Surabaya, Kompas - Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Surabaya akan mengembangkan wisata air di kawasan bozem Wonorejo, Surabaya. Dua bozem Wonorejo, yang masing-masing seluas 8.000 meter persegi, itu akan dilengkapi dengan sarana yang menunjang wisata air, seperti alat pancing dan perahu.Hal itu dikemukakan oleh Mashuri, Kepala Sub Dinas Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW) Disparta Surabaya, Rabu (4/6). “Kami sudah menggodok rencana ini, termasuk kemungkinan pembebasan lahan oleh Pemkot Surabaya seluas 20 hektar di sekitar bozem,” ujar Mashuri.
Ide untuk mengembangkan wisata air ini, menurut Mashuri, adalah upaya untuk memanfaatkan bozem atau waduk dalam skala kecil di Wonorejo, yang selama ini digunakan untuk mengendalikan banjir. “Seperti wisata di waduk Jatiluhur dalam skala kecil,” ujar Mashuri.
Meskipun rencana pengembangan bozem sudah dipikirkan masak-masak, Mashuri mengaku bahwa pihak Disparta membutuhkan sinergi dengan pihak lainnya yang terkait. Termasuk kemungkinan untuk menjadikan bozem Wonorejo sebagai starting point atau titik awal pengembangan wisata air di Surabaya.
Salah satu kendala yang dirasakan masih cukup mengganggu adalah dana. Pasalnya, selain memberdayakan bozem menjadi kawasan wisata, pihak Disparta juga berencana untuk menyelenggarakan transportasi air sepanjang Rolak Jagir ke arah bozem Wonorejo.
“Masyarakat dapat naik perahu menyusuri jalur sungai sepanjang lebih kurang lima kilometer itu,” kata Mashuri.
Selain sebagai atraksi pariwisata, perahu yang menyusuri sungai itu dapat menjadi alternatif untuk menghindarkan diri dari kemacetan. Oleh karena itu, perahu yang akan disediakan berukuran cukup besar, setidaknya lebih besar daripada perahu yang selama ini digunakan untuk wisata di Taman Prestasi, di tepi Kali Mas.
“Menurut rencana, akhir tahun ini rencana itu sudah dapat mulai diwujudkan. Bahkan, pada tahun 2004 mendatang, Dinas Pariwisata Jatim sudah siap memberikan bantuan berupa dua buah perahu,” kata Mashuri. (IDR)
Sumber : Kompas
February 5th, 2007
MATAHARI hampir di atas kepala ketika sebuah bus dengan nomor polisi L memasuki tempat parkir kawasan wisata Situ Lengkong. Ketika para penumpangnya berhamburan ke luar, dari bicaranya bisa ditangkap. Mereka berasal dari Madura atau setidaknya dari Jawa Timur.
SIANG itu sebenarnya bukan merupakan hari libur untuk karyawan atau pegawai. Tetapi, yang namanya para peziarah, mereka rupanya tidak mengenal hari libur atau bukan. Begitu ada kesempatan, langsung digunakan. “Kami semua mencarter bus dari Surabaya,” kata seorang pengunjung.
Setelah mengunjungi tempat-tempat ziarah di Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), lalu makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat (Jabar), pada hari keempat ini mereka mengunjungi Situ Lengkong sebelum melanjutkan niat ziarah ke Pamijahan yang terletak di Tasikmalaya Selatan, Jabar. “Rencananya kami seminggu di perjalanan,” kata seorang nenek yang tampak masih gesit dalam dialek yang bercampur Jawa Timur. Separuh kepalanya ditutup jilbab.
SITU Lengkong selama ini telah menempatkan diri dalam jajaran tempat wisata ziarah di Jabar. “Setiap hari selalu ada saja rombongan yang datang ke sini,” kata seorang pemilik warung di tempat tersebut.
Lokasinya yang termasuk strategis bisa dicapai melalui berbagai arah. Baik dari Cirebon-Ciamis melalui Kuningan maupun dari Bandung-Tasikmalaya melalui Malangbong. Dari Kota Ciamis yang menjadi ibu kota kabupaten, jaraknya hanya 15 km.
Situ Lengkong termasuk wilayah Desa/Kecamatan Panjalu. Disebut demikian karena daerah tersebut merupakan danau. Dalam bahasa Sunda, situ artinya ’danau’. Daerahnya berhawa sejuk karena berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut.
