Archive for February 19th, 2007

Pesona Luar Biasa Pesisir Selatan


Air laut yang jernih menandakan betapa masih alaminya lingkungan Ujung Genteng. Pantai sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa memamerkan pesona yang luar biasa. Ambil misal saja Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi atau Pantai Pangandaran. Keduanya terletak di wilayah Jawa Barat. Kemudian di Jawa Timur keindahan itu hadir di Pantai Pelang, Trenggalek, dan Pantai Ria Teleng, Pacitan. Pantainya yang bersih dan alamiah mengundang keceriaan wisatawan. Di sisi lain ombak laut selatan yang besar bergulung-gulung bergemuruh mengingatkan akan kekuasaan sang Pencipta.

Pantai Ujung Genteng juga memiliki karakteristik umumnya pantai selatan Pulau Jawa. Terletak di selatan Sukabumi, Jawa Barat, pantai ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan Pelabuhan Ratu yang terkenal rawan dan sering merenggut korban jiwa karena ombaknya yang ganas. Pantai Ujung Genteng yang juga menghadap bebas ke Samudera Hindia. Namun, ombaknya yang besar tak membahayakan pelancong yang gemar bermain-main di laut. Ombak besar dari tengah samudera lebih dulu pecah berserak lantaran terhalang gugusan karang laut di depan bibir pantai.

Untuk mencapai Ujung Genteng –yang berjarak sekitar 220 kilometer dari Jakarta atau 230 kilometer dari kota Bandung– relatif mudah. Waktu tempuhnya sekitar enam atau tujuh jam perjalanan bermobil. Selain jalannya cukup mulus juga terdapat beberapa jalur alternatif yang dapat dilalui menuju tempat tujuan. Angkutahn umum yang tersedia pun cukup memadai.

Perjalanan dari arah Jakarta selepas tol Jagorawi lumayan menuntut kesabaran, lebih-lebih pada akhir pekan. Jalur Ciawi-Sukabumi yang dipadati armada angkutan umum selalu rawan macet. Jalur alternatif baru tersedia di Parung Kuda menjelang Cibadak. Di sini ambil jalan ke kanan arah Cikidang.

Di sepanjang jalan ini hingga ke Pelabuhan Ratu kita dapat menikmati udara segar dan pemandangan serba hijau dari hamparan perkebunan karet, perkebunan teh, hingga perkebunan kelapa sawit. Jalannya yang berkelok-kelok dan naik turun sedikit menuntut kewaspadaan. Apalagi pada rute bakal sering berpapasan dengan banyak pengendara sepeda motor yang melajukan kendaraannya dengan kencang dari arah berlawanan.

Setibanya di Pelabuhan Ratu tersedia banyak pilihan persinggahan. Kita bisa lebih dulu singgah ke Karang Hawu atau Cisolok untuk menikmati pemandian air panas. Di sepanjang pantai ini juga terdapat tempat rekreasi untuk berselancar air di laut selatan yang mulai banyak diminati oleh masyarakat.

Di kawasan Cisolok bisa jadi sedikit ketidaknyamanan bakal dihadapi, khususnya bagi kaum lelaki. Para calo yang menawarkan pengobatan alternatif dengan nama ‘mak erot’ begitu gencar menawarkan jasa. Semua mengklaim sebagai ‘mak erot asli’ dan mampu memberikan kesembuhan bagi lelaki penderita lemah syahwat atau (maaf) memperbesar alat vital dengan cara diurut atau dipijat.

Dari Pelabuhan Ratu jarak ke Ujung Genteng masih lumayan jauh, sekitar 85 kilometer. Jarak itu butuh waktu tempuh antara satu dan dua jam perjalanan. Rute yang dilalui adalah Jampang Kulon dan Surade. Jalan ini menyajikan pemandangan yang indah. Menyusuri jalan berkelok dengan jurang dalam di sampingnya, kawasan hutan di kiri-kanannya umumnya telah berganti dengan rumpun pohon pisang.

Jika mobil Anda berkategori dengan perlengkapan off road yang memadai, bertualang ke arah Ciracap Ciemas layak dipilih. Arah ini tak melewati Jampang Kulon. Lima kilo meter menjelang memasuki Ujung Genteng di kiri kanan jalan ini terdapat perkebunan kelapa. Pemandangan petrani sesang nira pun lazim terlihat. Bila sempat singgah bahkan bisa langsung menyaksikan kegiatan petani setempat membuat gula merah.

