Archive for February, 2007
Berjalan kaki menyusuri kebun teh di bawah suhu sekitar 16 derajat Celsius menjadi keasyikan tersendiri. Berwisata alam ke Gunung Bromo atau Semeru, di sisi selatannya, belum lengkap bila tidak mencoba jalur pendakian alam di sekitar dua gunung terkenal di Jawa Timur itu. Kita akan melihat keelokan alam serta habitat tanaman dua gunung itu yang tidak pernah dijumpai sebelumnya.
Wisatawan, baik lokal maupun manca negara, umumnya menjamah dua gunung itu melalui jalan raya Desa Ngadisari, Kecamatan Sukopuro, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Atau melalui Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, sisi barat gunung Bromo. Bila menuju Gunung Semeru melalui jalur itu, cukup menyeberangi lautan pasir menuju desa Ngadas Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, lalu naik ke kaki hingga puncak Arcopodo Semeru. Rute pendakian lain ke Semeru melalui Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
”Pendakian jalur ini sudah umum meski rada berbahaya. Di sana hanya hutan belantara lalu Ranu Pane,” kata Ahmad Mulyono dan Edy Wicaksono, dua aktivis pecinta alam di Jember, Jawa Timur.
Salah satu rute pendakian yang praktis jarang disentuh para pewisata alam adalah melalui perkebunan Teh Kertowono milik PTPN XII. Lokasi ini tepat berada di timur Gunung Bromo dan Semeru, atau tepatnya di Kecamatan Guci Alit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Sepanjang sekitar 50 kilometer dari kantor PTPN XII Kebun Kertowono menuju Tengger, pendakian bisa dilakukan melalui tiga wilayah bagian kebun itu (afdeling) yakni Puring, Kamar Tengah, dan Kertosuko.
Di atas ketinggian 650 hingga 1.250 meter dari permukaan laut (dpl) kita bisa melihat hamparan pepohonan teh (Camellia Sinensis) seluas 931,82 hektare.
Muji Santoso, administratur kebun itu, kepada Republika di Lumajang beberapa pekan lalu menjelaskan, teh tersebut berjenis teh hitam yang ditanam sejak tahun 1910 oleh NV Ticderman Van Kerchen (TVK), sebuah perusahaan milik pemerintah Belanda yang membuka lahan itu sejak 1875.
”Jenis mutu teh hitam yang Anda pandang dari sini hingga ujung itu sebenarnya hanya dua, ortodok dan CTC (Crushing, Tearing, Curling),” kata Muji. Berjalan kaki menyusuri kebun teh di bawah suhu sekitar 16 derajat Celsius menjadi keasyikan tersendiri.
Namun, jangan berharap menjumpai kerasnya jalan aspal. Kita cuma akan menemui jalan berbatu, berlumpur ketika hujan, dan menanjak. Beruntung bila menjumpai truk pengangkut teh kebun yang menuju salah satu petak tanaman teh yang sedang panen.
Truk itu sebagai penunda rasa lelah berjalan lantaran pendaki bisa menumpangnya. Tapi tak jarang pula truk itu terjerembab di jalan berlumpur. Para karyawan kebun teh sendiri harus rela menarik truk berpuluh-puluh meter jauhnya.
Pemandangan di pagi hari cukup menakjubkan. Kepulan asap puncak Semeru yang menjadi ciri aktivitas gunung tertinggi di Jawa ini menjadi penyegar mata. Terlebih ketika kepulan itu muncul di saat cuaca cerah. Bali, moment termahal di pantai itu kan melihat matahari terbenam saat senja.
Di sini, moment termahal dan indah, ya memandang Gunung Semeru secara utuh berikut kepulan asapnya yang khas di pagi hari,” jelas Muji Santoso. Menyusuri ribuan pohon mahoni dan kayu rimba, merupakan satu warna lain dalam perjalan pendakian ke puncak Bromo-Semeru melalui Kertowono. Tegakan pohon yang berusia puluhan tahun masih utuh di beberapa wilayah kebun itu.
Menurut Muji Santoso, Kertowono merupakan potensi agrowisata yang signifikan untuk dikembangkan menjadi jalur pendakian. Sayangnya, kata dia, semua itu masih dalam benaknya yang tersimpan dalam bentuk rencana alias angan-angan. Keterbatasan dana untuk mengembangkannya merupakan kendala utama menciptakan Kertowono menjadi gerbang timur pendakian Bromo-Semeru.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui dinas pariwisatanya, jelas Muji yang juga arsitek Agrowisata Kebun Teh Wonosari, Malang, Jawa Timur, ini pernah melakukan survei dari ujung kebun teh hingga bibir gunung Bromo. Menyusul kemudian, Dinas Pariwisata Pemkab Lumajang yang juga menyurvei dan penjajakan Kertowono.
”Meski baru rencana, saya optimistis.
Karena pemerintah butuh pendapatan asli daerah. Di sini bisa digali,” jelas Muji.
Beberapa karyawan kebun mengungkapkan, rute Kertowono hingga puncak Bromo seringkali digunakan sebagai arena reli sepeda gunung oleh para mountain biker dari berbagai kota di Jawa Timur bahkan ibu kota Jakarta.
Mereka hanya sekadar lewat, mengambil start sekitar pelataran parkir pabrik teh, dan finish di Bromo. Kawasan ini sebenarnya juga mengakses daerah rimba Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Sebuah lokasi konservasi sumber daya alam yang menyimpan jutaan anggrek. Sekali lagi sayang, berbagai keterbatasan untuk membukanya dialami pihak manajemen PTPN XII Kertowono. mamang pratidina ()
Sumber: http://republika.co.id
February 28th, 2007
Kegersangan musim kemarau tak terasa di Kompleks Permandian Selokambang yang luasnya 12 hektar itu. Teriknya sinar matahari pada musim kemarau tidak mampu mengalahkan keteduhan yang ditebarkan pepohonan rindang di sekitarnya.
Suasana tenang dan sejuk tadi semakin lengkap oleh riak-riak air jernih alami yang memenuhi kolam induk berukuran sangat luas. Keseluruhan simfoni alam seolah tidak henti-hentinya memancarkan kedamaian bagi para pengunjungnya. Inilah primadona obyek wisata Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang berlokasi di Desa Purwosono, sekitar tujuh kilometer arah barat Kota Lumajang.
Tidak susah untuk mencapai lokasi ini karena jalanan beraspal cukup mulus melintasinya. Kendaraan umum pun tersedia, mengendarai motor sendiri pun tak akan menemui hambatan.
Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Lumajang, debit sumber air Selokambang mencapai lebih dari 1.350 meter kubik per detik, sebagian dimanfaatkan perusahaan daerah air minum (PDAM) setempat untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Kota Lumajang.
Selain kolam renang induk yang luasnya mencapai 1.000 meter persegi, di kompleks ini juga tersedia kolam renang khusus untuk anak-anak, kolam pemancingan, beraneka ragam fasilitas bermain anak-anak, serta sarana olahraga. Karena itu, lokasi ini banyak dimanfaatkan untuk rekreasi keluarga.
