Wisata Tur Mesin Uap di Hutan Jati
Pagi itu, Kota Cepu masih dingin meskipun jarum jam telah menunjukkan pukul 6.30. Mungkin itu karena hujan deras yang turun malam sebelumnya. Meskipun kedinginan, para peserta acara Tur Mesin Uap yang merupakan anggota IRPS (Indonesian Railway Preservation Society), terlihat sangat bersemangat. Rombongan berjumlah sekitar 100 orang telah berkumpul di pelataran Hotel Lawu. Pukul 7.15, seluruh rombongan telah tiba di kawasan Bengkel Traksi Perhutani KPH Cepu yang ditempuh sekitar 10 menit dari Hotel Lawu. Begitu mobil carteran memasuki kawasan Perhutani KPH Cepu, tidak cuma rerimbunan pohon jati yang memenuhi kawasan seluas 8400 m2 ini, tetapi juga ada bentangan rel lori, baik yang masih aktif maupun telah mati.
Rel lori yang membentang di kawasan tersebut berlebar sama dengan lebar rel pada umumnya, yaitu
1.067 mm. Tetapi bantalan kayu yang digunakan adalah kayu jati gelondongan dan balasnya berupa
batu kapur bukan batu kerikil. Pada halaman bengkel tersebut, sebuah loko uap bertuliskan
“Bahagia” buatan Berliner Maschinen tahun 1928 telah dipersiapkan masinis dan juru api satu jam
sebelumnya. Sebelum menarik rangkaian kereta dan gerbong yang ditumpangi rombongan, loko beroda 5
itu tengah langsir menyusun rangkaian kereta dan gerbong yang akan ditariknya.
Beberapa peserta tur asyik mengabadikan kegiatan langsir dengan kamera digital atau handycam,
termasuk aktivitas masinis dan juru api yang sibuk memasukkan gelondongan kayu untuk pembakaran.
Sebagian peserta malah ada yang sudah bergelantungan di dalam ruang kemudi, sehingga ruangan yang
panas oleh aktivitas pembakaran menjadi penuh sesak.
Sebelum berangkat bersama rombongan, penulis menyempatkan diri melihat-lihat koleksi loko uap,
plus gerbong, serta lori motor milik KPH Perhutani Cepu. Bentuk lori motor yang dimiliki KPH
Perhutani Cepu tak berbeda dengan lori motor di Museum KA Ambarawa. Sementara itu koleksi loko
uap yang dimiliki KPH Perhutani Cepu ada 5 buah plus sebuah loko diesel dengan bentuk mirip loko
diesel tipe D 300 buatan Krupp.
Kelima loko uap -tiga di antaranya buatan Berlin tahun 1928- dan sisanya buatan Amsterdam.
Loko-loko yang disimpan di depo tadi diimport dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, namun
sayangnya tahun kedatangan tersebut tidak disebutkan. Di dalam depo, ada pula sebuah gerbong KPH
yang mangkrak karena sistem pendingin ruangannya tidak berfungsi.
Setelah puas melihat-lihat loko di depo, penulis menyaksikan pula sebuah bengkel yang dipenuhi
roda-roda kereta dan uniknya di pintu masuk bengkel dipasang rel dalam posisi melompati kayu
pintu masuk. Ruang bengkel ini dipergunakan sebagai bengkel bubut untuk roda kereta.
***
PUKUL 8.00, rangkaian KA yang mengangkut rombongan tur mulai bergerak. Bunyi semboyan 35 atau
peliut loko yang telah berumur 77 tahun itu, masih cukup nyaring. Apalagi, derap suara mesin loko
uapnya mengingatkan penulis pada suara efek intro lagu “Perjalanan” karya Franky & Jane.
Para peserta tur rata-rata lebih suka naik di bak kereta yang terbuka. Biasanya bak itu untuk
mengangkut kayu. Sementara gerbong hijau yang disiapkan ada tiga buah, diisi oleh peserta yang
datang bersama keluarganya. Ketika menumpang kereta pengangkut kayu, para peserta harus
hati-hati. Kalau tidak, mereka bisa tertampar ranting pohon yang melintang di atas rel selama
dalam perjalanan.
Karena itu, dalam perjalanan kerap sekali terdengar teriakan peserta, “Awas, pohon!” atau “Awas,
ranjau!”. Asyiknya, teriakan itu selalu disambut tawa, lebih-lebih kalau ada yang sempat
tertampar ranting.
Kawasan Bratokan
Salah seorang peserta tur, Mohamad Lutfi Tjahjadi dari Sidoarjo Jatim yang akrab disapa Pakde
Lutfi, nekad memanjat ketel berisi air, lantas mengabadikan keceriaan peserta selama perjalanan
dengan kamera digitalnya. Saking asyiknya memotret dengan kamera digitalnya, tiba-tiba beberapa
ranting pohon menyambarnya. Sontak semua peserta tertawa melihat polah lucu bapak berkacamata
itu.
