Bumiaji menjadi obyek agrowisata. Namun, sampai saat ini realisasinya nyaris tak kelihatan. ”Wisata bunga” di daerah Punten juga tak pernah ditata serius.

Ini lebih tergantung pada selera para pedagang yang sudah ada. Demikian pula yang terjadi pada para peternak ikan koi di daerah itu.

Malang Raya (Kota dan Kabupaten Malang ditambah Kota Batu) memiliki berbagai keindahan alam yang luar biasa. Namun, keindahan itu sebagian justru semakin suram karena kurang baik pengelolaannya. Kusuma Agrowisata dan Taman Rekreasi Sengkaling yang dikelola pihak swasta memberikan contoh dalam mengelola obyek wisata secara profesional. Mungkinkah obyek-obyek lain akan muncul dan yang suram bersinar kembali?

Sumber : Kompas

Add comment February 13th, 2007

Menjaga Kelangsungan Reog Ponorogo

MENGHIDUPI unsur-unsur yang terdapat dalam budaya reog ponorogo sebenarnya telah dilakukan oleh para warok itu sendiri. Mereka merupakan figur yang menjadi panutan masyarakat karena mencerminkan nilai-nilai luhur kehidupan manusia. Kepada generasi muda mereka menanamkan prinsip-prinsip yang senantiasa mereka pegang teguh.

“Saya tidak suka kalau para seniman itu eker-ekeran, saling berebutan. Saya bersedia berkorban apa pun untuk mendukung kegiatan mereka. Tetapi, satu pesan saya semua harus rukun,” ujar Mbah Wo Kucing arif. Ia berencana mendirikan sebuah padepokan bagi seniman-seniman muda sebagai pusat berproses mereka.

 

Mbah Wo bercerita, ia sudah menyediakan batu, batu bata, pasir, semen, dan segala hal yang diperlukan untuk pembangunan padepokan tersebut. Ia dengan suka hati mengeluarkan uangnya untuk membangun kesenian reog. “Selama saya masih bisa bergerak, saya masih bisa mencari uang,” tuturnya mantap.

“Saya ini sudah tua, nantinya pasti mati. Makanya, selagi masih bisa berbuat sesuatu untuk kesenian, saya akan melakukannya,” lanjut Mbah Wo. Kalau saja para seniman muda mempunyai tekad dan komitmen seperti Mbah Wo, kesenian tradisional bisa diharapkan tetap akan lestari.

Memang, ketika zaman semakin berkembang tuntutan terhadap kesenian tradisi juga semakin berkembang. Seperti diungkapkan penari dan penata tari Arif Rofiq bahwa kebutuhan pasar atau konsumen akan menentukan kelangsungan hidup sebuah kesenian tradisional yang berakar dari sebuah ritual.

“Jika tuntutan itu tidak terpenuhi, akan sulit bagi kesenian tradisional seperti reog ponorogo untuk survive,” ujar Arif.

Kebutuhan tersebut, salah satunya, dijawab oleh generasi muda yang “makan sekolahan” (terdidik) melalui sentuhan-sentuhan yang mereka peroleh dari bangku kuliah. Sekolah-sekolah seni yang bertebaran di Jawa Timur agaknya mempunyai kepedulian untuk mengolah kembali bahan baku kesenian tradisional untuk disajikan dalam kemasan yang patut disantap oleh kalangan lebih luas.

“Orang tidak bisa dipaksa untuk menonton kesenian tradisional yang kemasannya masih kuno. Kondisi masyarakat sudah berubah, sehingga kesenian tradisional perlu kemasan baru,” ujar staf pengajar Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, Djauhari Chandra Astuti. Ia sekaligus koordinator penyelenggaraan kelas jarak jauh (filial) di Ponorogo dari pihak STKW, yang digelar dalam rangka memberikan sentuhan baru tersebut.

Kurikulum pengajaran di kelas filial tersebut diajarkan beberapa pengetahuan tentang kesenian secara umum, manajemen pertunjukan yang diperlukan reog ponorogo, serta teknik-teknik garapan tari. Diharapkan, sentuhan akademis itu bisa menawarkan keragaman bentuk dan “warna” reog ponorogo sehingga menjadikan tontonan reog yang lebih menggairahkan.
 
Sumber : Kompas

Add comment February 13th, 2007

Wanawisata Tanjung Papuma

Tanjung Papuma, bagi kalangan pelancong lokal, tak ubahnya sebuah ’surga’. Selain menyuguhkan berbagai panorama yang menyejukkan hati, daratan kecil yang menjorok ke laut di pantai utara Jawa Timur ini juga menyimpan beragam flora dan fauna khas tropis. Siapa pun yang sempat mengunjungi pantai landai berpasir putih ini tak pernah bosan menikmatinya. Kondisi geografisnya yang stabil, bahkan telah menjadikan keelokan kawasan wisata dapat dinikmati dalam cuaca apa pun, baik di musim kemarau maupun ketika musim penghujan tiba.

Kawasan wisata hutan dan pantai yang memiliki luas sekitar 50 hektare itu terletak di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan, Kabupaten Jember. Nama Papuma sendiri terbentuk sebagai akronim dari Pasir Putih Malikan. Kata ”tanjung” ditambahkan di depannya, untuk menggambarkan posisi pantai yang menjorok ke laut arah barat daya dari wilayah itu. Selain pantainya, hutan yang terleak di sisi lainnya juga jadi daya tarik obyek wisata ini.

