Archive for January, 2007
AKHIR abad ke-18, Kota Malang dipilih meneer en mevrouw alias tuan dan nyonya Belanda menjadi tempat peristirahatan. Selain karena Malang merupakan kota terdekat dari perkebunan di daerah sekitarnya, kota ini memang layak menjadi tempat tetirah (peristirahatan). Letaknya pada ketinggian 440 sampai 667 meter memberi hawa sejuk dengan suhu rata-rata 24,5 derajat Celcius. Belum lagi adanya pemandangan yang indah dari Gunung Semeru, Kawi, Arjuna, dan puncak pegunungan Tengger.
Bahkan pada masa itu Malang mendapat julukan Zwitserland of Indonesia. Memiliki luas 110,06 kilometer persegi, Malang tumbuh menjadi kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Sebagai kota besar, Malang tidak terlepas dari permasalahan sosial dan lingkungan yang semakin buruk kualitasnya. Kota yang pernah dianggap mempunyai tata kota terbaik di antara kota-kota Hindia Belanda ini, kini banyak mendapat keluhan warganya, seperti kemacetan dan kesemrawutan lalulintas, suhu udara yang mulai panas, sampah yang berserakan atau lokasi pedagang kaki lima yang memenuhi alun-alun kota.
Namun, terlepas dari berbagai permasalahan tata kotanya, pariwisata Kota Malang mampu menarik perhatian tersendiri. Dari segi geografis, Malang diuntungkan oleh keindahan alam daerah sekitarnya seperti Batu dengan agrowisatanya, pemandian Selecta, Songgoriti atau situs-situs purbakala peninggalan Kerajaan Singosari. Jarak tempuh yang tidak jauh dari kota membuat para pelancong menjadikan kota ini sebagai tempat singgah dan sekaligus tempat belanja.
Pilihan itu tidak berlebihan karena kemampuan ekonomi perdagangan di kota ini sangat besar. Kawasan perdagangan seperti Jalan Merdeka Timur atau Jalan Pasar Besar mampu melayani kebutuhan warga. Tidak hanya kebutuhan warga Kota Malang yang dilayani, melainkan juga warga sekitar seperti dari Blitar, Kediri, dan Tulungagung. Perdagangan ini mampu mengubah konsep pariwisata Kota Malang dari kota peristirahatan menjadi kota wisata belanja.
Kota pendidikan
Kelebihan lain yang dikenal dari Kota Malang adalah tradisi pendidikannya. Sekolah-sekolah peninggalan Belanda seperti HIS (setingkat SD), Mulo (SLTP), AMS (SMU), dan HBS (Perguruan Tinggi) secara historis menjadikan pendidikan bukan sebagai sesuatu yang asing bagi warga kota. Terlebih lagi ketika Perguruan Tinggi Pendidikan Guru -sekarang Universitas Negeri Malang- didirikan pada bulan Oktober 1954. Pada saat itu Malang menjadi satu-satunya kota yang memiliki perguruan tinggi, selain ibu kota provinsi.
Apabila rencana tahun 2001 atau 2002 menjadikan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) sebagai universitas terealisasi, maka Kota Malang akan dikenal sebagai kota yang memiliki tiga universitas negeri sekaligus, mendampingi Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang yang sudah lebih dulu berdiri. Saat ini, kota dengan penduduk 751.000 jiwa ini mempunyai 41 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, dengan 121.000 mahasiswa…(Sumber: diolah dari Yoseptin Titien/Litbang Kompas, Kompas 16 Maret 2001)
January 24th, 2007
ANGKLUNG TRADITIONAL ART PERFORMANCE
Angklung is a typical art of Banyuwangi. The players are 12 to 14 people. The musical instruments are made of bamboo. Angklung has four varieties; angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, and angklung blambangan.
-
Angklung Caruk
The word of “caruk” comes from the native Banyuwangi word that means “meeting”. Two groups meet and compete to play angklung together which is called angklung caruk. The groups play angklung together to show their ability and skill to one another and also to the spectators. There are usually three groups of spectators. One group is supportive to one angklung group and the other group is supportive to the second angklung group. The third group of spectators is neutral. As the result, the performance becomes very merry because of the tendencies of the supporters.