Penduduk setempat menamakan “pulau” kecil di tengah situ tersebut Nusa Gede atau Nusa Panjalu. Sebagian lainnya ada yang menyebutnya Nusalarang. Tetapi, pada zaman penjajahan Belanda, “pulau” kecil tersebut sempat dinamakan Pulau Koorders.
Dengan luas sekitar 16 hektar, pulau tersebut ditetapkan sebagai cagar alam sejak tanggal 21 Februari 1919. Bahwa kemudian disebut Pulau Koorders, pemberian nama tersebut dimaksudkan sebagai penghargaan kepada Dr Koorders. Ia merupakan pendiri dan sekaligus ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming, sebuah perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863.
Sebagai seseorang yang menaruh perhatian besar pada botani, Koorders telah memelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di Pulau Jawa. Pekerjaan mengumpulkan herbarium tersebut dilakukan bersama Th Valeton, seorang ahli botani yang membantu melakukan penelitian ilmiah komposisi hutan tropika.
Koorders dan rekannya akhirnya berhasil memberikan sumbangan yang tidak kecil pada dunia ilmu pengetahuan. Berkat kerja kerasnya, kemudian lahir bukunya, Bijdragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java, sebuah buku yang merupakan sumbangan pengetahuan tentang pohon-pohon yang tumbuh di Pulau Jawa.
SEBAGAI cagar alam, Nusalarang memiliki vegetasi hutan primer yang relatif masih utuh dan tumbuh secara alami. Wisatawan yang berkunjung ke sana bisa menikmati berbagai jenis flora, antara lain kondang (Ficus variegata), kileho (Sauraula Sp), dan kihaji (Dysoxylum). Di bagian bawahnya tumbuh tanaman rotan (Calamus Sp), tepus (Zingiberaceae), dan langkap (Arenga).
Sedangkan fauna yang hidup di pulau tersebut antara lain tupai (Calosciurus nigrittatus), burung hantu (Otus scops), dan kalong (Pteropus vampyrus). Belakangan, populasi kalong di daerah itu bertambah dengan berdatangannya kawanan kalong dari Astana Gede Kawali.
Situs yang terletak di Kecamatan Kawali, enam kilometer arah utara Kota Ciamis, itu selama ini dianggap sebagai pusat Kerajaan Galuh. Kawanan kalong yang bersarang di situs tersebut dikabarkan sudah lebih dulu hijrah ke Situ Lengkong, jauh sebelum terjadi bencana angin ribut melanda situs Astana Gede Kawali. Situs Astana Gede Kawali dipercaya mempunyai hubungan sejarah dengan situs Panjalu di Nusalarang.
Akan tetapi, wisatawan dari berbagai daerah yang berkunjung ke Situ Lengkong terutama sekali bukan untuk menyaksikan flora dan faunanya. Di tengah “situ” yang merupakan pulau terdapat makam leluhur masyarakat Panjalu yang menjadi perintis penyebaran agama Islam di Jabar.
“Pulau” kecil di tengah situ tersebut bisa dicapai dalam beberapa menit dengan menggunakan perahu motor yang selalu siap mengantarkan para peziarah setiap saat. Rencananya, beberapa puluh meter dari dermaga perahu motor tersebut akan dibangun Masjid Raya Panjalu.
BAGI masyarakat Panjalu, Situ Lengkong berdasarkan kisah-kisah lisan yang beredar selama ini tidaklah dengan sendirinya terbentuk. Situ tersebut terbentuk sebagai bagian dari proses pengislaman yang dirintis Prabu Borosngora, anak kedua dari Prabu Tjakradewa.
Dalam Babad Panjalu, ia disebut sebagai buyut dari Sanghyang Ratu Permanadewi, Ratu Kerajaan Soko Galuh yang membawa ajaran karahayuan (kemakmuran). Karena dipimpin seorang wanita, kerajaan tersebut dinamakan Kerajaan Panjalu. Dalam bahasa Sunda, jalu berarti dari jenis kelamin laki-laki.
Prabu Borosngora, dalam Babad Panjalu dan naskah-naskah lainnya, diceritakan pernah melakukan perjalanan ke Mekkah dalam usahanya meningkatkan kemampuan batiniahnya. Di sana ia bertemu Sayidina Ali. Dari pengalaman dan pertemuannya dengan khalifah keempat itu, Prabu Borosngora akhirnya memeluk agama Islam.
