Archive for February 6th, 2007

Wisata Tur Mesin Uap di Hutan Jati

Pagi itu, Kota Cepu masih dingin meskipun jarum jam telah menunjukkan pukul 6.30. Mungkin itu karena hujan deras yang turun malam sebelumnya. Meskipun kedinginan, para peserta acara Tur Mesin Uap yang merupakan anggota IRPS (Indonesian Railway Preservation Society), terlihat sangat bersemangat. Rombongan berjumlah sekitar 100 orang telah berkumpul di pelataran Hotel Lawu. Pukul 7.15, seluruh rombongan telah tiba di kawasan Bengkel Traksi Perhutani KPH Cepu yang ditempuh sekitar 10 menit dari Hotel Lawu. Begitu mobil carteran memasuki kawasan Perhutani KPH Cepu, tidak cuma rerimbunan pohon jati yang memenuhi kawasan seluas 8400 m2 ini, tetapi juga ada bentangan rel lori, baik yang masih aktif maupun telah mati.

Rel lori yang membentang di kawasan tersebut berlebar sama dengan lebar rel pada umumnya, yaitu

1.067 mm. Tetapi bantalan kayu yang digunakan adalah kayu jati gelondongan dan balasnya berupa

batu kapur bukan batu kerikil. Pada halaman bengkel tersebut, sebuah loko uap bertuliskan

“Bahagia” buatan Berliner Maschinen tahun 1928 telah dipersiapkan masinis dan juru api satu jam

sebelumnya. Sebelum menarik rangkaian kereta dan gerbong yang ditumpangi rombongan, loko beroda 5

itu tengah langsir menyusun rangkaian kereta dan gerbong yang akan ditariknya.

Beberapa peserta tur asyik mengabadikan kegiatan langsir dengan kamera digital atau handycam,

termasuk aktivitas masinis dan juru api yang sibuk memasukkan gelondongan kayu untuk pembakaran.

Sebagian peserta malah ada yang sudah bergelantungan di dalam ruang kemudi, sehingga ruangan yang

panas oleh aktivitas pembakaran menjadi penuh sesak.

Sebelum berangkat bersama rombongan, penulis menyempatkan diri melihat-lihat koleksi loko uap,

plus gerbong, serta lori motor milik KPH Perhutani Cepu. Bentuk lori motor yang dimiliki KPH

Perhutani Cepu tak berbeda dengan lori motor di Museum KA Ambarawa. Sementara itu koleksi loko

uap yang dimiliki KPH Perhutani Cepu ada 5 buah plus sebuah loko diesel dengan bentuk mirip loko

diesel tipe D 300 buatan Krupp.

Kelima loko uap -tiga di antaranya buatan Berlin tahun 1928- dan sisanya buatan Amsterdam.

Loko-loko yang disimpan di depo tadi diimport dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, namun

sayangnya tahun kedatangan tersebut tidak disebutkan. Di dalam depo, ada pula sebuah gerbong KPH

yang mangkrak karena sistem pendingin ruangannya tidak berfungsi.

Setelah puas melihat-lihat loko di depo, penulis menyaksikan pula sebuah bengkel yang dipenuhi

roda-roda kereta dan uniknya di pintu masuk bengkel dipasang rel dalam posisi melompati kayu

pintu masuk. Ruang bengkel ini dipergunakan sebagai bengkel bubut untuk roda kereta.
***

PUKUL 8.00, rangkaian KA yang mengangkut rombongan tur mulai bergerak. Bunyi semboyan 35 atau

peliut loko yang telah berumur 77 tahun itu, masih cukup nyaring. Apalagi, derap suara mesin loko

uapnya mengingatkan penulis pada suara efek intro lagu “Perjalanan” karya Franky & Jane.

Para peserta tur rata-rata lebih suka naik di bak kereta yang terbuka. Biasanya bak itu untuk

mengangkut kayu. Sementara gerbong hijau yang disiapkan ada tiga buah, diisi oleh peserta yang

datang bersama keluarganya. Ketika menumpang kereta pengangkut kayu, para peserta harus

hati-hati. Kalau tidak, mereka bisa tertampar ranting pohon yang melintang di atas rel selama

dalam perjalanan.