Bila tak sedang murka, ombak Tanjung Papuma terasa cukup tenang. Permukaan laut yang berwarna hijau kebiru-biruan selalu mengundang setiap pengunjung untuk berenang atau sekadar menyentuhkan kaki di riak ombak yang bergulir ke pantai. Saat itu pula setiap wisatawan digoda untuk melayarinya. Lebih dari itu semua, pasir putihnya yang sangat halus dan tak pernah meninggalkan rasa gatal di kulit juga menjaadi magnet mampu menyedot wisatawan lokal untuk menyukai Tanjung Papuma.

Memang, hati kita akan semakin puas menikmati Tanjung Papuma, bila kita melayari teluk dengan perahu-perahu nelayan. Utamanya, ketika sang ombak sedang bersahabat, kita juga dapat mendekati beberapa atol (pulau karang, Red) yang terletak sekitar dua mil dari pantai ke tengah teluk. Dari kejauhan pulau-pulau tanpa penghuni itu tampak menyerupai seekor katak raksasa. Namun bila kita hampiri, ia adalah sebuah ciptaan yang sangat menakjubkan.

Keasrian panorama atol-atol di sekitar Papuma akan semakin elok bila dipandang dari Sitihinggil, sebuah menara di atas bukit di ujung barat Tanjung Papuma. Menara itu sengaja dibuat oleh Perhutani sebagai tempat pelancong menatap seluruh panorama di kawasan Papuma, sekaligus untuk tempat pemantuan keamanan satwa-satwa yang ada di kawasan itu. Dari sana pula setiap pengunjung bisa menikmati pemandangan gugusan pulau-pulau karang kecil. Pulau-pulau karang itu, semuanya memiliki sebutan sendiri. Masing-masing sebutan menggunakan nama-nama dewa dalam dunia pewayangan: Batara Guru, Kresna, dan Narada.

Bila pandangan kita palingkan ke arah barat, maka dari Sitihinggil ini kita bisa menikmati sebuah pulau besar yang bertengger di kejauhann tengah tanjung. Oleh warga Jember, pulau ini dikenal sebagai Nusa Barong. Dari Papuma, pulau tanpa penghuni itu berjarak sekitar 50 mil laut dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan perahu.

Berwisata di Papuma terasa tak lengkap bila kita tak mengenyam kehidupan nelayan setempat di saat senja tiba. Beberapa jam menjelang matahari terbenam, puluhan nelayan asal dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, selalu tampak menepikan perahu dan jaringnya. Hasil tangkapan mereka berupa ikan krapu, putihan, kakap, tongkol, maupun tuna, dapat langsung dibeli dan dibakar di atas perapian alam dari ranting-ranting kayu kering di tepi pantai.

Pantai di Tanjung Papuma memang berpanorama fantastis. Pantai yang baru dirambah oleh Perhutani disebut dengan nama Malikan. Wajah Malikan bukanlah hamparan pasir hitam atau putih, tapi lebih berupa karang-karang pipih yang mirip kerang raksasa berjajar di sepanjang bentangan pantai yang menghadap ke barat.

Karang-karang kecil berwarna-warni mudah ditemui di sini. Ini merupakan pecahan-pecahan terumbu karang yang terbawa ombak. Bila mujur, kita juga bisa menemukan lobster di sela-sela bebatuan pipih di pantai Malikan. Apalagi bila air laut sedang surut. Udang-udang yang oleh nelayan setempat disebut sebagai urang barong itu memang selalu terdampar saat ombak surut.

Pantai Malikan merupakan tujuan akhir pengunjung kawasan Tanjung Papuma. Pantai sepanjang satu kilometer ini disukai karena hawanya yang sejuk. Seluruh pantai ‘dipagari’ pepohonan seperti pandan laut, palem hutan, serut, dan beragam jenis pohon lainnya — sebuah kawasan hutan Gunung Watangan dengan berbagai satwanya yang dilindungi.

Di antara satwa yang bisa dinikmati adalah burung cicak hijau, yang mudah sekali didengar kicaunya di pagi hari. Saat suasana kawasan wisata itu tak gaduh, kita juga bisa menyaksikan sekelompok lutung (kera hitam) keluar dari persembunyiannya. Mereka bergelayut di pohon-pohon, saling rebut ranting bersama puluhan tupai yang melompat-lompat dengan lincahnya.

Ular besar seperti sanca dan phyton pun sesekali terlihat berkelebat memasuki semak-semak. Ular-ular berbisa kecil — jenis kobra hitam, ular pohon, dan jenis lainnya — tak terhitung jumlahnya. Sesekali mereka keluar sarang. Bila mujur, menurut penanggung jawab kawasan itu, Sutoyo, ular seukuran pohon kelapa pun bisa ditemui di antara pepohonan di kawasan Wanawisata Tanjung Papuma. Selain itu, kijang pun masih tersisa di Papuma. Kijang dan beberapa satwa dilindungi ini, berasal dari Gunung Watangan. Mereka kadang-kadang turun mencari air di saat matahari mulai terbenam. (republika.co.id)

1 comment February 12th, 2007

Next Posts Previous Posts


Calendar

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Posts by Month

Posts by Category