Ketika akan pulang, ia dibekali sebilah pedang, baju haji, dan cis (tongkat). Untuk memenuhi permintaan ayahnya, ia membawa air zamzam yang disimpan di dalam gayung yang bolong-bolong. Setibanya kembali di kerajaan, air zamzam itu lalu dituangkan pada satu lembah yang disebut Legok Jambu dan Pasir Jambu, sampai akhirnya tercipta danau yang dinamakan Situ Lengkong.
Setelah takhta kerajaan diserahkan kepadanya, Prabu Borosngora membangun pusat kerajaan di daerah yang kini disebut Nusalarang atau Nusa Gede. Namun, beberapa tahun setelah naik takhta, ia menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya, Prabu Haryang Kuning. Prabu Sanghyang Borosngora sendiri kemudian pindah ke Jampangmanggung dan menyebarkan Islam di sana.
Kerajaan Panjalu pernah kuat dan besar. Namun sayang, dalam perjalanan selanjutnya, kerajaan tersebut pernah masuk menjadi bagian Kesultanan Cirebon sampai akhirnya menjadi kabupaten. Wilayahnya kemudian digabung dengan Kabupaten Imbanagara dan Divisi Kawali sehingga menjadi Kabupaten Ciamis sekarang (R Haris Riswanda Cakradinata, Punika Silsilah Kerajaan Panjalu, 2002).
NUSALARANG atau Nusa Gede yang kini banyak diziarahi adalah pemakaman raja-raja Panjalu dan keturunannya sampai Bupati Panjalu terakhir, Dalem Tjakranegara III. Berdasarkan gambar dan buku klasiran desa tahun 1937, luas Situ Lengkong 69,98 hektar dan Nusalarang 9,25 hektar.
Pemilik keturunan terakhir Situ Lengkong, Demang Prajadinata, meninggal di Mekkah. Namun, sebelum berangkat pada tahun 1908, dia berpesan agar Situ Lengkong dijadikan tanah hak kulah. Air dan ikannya dizariahkan, sedangkan pemeliharaannya diserahkan ke pemerintah desa.
Pada tahun 1929 pernah terjadi gugatan, tetapi dapat diselesaikan. Dengan surat keputusan gubernur jenderal saat itu, Situ Lengkong akhirnya dinyatakan tidak termasuk kekayaan pemerintah. Saat itu kedalaman air Situ Lengkong di daerah tertentu mencapai lebih dari 10 meter. Jika dilihat dari jauh, warnanya membiru.
Sayang, akibat kerusakan daerah hulu, kedalaman air situ tersebut kini tinggal empat meter. Pelumpuran yang terus berlangsung akibat penebangan pohon-pohon di daerah hulu Cipanjalu dikhawatirkan akan mengakibatkan Situ Lengkong berubah menjadi daratan.
Selain itu, dampak lainnya akibat kegiatan wisata yang tidak terkelola dengan baik ditunjukkan Ketua Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Ciamis Wawan Ridwan berupa kemerosotan mutu air Situ Lengkong. Menurut dia, selain luas situ yang makin sempit, tingkat pencemaran airnya makin tinggi. Airnya tidak bening lagi karena di perairan tersebut beroperasi sekitar 20 motor tempel yang menggunakan bahan bakar solar.
Situ Lengkong dan Nusalarang merupakan obyek wisata budaya dan wisata alami. Para pengunjungnya berasal dari berbagai daerah. Berdasarkan angket yang disebarkan Yaya Ruswaya, pada tahun 2000 kunjungan yang berasal dari Jabar mencapai 63 persen, Jateng 13 persen, dan Jatim sebanyak 23 persen, serta dari daerah lainnya satu persen.
Namun, karena kegiatan wisata itu tumbuh secara alami tanpa rencana dan tanpa sentuhan manajemen terpadu berbagai aspek, Wawan melihat akibatnya yang kurang memberi manfaat ekonomi secara langsung. Karena itu, dalam Seminar Pengembangan Kawasan Situ Lengkong Panjalu, Wawan mengusulkan beberapa skenario untuk menata kawasan tersebut.
SELAIN merupakan obyek wisata, sebagai bekas kerajaan, Panjalu sebenarnya masih memiliki daya tarik lainnya berupa upacara nyangku. Upacara itu setiap tahun diselenggarakan pada hari Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud.
Nyangku yang berasal dari bahasa Arab yanko artinya sama dengan membersihkan. Dalam upacara tersebut, pedang hadiah dari Sayidina Ali dan barang pusaka lainnya seperti cis, keris, dan tombak dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Bumi Alit untuk dibersihkan.