-
Angklung Tetak
The word tetak come from the language that means “guarding in the night”. Angklung tetak can be a tool that is used to help guard the night. Angklung tetak became famous in 1950. At its inception the Angklung tetak grew at the village of Glagah. In 1974, it was being perfected especially relating to its tone.
-
Angklung Paglak
Paglak is a simple hut which is built in the rice field or near a settlement. The paglak is built from bamboo and it is built about 10 meters above the land. So, if someone want to enter the hut, he must climb first to reach it. The function of this building is as a place to guard the rice paddy from the birds. Farmers usually take care of their rice paddy while playing the musical instrument of angklung in the paglak. Because of this, the art is called angklung paglak. A long time ago, before the harvest, the farmers organized angklung paglak performances.
-
Angklung Blambangan
Angklung Blambangan is an improvisation of angklung caruk. The musical instruments include the gong and a gandrung musical instrument.
source : www.banyuwangi.eastjava.com
January 24th, 2007
Plengkung is known as one of the best surfing beaches in the world. The word of “G” in “G-Land” derives from Grajagan, the name of the bay where the huge waves were found at the south of the Banyuwangi. It is surrounded by virgin tropical land forest. G lad offers the worlds most demanding surfing sport, and recommended for professional surfers only. May to October is the best time for surfing.
No doubt it is a world of surfer paradise. Most surfers start from Bali, take an overland to Banyuwangi and directly to National Park of Alas Purwo, G-Land or cross the Grajagan Bay to Plengkung beach where the waves challenge invite the surfers. However it is not recommended for novices
Accomodation
There are some simple cottages and a jungle camp available by the beach.
Recreational facilities
Plengkung is located on the south coast of Banyuwngi the eastest of Fast Java. The visitor can visit Plengkung overland. To reach Plengkung can be taken in two ways:
-
Overland. Banyuwangi-Kalipahit (59km)by bus Kalipahit Pasaranyar (3km) by ojek or rent a car, Pasaranyar-Trianggulasi (12km), Trianggulasi-Pancur-Plengkung/G-Land.
-
Overland-sea : Banyuwangi-Benculuk (35km) by bus, Benculuk Grajagan (18km) by bus or public transportation, Grajagan-Plengkung by speedboat,
Both ways toPlengkung are OK, if the visitors choose the second way, they can spend the night at Grajagan and enjoy the view before continue the journey to Plengkung.
source : www.eastjava.com/tourism
January 24th, 2007

The purpose of this performance is the same as the Seblang Olehsari. However, the performance is shorter; Seblang Bakungan is performed for only one night. It is organized after one night of Idul Adha (an Islamic holiday). Seblang Bakungan is performed after the evening prayer. The people parade around the village carrying torches. An old woman dances in the Seblang Bakungan in front of Sanggar (a small stage used as a place for some seeds). After being put into a trance, the dancer is possessed by the Seblang spirit. She dances while following the tone of the music and the songs. There are 12 songs in the performance. The songs tell about the rebellion against the Dutch colonialists. The performance finishes in the middle of the night after the performance of “Adol Kembang” (selling flowers). The spectators, then, snatch away the seeds, plants and wind mill on the stage which is called “sanggar”.
Patrol Traditional Performance
Patrol is the typical ethnic music of Banyuwangi where all the musical instruments are made of Bamboo. They are katir, gong kemput, angklung renteng, kethuk, kendhang and flute. This composition is a culture activity of the native Banyuwanginese. The patrolis is performed during a night of the fasting month (Ramadhan:based on the calendar of Islam). The main purpose of the performance is to guard the village and wake the people up to eat sahur. The songs are taken from the Kitab Berjanji and are traditional songs of Banyuwangi. Groups from all of the villages in Banyuwangi participat in the festival of Patrol Music. A musical group is comprise of 15 persons.
source :wwweastjava.com
January 11th, 2007
The government of Banyuwangi gives special attention to the art of Gandrung. The purpose of this is to encourage the spirit of local ethnicity that will in turn increase the development of tourism. For this reason, Gandrung was determined to be the mascot of tourism in Banyuwangi according to the Banyuwangi Regency Decision, Number 173 in 2002.