“Pengunjung sangat ramai pada masa Idul Fitri, puncaknya hari raya Kupatan,” tutur Soeharwoko, Kepala Subbagian Pariwisata Kabupaten Lumajang. Ia menambahkan, Kupatan jatuh pada hari ketujuh setelah Idul Fitri dan warga Lumajang banyak yang merasa belum afdal merayakannya jika belum berkunjung ke Selokambang. Selain itu, ada kepercayaan bahwa mandi di Selokambang bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
Dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung terus meningkat. Pada tahun 2003 tercatat 196.517 orang yang berkunjung dan ini menghasilkan uang dari penjualan tiket masuk sebesar Rp 306 juta lebih. Tahun berikutnya jumlah pengunjung meningkat menjadi 203.156 orang (Rp 362 juta lebih), demikian pula pada tahun 2005 (206.783 orang dengan pemasukan mencapai Rp 427,6 juta). “Sekarang pengelolaannya diserahkan kepada swasta,” kata Soeharwoko tanpa bersedia menyebutkan alasannya.
Beberapa tokoh di Lumajang menyayangkan swastanisasi obyek wisata tersebut karena potensinya cukup besar untuk menyumbang pendapatan asli daerah (PAD). “Akan tetapi, harus bisa mengelola secara profesional bisnis,” kata mantan anggota legislatif setempat yang tak bersedia disebut identitasnya. Ia menambahkan, keberanian pihak swasta mengelola tempat itu tentu sudah diperhitungkan bisa memberikan keuntungan cukup besar.
Legenda
Menurut legenda yang dipercaya masyarakat Lumajang, pada zaman dahulu daerah ini diperintah oleh Adipati Arya Wiraraja sebagai hadiah dari Kerajaan Majapahit karena jasa-jasanya. Sang Adipati mempunyai putra sebagai ahli warisnya yang dikenal dengan sebutan Empu Nambi. Dalam kekacauan yang terjadi kemudian, Empu Nambi dan keluarganya tewas. Salah seorang bawahannya, Demang Ploso, berhasil melarikan diri dengan meninggalkan begitu saja harta kekayaannya.
Seorang abdi kinasih (pembantu yang disayangi) Demang Ploso menyelamatkan sebagian harta yang ditingggalkan tersebut, yaitu berupa aneka ragam perhiasan berharga. Ia membawanya sambil mencari tempat Ki Demang sembunyi. Karena begitu banyak dan beratnya harta yang dibawa, si abdi itu ingin menyembunyikannya di suatu tempat agar perjalanannya mencari Ki Demang menjadi lebih mudah dan lincah. Ia kemudian menemukan satu batu sebesar kerbau di tepi danau dan ingin menyembunyikan harta tersebut di tempat itu. Namun, ternyata tidak mudah melakukannya karena batu tersebut sangat berat.
Lokasi batu itu dekat padepokan Empu Teposono yang dikenal sakti. Selanjutnya, atas permintaan abdi tersebut, Sang Empu kemudian membantu menyingkirkan batu. Setelah bersemedi sejenak, Empu Teposono dengan menyandang keris “aji pameleng” dan tongkat “gemiling” secara mudah menggeser batu tersebut masuk ke danau. Yang menarik, batu itu tidak tenggelam melainkan terapung di sana. Danau tersebut oleh masyarakat lalu diberi nama Selokambang (batu terapung), yang kemudian semakin membesar dan batunya hancur dimakan waktu. Selokambang tetap lestari menjadi nama danau itu sampai saat ini.
Kawasan wisata
Sekitar 10 kilometer lagi, jalan yang melewati Selokambang, mencapai wilayah Senduro di kaki Gunung Semeru. Senduro telah diproklamasikan sebagai kawasan agropolitan meskipun pelaksanaannya tampak setengah hati. Hanya beberapa lokasi yang disemarakkan dengan tanaman hias dan hortikultura, itu pun terlihat kurang terawat. Jika ditangani secara serius dan berkesinambungan, daerah ini bisa menjadi obyek wisata agro yang menarik. Apalagi daerah ini juga dikenal sebagai sentra tanaman pisang agung yang memunculkan sekian banyak industri keripik pisang.
Senduro masih diperkaya dengan tempat ibadah umat Hindu, seperti Pura Mandara Giri Semeru Agung yang disebut-sebut sebagai pura terbesar kedua setelah Pura Besakih di Bali. Pada hari raya Hindu tertentu, banyak masyarakat Bali yang datang ke pura tersebut, bahkan ada yang sampai beberapa hari menginap di rumah-rumah penduduk. Sekitar dua kilometer ke arah Gunung Semeru sebenarnya tersedia penginapan yang cukup besar. Namun, pantang bagi umat Hindu untuk menginap di tempat yang lebih atas dibandingkan dengan lokasi pura.
Dari Senduro, melewati Desa Burno, kita bisa menuju ke Ranupani, salah satu danau alam yang indah di lereng Semeru. Kondisi jalan ke sana pun cukup baik sehingga kendaraan roda empat tak banyak mengalami kesulitan. Di tempat inilah kita bisa menikmati keindahan alam yang memesona, serta memandangi puncak Semeru yang saat ini terus-menerus mengepulkan asap hitam pekat disertai semburan pasir.
“Beberapa kali saya ke sana untuk mengagumi dan menikmati kebesaran Tuhan,” tutur Romo HT Ardi Wardana yang berdomisili di Kota Lumajang.
Obyek lain
Lumajang sebenarnya kaya akan obyek wisata yang menarik. Namun, sebagian besar obyek wisata itu kurang mendapat sentuhan berarti dari pemerintah setempat. Sebutlah kebun tebu dan Pabrik Gula Djatiroto dengan Saluran Bondoyudo yang fenomenal itu. Di Kecamatan Yosowilangun saat ini juga berkembang pesat para floris yang membudidayakan adenium, baik jenis lokal maupun impor. Tanaman ini bisa bernilai puluhan ribu sampai jutaan rupiah, tergantung jenis dan penampilannya. Sebagai contoh, saat pameran di Kota Blitar awal tahun ini, terdapat adenimun juara dengan harga mencapai Rp 60 juta!
Pedagang buah, khususnya pisang agung dan nangka, yang tersebar sepanjang pinggiran jalan di daerah Klakah juga bisa dijadikan obyek wisata. Jika dikaitkan dengan sentra tanaman pisang-nangka dan industri keripik dari kedua jenis buah tersebut, cukup banyak industri kecil yang tumbuh di kawasan ini. Untuk mewujudkan semua itu, memang perlu penataan yang memadai, kerja keras, serta pengabdian aparat pemerintah.
Kerajinan perak di Lumajang juga cukup banyak dan sebagian menjadi pemasok toko-toko suvenir di Pulau Bali. Mereka tersebar di desa-desa Kecamatan Candipuro, Tempeh, Pasirian, Sumbersuko, dan Pasrujambe. Mereka belum banyak dikenal karena nyaris tidak pernah dibina dan dipromosikan meskipun kualitas karya mereka bisa disejajarkan dengan karya para perajin di Bali.
Semua potensi daerah itu tentu akan menambah indahnya pemandangan sepanjang jalan Lumajang-Malang yang penuh dengan tanjakan dan tikungan serta pemandangan alam yang memukau.
Napas wisatawan akan terembus lepas setelah tiba dan beristirahat di Piket Nol, tempat tertinggi dan perbatasan antara dua kabupaten. Di sini mata kita bisa memandang lepas ke arah laut selatan atau menikmati kerimbunan semak dan tanaman perkebunan daerah tersebut.