Prosesi upacaranya dilanjutkan dengan membawa barang- barang pusaka tersebut ke Nusalarang, lalu kembali ke balai desa untuk dibersihkan. Menjelang tengah hari, barang-barang pusaka itu disimpan kembali ke tempat asalnya.
Bagi masyarakat Panjalu, nyangku memiliki makna yang lebih luas. Dan sesuai dengan ajaran leluhur mereka, setiap langkah dalam upacara tersebut memiliki makna tersendiri yang bertujuan meningkatkan kebahagiaan lahir-batin keturunan Panjalu. Kepada anak-cucunya, Raja Panjalu mewariskan papagon atau ajaran yang antara lain berbunyi: pakena gawe rahayu dan pakena kreta bener.
Ajaran itu menurut H Enang Supena, keturunan ke-17 Raja Panjalu, merupakan ajaran karahayuan yang diwariskan Ratu Permana Dewi dan Prabu Ranggagumilang. Ajaran lainnya menganjurkan anak-cucunya untuk selalu berbuat benar dan jujur. “Mangan karna halal, pake karna suci, ucap lampah sabenere,” kata Ketua Padepokan Gawe Rahayu itu. (Her Suganda)
Sumber : Kompas
February 5th, 2007
Surabaya, Kompas - Pariwisata Surabaya jangan hanya diarahkan pada wisata sungai atau pembangunan monumen-monumen sejarah, namun harus lebih fokus pada pemeliharaan gedung-gedung tua yang banyak telantar. “Turis-turis mancanegara, terutama dari Eropa paling menyukai arsitek gedung-gedung tua berikut sejarahnya. Tidak ada turis asing yang mau mengeluarkan banyak uang datang ke Surabaya, hanya disuguhi potlot raksasa (Tugu Pahlawan-Red),” kata William AJ Vroegop, konsultan pariwisata untuk turis mancanegara, di Surabaya.
Menurut Vroegop, Surabaya sebagai salah satu kota bisnis terbesar di Asia Tenggara, mempunyai potensi pariwisata yang luar biasa besar. “Apalagi Surabaya mempunyai pelabuhan yang telah ada sejak zaman dahulu, yang sudah pasti memiliki bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur klasik. Kalau Pemerintah Kota Surabaya bisa menangkap itu, kedatangan turis tidak akan bisa dibendung lagi,” kata Vroegop.
Wisata sungai yang berulang kali didengungkan Pemerintah Kota Surabaya akan dibangun, menurut Vroegop, membutuhkan biaya yang luar biasa besar dan kesadaran dari seluruh warga kota. “Tidak bisa pemerintah berjalan sendiri, sementara warga kota tidak mendukung. Jadi untuk mewujudkannya perlu waktu yang cukup lama, sedangkan kedatangan turis mancanegara tidak bisa ditunda lagi,” ujar Vroegop.
Habiskan dana
Monumen-monumen bersejarah yang banyak dibangun oleh Pemerintah Kota, menurut Vroegop, hanya menghabiskan dana pemerintah saja. Sementara monumen-monumen itu tidak cukup kuat untuk menarik minat wisatawan. Berbeda halnya jika pemerintah membangun monumen-monumen itu, diikuti dengan pemeliharaan gedung-gedung tua. “Itu akan menjadi wisata sejarah yang terintegrasi, saling mengisi. Apalagi bila pemerintah menghidupkan kembali trem yang pernah ada. Tidak perlu panjang cukup tiga gerbong, dan tidak usah operasional. Jadikan trem itu sebagai restoran makanan Indonesia, maka daya tarik wisatanya akan luar biasa sekali,” katanya.
Dalam pemeliharaan gedung-gedung tua tersebut, sebenarnya pemerintah bisa mengajak swasta untuk melakukannya. Misalnya, meminta bank-bank untuk tidak membangun gedung baru yang tinggi, tetapi menempati gedung-gedung tua itu. “Semua diuntungkan, pihak swasta tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun gedung baru, sementara gedung-gedung tua jadi terawat,” ujarnya.
Pembangunan gedung-gedung baru di daerah kota tua, seperti Kembangjepun, Jembatan Merah, Jalan Semut, dan sekitarnya sangat mengganggu nilai artistik dari daerah tersebut. “Banyak turis yang kecewa karena Jembatan Merah yang sangat terkenal itu, tidak didukung oleh suasana kuno di sekitarnya. Banyak gedung baru di sekitar sana, sehingga merusak pemandangan,” kata Vroegop. (arn)
Sumber : Kompas
February 5th, 2007