Di Ujung Genteng inilah kita dapat menikmati alam dengan pantai yang indah, aman, dan nyaman. Anak-anak boleh berenang di laut sepuasnya. Air laut yang jernih –sehingga memungkinkan memandang sekumpulan ikan berwarna-warni di sela-sela batu karang– menandakan betapa alaminya lingkungan Ujung Genteng.

Setibanya di Ujung Genteng seyogyanya langsung lebih dulu mencari tempat penginapan jika memang memutuskan hendak bermalam. Sarana itu mudah didapat ditemukan di sepanjang jalan di pantai Ujung Genteng. Villa atau bungalow yang bersih dan asri memasang tarif bermalam relatif murah.

Jika Anda meinginkan suasana yang lebih alami sususri jalan menuju ke arah barat pantai, persisnya di Ci Buaya. Di sini terdapat sebuah perkampungan nelayan yang dihuni oleh penduduk asli setempat. Jumlah mereka tak lebih dari delapan kepala keluarga. Di kampung ini ada satu gubuk yang dapat disewa. Gubuk yang memiliki tiga kamar tidur dan bale-bale serta kamar mandi di luar itu cukup ditebus dengan mengeluarkan uang tigaratus ribu rupiah saja.

Untuk keperluan makan dan minum di tempat tersebut terdapat warung yang menyediakan aneka kebutuhan. Si pemilik warung bahkan sanggup memberikan layanan khusus, misalnya jika kita ingin menyantap ikan bakar. Ikan laut segar dapat diperoleh di tempat pelelangan ikan (TPI) Ujung Genteng. Serahkan saja ikan itu kepada si pemilik warung. Dia akan membersihkannya dan membumbui ikan-ikan itu. Anda tinggal memanggangnya di halaman gubuk sederhana ini.

Pada sore harinya di Ci Buaya ini kita juga dapat menyaksikan para nelayan pulang melaut. Mereka membawa hasil tangkapannya berupa ikan hias. Para nelayan ini hanya menggunakan perlengkapan selam yang sangat sederhana. Mereka memanfaatkan sebuah kompresor angin yang diulur dengan slang plastik ratusan meter sebagai bantuan oksigen bagi para penyelam yang berada di dasar laut. Pemandangan ini cukup menambah wawasan bagi anak-anak bahkan orangtua sekalipun.

Pada malam harinya –dan memang hanya pada malam hari– kita juga dapat melanjutkan kegiatan dengan melihat habitat kura-kura berkembang biak. Lokasinya tak jauh dari gubuk penginapan, sekitar satu kilometer ke arah utara, tepatnya di Desa Pangumbahan. Sebetulnya ada tempat serupa, yakni di Desa Ujungan dan Desa Citireum, namun kebanyakan wisatawan lebih suka mengunjungi Desa Pangumbahan. Antara Ci Buaya dan Pangumbahan juga terdapat pantai yang sering digunakan oleh orang-orang Prancis untuk berselancar air.

Memang ada beberapa kekurangan di daerah wisata ini khususya di seluruh kawasan wisata Pelabuhan Ratu dan sekitarnya. Selain lokasinya cukup jauh juga ditambah semrawutnya lalu lintas di jalur sempit antara Ciawi dan Cibadak. Dan yang lebih penting adalah perilaku masyarakat setempat yang belum menyadari pentingnya konservasi alam. Mereka masih membiasakan diri menangkap ikan hias dengan menggunakan potasium, mengambil telur penyu atau kura-kura untuk diperjual belikan, dan penebangan hutan untuk diambil kayunya. Semua itu berpotensi mengancam kelestarian alam di kawasan Pantai Selatan.

Sumber : www.republika.co.id

Add comment February 19th, 2007

Waduk Bening Tak Hanya untuk Pertanian dan Pengendali Banjir, tetapi Juga Wisata


SEDERET orang tengah asyik memancing ikan di Bendungan Serbaguna Bening, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur (Jatim). Suasana benar-benar tenang. Hanya ada sesekali bunyi dari kecipak air atau deru kendaraan bermotor yang melaju perlahan. Tak jauh dari kolam buatan itu, beberapa ekor rusa tengah makan rumput di kandangnya. Seekor di antaranya berlari-lari kecil ke berbagai penjuru. Kandang itu tergolong luas, sehingga hewan-hewan tersebut leluasa berlarian.