Menempuh jalur selatan Lumajang-Malang memang mengasyikkan meskipun harus ekstra hati-hati. Di balik keindahan alamnya, terselip tikungan tajam dan jurang dalam yang setiap saat dapat mengancam para pengendara yang melintas. (JA NOERTJAHYO)
Sumber : www.kompas.co.id
February 28th, 2007
Kompleksitas potensi wisata Malang Raya sebenarnya menarik untuk ditelusuri. Namun, selama ini, ratusan obyek potensi wisata ini tidak banyak tergarap secara terintegrasi sehingga wisatawan tidak bisa menikmati semua potensi ini secara utuh. Kondisi ini tejadi karena faktor egoisme masing-masing daerah dalam mengambangkan pariwisatanya diiringi ambisi pribadi mengeruk Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata yang sebesar-besarnya.
Padahal, kalau dikembangkan secara integral ketiga daerah maka PAD yang akan didapatkan masing-masing daerah dari sektor pariwisata akan jauh lebih besar. Imbas pengelolaan yang masih parsial itu berpengaruh langsung pada kepuasan wisatawan dalam menikmati obyek wisata yang sebenarnya bisa mereka gapai secara maksimal. Contoh, saat wisatawan berkunjung ke Kabupaten Malang atau Kota Malang, maka yang tersirat dibenaknya adalah obyek wisata yang ada di dua daerah itu.
Padahal, ada Kota Batu yang juga mengandung segudang potensi wisata cukup menarik dan unik. Selain persoalan manajemen pengelolaan, potensi wisata ketiga daerah itu cenderung berkembang parsial karena manajemen informasi yang bertujuan menjustifikasi masing-masing potensi masih sangat minim. Contoh kecil, tiga daerah ini tidak memiliki guide (pemandu wisata) lokal yang berfungsi menemani wisatawan berkeliling sembari menjelaskan latar historis maupun gambaran masing-masing obyek wisata.
Model manajemen informasi wisata seperti ini dapat ditemui di Pulau Dewata, Bali. Alangkah bermanfaatnya kesatuan itu. Sebab masing-masing obyek wisata di Malang Raya bisa berkembang bersama. Kabupaten Malang memiliki sederet pantai yang laik dikunjungi. Seperti pantai Ngliyep, Bale Kambang dan Sendangbiru. Kemudian pantai Kondang Merak, Kondang Iwak, Jonggring Saloko, Modangan, Bantol yang belum dikembangkan sebagai obyek wisata.
“Berbagai isu (tsunami, gempa bumi) membuat kunjungan wisata ke lokasi pantai menurun hingga 70 persen,” ungkap Direktur PD Jasa Yasa, Drs Rahmat pada Surya akhir pekan lalu. Melihat kondisi itu, Pemkab Malang tidak tinggal diam. Saat ini Pemkab tengah mengkaji untuk mengembangkan dan menggali potensi wisata yang ada. Seperti pantai Sendangbiru, Bale Kambang, Ngliyep dan Wendit. Untuk melakukan studi kelayakan telah dianggarkan dana Rp 600 juta.
“Kalau dari potensi yang ada, wisata Bale Kambang memang menyerupai Tanah Lot di Bali. Apakah nanti akan dikembangkan seperti Bali atau lainnya, bisa dilihat dari hasil studi kelayakan,” urai Purnadi SH MM, Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Malang. Khusus untuk wisata Wendit, mulai tahun ini Pemkab akan mengembangkan menjadi wisata air (saujana) kelas internasional. Anggaran yang dibutuhkan Rp 40 miliar. Tahap awal, Rp 7 miliar untuk perbaikan internal dan pembebasan lahan 3,5 hektare. st25/st19
Sumber : www.surya.co.id
February 27th, 2007
KESAN yang menggores tajam pada seorang turis itu sungguh mengagumkan. Ia begitu indah menggambarkan panorama Pantai Plengkung di bagian selatan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di sanalah ia menemukan kedamaian, di sanalah ia menghayati kebesaran Tuhan. Dan, di sana pula ia merasakan getaran gemuruhnya gelombang raksasa, tak ubahnya dengan kegelisahan hidup manusia di muka Bumi ini. Ada perang, ada pengkhianatan, tetapi juga ada kehalusan tingkah laku dan belaian kasih sayang.
NAMANYA Fritz Simon, usianya 40 tahun. Ia lahir di sebuah kota di Australia, namun ia tak mau jati dirinya dipaparkan lengkap. Orangtuanya berasal dari Inggris dan berusaha di bidang pertanian hortikultura. Fritz-panggilan akrabnya-diharapkan sang ayah bisa melanjutkan usahanya itu. Sebab, saudaranya yang lain menekuni profesi sebagai dokter dan saudara perempuannya yang sudah menikah lebih senang menjadi dosen.
“Lautan biru yang membentang luas itu tak pernah tidur. Gemuruh ombak terus menggebu, berpacu menggerakkan lidah airnya untuk terus-menerus menjilati pasir di pantai. Itulah dinamika kehidupan samudra luas. Itulah lukisan alam tentang kehidupan anak manusia di muka bumi,” demikian bunyi sebagian catatan Fritz dalam buku hariannya. Ia mengaku, catatan itu telah diterjemahkan pemandunya dan didiskusikan bersama.
Fritz Simon juga cukup lancar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. “Tapi belum mahir seperti dia,” katanya sambil menunjuk Putu Astana, pemandu wisata asal Denpasar yang menyertai rombongannya. Saat itu mereka menginap di sebuah hotel dalam perkebunan di daerah Banyuwangi.
Pantai Plengkung yang terletak sekitar 90 kilometer selatan Kota Banyuwangi itu memang sudah terkenal di luar negeri. “Banyak peselancar yang mengakui lokasinya sangat bagus, panoramanya indah. Ombaknya disebut-sebut sebagai terbaik kedua setelah arena selancar air di Hawaii,” ujar Margono, Kepala Subdinas Sarana Pariwisata pada Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kabupaten Banyuwangi. Pantai Plengkung adalah salah satu obyek wisata dari “segi tiga berlian” yang dijadikan andalan obyek wisata di Banyuwangi.
Kepala Seksi Promosi Pariwisata Rundiati yang mendampingi Margono menyatakan, tanggal 9-14 September lalu di Pantai Plengkung dilaksanakan lomba selancar air (surfing) tingkat internasional yang dikenal dengan “Banyuwangi G-Land International Team Challence”. Lomba itu diikuti 12 tim selancar air dari delapan negara dengan jumlah atlet 86 orang. Mereka antara lain dari Australia, Perancis, Inggris, Amerika, dan Selandia Baru. Tidak ketinggalan tim Indonesia yang diwakili atlet peselancar dari Bali.
OBYEK wisata lain yang masuk dalam “segi tiga berlian” Banyuwangi adalah kawah Gunung Ijen. Pemandangan di sana memang indah dan unik. Perjalanan menuju ke obyek itu sebagian lewat jalan setapak yang terjal di perkebunan kopi dan hutan lindung. Pemandangannya pun bervariasi. Jika alam sedang ramah, banyak jenis burung yang beterbangan di alam bebas sambil sesekali berkicau.