Ketika rangkaian KA sampai di kawasan Bratokan, sebuah daerah yang menurut salah seorang kru
masuk wilayah Bojonegoro, Jatim, tiga rangkaian gerbong dilepas dan kemudian didorong dari
belakang. Rupanya tiga rangkaian gerbong ini tetap pada posisi belakang. Saat langsir itulah para
peserta tur yang rata-rata adalah kaum lelaki dan semula berada di kereta pengangkut kayu dan
ketel air, berlompatan turun untuk pindah di kereta paling depan. “Biar bisa melihat pemandangan
lebih asyik lagi,” kata Bagus salah satu peserta tur dari Bandung.
***
SETELAH itu perjalanan dilanjutkan melintasi daerah pembibitan tanaman, hingga ke daerah
penampungan kayu jati yang berdekatan di kawasan Bratokan.
Selama dalam perjalanan, ada satu kegiatan unik yang dilakukan kru atau awak loko uap. Dua orang
pemuda yang enggan disebut namanya, mendapat tugas menyiramkan pasir di atas besi rel sebelum
roda loko melintas. Mereka berdua sengaja duduk di depan dan seolah tidak merasa takut terhadap
maut yang mengintai, khususnya saat melintasi jembatan yang tinggi, atau jurang menganga.
Jalan rel
Mengapa rel harus disiram dengan pasir? Itu agar loko dan rangkaian kereta tidak mudah
tergelincir. Perlu diketahui, bahwa kondisi rel sepanjang kurang lebih 30 km ini memang kurang
begitu terawat. Itu karena badan rel yang banyak ditumbuhi semak-semak dan rerumputan. Apalagi di
dekat areal ladang, tanah di tepi relnya kerap longsor hingga menutupi besi rel, dan itu
mengakibatkan rel menjadi licin. Karena itu, beberapa kru loko uap dengan sigap menyiapkan pasir
untuk disiramkan ke besi rel.
Meskipun kondisinya dipenuhi oleh semak dan rerumputan, namun bantalan rel masih cukup kuat.
Bantalannya terbuat dari potongan kayu jati yang dipotong seadanya, tetapi tidak serapi bantalan
rel pada umumnya. Saat loko melintasi wilayah Caper dan Bangsri yang padat pemukiman, termasuk
prasarana umum seperti sekolah, beberapa orang khususnya anak-anak kecil dan murid sekolah dasar
tampak melambaikan tangan sembari bersorak-sorai kegirangan.
Khusus murid sekolah dasar di kawasan Ceper, mereka telah menanti rangkaian KA lewat di depan
sekolah sambil di kawal para guru. Suatu sambutan yang membanggakan bagi rombongan tur dari IRPS
itu.
Ketika melintas di kawasan dekat rumah penduduk, rangkaian KA nyaris menabrak segerombolan ayam
kampung. Otomatis, peserta tur yang tidak tega melihat hewan unggas itu tertabrak atau terlindas,
cuma bisa menjerit-jerit.
Para peserta juga lagi-lagi berteriak bila ada dahan atau ranting yang melintang di atas rel.
Selain menyaksikan gerombolan ayam yang nyaris tertabrak KA, peserta juga sempat melihat
laba-laba berbentuk mirip Tarantula pada badan kereta. Selain laba-laba, ada pula belalang
cokelat, capung, dan kepik yang beterbangan di areal persawahan dan hutan jati. Semua itu membuat
tur bertambah mengasyikkan.
***
KONDISI rel yang menggunakan tipe di bawah R 25 dan bantalan terbuat dari kayu gelondongan serta
balasnya berupa batu kapur, cukup berpengaruh bagi perjalanan KA. Walaupun datarannya tidak
terlalu menanjak seperti di jalur Ambarawa-Bedono, namun perjalanan KA sempat tersendat saat
melalui dataran yang sedikit tinggi. Kalau rel sedikit menanjak, maka KA akan berjalan pelan
seperti orang yang kelelahan.
Seperti halnya manusia, loko juga butuh buang air kecil. Maksudnya membuang sebagian air panas
yang tidak digunakan lagi. Itu dilakukan saat melintasi jembatan di kawasan Brobosot (Blora).
Jembatan KA ini melintas di atas jalan raya Cepu-Blora. Saat itulah loko berhenti sejenak dan
para peserta yang hobi fotografi pun turun mengabadikan kegiatan rangkaian KA di Jembatan
Brobosot.