Karena itu, dalam perjalanan kerap sekali terdengar teriakan peserta, “Awas, pohon!” atau “Awas,

ranjau!”. Asyiknya, teriakan itu selalu disambut tawa, lebih-lebih kalau ada yang sempat

tertampar ranting.
Kawasan Bratokan

Salah seorang peserta tur, Mohamad Lutfi Tjahjadi dari Sidoarjo Jatim yang akrab disapa Pakde

Lutfi, nekad memanjat ketel berisi air, lantas mengabadikan keceriaan peserta selama perjalanan

dengan kamera digitalnya. Saking asyiknya memotret dengan kamera digitalnya, tiba-tiba beberapa

ranting pohon menyambarnya. Sontak semua peserta tertawa melihat polah lucu bapak berkacamata

itu.

Ketika rangkaian KA sampai di kawasan Bratokan, sebuah daerah yang menurut salah seorang kru

masuk wilayah Bojonegoro, Jatim, tiga rangkaian gerbong dilepas dan kemudian didorong dari

belakang. Rupanya tiga rangkaian gerbong ini tetap pada posisi belakang. Saat langsir itulah para

peserta tur yang rata-rata adalah kaum lelaki dan semula berada di kereta pengangkut kayu dan

ketel air, berlompatan turun untuk pindah di kereta paling depan. “Biar bisa melihat pemandangan

lebih asyik lagi,” kata Bagus salah satu peserta tur dari Bandung.
***

SETELAH itu perjalanan dilanjutkan melintasi daerah pembibitan tanaman, hingga ke daerah

penampungan kayu jati yang berdekatan di kawasan Bratokan.

Selama dalam perjalanan, ada satu kegiatan unik yang dilakukan kru atau awak loko uap. Dua orang

pemuda yang enggan disebut namanya, mendapat tugas menyiramkan pasir di atas besi rel sebelum

roda loko melintas. Mereka berdua sengaja duduk di depan dan seolah tidak merasa takut terhadap

maut yang mengintai, khususnya saat melintasi jembatan yang tinggi, atau jurang menganga.

Jalan rel
Mengapa rel harus disiram dengan pasir? Itu agar loko dan rangkaian kereta tidak mudah

tergelincir. Perlu diketahui, bahwa kondisi rel sepanjang kurang lebih 30 km ini memang kurang

begitu terawat. Itu karena badan rel yang banyak ditumbuhi semak-semak dan rerumputan. Apalagi di

dekat areal ladang, tanah di tepi relnya kerap longsor hingga menutupi besi rel, dan itu

mengakibatkan rel menjadi licin. Karena itu, beberapa kru loko uap dengan sigap menyiapkan pasir

untuk disiramkan ke besi rel.

Meskipun kondisinya dipenuhi oleh semak dan rerumputan, namun bantalan rel masih cukup kuat.

Bantalannya terbuat dari potongan kayu jati yang dipotong seadanya, tetapi tidak serapi bantalan

rel pada umumnya. Saat loko melintasi wilayah Caper dan Bangsri yang padat pemukiman, termasuk

prasarana umum seperti sekolah, beberapa orang khususnya anak-anak kecil dan murid sekolah dasar

tampak melambaikan tangan sembari bersorak-sorai kegirangan.

Khusus murid sekolah dasar di kawasan Ceper, mereka telah menanti rangkaian KA lewat di depan

sekolah sambil di kawal para guru. Suatu sambutan yang membanggakan bagi rombongan tur dari IRPS

itu.

Ketika melintas di kawasan dekat rumah penduduk, rangkaian KA nyaris menabrak segerombolan ayam

kampung. Otomatis, peserta tur yang tidak tega melihat hewan unggas itu tertabrak atau terlindas,

cuma bisa menjerit-jerit.

Para peserta juga lagi-lagi berteriak bila ada dahan atau ranting yang melintang di atas rel.

Selain menyaksikan gerombolan ayam yang nyaris tertabrak KA, peserta juga sempat melihat

laba-laba berbentuk mirip Tarantula pada badan kereta. Selain laba-laba, ada pula belalang

cokelat, capung, dan kepik yang beterbangan di areal persawahan dan hutan jati. Semua itu membuat

tur bertambah mengasyikkan.
***

KONDISI rel yang menggunakan tipe di bawah R 25 dan bantalan terbuat dari kayu gelondongan serta

balasnya berupa batu kapur, cukup berpengaruh bagi perjalanan KA. Walaupun datarannya tidak

terlalu menanjak seperti di jalur Ambarawa-Bedono, namun perjalanan KA sempat tersendat saat

melalui dataran yang sedikit tinggi. Kalau rel sedikit menanjak, maka KA akan berjalan pelan

seperti orang yang kelelahan.