Semakin mendekati kawah di puncak gunung, bau menyengat mulai terasa. Setelah sampai di bibir kawah, bau belerang terasa semakin kuat. Kita seperti berdiri di “bibir panci”. Di belakang kita adalah lereng gunung yang terjal, dan di depan ada lubang besar menganga yang bernama kawah dan kaldera.
The Handbook to Tourism Objects of Banyuwangi, mencapai 2.000 hektar, terletak sekitar 32 kilometer dari Kota Banyuwangi. Namun, jalan ke sana yang paling baik lewat Kabupaten Bondowoso. Kawah berada pada ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut.
OBYEK wisata ketiga yang masuk dalam “segi tiga berlian” adalah Pantai Sukamade di kawasan Taman Nasional Merubetiri. Lokasinya sekitar 100 kilometer barat daya Kota Banyuwangi. Pantai Sukamade merupakan habitat dan penangkaran penyu. Di sini terdapat lima jenis penyu, dan pengunjung dapat “mengintip” penyu-penyu yang sedang bertelur di pasir pantai. Kegiatan itu biasanya terjadi pada malam hari, terlebih jika bulan sedang purnama.
Sekitar Pantai Plengkung juga banyak obyek wisata alam yang menarik, terutama bagi mereka yang senang bertualang. Taman Nasional Alas Purwo yang “memangku” Pantai Plengkung merupakan ekosistem hutan tropis dataran rendah dengan vegetasi hutan pantai dan mangrove.
Topografinya bergelombang sampai datar, dan yang paling tinggi adalah puncak Gunung Linggar Manis (322 meter). Selain Plengkung, pantai di kawasan Alas Purwo itu yang banyak disenangi adalah Pantai Trianggulasi dan Pancur. Dari tempat ini juga bisa disaksikan panorama indah terbenamnya Matahari.
Meskipun tidak termasuk dalam “segi tiga berlian”, sebenarnya masih banyak pemandangan alam yang indah di Kabupaten Banyuwangi. Sebutlah antara lain Pantai Meneng dan Taman Wisata Watudodol. Banyuwangi juga memiliki pemandian air terjun Antogan yang letaknya hanya 16 kilometer dari pusat kota, serta beberapa lokasi agrowisata yang cukup baik.
Belum lagi wisata budaya, seperti perkampungan Osing, tarian gandrung, serta kesenian tradisional lainnya. Kabupaten ini juga memiliki museum, yang antara lain menyimpan benda-benda bersejarah asli Banyuwangi. Beberapa situs dan tempat-tempat bersejarah sampai Klenteng Ho Tong Bio yang didirikan tahun 1768-1784 juga bisa dijadikan obyek wisata.
Masih banyak lagi obyek yang bisa “dipasarkan”. Sebutlah upacara tradisional Petik Laut di pusat perikanan Muncar atau Pancer. Yang tidak kalah menariknya adalah berbagai peninggalan yang berkaitan dengan Kerajaan Blambangan. Minakjinggo dan Dayun, raja dan abdi di kerajaan ini sangat populer dalam cerita pertunjukan seni ketoprak. Itulah Banyuwangi, yang menyebut dirinya sebagai The Real Tropical Country, Bumi Tropis Senyatanya.
SAYANGNYA, banyak obyek wisata yang belum terbenahi secara rapi, terutama sarana jalan dan transportasi yang pada umumnya belum memadai. Banyak pengunjung yang mengeluh betapa sulitnya mencapai Taman Nasional Alas Purwo dan Pantai Plengkung dengan menggunakan kendaraan umum. Demikian juga untuk mendatangi Pantai Sukamade dan kawah Ijen. Petunjuk perjalanan ke berbagai obyek itu juga sangat minim, dan peta wisata yang ada tidak banyak menolong.
Untuk mencapai Banyuwangi memang tidak sulit, baik dari arah Surabaya maupun Denpasar (Bali). Namun, jarak yang harus ditempuh terlalu jauh, empat jam atau lebih. Sebagai “turis singgah” itu sudah sangat melelahkan, namun untuk menjadi tujuan wisata rasanya Banyuwangi belum memadai.
Selain itu, semangat meningkatkan pemasukan PAD (pendapatan asli daerah) juga ada yang berimbas pada kegiatan pariwisata. Misalnya, dinaikkannya karcis masuk ke beberapa obyek sampai “retribusi” terhadap kamera atau alat rekam lain yang dibawa wisatawan.
Untuk mengatasi faktor jarak dan waktu, Banyuwangi mulai membangun lapangan terbang. Pencanangan awal pembangunannya dilakukan oleh Wakil Presiden Hamzah Haz didampingi Menteri Perhubungan Agum Gumelar tanggal 27 Agustus 2003. Lokasinya di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, sekitar 20 kilometer dari pusat kota.
Selain untuk menopang kegiatan bisnis puluhan pengusaha dan eksportir di Banyuwangi, lapangan terbang ini diharapkan juga memberikan banyak kemudahan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Banyuwangi. Jarak tempuh Surabaya-Banyuwangi atau Denpasar-Banyuwangi lewat darat yang memakan waktu minimal empat jam bisa dipersingkat menjadi 15-20 menit.
Asumsi terjadinya kemudahan dengan adanya percepatan waktu perjalanan itu memang menggiurkan. Namun, bagaimana dengan pembenahan obyek-obyek wisata dan berbagai sarana penunjang yang mendukungnya? Masih banyak yang harus dibenahi sehingga potensi yang besar itu bisa didayagunakan secara optimal. (JA NOERTJAHYO-Kompas)
February 27th, 2007
Kabupaten Maros tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil beras, ikan bandeng dan tambang marmer di jazirah Sulawesi. Daerah penyanggah Kota Makassar ini juga memiliki kawasan kars terbesar dan terluas di Asia dengan pelabuhan udara bertaraf internasional, Bandara Hasanuddin.
Yang menarik, daerah ini juga memiliki sejumlah obyek wisata yang cukup menjanjikan. Salah satunya adalah Pemandian Alam Bantimurung atau lebih dikenal dengan sebutan kawasan Air Terjun Bantimurung.
Air Terjun Bantimurung termasuk salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Maros, Provinsi Sulsel, yang memiliki luas wilayah mencapai 6.619,11 kilometer persegi. Pemerintah setempat, kini telah membagi sektor pariwisata di daerah itu menjadi tiga komponen besar, yakni obyek wisata alam, budaya dan sejarah.
Obyek wisata alam meliputi kawasan Bantimurung, Pantai Kuri, Air Terjun Bonto Somba, Pemandian Air Panas Reatoa Mallawa, Taman Safari Pucak, Cagar Alam Karaenta dan Sungai Pute.
Obyek wisata budaya meliputi kegiatan upacara adat Kerajaan Marusu, Katto Bokko. Kemudian, kesenian tradisional meliputi Tari Kalubampa, Makkampiri, Kalabbirang, Pepe-pepeka dan Rebbana.
Sementara wisata sejarah di Kabupaten Maros meliputi obyek wisata Taman Prasejarah Leang-Leang.
Bupati Maros, Drs H Andi Nadjamuddin Aminullah mengatakan, Maros termasuk daerah yang cukup potensial sektor pariwisatanya. Bahkan dari sekian banyak potensi SDA (sumber daya alam) yang dimiliki Kabupaten Maros, sektor pariwisata sejauh ini tercatat paling banyak memberikan kontribusi kepada Pemda.