Melintasi kawasan Brobosot berarti melintasi jembatan yang dulu di bawahnya merupakan jalur KA
Cepu-Blora. Kini rel di jalur tersebut sudah tidak berbekas. Sebab, mulai tahun 1981 jalur
tersebut sudah dianggap mati. Bahkan jembatan yang melintas di atas Sungai Mondang hanya tinggal
pilar jembatannya.
Rangkaian KA yang mengangkut rombongan IRPS baru tiba memasuki kawasan hutan jati tepatnya di
Gubug Payung sekitar pukul 10.00. Di Gubug Payung yang bentuknya mirip halte, para peserta
sejenak menikmati rehat. Ketika itu, loko uap sibuk mengisi air dan gelondongan kayu untuk
dipanaskan.(Nugroho WU-13)
***
Asri Tanpa Polusi
Halte Gubug Payung
BIASANYA sebuah kawasan hutan yang cukup lebat dan belum terjamah oleh tangan manusia akan
terbebas dari polusi. Lain halnya kalau kawasan itu telah terjamah, sedikit banyak tak bisa
menghindari dari pencemaran.
Namun itu tak berlaku bagi kawasan hutan wisata di Gubug Payung yang dikelola oleh KPH Perhutani
Cepu. Meskipun telah terbangun beberapa bangunan untuk rehat, toh lingkungannya tetap asri dan
bebas polusi. Tak ada suara bising asap kendaraan bermotor, atau mobil termasuk kendaraan berat.
Wajar saja, sebab medannya hanya bisa dilalui oleh kereta api penarik lori dan gerbong wisata.
Seandainya ingin menggunakan sepeda motor, itu pun harus melalui jalan di tepi rel.
Sepinya suasana di situ bukan berarti karena pihak pengelola kurang berpromosi. Setiap kali,
pasti ada wisatawan yang datang ke kawasan seluas 31,8 hektare dengan menggunakan KA wisata.
Meski frekuensi kunjungannya tak besar, namun Kawasan Wisata Hutan Gubug Payung itu cukup
dikenal.
Memasuki “pintu gerbang”, pengunjung diajak menaiki tangga. Jarak antara halte pemberhentian KA
dengan tempat rehat cuma 300 meter. Di kawasan tersebut, jangan harap ada sajian kesenian daerah
atau hiburan musik dangdut misalnya. Yang perlu dicatat dari kawasan wisata ini adalah suasana
asri dan tenteram dari keramaian kesibukan manusia. Sangat pas untuk tetirah atau berpelesir
menenangkan diri.
Dalam suasana seperti itu, pengunjung bisa menikmati kesejukan dan keteduhan sambil menyantap
penganan bekal dari rumah. Pihak pengelola telah menyediakan meja dan tempat duduk untuk
bersantap siang sebanyak 12 buah dan masing-masing terdiri dari 8 tempat duduk. Seluruhnya
dibangun dengan konsep permanen. Selain tempat rehat, ada pula bangsal yang bisa digunakan untuk
istirahat atau duduk menggelar tikar.
Penampungan potongan kayu
Pengunjung juga bisa melihat lingkungan sekitar hutan jati melalui gardu pandang. Gardu pandang
itu memang berbeda dengan gardu pandang umumnya, karena terbuat dari konstruksi kayu jati.
Yang perlu diperhatikan di kawasan tersebut adalah nyamuk. Apa pasal? L1ingkungannya yang rimbun
dan teduh adalah ekosistem bagus buat mereka. Uniknya, di sana kita tak akan merasakan gigitan
mereka, eh tahu-tahu badan bentol-bentol. Biar lebih aman maka pengunjung perlu mengenakan
pakaian yang rapat dan mengolesi beberapa bagian tubuh dengan krim anti nyamuk.
Ketika rombongan Tur Mesin Uap bertandang ke kawasan Gubug Payung, seluruh peserta asyik
menikmati nasi sate ayam khas Blora. Sedangkan beberapa kru loko sibuk mempersiapkan
keberangkatan KA untuk kembali ke Bengkel Traksi Perhutani KPH Cepu. Sebagian peserta ada yang
duduk-duduk sembari diskusi mengenai perkeretaapian. Ah, namanya juga para pecinta kereta api,
wajar dong diskusinya ya soal-soal itu.
Rombongan baru meninggalkan lokasi wisata tersebut pada pukul 11.30. Mereka yang kelelahan, asyik
tertidur di dalam gerbong. Sementara yang masih segar bugar, sempat pula mengabadikan laju kereta
api saat langsir di atas Jembatan Mondang, tak jauh dari lokasi Wisata Hutan Gubug
Payung.(Nugroho WU-13)
Sumber : Suara Merdeka
Add comment February 6th, 2007