Menjaga Kelangsungan Reog Ponorogo

February 13th, 2007

MENGHIDUPI unsur-unsur yang terdapat dalam budaya reog ponorogo sebenarnya telah dilakukan oleh para warok itu sendiri. Mereka merupakan figur yang menjadi panutan masyarakat karena mencerminkan nilai-nilai luhur kehidupan manusia. Kepada generasi muda mereka menanamkan prinsip-prinsip yang senantiasa mereka pegang teguh.

“Saya tidak suka kalau para seniman itu eker-ekeran, saling berebutan. Saya bersedia berkorban apa pun untuk mendukung kegiatan mereka. Tetapi, satu pesan saya semua harus rukun,” ujar Mbah Wo Kucing arif. Ia berencana mendirikan sebuah padepokan bagi seniman-seniman muda sebagai pusat berproses mereka.

 

Mbah Wo bercerita, ia sudah menyediakan batu, batu bata, pasir, semen, dan segala hal yang diperlukan untuk pembangunan padepokan tersebut. Ia dengan suka hati mengeluarkan uangnya untuk membangun kesenian reog. “Selama saya masih bisa bergerak, saya masih bisa mencari uang,” tuturnya mantap.

“Saya ini sudah tua, nantinya pasti mati. Makanya, selagi masih bisa berbuat sesuatu untuk kesenian, saya akan melakukannya,” lanjut Mbah Wo. Kalau saja para seniman muda mempunyai tekad dan komitmen seperti Mbah Wo, kesenian tradisional bisa diharapkan tetap akan lestari.

Memang, ketika zaman semakin berkembang tuntutan terhadap kesenian tradisi juga semakin berkembang. Seperti diungkapkan penari dan penata tari Arif Rofiq bahwa kebutuhan pasar atau konsumen akan menentukan kelangsungan hidup sebuah kesenian tradisional yang berakar dari sebuah ritual.

“Jika tuntutan itu tidak terpenuhi, akan sulit bagi kesenian tradisional seperti reog ponorogo untuk survive,” ujar Arif.

Kebutuhan tersebut, salah satunya, dijawab oleh generasi muda yang “makan sekolahan” (terdidik) melalui sentuhan-sentuhan yang mereka peroleh dari bangku kuliah. Sekolah-sekolah seni yang bertebaran di Jawa Timur agaknya mempunyai kepedulian untuk mengolah kembali bahan baku kesenian tradisional untuk disajikan dalam kemasan yang patut disantap oleh kalangan lebih luas.

“Orang tidak bisa dipaksa untuk menonton kesenian tradisional yang kemasannya masih kuno. Kondisi masyarakat sudah berubah, sehingga kesenian tradisional perlu kemasan baru,” ujar staf pengajar Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, Djauhari Chandra Astuti. Ia sekaligus koordinator penyelenggaraan kelas jarak jauh (filial) di Ponorogo dari pihak STKW, yang digelar dalam rangka memberikan sentuhan baru tersebut.

Kurikulum pengajaran di kelas filial tersebut diajarkan beberapa pengetahuan tentang kesenian secara umum, manajemen pertunjukan yang diperlukan reog ponorogo, serta teknik-teknik garapan tari. Diharapkan, sentuhan akademis itu bisa menawarkan keragaman bentuk dan “warna” reog ponorogo sehingga menjadikan tontonan reog yang lebih menggairahkan.
 
Sumber : Kompas

Entry Filed under: East Java News

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Most Recent Posts