“Pemkab Maros senantiasa akan terus mengembangankan potensi ini. Apalagi, Kabupaten Maros memeliki obyek wisata yang sangat menjanjikan, seperti Pemandian Alam Bantimurung,” papar Andi Nadjamuddin ketika dihubungi Suara Karya di Maros, baru-baru ini.
Wisata Bantimurung
Kawasan wisata Bantimurung sudah tidak asing lagi bagi warga masyarakat Sulsel. Kawasan ini menjanjikan daya tarik khusus sehingga banyak dikunjungi pengunjung, terutama saat memasuki hari-hari libur. Kawasan Bantimurung tidak hanya menyajikan panorama alam nan sejuk dengan kicauan aneka burung-burungnya yang menarik, tetapi juga memiliki air terjun yang indah. Para pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan segarnya air terjun dengan beraneka macam kupu-kupu langka beterbangan di sana sini.
Obyek wisata Bantimurung terletak di lembah bukit kapur atau kars yang curam dengan vegetasi tropis yang subur. Pada tahun 1856-1857, seorang naturalis Inggris menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan Bantimurung khusus untuk menikmati dan meneliti 150 spesies kupu-kupu. “Di antaranya spesies Papillo Androcles yang tergolong langka, tidak dijumpai di daerah-daerah lain,” kata Bupati Andi Nadjamuddin.
Uniknya lagi, di dalam kawasan wisata alam Bantimurung ini terdapat pula gua mimpi dan gua batu. Di dalam gua itu terdapat stalaktit yang cukup indah.
Obyek wisata alam Bantimurung terletak sekitar 15 km dari Kota Maros atau 50 km dari Kota Makassar. Obyek wisata ini telah dijadikan andalan warga masyarakat perkotaan, khususnya warga Kota Makassar. Bahkan, kawasan Bantimurung telah dilengkapi berbagai sarana rekreasi yang cukup lengkap bagi para turis. “Dengan panorama alamnya yang asri, para warga kota dapat menghilangkan kepenatan dan kejenuhan setelah bergelut dengan hiruk pikuk suasana perkotaan,” ujar Andi pula.
Cagar Alam Karaeta
Obyek wisata menarik lainnya di Kabupaten Maros adalah Cagar Alam Karaeta. Obyek wisata ini termasuk kawasan hutan yang dilindungi. Lokasinya tak jauh dari kawasan wisata alam Bantimurung. Sebagai kawasan hutan lindung, daerah wisata ini banyak didatangi pengunjung, khususnya mahasiswa pencinta alam atau anggota masyarakat yang sedang melakukan riset atau penelitian ilmiah.
Di area cagar alam ini terdapat beraneka ragam flora dan fauna sebagai sumber daya hayati sekaligus merupakan aset nasional yang tak ternilai harganya. Yang menarik, dalam kawasan hutan lindung yang cukup luas ini terdapat pula sebuah gua dan binatang kera jenis Maccala Maura yang sudah langkah. Kera-kera ini tidak menakutkan dan cukup bersahabat dengan para jagawana kawasan ini.
Obyek wisata lainnya adalah Taman Prasejarah Leang-Leang di Kalabbirang Kecamatan Bantimurung atau masih tetangga dengan kawasan wisata alam Bantimurung. Di tempat ini terdapat lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa yang sedang melompat, di samping bekas telapak tangan manusia di dinding Gua Pettae.
Di Kabupaten Maros terdapat pula obyek wisata pantai, yakni Pantai Kuri. Lokasi wisata pantai ini berada di Desa Nisombalia Kecamatan Marusu. Obyek wisata pantai yang mengandalkan pasir putih berkilau ini terletak sekitar 20 km dari Kota Makassar. Para pengunjung, selain dapat menikmati panorama alam laut yang indah, juga dapat menghirup udara segar Taman Mangrove. Di petang hari, para pengunjung dapat pula menikmati peristiwa sunset atau saat matahari terbenam.
Meski Kabupaten Maros memiliki obyek-obyek wisata yang cukup potensial dan sangat menjanjikan. Namun pengelolaan obyek-obyek wisata di daerah ini belum optimal. Pemerintah Kabupaten Maros pun kini sangat mengharapkan adanya investor yang ingin mengembangkan potensi wisata di daerah ini. “Silahkan kalau ada investor yang tertarik untuk mengembangkan obyek wisata di Kabupaten Maros,” kata Bupati Andi Nadjamuddin. (Darwis Kusi)
February 26th, 2007
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan keindahan alam sepanjang jalan menuju Bantimurung tak kalah hebatnya dengan klif atau karst di Quilin, Republik Rakyat Tiongkok, yang membentang di sepanjuang Sungai Litian.
Pemandangan bukit karst yang menjulang dan berderet dari wilayah Kabupatren Maros hingga Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, itu merupakan keajaiban dunia. Karena itu, Presiden mengusulkan agar taman dunia itu dijuluki sebagai Kingdom of The Butterfly.
“Sehingga taman ini tetap dijaga kelestariannya, karena ustau saat akan dikembangkan potensinya,” ujar Presiden.
Julukan Kingdom of The Butterfly, menurut Presiden, karena selain keindahan air terjungnya juga ribuan kupu-kupu yang berkembang biak di sana. Memang, di tempat tersebut lebih dari 300 species kupu-kupu yang terbang di alam bebas.
Kawasan taman wisata ini juga terdapat fauna dan flora endemik dan situs purbakala. Jenis flora yang mendominasi penutupan kawasan seperti bitti (Vitex copassus), jambu-jambuan (Eugenia,sp), kenanga (Alstoniasholaris, aren (Arenga pinatta), dao (Dracontomelon dao), kayu hitam (Dyospyros celebica), jati (Tectona grandis), kemiri (Aleurites moluccana), randu (Bombax sp), bambu (Bambussa sp), rotan (Callamus sp) dan masih banyak lagi.
Adapun fauna di Banrimurung yakni kera hitam (Macaca maura), kuskus (Phalanger ursinus), tarsius (Tarsius spectrum), rangkong (penelopides ezarnatus), kakatua (Cacatua sulpharea), burung udang (Helycon sp) dan berbagai jenis satwa lainnya.
Taman tersebut ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 37/Kpts/Um/III/1981 pada 30 Maret 1981. Luas taman nasional ini sekitar 118 hektare. Di sini terdapat Danau Toakala dan Kassi Kebo sebagai sumber mata air dan tempat satwa berkumpul.
Sumber : TempoInteraktif.com
February 26th, 2007
Beberapa aset dan potensi Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, yang layak dikembangkan sebagai tujuan wisata, hingga saat ini belum tergarap. Meskipun banyak daya tariknya, namun akses dan sarana transportasinya masih belum siap.
Jalan lingkar Bawean sepanjang 58 kilometer yang rusak parah hingga Selasa (6/6) belum diperbaiki, sementara sarana transportasi yang tersedia sangat terbatas. Bahkan, kapal cepat tiga jam dari Gresik ke Bawean pun hanya beroperasi dua kali seminggu, yakni Rabu dan Sabtu.
Menurut salah satu tokoh masyarakat Bawean, Mansur Maksum, potensi di Bawean tidak ada artinya kalau tidak dikelola dengan baik.
