Kebun Teh Kertowono: Gerbang Timur Semeru-Bromo

February 28th, 2007

Berjalan kaki menyusuri kebun teh di bawah suhu sekitar 16 derajat Celsius menjadi keasyikan tersendiri. Berwisata alam ke Gunung Bromo atau Semeru, di sisi selatannya, belum lengkap bila tidak mencoba jalur pendakian alam di sekitar dua gunung terkenal di Jawa Timur itu. Kita akan melihat keelokan alam serta habitat tanaman dua gunung itu yang tidak pernah dijumpai sebelumnya.

Wisatawan, baik lokal maupun manca negara, umumnya menjamah dua gunung itu melalui jalan raya Desa Ngadisari, Kecamatan Sukopuro, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Atau melalui Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, sisi barat gunung Bromo. Bila menuju Gunung Semeru melalui jalur itu, cukup menyeberangi lautan pasir menuju desa Ngadas Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, lalu naik ke kaki hingga puncak Arcopodo Semeru. Rute pendakian lain ke Semeru melalui Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

”Pendakian jalur ini sudah umum meski rada berbahaya. Di sana hanya hutan belantara lalu Ranu Pane,” kata Ahmad Mulyono dan Edy Wicaksono, dua aktivis pecinta alam di Jember, Jawa Timur.

Salah satu rute pendakian yang praktis jarang disentuh para pewisata alam adalah melalui perkebunan Teh Kertowono milik PTPN XII. Lokasi ini tepat berada di timur Gunung Bromo dan Semeru, atau tepatnya di Kecamatan Guci Alit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Sepanjang sekitar 50 kilometer dari kantor PTPN XII Kebun Kertowono menuju Tengger, pendakian bisa dilakukan melalui tiga wilayah bagian kebun itu (afdeling) yakni Puring, Kamar Tengah, dan Kertosuko.
Di atas ketinggian 650 hingga 1.250 meter dari permukaan laut (dpl) kita bisa melihat hamparan pepohonan teh (Camellia Sinensis) seluas 931,82 hektare.

Muji Santoso, administratur kebun itu, kepada Republika di Lumajang beberapa pekan lalu menjelaskan, teh tersebut berjenis teh hitam yang ditanam sejak tahun 1910 oleh NV Ticderman Van Kerchen (TVK), sebuah perusahaan milik pemerintah Belanda yang membuka lahan itu sejak 1875.

”Jenis mutu teh hitam yang Anda pandang dari sini hingga ujung itu sebenarnya hanya dua, ortodok dan CTC (Crushing, Tearing, Curling),” kata Muji. Berjalan kaki menyusuri kebun teh di bawah suhu sekitar 16 derajat Celsius menjadi keasyikan tersendiri.

Namun, jangan berharap menjumpai kerasnya jalan aspal. Kita cuma akan menemui jalan berbatu, berlumpur ketika hujan, dan menanjak. Beruntung bila menjumpai truk pengangkut teh kebun yang menuju salah satu petak tanaman teh yang sedang panen.

Truk itu sebagai penunda rasa lelah berjalan lantaran pendaki bisa menumpangnya. Tapi tak jarang pula truk itu terjerembab di jalan berlumpur. Para karyawan kebun teh sendiri harus rela menarik truk berpuluh-puluh meter jauhnya.

Pemandangan di pagi hari cukup menakjubkan. Kepulan asap puncak Semeru yang menjadi ciri aktivitas gunung tertinggi di Jawa ini menjadi penyegar mata. Terlebih ketika kepulan itu muncul di saat cuaca cerah. Bali, moment termahal di pantai itu kan melihat matahari terbenam saat senja.

Di sini, moment termahal dan indah, ya memandang Gunung Semeru secara utuh berikut kepulan asapnya yang khas di pagi hari,” jelas Muji Santoso. Menyusuri ribuan pohon mahoni dan kayu rimba, merupakan satu warna lain dalam perjalan pendakian ke puncak Bromo-Semeru melalui Kertowono. Tegakan pohon yang berusia puluhan tahun masih utuh di beberapa wilayah kebun itu.

Menurut Muji Santoso, Kertowono merupakan potensi agrowisata yang signifikan untuk dikembangkan menjadi jalur pendakian. Sayangnya, kata dia, semua itu masih dalam benaknya yang tersimpan dalam bentuk rencana alias angan-angan. Keterbatasan dana untuk mengembangkannya merupakan kendala utama menciptakan Kertowono menjadi gerbang timur pendakian Bromo-Semeru.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui dinas pariwisatanya, jelas Muji yang juga arsitek Agrowisata Kebun Teh Wonosari, Malang, Jawa Timur, ini pernah melakukan survei dari ujung kebun teh hingga bibir gunung Bromo. Menyusul kemudian, Dinas Pariwisata Pemkab Lumajang yang juga menyurvei dan penjajakan Kertowono.
”Meski baru rencana, saya optimistis.

Karena pemerintah butuh pendapatan asli daerah. Di sini bisa digali,” jelas Muji.
Beberapa karyawan kebun mengungkapkan, rute Kertowono hingga puncak Bromo seringkali digunakan sebagai arena reli sepeda gunung oleh para mountain biker dari berbagai kota di Jawa Timur bahkan ibu kota Jakarta.

Mereka hanya sekadar lewat, mengambil start sekitar pelataran parkir pabrik teh, dan finish di Bromo. Kawasan ini sebenarnya juga mengakses daerah rimba Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Sebuah lokasi konservasi sumber daya alam yang menyimpan jutaan anggrek. Sekali lagi sayang, berbagai keterbatasan untuk membukanya dialami pihak manajemen PTPN XII Kertowono. mamang pratidina ()

Sumber: http://republika.co.id

Entry Filed under: East Java News

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Most Recent Posts