The word “Gandrung” comes from the Javanese word that means “desperately in love”. It means that they are in love with the goddess of the rice paddy, Dewi Sri, that brings prosperity to the people of Banyuwangi who are mostly employed as farmers. In gratitude for the good harvest, the people organize a performance which is called “Gandrung” because the farmers were in love with the goddess of the rice paddy.
The Gandrung performance used to be performed at night, running from 09 PM until 04 AM. This traditional art  is performed during the day as well to especially welcome distinguished guests.
source : www.eastjava.com
January 11th, 2007
Banyuwangi is the eastern-most regency of East Java. To the north lies the regency of Situbondo. The regencies of Jember and Bondowoso neighbor Banyuwangi to the west. To the east lies the island of Bali and to the west lies the Indonesian Ocean. Banyuwangi is situated on the coordinate 70 45’ 15” S and 113’ 38.2” E. Because of its location, Banyuwangi has diverse natural scenery, rich art, culture, customs and traditions.
The beauty of nature is spread across Banyuwangi from the west to the east. Mountains, forests and beaches mark the landscape of the regency. For instance, Ijen Crater, in the western part of Banyuwangi is famous for its beautiful crater lake, the traditional sulfur miners who amazingly climb up and down the slope of Mount Merapi, and the plantations that cover the Crater’s slope. The National Park of Meru Betiri is famous for its Java Tiger and turtles. These locations form the center of the Tourism Developed area which is called the Diamond Triangle, which connects one Tourism Object to another.
Banyuwangi also has various art, culture, customs and traditions. One of the typical arts of Banyuwangi is Gandrung, a welcoming dance for distinguished guests. The dance is the defining dance of Banyuwangi. Besides Gandrung, Seblang, Kuntulan, Damarwulan, Angklung, Ketoprak, Barong, Kendang Kempul, Jaranan are arts that can be seen in Banyuwangi. Other customs that can be observed in Banyuwangi include the sea offering, metik (a celebration performed before rice and coffee harvesting), Rebo Wekasan, Kebo Visit Banyuwangi the Real Tropical Country keboan, Ruwatan, Tumplek punjen, Gredoan, Endog-endogan, etc. These events are performed every year and are included in the Calendar of Events of Banyuwangi. The typical handicrafts and traditional foods are available across Banyuwangi. The products and places that should be visited are Batik Tulis at Temenggungan and Tempo, Bamboo handicraft at Kecamatan Rogojampi and Kalipuro, etc. Banyuwangi also has typical food products; such as bagiak, selai pisang (banana jam) etc.
There native people of Banyuwangi are Banyuwanginese. They have their own dialect which combines the languages of Javanese and Balinese. Ethnic Javanese, Madurese, Balinese and people from Banjar also call Banyuwangi home. The diverse natural scenery, the rich art, culture, customs and traditions, constitute worthy treasures that must be introduced to all people. The people of Banyuwangi and the local government will be supported and benefited by tourism. The income from tourism will provide the capital to develop the regency of Banyuwangi. Tourists will also benefit from their rich experiences as they visit Banyuwangi.
source : www.baliblog.com
January 11th, 2007
Diperkirakan Akibat Pengaruh Cuaca Buruk
SITUBONDO - Meski dihantui buruknya cuaca, perayaan tahun baru 2007 di Situbondo berlangsung cukup semarak. Malam hingga siang kemarin, puluhan ribuan warga merayakan pesta tahunan ini. Mendung tebal dilangit, tak menghalangi warga mengekspresikan kegembiraan dalam menyambut pergantian tahun ini. Ada pesta kembang api, hiburan musik, hingga suara bunyi terompet menyalak dimana-mana. Ratusan personil keamanan pun diterjunkan mengamankan jalannya perayaan tahun baru ini.