Di pulau berpenduduk sekitar 60.000 jiwa itu terdapat Danau Kastoba, Pantai Selayar, hamparan pasir putih di Pantai Ria, sumber air panas, serta air terjun yang memiliki daya pikat tersendiri. Keberadaan rusa Bawean di Desa Tampo, Kecamatan Sangkapura, juga layak sebagai tujuan riset dan studi. Kepala Subdinas Informasi dan Komunikasi Dinas Pariwisata Infornasi dan Komunikasi Kabupaten Gresik Didik Hadi Sudjoko mengakui memang banyak obyek yang seharusnya bisa dikembangkan untuk tujuan wisata, tetapi belum dikelola. “Koordinasi antarinstansi pun masih lemah. Padahal, tidak mungkin potensi wisata berkembang tanpa koordinasi,” ujarnya.
Dia memberi contoh, dinas perhubungan dapat menyiapkan kemudahan akses transportasi. Dinas pekerjaan umum menyediakan insfrastruktur, sedangkan dinas pasar menangani pedagang cindera mata.
Sumber : Kompas
February 23rd, 2007
Indonesia pantas mendapat julukan â€Negeri Seribu Candiâ€. Banyak candi bertebaran di sini, dengan pusatnya di Pulau Jawa. Bukan cuma Candi Borobudur, Candi Prambanan dan beberapa candi besar lainnya, kita juga memiliki banyak candi yang berukuran lebih kecil dan memiliki ciri khas yang berbeda. Candi Muara Takus di Riau, Biaro Bahal di Sumatera Utara, atau Candi Agung di Kalimantan Timur, menunjukkan candi bukan milik Pulau Jawa saja. Dulu candi dibangun di seantero Nusantara oleh sebuah kerajaan untuk menunjukkan kekuasaannya.
Candi adalah sebuah istilah untuk menyebutkan sebuah bangunan yang berasal dari masa klasik sejarah Indonesia, yaitu dari kurun waktu abad ke-5 M hingga ke-16 M. Candi dapat berupa bangunan kuil yang berdiri sendiri atau berkelompok. Dapat pula berupa bangunan berbentuk gapura beratap (Paduraksa) dan tidak beratap (Candi Bentar). Petirtaan yang dilengkapi kolam dan arca pancuran juga kerap disebut candi. Istilah â€candi†umumnya hanya dikenal di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Di daerah-daerah lain seperti Sumatera Utara dikenal istilah â€biaro†dan di Jawa Timur istilah â€cungkubâ€. Namun, masyarakat lebih mengenal istilah candi, apa pun jenis bangunan kuno—termasuk reruntuhan—dan di mana pun letaknya. Kata â€candi†berasal dari salah satu nama untuk Dewi Durga, isteri Dewa Siwa, sebagai Dewi Maut, yaitu Candika.
Kerajaan Kuno
Candi merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan kuno yang pernah ada di Indonesia, seperti Mataram Hindu, Singasari, Majapahit, dan Sriwijaya. Candi Borobudur dan Candi Prambanan (Loro Jonggrang) adalah bukti-bukti kejayaan Kerajaan Mataram dari abad ke-8 hingga ke-11. Candi Singasari, Kidal, dan Jago merupakan sisa-sisa kebesaran Kerajaan Singasari, dari abad ke-11 hingga ke-13. Candi Tikus, Bajangratu, Brahu, dan Wringin Lawang adalah peninggalan Kerajaan Majapahit, dari abad ke-13 hingga ke-15. Candi-candi di sekitar Muara Jambi diduga merupakan sisa-sisa Kerjaaan Sriwijaya dari abad ke-7 hingga ke-11.
Candi-candi di Indonesia umumnya bercirikan agama Budha (terutama aliran Mahayana dan Tantrayana) dan agama Hindu (terutama aliran Siwaisme). Candi bersifat Budha dikenal lewat arca Budha dan bentuk stupa, misalnya Borobudur dan Mendut. Sementara itu, Candi bersifat Hindu mempunyai arca-arca dewa-dewi di dalamnya, misalnya Prambanan dan Dieng. Uniknya, beberapa candi bersifat campuran Siwa-Budha, antara lain Singasari dan Jawi di Jawa Timur.
Menurut sejumlah arkeolog, berdasarkan langgam seninya candi-candi di Indonesia dapat
dikelompokkan menjadi tiga bagian. Pertama, langgam Jawa Tengah Utara. Contohnya Candi Gunungwukir, Badut, Dieng, dan Gedongsongo. Kedua, Langgam Jawa Tengah Selatan misalnya Candi Kalasan, Sari, Borobudur, Mendut, Sewu, Plaosan, dan Prambanan. Ketiga, langgam Jawa Timur, termasuk candi-candi di Bali, Sumatera dan Kalimantan. Contohnya Candi Kidal, Jago, Singasari, Jawi, Panataran, Jabung, Muara Takus dan Gunung Tua.
Ditilik dari corak dan bentuknya, pada dasarnya candi di Jawa Tengah Utara tidak bergeda dari candi-candi Jawa Tengah Selatan. Hanya candi-candi di Jawa Tengah Selatan lebih mewah dan lebih megah dalam bentuk dan hiasan dibandingkan candi-candi Jawa Tengah Utara. Perbedaan yang nyata terdapat pada candi-candi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Umumnya candi langgam Jawa Tengah berbentuk tambun, atapnya berundak-undak, menghadap ke Timur, dan berbahan batu andesit. Sementara itu, candi langgam Jawa Timur berbentuk ramping, atapnya merupakan perpaduan tingkatan menghadap ke barat dan berbahan batu bata. Sejumlah arkeolog berpendapat lain. Mereka menamakan gaya seni candi berdasarkan aspek zaman dan periode, yaitu gaya Mataram Kuno (abad VIII-X), gaya Singasari (abad XII-XIV), dan gaya Majapahit (abad XIII-XV).
Pemugaran
Dari ratusan candi yang pernah ada di Indonesia, kini hanya seratus-dua ratus saja yang sampai pada kita. Selebihnya masih terpendam di dalam tanah karena berbagai faktor penyebab, seperti tertimbun lahar akibat letusan gunung berapi dan gempa bumi. Sementara itu, yang sudah muncul ke permukaan, sebagian ditemukan dalam keadaan berantakan atau tidak utuh lagi, bahkan lebih menyerupai onggokan batu.
Hal ini disebabkan pengrusakan besar-besaran yang dialami oleh tanah tempat candi itu berdiri.
Misalnya, gembur dan longsor karena hujan. Ulah manusia juga memperparah keadaan itu. Banyak batu candi (yang berbahan batu andesit) diambil masyarakat sekitar untuk berbagi keperluan, seperti tembok, sumur, pondasi rumah, pagar halaman dan pengganjal tiang. Tragisnya, batu-batu bata merah di kompleks percandian Trowulan, digerusi penduduk untuk dijadikan semen merah. Puluhan candi telah musnah tanpa sempat dibuatkan rekaman tertulisnya.
Sebenarnya, selain batu andesit dan batu merah, beberapa candi mempunyai keunikan. Candi Bendo, misalnya, diminati banyak pakar karena terbuat dari batu kapur yang sangat langka. Sayang candi itu kini cuma tinggal nama karena beberapa tahun lalu telah ditenggelamkan Waduk Wonogiri.