Seperti halnya manusia, loko juga butuh buang air kecil. Maksudnya membuang sebagian air panas

yang tidak digunakan lagi. Itu dilakukan saat melintasi jembatan di kawasan Brobosot (Blora).

Jembatan KA ini melintas di atas jalan raya Cepu-Blora. Saat itulah loko berhenti sejenak dan

para peserta yang hobi fotografi pun turun mengabadikan kegiatan rangkaian KA di Jembatan

Brobosot.

Melintasi kawasan Brobosot berarti melintasi jembatan yang dulu di bawahnya merupakan jalur KA

Cepu-Blora. Kini rel di jalur tersebut sudah tidak berbekas. Sebab, mulai tahun 1981 jalur

tersebut sudah dianggap mati. Bahkan jembatan yang melintas di atas Sungai Mondang hanya tinggal

pilar jembatannya.

Rangkaian KA yang mengangkut rombongan IRPS baru tiba memasuki kawasan hutan jati tepatnya di

Gubug Payung sekitar pukul 10.00. Di Gubug Payung yang bentuknya mirip halte, para peserta

sejenak menikmati rehat. Ketika itu, loko uap sibuk mengisi air dan gelondongan kayu untuk

dipanaskan.(Nugroho WU-13)
***
Asri Tanpa Polusi

Halte Gubug Payung
BIASANYA sebuah kawasan hutan yang cukup lebat dan belum terjamah oleh tangan manusia akan

terbebas dari polusi. Lain halnya kalau kawasan itu telah terjamah, sedikit banyak tak bisa

menghindari dari pencemaran.

Namun itu tak berlaku bagi kawasan hutan wisata di Gubug Payung yang dikelola oleh KPH Perhutani

Cepu. Meskipun telah terbangun beberapa bangunan untuk rehat, toh lingkungannya tetap asri dan

bebas polusi. Tak ada suara bising asap kendaraan bermotor, atau mobil termasuk kendaraan berat.

Wajar saja, sebab medannya hanya bisa dilalui oleh kereta api penarik lori dan gerbong wisata.

Seandainya ingin menggunakan sepeda motor, itu pun harus melalui jalan di tepi rel.

Sepinya suasana di situ bukan berarti karena pihak pengelola kurang berpromosi. Setiap kali,

pasti ada wisatawan yang datang ke kawasan seluas 31,8 hektare dengan menggunakan KA wisata.

Meski frekuensi kunjungannya tak besar, namun Kawasan Wisata Hutan Gubug Payung itu cukup

dikenal.

Memasuki “pintu gerbang”, pengunjung diajak menaiki tangga. Jarak antara halte pemberhentian KA

dengan tempat rehat cuma 300 meter. Di kawasan tersebut, jangan harap ada sajian kesenian daerah

atau hiburan musik dangdut misalnya. Yang perlu dicatat dari kawasan wisata ini adalah suasana

asri dan tenteram dari keramaian kesibukan manusia. Sangat pas untuk tetirah atau berpelesir

menenangkan diri.

Dalam suasana seperti itu, pengunjung bisa menikmati kesejukan dan keteduhan sambil menyantap

penganan bekal dari rumah. Pihak pengelola telah menyediakan meja dan tempat duduk untuk

bersantap siang sebanyak 12 buah dan masing-masing terdiri dari 8 tempat duduk. Seluruhnya

dibangun dengan konsep permanen. Selain tempat rehat, ada pula bangsal yang bisa digunakan untuk

istirahat atau duduk menggelar tikar.
Penampungan potongan kayu

Pengunjung juga bisa melihat lingkungan sekitar hutan jati melalui gardu pandang. Gardu pandang

itu memang berbeda dengan gardu pandang umumnya, karena terbuat dari konstruksi kayu jati.

Yang perlu diperhatikan di kawasan tersebut adalah nyamuk. Apa pasal? L1ingkungannya yang rimbun

dan teduh adalah ekosistem bagus buat mereka. Uniknya, di sana kita tak akan merasakan gigitan

mereka, eh tahu-tahu badan bentol-bentol. Biar lebih aman maka pengunjung perlu mengenakan

pakaian yang rapat dan mengolesi beberapa bagian tubuh dengan krim anti nyamuk.