Selain memadati jalan-jalan, lokasi wisata tetap menjadi jujugan utama warga merayakan tahun baru. Di Situbondo, ada wisata Pasir Putih dan Pantai Pathek, yang hingga sore kemarin terlihat ramai diserbu pengunjung. Warga yang datang bukan hanya dari Situbondo saja. Tetapi, tidak sedikit yang berdatangan dari luar Kabupaten, dan bahkan Jawa Timur. Tak ayal, jalan-jalan menuju dua lokasi wisata pantai itu kemarin macet total. Kenyataan tersebut, membuktikan warga tak terpengaruh buruknya cuaca pantai, beberapa hari terakhir.
Di wisata pasir putih misalnya. Pantauan RaBa menyebutkan, kemacetan arus lalu lintas terjadi sejak sekitar 1,5 kilometer menuju lokasi wisata. Kondisi ini disebabkan pengunjung lokasi wisata di Kecamatan Bungatan itu yang sampai meluber ke jalanan. “Macet sih biasa, Mas. Namanya juga tahun baruan. Yang penting kan happy (senang, Red),” celetuk seorang pengendara sepeda motor yang ikut terjebak macet, kemarin.
Di dalam area lokasi wisata papu, pengunjung penuh sesak. Diperkirakan, ada belasan ribu pengunjung yang kemarin tampak menyemut di tepi pantai. Mereka menikmati indahnya panorama alam di lokasi wisata tersebut. Sebagian lagi ada yang memilih bermain dengan ombak pantai. “Sudah dua hari saya bersama keluarga menginap di sini. Sungguh menyenangkan bisa tahun baruan di sini. Ini sudah lama kami rencanakan,” ujar Joko Utomo, pengunjung asal Surabaya, kemarin.
Meski demikian, dari pihak Perusahaan Daerah (Perusda) Pasir Putih sendiri memperkirakan, jumlah pengunjung mengalami penurunan drastis dibanding perayaan tahun baru 2006 lalu. Sepanjang hari kemarin, pengunjung papu diperkirakan mencapai 15 ribu orang. Angka tersebut, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pengunjung tahun baru 2006 lalu. “Kami memperkirakan, jumlah pengunjung tahun baru sekarang separohnya dari jumlah pengunjung tahun lalu. Meski begitu, dari omzet pendapatan tidak kalah dibanding tahun lalu,” kata Direktur Pasir Putih Bambang Heriyanto kepada RaBa, kemarin.
Penurunan jumlah pengunjung itu, papar Bambang, disebabkan sejumlah faktor. Selain buruknya cuaca, karena perayaan tahun baru sekarang juga bersamaan dengan Idhul Adha. Faktor berikutnya, kini warga memiliki wisata alternatif selain Pasir Putih. Salah satunya, adalah Pantai Pathek di Desa Gelung, Kecamatan Panarukan. “Apalagi, tadi malam bupati bersama muspida menyambut pergantian tahun di sana (Pathek, Red). Saya tidak tahu, tapi itu kebijakan bapak bupati,” ujarnya.
Sementara untuk pengunjung hotel dan motel di Pasir Putih, sejak beberapa hari menjelang tahun baru sudah full booked. Pihak Perusda hanya menyiapkan 10 persen dari penyediaan kamar yang ada, untuk keperluan cadangan. Namun begitu, Bambang sendiri belum bisa memastikan omzet pendapatan yang dicapai selama perayaan tahun baru kemarin. “Sampai sekarang kami masih melakukan rekapitulasi. Baik omzet dari penjualan tiket masuk, maupun dari penyewaan kamar-kamar hotel dan motel,” pungkas Bambang. (gaz)
sumber : www.jawapos.com
January 3rd, 2007
TULUNGAGUNG- Pantai Indah Popoh tetap menjadi pilihan bagi sebagian warga Tulungagung dan sekitar untuk menikmati liburan tahun baru. Pantai yang berada di Desa Besole, Kecamatan Besuki itu didatangi ribuan pengunjung.
Dari tiga titik; Pantai Popoh, laut bebas dan Pantai Sidem, wisatawan paling banyak berada di Pantai Popoh. Mereka berdatangan sekitar pukul 10.00. Meski hujan, namun arus dari arah Campurdarat ke Popoh masih terlihat ramai.