Terhadap candi yang amburadul seringkali dilakukan pemugaran. Pemugaran adalah upaya
mengembalikan kondisi candi sedapat mungkin ke dalam bentuk aslinya. Pemugaran pun sering menimbulkan pertentangan di antara pakar. Sebagian menganggap pemugaran yang sesungguhnya hanya menggunakan batu asli. Pemugaran yang lengkap pun hanya boleh dilakukan di atas kertas.
Sebagian lagi berpandangan, penggunaan batu palsu atau buatan masa kini baru dibenarkan bila memang batu asli telah musnah. Itupun batu-batunya harus benar-benar dicatat atau ditandai agar tidak timbul kesan manipulasi data. Pemugaran seperti ini biasanya untuk kepentingan pariwisata.
Dengan alasan para wisatawan tidak akan tertarik dengan puing-puing berserakan.
Wisata
Banyak candi yang telah dan berpotensi mengundang wisatawan. Contohnya saja Candi Songgoriti yang terletak beberapa kilometer dari Malang. Candi ini terkenal karena air panasnya yang mengandung belerang. Atau, banyak orang yang mendatangi Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu adalah sasaran lain wisatawan. Candi ini terkenal karena mitosnya, yaitu menguji kesetiaan seorang isteri. Daya tarik lain adalah arca dan relief yang dianggap erotis.
Sayang sebagian besar candi yang bertebaran di seluruh Indonesia berbentuk kecil dan berlokasi di daerah terpencil atau puncak gunung. Akibatnya, pemugaran belum menjadi prioritas utama. Namanya pun belum dimasukkan ke dalam brosur-brosur pariwisata. Simak saja nama-nama berikut: Candi Ngempon, Ijo, Kepung, Ampelgading, Perot, Dawangsari, dan Pertapaan. Mana ada orang yang mengenal nama-nama ini kecuali kalangan arkeolog. Sebenarnya banyak candi menarik dijelajahi karena bentuknya yang unik atau konsepnya yang filosofis, macam candi-candi di Gunung Penanggunan (Jawa Timur). Di sana terdapat sekitar 100 candi dan untuk menjangkaunya dibutuhkan waktu paling cepat tujuh hari.
Bila jeli, wisata arkeologi, wisata alam, wisata remaja dan wisata petualangan bisa sekaligus terpadu. Bersatunya beberapa jenis wisata bisa membuat orang tidak hanya melihat tumpukan dan serakan batu, atau puing-puing masa lalu, tetapi menghayati makna apa yang terkandung di dalamnya.
Untuk itu pihak berwenang harus membuat brosur yang intinya mengungkapkan latar belakang sejarah candi. Jika sudah ada, tentu orang akan mampu memperoleh segala informasi yang terdapat di dalam batu-batu tersebut. Maka, wisata candi bukan hanya untuk melihat tumpukan batu, tetapi juga untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang. (Sinar Harapan-Djulianto Susanto)
February 20th, 2007
Wisata Bendungan Pondok sangat potensial bila pengelola dan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi, serius dan jeli menggarapnya. Dengan hamparan air yang luas yang dikeliling pohon-pohon yang rindang merupakan tempat rekreasi yang menarik. Tentunya pihak terkait melakukan penghijauan di sepanjang lahan yang bisa ditanami selain sebagai penguat tepian waduk, juga mampu menciptakan udara yang sejuk dan teduh. Setiap individu pohon akan memberikan kontribusi berupa oksigen yang sangat penting bagi kehidupan. Hamparan rumput di lahan datar di sisi kiri kanan yang dipenuhi pohon-pohon peneduh akan mengundang setiap orang yang memandang. Disitu para pengunjung dapat melakukan aktivitas rekreasi bersama keluarga.
Meskipun hanya duduk dan istirahat, mereka sudah merasakan tenang dan rileks yang tidak ditemukan di obyek lain. Usahakan menciptakan image yang khas, lain dari biasanya. Betulbetul menghadirkan Hutan di tepian waduk sehingga mengundang burung-burung datang. Simbiosis Mutualisma antara tanaman dan burung membentuk ekosistem yang baik. Burung dan serangga yang hidup mengiringi hijaunya kawasan berguna dalam proses penyerbukan tanaman itu sendiri. Daun-daun yang kering merupakan sumber pendapatan bila diolah menjadi pupuk organik. Ekonomi masyarakat sekitar akan bergerak dengan kreatifitas para perajin souvenir. Begitupula seterusnya.
Sarana pendukung seperti kamar mandi dan WC harus selalu bersih, Para pedagang ditata agar tertib tetapi tetap menarik. Pelayanan dan keramahan selalu dikedepankan karena kesan pertama bagi pengunjung adalah masa depan obyek wisata itu sendiri. Kebersihan dan Penghijauan adalah hal dasar yang harus diutamakan karena ini termasuk dalam Wisata Alam. Kuncinya adalah bagaimana kita dapat mengelola Sumber Daya Alam yaitu Air. Karena air adalah sumber kehidupan, yang dapat memuaskan dari dahaga. Dahaga akan kesejahteraan masyarakat……
Bendungan Pondok terletak di Desa Gondang Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi Propinsi Jawa Timur. Pelaksanaan kontruksi dimulai pada tahun 1993 samapai 1995
Pembangunan infrastruksur ini menghabiskan biaya mencapai Rp. 30 milyar. Pengelolaannya sekarang dilakukan oleh: Pengelola Wilayah Sungai Bengawan Solo. Bendungan ini difungsikan sebagai pemasok kebutuhan air irigasi sampai seluas 3.500 ha. Bendungan Pondok mempunyai luas daerah aliran sungai sekitar 32,90 km2. Curahan hujan tahunan : 2000 mm
Volume waduk pada :
Muka Air (MA) banjir : 38,1 juta m3, Muka Air (MA) normal : 30,9 juta m3
Volume Mati : 2,9 juta m3, Vol. Efektif : 28 juta m3
Tipe Bendungan ini, berdasarkan materi dan struktur bangunan diklasifikasikan sebagai urugan batu dengan inti tanah dengan panjang puncak mencapai 298 m dan tinggi di atas dasar sungai : 30,67 m. Lebar puncak : 8 m, Tinggi di atas galian terdalam : 32 m, Elevasi puncak : EI + 110 m, Volume tubuh bendungan : 300.000 m3.
Bangunan pengeluaran untuk irigasi :
Tipe : terowongan
Panjang : 199,76 m
Bentuk : lingkaran
Tipe alat operasi : katup kupu
Garis tengah : 3,10 m
Kapasitas : 4,50 m3/detik
Oleh : Agustinus
February 20th, 2007
Air laut yang jernih menandakan betapa masih alaminya lingkungan Ujung Genteng. Pantai sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa memamerkan pesona yang luar biasa. Ambil misal saja Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi atau Pantai Pangandaran. Keduanya terletak di wilayah Jawa Barat. Kemudian di Jawa Timur keindahan itu hadir di Pantai Pelang, Trenggalek, dan Pantai Ria Teleng, Pacitan. Pantainya yang bersih dan alamiah mengundang keceriaan wisatawan. Di sisi lain ombak laut selatan yang besar bergulung-gulung bergemuruh mengingatkan akan kekuasaan sang Pencipta.