Pemandangan lain yang acapkali terlihat adalah muda-mudi yang sedang berpacaran. Ketika Kompas datang pada Rabu (15/5) siang, dua tempat yang menjadi “arena strategis” bagi mereka adalah taman pepohonan dan beberapa sisi di tepi kolam buatan. Pohon-pohonan di pinggir kolam yang menjadi peneduh dari terik Matahari membuat para remaja betah memadu kasih di sana.

Bendungan Bening terletak di perbatasan Kabupaten Nganjuk dengan Kabupaten Madiun. Letaknya menjorok ke dalam atau tepatnya ke arah utara, sekitar tiga kilometer dari Jalan Raya Madiun-Nganjuk.

Sebelum memasuki kompleks waduk, pengunjung “dimanjakan” dengan deretan ribuan pohon jati di hutan Saradan, dengan melintasi jalan beraspal yang mulus dan rata. Betul-betul rimbun. Memasuki 2,5 kilometer dari jalan raya, sebuah pos kecil memungut karcis masuk sebesar Rp 1.500.

Waduk Bening seakan identik dengan ketenangan. Air waduk yang tenang bagai simbol keselarasan dalam hidup. Kehadiran waduk di perbatasan Nganjuk-Madiun ini dapat menjadi obat bagi mereka yang telah terbiasa sibuk dengan rutinitas kerja sehari-hari.

***
BENDUNGAN Serbaguna Bening merupakan salah satu waduk yang dikelola Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta. Menurut Kepala Divisi Jasa, Air dan Sumber Air (Asa) III Jasa Tirta Ir M Idham LO CES, pemanfaatan Waduk Bening sebagai obyek wisata merupakan fungsi kesekian.

“Fungsi utama waduk itu tetap sebagai bangunan pengendali banjir dan pengairan. Namun, karena bangunan waduk selalu menarik untuk wisata, kita arahkan ke sana seperti halnya Bendung Gerak Merijan di Gampengrejo, Kediri,” katanya kepada Kompas, Jumat lalu.

Untuk kepentingan pengairan, waduk tersebut memasok air untuk 9.000 hektar sawah di Nganjuk. Manajemen Jasa Tirta juga memanfaatkan waduk untuk perikanan, karena setiap tahun disebar puluhan ribu ekor benih ikan berbagai jenis.

Bicara soal obyek wisata Waduk Bening, Idham menyatakan, rata-rata pengunjung tiap bulan berkisar 6.000 hingga 7.000 orang. “Sebagai waduk yang relatif baru, wajar kalau masih ada banyak kekurangan di Waduk Bening. Tentu jauh kalau dibandingkan dengan Waduk Selorejo yang sudah lebih lama,” katanya.

Sebagaimana obyek wisata, pengunjung ramai biasanya pada Sabtu dan Minggu. Jasa Tirta tengah berusaha merencanakan pengembangan jangka pendek untuk lebih menarik wisatawan.

Program jangka pendek itu antara lain dengan penambahan sarana permainan anak-anak, seperti kereta mini, ayunan, komedi putar, dan sebagainya. Setelah ditambah dan beroperasi dalam jangka waktu tertentu, pihaknya akan mengevaluasi sejauh mana dampak dari penambahan sarana itu.

“Kalau dampaknya betul-betul bagus, kami akan pikirkan program jangka panjang. Apakah dengan menambah penginapan, atau kolam renang. Tergantung bagaimana pembahasan selanjutnya,” jelasnya lagi.

Namun, Idham mengingatkan, semua rencana pengembangan sangat tergantung pada kemampuan keuangan perusahaan. Ia melukiskan, biaya pembersihan waduk saja sudah menghabiskan Rp 100 juta per tahun. Belum lagi ongkos lain-lain, seperti operasional alat-alat elektro-mekanis, dan sebagainya.

Satu tugas yang masih tersisa, tentunya untuk makin membuat Waduk Bening populer di masyarakat di kawasan eks-Karesidenan Kediri dan Madiun. Idham mengakui, bendungan serbaguna itu masih belum banyak dikenal masyarakat.

Oleh karena itu, kini Jasa Tirta intens menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun, antara lain dengan menggalakkan promosi. Ya, tanpa promosi rasanya percuma Waduk Bening dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi makin indah. Siapa yang akan ke sana? (ADI PRINANTYO)

Sumber : Kompas

Add comment February 19th, 2007


Calendar

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Posts by Month

Posts by Category