Begitu datang, mereka yang mengajak anak-anak memilih bermain di taman. Sementara mereka yang senang bermain air, memilih mendatangi Pantai Sidem. Selain tempatnya yang luas, pengunjung juga bisa memarkir mobil lebih leluasa di lapangan setempat.
Gatot Sunu Utomo, salah satu staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung yang bertugas di Pantai Popoh menjelaskan, pengunjung diberi fasilitas berupa tempat parkir dan kamar mandi. Untuk keselamatan pengunjung, diterjunkan sepuluh anggota tim SAR. “Ada yang di laut bebas, di Pantai Popoh, serta paling banyak di Pantai Sidem. Sebab berdasarkan keterangan kepolisian, selama ini yang lebih sering ada korban tenggelam di sana (Sidem),” ucap bapak satu anak ini.
Ledakan jumlah wisatawan ini biasa terjadi pada tahun baru. Selain itu, banyak juga yang datang pada liburan hari raya Idul Fitri, satu suro dan liburan sekolah. “Hari Minggu sekitar 750 orang yang datang. Seperti kemarin, malah turun. Meski hari Minggu namun ada perayaan Idul Adha, dan malam harinya pergantian tahun baru, sepertinya lebih terpusat di kota,” ucap Gatot. (tin)
sumber : www.jawapos.com
January 3rd, 2007
MALANG - Liburan tahun baru 2007, di Gunung Kawi, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, dipastikan tidak semeriah tahun sebelumnya. Pasalnya, jumlah pengunjung wisata spiritual ini mengalami penurunan drastis. Kondisi itu terlihat dari sepinya pengunjung yang biasanya meramaikan akhir tahun di wisata tersebut.
Wakil Ketua Yayasan Ngesti Gondo-pengelola wisata spiritual gunung kawi, Nanang Yuwono Hadi Projo membenarkan terjadinya penurunan jumlah pengunjung di wisata tersebut. Bahkan dia menilai penurunannya mencapai angka 75 persen. “Biasanya kamar-kamar hotel sudah terisi penuh, tapi sekarang masih sepi. Catatan kami baru ada 500 pengujung yang memesan kamar hotel,” ujar Nanang, kemarin.
Nanang mengatakan, biasanya menjelang akhir tahun Gunung Kawi selalu dipadati pengunjung yang mencapai ribuan jumlahnya. Setiap kamar di hotel yang bertebaran di sekitar lokasi wisata, habis dipesan pengunjung jauh hari sebelum akhir tahun. Tapi hingga saat ini, suasana tempat wisata dan hotel masih terlihat sepi. Praktis, kondisi tersebut membuat keresahan pengelola wisata dan sejumlah pengusaha yang menggantungkan hidupnya dari kehadiran pengunjung.
Dikatakan Nanang, sebenarnya penurunan pengunjung itu telah dirasakan sejak beberapa bulan lalu. Tepatnya, sejak musibah bencana alam lumpur panas Lapindo di Sidoarjo. Hal itu dikarenakan arus lalu lintas mengalami kemacetan. Sehingga para pengunjung yang biasanya transit di Surabaya dan menggunakann jalur darat ke lokasi merasa enggan terjebak kemacetan. “Kami tidak bisa memungkiri ini salah satu akibat bencana alam yang terjadi di Jatim. Mudah-mudahan bisa segera diatasi, sehingga industri pariwisata bisa kembali kembali pulih,” lanjutnya.
Diungkapkan Nanang, kekhawatiran itu tidak hanya menyelimuti saat pergantian tahun. tapi juga saat memasuki musim suroan yang bakal dilakukan pada akhir Januari mendatang.
Menurut Nanang, jika musibah alam tidak segera diatasi, maka pada even nasional tersebut, jumlah pengunjung juga akan berkurang.
Selain pengelola wisata, kondisi tersebut juga dirasakan sejumlah pedagang yang menggantungkan hidupnya dari para tamu wisata. Seperti yang dialami Patminah, pendaptannya merosot drastis seiring dengan rendahnya pengunjung gunung kawi. (yak)
sumber : www.jawapos.com
January 3rd, 2007