Ketika rombongan Tur Mesin Uap bertandang ke kawasan Gubug Payung, seluruh peserta asyik

menikmati nasi sate ayam khas Blora. Sedangkan beberapa kru loko sibuk mempersiapkan

keberangkatan KA untuk kembali ke Bengkel Traksi Perhutani KPH Cepu. Sebagian peserta ada yang

duduk-duduk sembari diskusi mengenai perkeretaapian. Ah, namanya juga para pecinta kereta api,

wajar dong diskusinya ya soal-soal itu.

Rombongan baru meninggalkan lokasi wisata tersebut pada pukul 11.30. Mereka yang kelelahan, asyik

tertidur di dalam gerbong. Sementara yang masih segar bugar, sempat pula mengabadikan laju kereta

api saat langsir di atas Jembatan Mondang, tak jauh dari lokasi Wisata Hutan Gubug

Payung.(Nugroho WU-13)
Sumber : Suara Merdeka

Add comment February 6th, 2007

Jatim Unggulkan Wisata Ziarah


Menghadapi persaingan yang semakin ketat di era perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA), biro perjalanan wisata (BPW) Jawa Timur (Jatim) mengandalkan paket wisata ziarah. Sebagai daerah yang memiliki lima dari sembilan makam Wali Songo, penyebar syi’ar Islam, Jatim merupakan provinsi yang paling banyak dikunjungi peziarah. Direktur Eksekutif Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Jatim Sutawi mengungkapkan hal itu kepada Kompas di Surabaya, pekan lalu. Di Jatim terdapat makam Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, dan Sunan Bonang di Tuban. “Khusus untuk sektor ini, enggak perlu bingung menghadapi penetrasi BPW asing.

Sumber daya manusia (SDM) kita pasti lebih menguasai persoalan wisata ziarah di daerahnya sendiri ketimbang SDM dari mana pun. Apalagi, peminat wisata ziarah selalu membanjir,” papar Sutawi. Sejak lima tahun terakhir, paket wisata ziarah memang berkembang pesat di Indonesia, terutama di Jatim. Bahkan, wisata ziarah ini tidak hanya bertujuan ke makam pahlawan dan Wali Songo di dalam negeri, tetapi juga merambah ma-kam di Arab Saudi (lewat paket umroh), Kuala Lumpur, dan Singapura. Tidak seperti obyek wisata lain yang memerlukan promosi gencar, makam Wali Songo khususnya yang ada di Jatim, mampu menarik ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara tanpa mengenal musim liburan. Tahan lama Prospek bisnis wisata di sektor ini dipastikan akan mampu bertahan lama. Saat ini, dari 152 BPW yang tercatat sebagai anggota Asita Jatim, tak kurang 20 persen di antaranya telah menggarap paket wisata ziarah secara serius. Direktur Linda Jaya Travel Arifin yang mengaku telah merintis wisata ziarah sejak 10 tahun lalu pun menyatakan bahwa keuntungan yang diperoleh dari penyelenggaraan wisata ziarah ini lumayan besar. Selama ini paket wisata ziarah yang mayoritas diikuti ibu-ibu itu mampu menjadi pengganjal, bahkan andalan utama BPW di saat paket-paket wisata lainnya lesu. Kepala Bagian Tour Nur Transport Surabaya Bagoes Lambang M menjelaskan, pihaknya memiliki dua macam paket wisata ziarah, yakni ziarah makam Wali Songo yang mencakup Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Barat (Jabar), serta makam Wali Lima yang hanya di wilayah Jatim. Tidak hanya itu, saat ini pihaknya juga tengah menyiapkan paket wisata khusus ke Gunung Kawi untuk memenuhi permintaan wisatawan asal Jakarta. Tarif yang dipatok BPW ini sangat bervariasi, sesuai keinginan wisatawan, apakah ingin menyewa bus saja atau terima bersih. Namun, untuk paket wisata khusus Gunung Kawi, Bagoes mengaku belum dapat menghitungnya karena masih dievaluasi. Paket wisata ziarah Wali Lima yang mampu menarik 75 persen wisatawan dari seluruh peziarah dengan ongkos sewa bus Rp 1,4 juta per hari. Untuk peziarah yang memilih terima bersih dikenai tarif minimal Rp 75.000 per orang. Tarif ini sudah termasuk biaya pemandu wisata, tol, suvenir, sumbangan di obyek wisata, dan akomodasi. (RMA)

Sumber : Kompas

Add comment February 6th, 2007


Calendar

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Posts by Month

Posts by Category