Pantai Ujung Genteng juga memiliki karakteristik umumnya pantai selatan Pulau Jawa. Terletak di selatan Sukabumi, Jawa Barat, pantai ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan Pelabuhan Ratu yang terkenal rawan dan sering merenggut korban jiwa karena ombaknya yang ganas. Pantai Ujung Genteng yang juga menghadap bebas ke Samudera Hindia. Namun, ombaknya yang besar tak membahayakan pelancong yang gemar bermain-main di laut. Ombak besar dari tengah samudera lebih dulu pecah berserak lantaran terhalang gugusan karang laut di depan bibir pantai.
Untuk mencapai Ujung Genteng –yang berjarak sekitar 220 kilometer dari Jakarta atau 230 kilometer dari kota Bandung– relatif mudah. Waktu tempuhnya sekitar enam atau tujuh jam perjalanan bermobil. Selain jalannya cukup mulus juga terdapat beberapa jalur alternatif yang dapat dilalui menuju tempat tujuan. Angkutahn umum yang tersedia pun cukup memadai.
Perjalanan dari arah Jakarta selepas tol Jagorawi lumayan menuntut kesabaran, lebih-lebih pada akhir pekan. Jalur Ciawi-Sukabumi yang dipadati armada angkutan umum selalu rawan macet. Jalur alternatif baru tersedia di Parung Kuda menjelang Cibadak. Di sini ambil jalan ke kanan arah Cikidang.
Di sepanjang jalan ini hingga ke Pelabuhan Ratu kita dapat menikmati udara segar dan pemandangan serba hijau dari hamparan perkebunan karet, perkebunan teh, hingga perkebunan kelapa sawit. Jalannya yang berkelok-kelok dan naik turun sedikit menuntut kewaspadaan. Apalagi pada rute bakal sering berpapasan dengan banyak pengendara sepeda motor yang melajukan kendaraannya dengan kencang dari arah berlawanan.
Setibanya di Pelabuhan Ratu tersedia banyak pilihan persinggahan. Kita bisa lebih dulu singgah ke Karang Hawu atau Cisolok untuk menikmati pemandian air panas. Di sepanjang pantai ini juga terdapat tempat rekreasi untuk berselancar air di laut selatan yang mulai banyak diminati oleh masyarakat.
Di kawasan Cisolok bisa jadi sedikit ketidaknyamanan bakal dihadapi, khususnya bagi kaum lelaki. Para calo yang menawarkan pengobatan alternatif dengan nama ‘mak erot’ begitu gencar menawarkan jasa. Semua mengklaim sebagai ‘mak erot asli’ dan mampu memberikan kesembuhan bagi lelaki penderita lemah syahwat atau (maaf) memperbesar alat vital dengan cara diurut atau dipijat.
Dari Pelabuhan Ratu jarak ke Ujung Genteng masih lumayan jauh, sekitar 85 kilometer. Jarak itu butuh waktu tempuh antara satu dan dua jam perjalanan. Rute yang dilalui adalah Jampang Kulon dan Surade. Jalan ini menyajikan pemandangan yang indah. Menyusuri jalan berkelok dengan jurang dalam di sampingnya, kawasan hutan di kiri-kanannya umumnya telah berganti dengan rumpun pohon pisang.
Jika mobil Anda berkategori dengan perlengkapan off road yang memadai, bertualang ke arah Ciracap Ciemas layak dipilih. Arah ini tak melewati Jampang Kulon. Lima kilo meter menjelang memasuki Ujung Genteng di kiri kanan jalan ini terdapat perkebunan kelapa. Pemandangan petrani sesang nira pun lazim terlihat. Bila sempat singgah bahkan bisa langsung menyaksikan kegiatan petani setempat membuat gula merah.
Di Ujung Genteng inilah kita dapat menikmati alam dengan pantai yang indah, aman, dan nyaman. Anak-anak boleh berenang di laut sepuasnya. Air laut yang jernih –sehingga memungkinkan memandang sekumpulan ikan berwarna-warni di sela-sela batu karang– menandakan betapa alaminya lingkungan Ujung Genteng.
Setibanya di Ujung Genteng seyogyanya langsung lebih dulu mencari tempat penginapan jika memang memutuskan hendak bermalam. Sarana itu mudah didapat ditemukan di sepanjang jalan di pantai Ujung Genteng. Villa atau bungalow yang bersih dan asri memasang tarif bermalam relatif murah.
Jika Anda meinginkan suasana yang lebih alami sususri jalan menuju ke arah barat pantai, persisnya di Ci Buaya. Di sini terdapat sebuah perkampungan nelayan yang dihuni oleh penduduk asli setempat. Jumlah mereka tak lebih dari delapan kepala keluarga. Di kampung ini ada satu gubuk yang dapat disewa. Gubuk yang memiliki tiga kamar tidur dan bale-bale serta kamar mandi di luar itu cukup ditebus dengan mengeluarkan uang tigaratus ribu rupiah saja.
Untuk keperluan makan dan minum di tempat tersebut terdapat warung yang menyediakan aneka kebutuhan. Si pemilik warung bahkan sanggup memberikan layanan khusus, misalnya jika kita ingin menyantap ikan bakar. Ikan laut segar dapat diperoleh di tempat pelelangan ikan (TPI) Ujung Genteng. Serahkan saja ikan itu kepada si pemilik warung. Dia akan membersihkannya dan membumbui ikan-ikan itu. Anda tinggal memanggangnya di halaman gubuk sederhana ini.
Pada sore harinya di Ci Buaya ini kita juga dapat menyaksikan para nelayan pulang melaut. Mereka membawa hasil tangkapannya berupa ikan hias. Para nelayan ini hanya menggunakan perlengkapan selam yang sangat sederhana. Mereka memanfaatkan sebuah kompresor angin yang diulur dengan slang plastik ratusan meter sebagai bantuan oksigen bagi para penyelam yang berada di dasar laut. Pemandangan ini cukup menambah wawasan bagi anak-anak bahkan orangtua sekalipun.
Pada malam harinya –dan memang hanya pada malam hari– kita juga dapat melanjutkan kegiatan dengan melihat habitat kura-kura berkembang biak. Lokasinya tak jauh dari gubuk penginapan, sekitar satu kilometer ke arah utara, tepatnya di Desa Pangumbahan. Sebetulnya ada tempat serupa, yakni di Desa Ujungan dan Desa Citireum, namun kebanyakan wisatawan lebih suka mengunjungi Desa Pangumbahan. Antara Ci Buaya dan Pangumbahan juga terdapat pantai yang sering digunakan oleh orang-orang Prancis untuk berselancar air.
Memang ada beberapa kekurangan di daerah wisata ini khususya di seluruh kawasan wisata Pelabuhan Ratu dan sekitarnya. Selain lokasinya cukup jauh juga ditambah semrawutnya lalu lintas di jalur sempit antara Ciawi dan Cibadak. Dan yang lebih penting adalah perilaku masyarakat setempat yang belum menyadari pentingnya konservasi alam. Mereka masih membiasakan diri menangkap ikan hias dengan menggunakan potasium, mengambil telur penyu atau kura-kura untuk diperjual belikan, dan penebangan hutan untuk diambil kayunya. Semua itu berpotensi mengancam kelestarian alam di kawasan Pantai Selatan.
Sumber : www.republika.co.id
February 19th, 2007
Previous Posts